Tantangan Pemolisian pada era 4.0 membutuhkan personil Polri yang memiliki kemampuan yang mampu beradaptasi terhadap dinamika masyarakat saat ini,  termasuk bagaimana seorang pemimimpin Polri dapat mengelola sumberdaya organisasi berupa adanya perbedaan generasi antar personil Polri, dukungan peralatan yang semakin canggih berbasis komputasi dan big data, serta kebutuhan akuntabilitas dalam pengelolaan anggaran Polri yang dilakukan oleh berbagai pihak baik dari internal maupun eksternal Polri.

Pangkat dan jabatan seorang pimpinan dalam organisasi Polri tidak serta merta dapat mendudukan seseorang manajer di Kepolisian menjadi pemimpin apalagi menjadi seorang Role Model Kepemimpinan Polri.

Tidak salah memang menemukan fenomena adanya seorang pimpinan dengan berbagai kebijakan dan strategi manajemen dan program-program terobosan yang dilakukan pada akhirnya cepat berganti seumur Jagung dengan rentang masa jabatan yang dilakoni, silih berganti kebijakan akan terjadi ketika manajer Polri hanya mendudukan dirinya sebagai pimpinan bukan sebagai seorang pemimpin, artinya ganti pimpinan maka akan terjadi ganti kebijakan.

Ganti koki atau ganti pimpinan pada organisasi sebesar Polri tentunya berdampak pada kualitas pelayanan Kepolisian, konsistensi program akan berganti dengan cepat yang membingungkan personil Polri ditataran operasional maupun masyarakat secara luas.

Upaya memagari seorang Manajer organisasi dengan latar belakang pangkat dan jabatan bertransformasi menjadi seorang Pemimpin yang memiliki legitimasi sebagaimana dilakukan oleh Sespim Polri untuk para Peserta Didik Sespimmen Polri angkatan 59 adalah merupakan upaya untuk membekali setiap calon -calon manajer tingkat menengah dengan proyeksi sebagai seorang Kapolres dan jabatan setingkat agar selain ahli dibidang hard skill juga memilki kualitas soft skill secara mumpuni.

Definisi untuk Hard skill adalah keterampilan yang dapat diperoleh melalui pendidikan, program pelatihan, sertifikasi, dan pelatihan di tempat kerja. Keterampilan ini biasanya adalah   keterampilan terukur yang dapat dengan mudah didefinisikan dan dievaluasi. Misalnya, keterampilan penjinakkan Bom untuk seorang Brimob  adalah bagaimana operator Jibom dapat mengurai sebuah  temuan benda diduga Bom melalui aplikasi prosedur Jibom, sedangkan keterampilan keras bagi seorang Polisi Lalu Lintas mungkin berupa pengetahuan tentang rekayasa dan registrasi Kendaraan Bermotor, artinya Hard Skill bisa diukur dengan ijazah, sertifikat maupun pelatihan fungsi yang pernah dijalani.

Soft skill, adalah hal yang berbeda, merupakan keterampilan interpersonal ( orang dalam mengeksplorasi dirinya sendiri dan bagaimana menjalin hubungan dengan orang lain), soft skill jauh lebih sulit untuk didefinisikan dan dievaluasi. Keterampilan lunak termasuk keterampilan komunikasi, keterampilan mendengarkan, dan empati, antara lain adalah keterampilan yang harus dikembangkan secara pribadi dan dikuatkan dengan mengambil hikmah dari setiap interaksi dengan masyarakat.

Kadar soft skill seorang manajer Kepolisian yang memiliki pengalaman lewat berbagai tour of duty dan tour of area tentunya akan berbeda, relevansinya adalah dengan bagaimana setiap personil mampu beradaptasi dengan masyarakat dan dimensi  tantangan tugas beragam.

Rumusan permasalahan adalah bagaimana pelatihan MC level III yang diberikan oleh Sespimmen Polri dapat meningkatkan kualitas soft skill peserta didik guna terwujudnya karakter Kepemimpinan Polri yang legitimate?

PEMBAHASANAN

Untuk memmahami bagaimana pelatihan MC level III yang diberikan oleh Sespimmen Polri dapat meningkatkan kualitas soft skill peserta didik guna terwujudnya karakter Kepemimpinan Polri yang legitimate, dilakukan dengan membuat perbandingan materi yang diberikan dalam MC III  dengan pelatihan kepemimpinan Kepolisian di negara lain, tujuannya adalh melihat fenomena pelatihan manajemen training atau management course level III secara lebih komprehensif, perbandingan tersebut dapat ditunjukan dalam narasi  berikut :

Materi pelatihan untuk Sespim adalah berupa keterampilan manajemen strategik untuk manajer senior, yang meliputi :

