PERUBAHAN DALAM ORGANISASI

Belajar dari pengalaman mengahadapi berbagai serangan teror di awal tahun 2000-an dengan kulminasi serangan, berupa teror bom bunuh diri menggunakan mobil di Bali (tragedy Bom Bali I) Polri akhirnya memutuskan untuk memiliki fasilitas latihan yang dibangun lewat kerjasama dengan dunia Internasional.

Prakarsa tersebut diwujudkan dengan membangun beberapa fasilitas pelatihan anti teror seperti : Pusat Latihan Anti Teror Indonesia (PLATINA), Jakarta Center For Law Enforcement Cooperation (JCLEC) yang berada di Lingkungan AKPOL Semarang dan fasilitas latihan Anti Teror berupa lapangan tembak reaksi di Pusdik Reskrim, Mega Mendung Bogor.

Semenjak diresmikan pada tanggal 1 Juli 2004 oleh Megawati Soekarno Putri selaku Presiden Republik Indonesia sampai awal tahun 2010, Platina secara struktur berada dibawah naungan Akademi Kepolisian (AKPOL) di Semarang, namun seiring perjalanan waktu PLATINA sempat  secara struktur berada di bawah naungan Biro Kermalat SDEOPS Mabes Polri.

Perubahan structural PLATINA secara siginfikan dimulai semenjak mulai tanggal 25 Januari 2011, berdasarkan Peraturan Kapolri (Perkap) Nomor 21 Tahun 2010 tanggal 14 September 2010 tentang SOTK Polri pada tingkat Mabes lampiran “S” Korps Brimob Polri, yang menyebutkan bahwa Platina secara struktur berada di bawah naungan Satuan IV Demlat Korbrimob Polri.

Sejak itu PLATINA semakin focus pada penyelenggaraan pelatihan wanteror dengan materi pokok CRT untuk  jajaran personil Korbrimob Polri, aspek kepemimpinan di PLATINA mengalami beberapa kali rotasi, merujuk kepada masa jabatan saya yang cukup lama 2015- 2018 otomatis memberikan kesempatan untuk melakukan perubahan tranformasional selaku pejabat Kepala Platina, proses perubahan transformasional itu sendiri saya definisikan dari beberapa literature menjadi :

   kepemimpinan transformasional merupakan model pemimpin yang memiliki kemampuan melihat masa depan / visioner dan mampu mengenali berbagai perubahan dalam lingkungan serta mampu menterjemahkan dinamika  antara tantangan masa depan dengan perubahan di lingkunganya kedalam suatu kebijakan organisasi dengan cara  menjadi pelopor perubahan/ agent of change, motivator dan inspirator kepada bawahanya untuk menjadi kreatif dan inovatif, serta memiliki soliditas sebagai team work, pembaharuan manajemen, membuat dan mengambil keputusan secara efektif dan efisien, bertanggung jawab dalam perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian organisasi.

Kesempatan melakukan perubahan transformasional semakin menguat manakala beberapa kali tidak lulus seleksi Sespimmen pada kurun waktu menjabat sebagai Ka Platina, rasa kecewa yang kemudian dikelola menjadi spirit aktualisasi.

1.  Permasalahan

Merujuk kepada kompone-komponen pelatihan wanteror di Platina yang secara factual tidak mengalami perubahan berarti sejak tahun 2004 sampai tahun 2014 kemudian mengalami perubahan radikal sejak tahun 2015 sampai saat ini menunjukan bahwa telah  terjadi perubahan transformasional di Platina.

2.  Persoalan

Bagaimana konsep perubahan transformasional di Platina berlangsung, bagaimana dinamika perubahan tersebut terhadap komponen-komponen pelatihan Wanteror di Platina dapat terwujud dan bagaimana perubahan transformasional dapat dipelihara di Platina secara berkelanjutan.

I.        Pembahasan

Langkah pertama dalam merumuskan perubahan transformasional di Platina adalah dengan melakukan scanning and assessment terhadap komponen –komponen pelatihan yang meliputi : peserta pelatihan, kesiapan instruktur, kurikulum dan hanjar, sarana dan prasarana latihan serta dukungan anggaran latihan.

Hasil scanning dan assessment secara umum tingkat kesiapan penyelenggaraan dan kualitas latihan belum sesuai harapan saya pribadi dilihat dari fakta bahwa Platina merupakan satu-satunya fasilitas latihan lawan teror paling lengkap di Indonesia bahkan dengan beberapa negara khususnya ASEAN.

Peserta: berasal dari personil Korbrimob Polri maupun pada beberapa pelatihan merupakan personil  instansi luar Polri, Platina menjadi hanya menyiapkan tempat latihan saja, belum diwajibkan membawa surat keterangan dokter yang menyatakan sehat dan mampu secara fisik untuk mengikuti pelatihan, tidak memiliki latar belakang taktik dan teknik lawan teror dari kesatuan asal pengiriman, sering ditemukan peserta yang sangat tertinggal dalam menyerap materi latihan.

