Giliran Pondok Indah

 

Pasca tragedi Thamrin tahun ini, kembali  masyarakat Indonesia dikejutkan dengan peristiwa pencurian dengan kekerasan atau perampokan yang berujung kepada peristiwa penyanderaan di sebuah rumah di  Jakarta. beritacenter.com/news-142602-polisi-bekuk-perampok-bersenjata-dirumah-mewah-pondok-indah.html

Peristiwa sep1erti diatas tadi mungkin bukan yang pertama terjadi di Indonesia khususnya Jakarta, kejahatan pencurian dengan kekerasan atau perampokan bisa terjadi kapan saja dan kadang memang disertai dengan tindakan kekerasan, beberapa peristiwa malah berakhir dengan adanya korban yang harus kehilangan nyawa.

Khusus dalam peristiwa hari ini ada sedikit yang berbeda, adalah bagaimana antusiasme media ( bahkan ketika tulisan ini diketik  sambil menyaksikan ulasan detil dengan menghadirkan berbagai ahli-ahli lengkap dengan tinjauan teorinya di salah satu stasiun TV terkenal Indonesia).

Sikap antusiame media tentunya tidak dapat dipisahkan dari bagaimana dahsyat pemberitaan saat tragedi Thamrin terjadi beberapa waktu lalu, bisa jadi rekan wartawan ingin mendapatkan live report terbaik setidaknya sekelas dengan bobot berita insiden Thamrin yang dikupas tuntas mulai pelaku, korban, lokasinya sampai sepatu dan gaya sisiran rambut Polisi yang ada di TKP.

Menyaksikan selama hampir 3 jam drama perampokan dan perampokan tadi siang dapat beberapa hal yang perlu menjadi perhatian dan kelak menjadi sumber referensi bagi Polri dan masyarakat pada umumnya, hal ini tidak lepas dari kemungkinan adanya korban ikutan  yakni masyarakat, wartawan dan polisi yang ada di TKP.

Tidak adanya batas- batas berupa police line atau semacam parimeter yang jelas dan berjarak cukup aman  di tkp.  Sehingga wartawan bebas mengambil gambar dan video ketika pasukan Brimob akan melaksanakan penetrasi, hal ini tentunya berdampak negatif bagi  petugas dan masyarakat bahkan sandera, karena musuh bisa memonitor pergerakan pasukan.

Minimal upayakan TKP dapat dan seharusnya tertutup dulu sampai steril dan aman, hal ini untuk keamanan bersama, dimana ini adalah pelajaran dasar Kepolisian  sewaktu masih belajar di pendidikan. Sebagai informasi bahwa Taruna Kepolisian di Thailand  pada tingkat 4 pasti mendapatkan pelajaran penanganan insiden penyaderaan maupun perampokan seperti ini, mulai  dari manajemen insiden, negosiator dan pembebasan sandera dimana modulnya diperoleh dari Kepolisian Jerman dan Amerika, sedangkan Taruna AKPOL di Indonesia justru mendapatkan materi penting seperti ini pada  pelajaran tingkat Dasbhara dan kerap menjadi bahan peragaan  saat Wisuda Prajurit.

Akibat tidak ada perimeter yang baik, tentu selain wartawan pelaku kejahatan lain pun sebernarnya bisa masuk dan melakukan kejahatan lain. Contoh : bom bunuh diri, penembakan terhadap petugas ( ingat insiden Thamrin dan Bom Bali I )

Fenomen adanya wartawan yang meliput setiap detil proses penindakan adalah tidak lepas dari tugas dari wartawan itu sendiri untuk mengumpulkan berita dan mengabarkan berita tadi secepatnya, namun dalam tinjauan taktis seperti kejadian barusan, dapat saja tindakan wartawan tadi justru akan menjadi kontraproduktif,   jalan tengah yang bisa dilakukan adalah dengan menugaskan bagian Humas Polri untuk mendampingi wartawan tadi.

Maksudnya daripada wartawan menerka nerka apa dan seperti apa kondisi yang sedang terjadi kemudian salah menafsirkan dan akhirnya keliru memberitakan,  maka akan lebih baik bila ada personil Polri yang ditugaskan mendampingi atau setidaknya bisa memberikan info yang memadai secara benar walaupun dalam tataran : sedang kita dalami, nanti kita cari tahu di pemeriksaan, sabar dulu sedang diusahakan penindakan secara soft, penindakan keras itu adalah…. bilamana ….. dengan…. sehingga… Hal ini memang tidak akan menjamin bahwa  wartawan tidak akan bertindak kontraproduktif,  namun setidaknya wartawan tidak akan bingung membuat berita seenak dan  setahu mereka tanpa ada yang  bisa meluruskan

Dalam pengambilan tindakan harus dengan perhitungan yang matang. Tiap tiap etape dalam penggunaan kekuatan harus dilaksanakan. Proses negosiasi harus dilaksanakan terlebih dahulu. Syukurlah pelaku tidak militan, dan kalau militan mungkin  ada korban dipihak Polri, tidak boleh anggap remeh setiap kejadian.