  1. Pencairan (Ice Breaking);
  2. Penyegaran Management Training Level I Dan Level II;
  3. Keterampilan Manajemen Level III (Strategic Skill) ;
  4. Lima Kunci Pelajaran (Five Keys Lesson);
  5. Analisa Strategi (Strategic Analysis), Meliputi;
    • Memeriksa Kesehatan Organisasi (Organisational Health Audit);
    • Meneliti Lingkungan (Environmental Scanning);
  6. Perencanaan Strategi (Strategic Planning), Meliputi:
    • Penggambaran atau memperkirakan situasi yang akan datang (Scenario Profiling);
    • Perencanaan Program (Program Planning);
  7. Manajemen Strategis (Strategic Management), Meliputi:
    • Proses Penjabaran (Translation Process);
    • Manajemen Pemeriksaan (Management Audit);
  8. Perbincangan Pertanggungjawaban (Accountability Conversation);
  9. Keterampilan Mempengaruhi (Influencing Skill);
  10. Critiquing Skill;
  11. Latihan Lapangan (Field Exercise) / Latihan Di Polsek;
  12. Inventory, meliputi :
    • Potensi Kepemimpinan;
    • Inventarisasi Gaya Perorangan;
    • Skala Hasil Guna Penugasan (SHGP);
    • Organisation Development Questioner (ODQ);
    • Keterampilan Dasar Perorangan/ Inter Personal Skill (Basic IPS) yang berorientasi pada perilaku /FIRO-B (Fundamental Interpersonal Relation Orientation Behavior);
  13. Praktek Lapangan (Field Exercise).

Sumber : Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Pelatihan Manajemen (Management Training) di lingkungan Lembaga Pendidikan Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Program USD membantu peserta mengembangkan banyak keterampilan paling penting yang dibutuhkan oleh Polisi dan pemimpin Lembaga penegakan hukum (Sandiego), sebagai contoh:

  1. Kepemimpinan organisasi
  2. Hukum konstitusional dan bagaimana membentuk kebijakan penegakan hukum
  3. Anggaran, keuangan, dan alokasi sumber daya
  4. Perundingan bersama dan negosiasi kontrak
  5. Keterampilan komunikasi interpersonal dan tertulis
  6. Pebuatan laporan dan membuat tulisan
  7. Hubungan media dan komunitas
  8. Teknik untuk keterlibatan masyarakat yang sukses
  9. Keterampilan menangani perselisihan dan resolusi konflik
  10. Metode penelitian untuk melakukan penilaian komunitas dan organisasi.
  11. Prosedur analitik untuk mengevaluasi tren kejahatan
  12. Etika, integritas pribadi dan profesional
  13. Teknologi.

Sumber : University of San Diego

Melihat materi pelatihan manajemen training maupun leadership training yang diselenggarakan oleh Polri dengan Kepolisian lainnya, sebagaimana narasi diatas menunjukkan bahwa adanya persamaan yang sangat khas yakni berusaha untuk memberikan bekal pengetahuan soft skill dengan menggali potensi -potensi diri seorang leader yang dihadapkan kepada tantangan tugas dan dengan karakter perbedaan yang disesuaikan dengan karakter tugas dan system Kepolisian yang dianut.

Dengan merujuk kepada studi comparative terhadap materi pelatihan yang bersumber kepada materi latihan MC III Sespim Polri dengan materi pelatihan yang diselenggarakan oleh Kepolisian di negara lain menunjukan bahwa pelatihan Manjemen training menjadi sangat penting untuk membangun soft skill pemimpin dalam hal bagiaman seeorang manajer dapat memiliki kemampuan :

  1. Komunikasi : Hubungan antara keterampilan komunikasi yang luar biasa dan kepemimpinan dalam Lembaga Kepolisian yang efektif karena hampir setiap aspek pekerjaan. Para pemimpin Kepolisian harus memiliki keterampilan interpersonal untuk berkomunikasi  dan memahami bagaimana berkomunikasi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang, memahami bagaimana menggunakan komunikasi untuk membangun kepercayaan, menciptakan transparansi dan menumbuhkan suasana saling menghormati dan empati. (ROUFA, 2019)
  2. Membangun Tim : adalah bagaimana Pemimpin Kepolisian ydapat membangun sekaligus memberdayakan Tim dengan rekomendasi inti untuk membangun tim kerja Kepolisian  secara efektif dengan mampu membangun rasa memiliki organisasi, memberikan dan membuka  peluang  bagi setiap anggota Tim ntuk memberikan solusi dan kontribusi secara nyata dan adanya kesempatan belajar secara adil.
  3. Penyelesaian masalah: setiap Pemimpn Kepolisian memiliki kemampuan konsultasi dan penyelesaian masalah penegakan hukum dengan cara dapat membawa sumber daya organisasi  untuk berfokus pada upaya pencegahan secara proaktif, memberikan gambaran kepada anak buahnya berupa gambaran lengkap masalah berdasarkan berbagai sumber informasi serta mampu melibatkan pihak-pihak yang terkena dampak dalam setiap tahap proses penyelesaian masalah, Penggunaan proses pemecahan masalah terstruktur seperti OHA dan ES dalam apliksi SARA (Scanning, analysis, response and assessment / pemindaian, analisis, respons, penilaian).
  4. Membangun kecerdasan emosional organisasi dengan melatih kemampuan untuk menyadari, mengendalikan, dan mengekspresikan emosi seseorang (misalnya, membawa sikap tenang namun tegas dalam proses tersebut), serta menangani masalah dan kepribadian yang terlibat dalam cara yang bijaksana dan empati dalam setiap Pemolisian.

