Low profile tapi high impact

Kata low profile bagi sebagian anggota Polri mungkin saja masih asing terdengar, namun bila disebut dengan istilah Premanan , maka dipastikan semua anggota Polri akan paham maknanya apa.

Low profile sering digunakan untuk menunjuk kepada cara berpakaian bahkan penampilan dengan tidak menggunakan pakaian dinas Kepolisian atau tanpa atribut identitas Polri sama sekali, dengan pertimbangan sedang melaksanakan tugas penyamaran, pengintaian atau surveillance, penyusupan bahkan penetrasi kepada target operasi, bila diperlukan totalitas pakaian dan penampilan fidik termasuk mengubah identitas dan gaya Bahasa dan gesture tubuh akan menjadi keharusan, sekali lagi totalitas dalam tugas.

Pokok-pokok persoalan yang muncul adalah bagaimana pelaksanaan dilapangan khususnya dalam tugas kepolisian yang menuntut serba cepat, tepat tapi harus legal dan akuntabel, mengapa Polri yang sudah totalitas premanan masih saja terdeteksi oleh pelaku kejahatan alias badar.

Sebagai sebuah ide dalam tulisan ini membahas bagaimana Low Profile dijalankan dalam praktek Kepolisian, hal ini menjadi menarik bila kita perhatikan dalam beberapa pemberitaan khususnya informasi yang beredar di social media, adanya beberapa rekan Polri yang karena tugas dan tanggung jawab yang diemban, secara berani menempuh segala resiko agar dapat tuntas melaksanakan tugas dengan pola Low Profile.

Hormat dan salut sebagai apresiasi harus diberikan kepada rekan-rekan Polri tadi, termasuk bagaimana rekan rekan Densus 88 AT yang senantiasa melakukan tugas surveillance secara low profile ” never ending pursuit” maupun bertugas melakukan penjagaan tahanan ternyata juga menjadi salah satu target serangan kelompok terror yang ada.

Kita masih ingat bagaimana identitas berupa foto dan nopol kendaraan milik Bapak Brigadir T dan Bapak AKP A yang bertugas di Rutan teroris cabang Mako Brimob Kelapa Dua sempat beredar di sosmed jaringan teroris sesaat sebelum kerusuhan besar terjadi disana.

Informasi yang paling update adalah ( walaupun bukan tindak pidana terorisme) bagaimana rekan Polri yang ditugaskan untuk melakukan upaya gakum terhadap pelaku Hate speech yang berhasil diamanakan di wilayah Bekasi beberapa saat yang lalu, nama rekan kita Z atau dikenal J C yang memang pernah muncul dibeberapa talkshow TV sebelumnya mendadak viral dan diprofiling oleh oknum tertentu dengan imbuhan isu yang digoreng : anti terhadap agama tertentu serta merupakan bagian dari konspirasi politik yang perlu dijadikan musuh bersama oleh sekelompok orang dengan menggunakan identitas tertentu tadi.

Komen dan profiling tadi dengan lugas dijawab oleh rekan kita Z, yang pada intinya, beliau tidak takut apalagi gentar menghadapi ancaman yang ditebar saat beliau melaksanakan tugas Kepolisian, SALUT.
Kembali kepada konsep Low Profile yang kita bahas diatas, ketika anggota Polri harus menggunakan pakaian preman atau non pakaian dinas adalah bahwa tidak setiap anggota Polri memiliki kadar mental seperti pak Z atau setidaknya tidak semua keluarga anggota Polri tadi memiliki keteguhan dan kesiapan mental menghadapi resiko when Hunter to be Hunted atau ancaman tugas dan tebaran terror yang bisa saja menimpa mereka sebagai konsekuensi tugas dan tanggung jawabnya.

Setidaknya pendapat ini pernah terbukti saat masa kerusuhan menjelang reformasi 98 terjadi, ketika formasi Polri dan TNI saat itu sedemikian kuat, maka salah satu cara yang paling masuk akal untuk mengalihkan konsentrasi petugas Polri yang semula siaga dilapangan adalah dengan isu -isu pembakaran dan penjarahan Asrama Polri yang tersebar di Jakarta.

Tulisan ini lebih kepada upaya mengingatkan kembali bahwa ketika tugas menuntut kita harus secara low profile atau premanan maka ada baiknya kita ingat kembali kepada dasar-dasar makna low profile tadi yakni adanya kepastian bahwa identitas kita tersamar secara baik dan natural, sekali lagi natural atau menyatu dengan lingkungan dimana misi itu dijalankan.

Low profile bukan berarti bisa berpenampilan semaunya saja, atau over to cover kata instruktur surveillance dari Inggris atau bergaya Spion Melayu,namun low profile menuntut adanya daya nalar anggota Polri untuk memilih, menyusun dan menampilkan pakaian, gaya rambut, logat bahkan identitas dan administrasi yang natural, setidaknya bergerak di lingkungan pelajar atau mahasiswa atau lingkungan Rohaniawan tentunya mau tidak mau harus natural sesuai dengan lingkungan mahasiswa apalagi Rohaniawan, termasuk ketika bergerak dilingkungan masyarakat kuli panggul atau keramaian pasar akan sangat aneh melihat orang berpakaian jas apalagi pakai dasi disana begitu pula sebaliknya.

Pertimbangan lain saat harus undercover maupun low profile adalah adanya Manajemen media massa, termasuk social media tampaknya semakin menjadi kebutuhan dalam rangka pengamanan informasi personil, menghindari expose media bukan berarti menjauhi semua akses informasi untuk public, namun lebih bijak menempatkan mana informasi yang perlu diketahui oleh khalayak, mana informasi yang cukup diketahui oleh intern Polri termasuk pilihan informasi pribadi petugas yang tidak perlu diketahui secara umum.

Pengamanan informasi menjadi penting mengingat selain keamanan diri pribadi petugas terdapat kewajiban untuk saling menjaga keselamatan rekan — rekan kerja maupun misi dan tugas Polri selanjutnya termasuk keluarga besar Polri secara umum.
Media massa dan social media memang menjanjikan popularitas maupun glory atas keberhasilan tugas yang kita lakukan namun gemerlap tadi menyimpan resiko lain yakni kebocoran informasi private dan dinamika operasi kepolisan, sehingga perlu bersikap bijak dalam mengelola media masa bagi anggota Polri.

Mengingat kembali tuntutan dan dinamika tugas yang sedemikian cepat, dimana keselamatan setiap petugas Polri harus menjadi perhatian utama karena hanya Polri yang sedang sehat walafiat dan selamat saja yang bisa melaksanakan tugas melayani dan melindungi masyarakat secara optimal, dengan pola Low Profile secara bijak diharapkan memberikan hasil yang High Impact dalam rangka menjamin kepastian hukum, melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s