Pelatih: sebagian besar personil organik Platina tidak memiliki latar belakang pendidikan, pelatihan termasuk pengalaman wanteror yang memadai sebagai basis kompetensi seorang instruktur wanteror, selama ini pelatih bersumber dari non personil Platina, pelatih didatangkan dari personil Pasukan Gegana Korbrimob Polri, maupun personil Brimob lainnya yang sedang melaksanakan tugas BKO pada Densus 88/AT Mabes Polri.

Kurikulum dan Modul Hanjar: menggunakan kurikulum CRT tahun 2004 oleh DSS/ ATA dengan output kurikulum yang dihasilkan adalah seorang operator CRT, belum dimodifikasi maupun dirubah sesuai   dinamika trend teror saat ini.

Sarana dan Prasarana: belum pernah mengadakan peremajaan maupun penambahan alins dan alongins, banyak yang telah ketinggalan jaman (teknologi yang diapilkasikan adalah teknologi akhir tahun 2000-an) maupun rusak akibat pemakaian secara permanen, melakukan kanibal komponen didukung dengan mengoptimalkan anggaran  pemeliharaan dan perawatan secara sangat terbatas, telah melampaui usia pakai (expired) dan akibat penuaan material maka upaya pemeliharaan dan perbaikan menjadi sangat mahal diluar pagu anggaran pemeliharaan dan perawatan tahunan yang diberikan APBN.

Dukungan Anggaran; semenjak operasional Platina  berada di bawah Satuan IV Demlat Korbrimob Polri ( tahun 2010), Platina mendapatkan alokasi DIPA bersumber APBN yang digunakan untuk menyelenggarakan 4 (empat) gelombang latihan pertahun anggaran, dimana tiap anggaran digunakan untuk mendukung 2 (dua) unit Tim Wanteror, ditambah anggaran Harwat Fasilitas sekitar Rp. 200 juta,- pertahun.

        Kondisi berbagai komponen pelatihan diatas seolah-olah membuktikan bahwa pada kurun waktu 2010 sampai 2014 Platina sebenarnya merupakan beban bagi organisasi Polri, komponen komponen pelatihan mengalami stagnancy, tanpa ada perubahan berarti yang seharusnya berjalan dinamis sesuai kebutuhan organisasi Polri dalam menghadapi gangguan Kamtibmas khususnya terorisme.

        Beberapa senior yang pernah menjabat Ka Platina sebelum saya menuturkan stagnasi kondisi Platina disebabkan oleh banyak factor antara lain tidak semua Kakor Brimob dan Kapuslat memahami nilai strategis Platina sebagai satu satunya fasilitas latihan wanteror yang 100% dioperasikan oleh Polri, adanya miss link antara Ka Platina dengan pejabat bagian perencanaan dan anggaran Korbrimob dalam penyusunan TOR pagu anggaran tahunan termasuk komunikasi ke Srena dan Puskeu Mabes Polri.

        Terobosan yang pertama kali dilakukan adalah meyakinkan pimpinan Korbrimob (peran Brigjen Pol. Drs. Anang Revandoko selaku Wadankor Brimob saat itu),saya harus membuat TOR RAB terbaru dan naskah telaah staff untuk menjelaskan Platina mau dibawa kemana dengan cara apa, ternyata  dukungan pimpinan puncak organisasi merupakan faktor paling kuat dalam menyusun langkah-langkah perubahan Transformasi.

        Dukungan pimpinan puncak Korbrimob diwujudkan dalam bentuk dukungan dana untuk talangan dalam pembenahan komponen pelatihan, pembenahan dan peningkatan kualitas  latihan harus dimulai dari berbagai komponen secara simultan, seperti membuat TR panggilan calon peserta dengan tambahan persyaratan bahwa calon peserta yang tidak fit secara fisik ( TKJ  saat tiba di Platina) dan mental akan dikembalikan ke satker asal, termasuk membuat panduan pembinaan fisik dan kemampuan dasar wanteror yang dikirimkan kepda masing – masing satbrimobda untuk secara mandiri melakukan fit and proper test sebelum mengikuti pelatihan di Semarang.

        Program penguatan Densus dalam bentuk dukungan anggaran dari Pemerintah, ternyata memberikan peluang bagi Platina untuk memorndenisasi peralatan, namun peluang ini tidak datang dengan mudah, proses yang harus dilalui adalah Platina bisa menghadirkan serta membuat telaah staff berbasis database alumni Platina, trend terorisme serta rekomendasi dari beberapa negara mitra dalam penanggulangan Teror, disinilah peran vital Ka Platina untuk bernegosiasi sekaligus mencari dukungan diluar internal Polri.