Evaluasi yang dapat diberikan dari sesi penyelenggaraan pelatihan Management course level III oleh Sespimmen Polri adalah :

  1. Bahwa tujuan utama memberikan pelatihan adalah untuk memberikan kemampuan soft skill bagi kalangan Perwira menengah yang diproyeksikan menjadi manajer menengah pada organisasi Kepolisian, sehinga yang lebih tepat pada mekanisme penyelenggaraan latihan dimasa mendatang adalah adanya pelibatan calon peserta untuk secara dini ikut merumuskan bagaimana mekanisme latihan akan diberikan, tutor bertugas sebagai fasilitatir latihan dan sebagai direktur latihan, konsep ini akan memberikan ruang lebih luas kepada pesert untuk meresapi makna yang terkandung dalam pelatihan nantinya.
  2. Pelatihan MC III bukan hanya membuat peserta Lelah secara fisik namun lebih daripada itu adalah menciptakan kemampuan mengambil keputusan strategis dalam kondisi yang paling melelahkan, penggunaan media hewan seperti Kambing kembali menjadi media pelatihan seperti pada  pelatihan MC II di level PTIK tentunya perlu dipikirkan kembali, mengingat pada proses pembelajaran dengan metode yang sama dalam konteks latihan membentuk soft skill tentunya bukan suatu pilihan terbaik.
  3. Transformasi nilai kemampuan soft skill pada level Perwira menengah harusnya sudah pada tahapan bagaimana memformulasi kebijakan strategis dalam interaksi dengan masyarakat, materi yang lebih banyak menekankan bagaimana peserta pelatihan dapat melatihkan metode penelitian untuk melakukan penilaian komunitas dan organisasi ( OHA dan ES ) kemudian menggunakan prosedur analitik untuk mengevaluasi tren kejahatan ( sesuai tupoksi Polri) di lingkungan setempat dengan mengasah ketajaman etika, integritas pribadi dan professional serta mengaplikasikan teknologi tepat guna dalam memelihara Kamtibmas.

PENUTUP

Apa yang seharusnya peserta pelatihan MC III dapatkan dan yang bisa diberikan kepada  jajaran anggota Polri dalam lingkup tugas yang nantinya akan dihadapi adalah : adanya suatu pemahaman bahwa memimpin lembaga Kepolisian di level menengah adalah pekerjaan yang sangat menantang yang juga membutuhkan penguasaan apa yang sering disebut sebagai “soft skill” seperti komunikasi, pembangunan tim, pemecahan masalah dan resolusi konflik.

Harus dipahami bahwa jarang ditemukan seseorang anggota Polri secara alami memiliki keunggulan dalam keterampilan soft skill tanpa pelatihan formal maupun lewat kombinasi pengalaman tour of duty dan tour of area bertahun-tahun, pelatihan seperti MC III dengan berbagai adaptasi dan modifikasi

Tujuannya adalah akan melepaskan organisasi Polri yang akan dipimpin nantinya dari lingkaran pembuatan keputusan promosi jabatan maupun penugasan yang sebagian besar sampai saat ini masih  didasarkan pada keterampilan taktis ‘hard skill” saja, harapannya adalah kelak terselenggara berbagai pelatihan-pelatihan soft skill yang diformulasikan dari hasil pelatihan MC III Sespimmen tahun 2019 ini.

Sumber bacaan

Polri, M. (2008). Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Pelatihan Manajemen (Management Training) Di Lingkungan Lembaga Pendidikan Kepolisian Negara Republik Indonesia. Jakarta.

Polri, M. (2010). Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2010 Tentang Pembentukan Tutor Dan Trainer Of Trainers Manajemen Training Di Lingkungan Kepolisian Negara Republik Indonesia. Jakarta.

ROUFA, T. (2019, Juni 25). Soft Skills You’ll Need to Be a Successful Police Officer. Retrieved from https://www.thebalancecareers.com/: https://www.thebalancecareers.com/police-officer-soft-skills-974900

Sandiego, U. o. (n.d.). The Case for More Effective Law Enforcement Leadership Training. Retrieved from https://onlinedegrees.sandiego.edu/: https://onlinedegrees.sandiego.edu/police-management-training/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s