        Melakukan perubahan transformasional  pada organsisasi seperti Platina tentunya memiliki catatan dinamika internal itu sendiri, sebagian anggota merupakan personil yang sedang mengidam-idamkan mutasi ke kampong halaman, mereka adalah personil Bintara senior yang direkrut hanya untuk menjadi penyelenggara latihan, biasa melakukan tugas –tugas  sederhana dengan kendali dan pengawasan yang kurang ketat, sebagian lagi merupakan personil yang tidak memiliki basis kompetensi ( diklat dan pengalaman) yang kuat, tinggal terpencar tanpa asrama dan potongan Bank BRI yang masih lama.

        Terobosan kreatif untuk percepatan perubahan trasformasional adalah dengan mendayagunakan lingkungan (AKPOL, JCLEC , Polda dan Polres di Jateng), memberikan kesempatan menggali pengalaman mengajar dan meningkatkan rasa percaya diri bahwa mereka mampu dengan membuka kerjasama pelatihan-pelatihan penanggulangan teror terutama dengan Polda dan Polres di Jawa Tengah, tujuan mendapatkan pengalaman, proses aktualisasi diri sebagaqi instruktur, pembelajaran kemampuan mengajar dan yang pasti kesejahteraan.

        Sebagai wujud pengukuran bagaimana proses transformasional di Platina berjalan adalah : adanya penambahan volume pelatihan dari semula nilai pagu anggaran Diklat berkisar Rp. 1 Milyar (4 angkatan) berubah menjadi Rp. 1,6 Milyar ( 6 angkatan), anggaran Harwat fasilitas pertahun semula berkisar Rp. 200 Juta berubah menjadi Rp. 400. Juta pertahun.

        Perubahan kurikulum dan hanjar pelatihan menjadi berdasar kebutuhan pengembangan organisasi Brimob dengan materi yang lebih beragam serta adanya pengakuan Polri sebagai stimulant setiap peserta pelatihan wanteror dengan adanya pengakuan alumni Platina sebagai persyaratan untuk mengikuti penugasan sebagai pasukan FPU Indonesia.

        Kualitas instruktur dari organik Platina telah dapat menggantikan kebutuhan instruktur yang berasal dari luar Platina, adanya kewajiban mengikuti dikbangspes Instruktur maupun upaya sedikit memaksa JCLEC dan DS/ATA  untuk mengikutkan personil Platina dalam setiap course yang mereka selenggarakan agar menjadi bekal penguatan dan pengembangan kualitas Platina, narasi yang diberikan adalah bila DS/ATA mengikutkan Platina maka output yang didapatkan adalah seorang trainer dengan kapabilitas sama seperti operator aktif.

        Perubahan transformasional yang dilakukan di Platina haruslah merupakan perubahan yang terus menerus secara berlanjut, karena dinamika permasalahan akan dinamis setiap waktu, Korbrimob Polri sampai saat ini belum juga menyadari nilai  strategis  Platina dalam penguatan  kemampuan Brimob, sampai hari ini semenjak saya meninggalkan Platina, belum ditunjuk pejabat Ka Platina yang baru untuk memimpin Platina khususnya dalam rangka pemindahan Platina dari AKPOL Semarang ke Puslat Polri di Cikeas agar lebih representative.

II.      Penutup

Mengadakan scanning dan assessment dalam bentuk  OHA dan ES merupakan langkah pertama yang terus akan saling berkaitan dalam penyusunan perubahan transformasional yang harusnya dilakukan secara menyeluruh.

Hampir seluruh proses transformasional di Platina membutuhkan: kordinasi, komunikasi dan kolaborasi dengan internal dan eksternal Polri, termasuk LSM seperti ICRC, PMI, JCLEC dan instansi K/L seperti Bapeten, BNN, BNPT, Ka Platina harus bisa menjelaskan bagaimana kerjasama dilakukan, kemudian bagaimana sharing manfaat dan output dan outcome pelatihan maupun kegiatan dapat diukur, kuncinya membuat laporan secara benar , terukur dan berbasis database yang valid.

Setiap komponen kekuatan dan kelemahan organisasi serta bagaimana pengaruh lingkungan harus didayagunakan agar setiap pemimpin dapat melakukan perubahan transformasional, wujud pengaruh lingkungan yang paling dominan adalah bagaimana persepsi pucuk pimpinan organisasi memandang perubahan transformasional itu perlu dilakukan , mengingat setiap perubahan akan memaksa individu keluar dari zona nyaman, pendekatan dan negosiasi intesif diperlukan untuk menjelaskan mengapa harus berubah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s