Lihat pada link berikut :  National geographic : Inside hostage massacre  https://youtu.be/E1dyKiJHCEk  belajar dari upaya  penyelamatan sandera di Manila, penyelamatan itu disebut oleh PBB sebagai penyelamatan terburuk yang dilakukan oleh Polisi Manila. Penyanderaan dilakukan oleh seorang  pecatan Polisis berpangkat Kapten   yang tidak terima diberhentikan secara tidak hormat oleh Kepolisian Manila.  Dalam penyanderaan tersebut terdapat  sekitar 21 sandera yang sebagian besar  meninggal dunia akibat  ditembak oleh oknum pelaku .

Dalam proses negosiasi sebelumnya, Polisi telah berbuat sebaik mungkin. Salah satu penyebab dari emosi penyandera tiba-tiba memuncak adalah karena terbukanya informasi yang dapat diterima penyandera. Didalam Bus  tersebut ternyata ada sebuah televisi yang bisa digunakan untuk melihat siaran berita.

Seperti pada siang tadi, posisi dan taktik Kepolisian Manila dapat dilihat melalui TV, termasuk  bagaimana taktik penempatan para penembak jitu kepolisian Manila. Media menjadi berperan penting untuk meningkatkan emosi penyandera ketika media menyiarkan secara langsung ketika Polisi  Manila  berhasil menangkap adik (saudara kandung ) sang Kapten yang mencoba menyusup barikade Polisi untuk menemui sang kakak.

Ditambah lagi adanya media radio yang berhasil menemukan nomor HP sang Kapten dan mewawancaranya secara online, akhirnya negosiasi yang telah alot dilakukan oleh Polisi Manila menjadi berantakan dan terjadilah insiden penembakan di dalam Bus wisata di kota Manila.

Sudah diajarkan kepada anggota yang pernah mengikuti pendidikan maupun pelatihan Wanteror di PLATINA maupun CRT di Mega Mendung. Bahwa terdapat yang namanya THA, kemudian ada namanya LCC barulah FAP, hal-hal seperti ini harus dipedomani dan dilaksanakan bukan hanya teori dan pada saat kejadian justru dilupakan.

Konsep 3 C  berupa  Close-Contain-Counter. Harus dipedomani secara rigid dilapangan  bahkan misalnya keadaan tersebut jauh dari  back-up kekuatan baik dari Polres maupun Kesatuan Brimob  atau situasi yang membutuhkan tindakan segera dan  kebetulan hanya ada kekuatan Pospol dan Polsek disana, apakah tahapan kekuatan mutlak tetap harus dilaksanakan atau bisa berdasar konsep wewenang diskresi seorang kapolsek.

Ada beberapa opsi antara lain memaksimalkan sumber daya yang ada, kalau disitu ada TNI  maka  dapat didayagunakan asalkan kendali dibawah kasatwil Polri ( ingat chain of evidence dan due proses of law nantinya )  dan kedua dengan memaksimalkan konsep 3 C  tadi sampai bantuan dari satuan tindak datang, semua opsi ada resikonya.

Sebenarnya yang paling esensi dari posting diatas adalah bagaimana peran Satwil terutama uniformed police on ground seperti Lantas, Sabhara dan Bhabinkamtibmas mampu memerankan konsep 3C tadi.

Lanjutannya adalah setiap Polisi di TKP  yang bertindak sabagai first responder  harus mampu menjadi : guide bagi pasukan tindak ( Brimob atau Densus ) yang pasti akan datang belakangan, guide ini maksudnya menjadi pemandu yang  dapat menunjukkan siapa kira kira pelaku                   (cirinya), siapa korban ( ciri kalau bisa foto ), informasi berupa sket sasaran atau TKP walaupun kasar dan lainnya, termasuk mengarahkan mobil-mobil satuan tindak yang bisa jadi buta tuli wilayah tempat TKP berada.

Harus memikirkan akses masuk yang lain, dengan tidak terpusat  bahwa penindakan maupun penyampaian himbuan dengan Public Addres haruslah dari  arah depan, karena  umumnya arah depan adalah kelemahan pasukan penindak, jika terekspose oleh lawan. Maka bubarlah prinsip dasar CQB yaitu  : speed, surprise and violent of action, hal ini tentunya harus dipedomani dan dilaksanakan.

Operasi tadi adalah pembebasan sandera, yang harus diingat, jika sandera sampai mati maka operasi tadi dapat dikatakan  gagal,  maka tidak perlu terburu buru, negosiasi sangat penting  sehingga peran negosiator sangat penting, memang tidak  mudah dan murah membentuk seorang negosiator handal, sehingga bagus  bila  diangkat menjadi  tulisan tentang peran negosiator yang belum diprioritaskan dan selalu ditingkatkan kemampuannya.

Saat ini pada umumnya Polwan yang dimajukan sebagai negosiator walaupun sebenarnya mereka yang ditugaskan sebagai negosiator (umumnya pada pengamanan unras ) belum memiliki latar belakang pendidikan dan latihan negosiator secara memadai.

Terakhir adalha perlunya disiapkan “pasukan penyerang darurat” yang sudah siap masuk kapan saja manakala pelaku mulai menembak/melukai sandera, bagaimanapun tanggapan nantinya, antara yang senang, bangga dan salut kepada upaya yang telah dilakukan oleh Polri tadi siang.

Akan ada pihak –pihak yang mendiskreditkan entah dengan berbagai maksud, haruslah bersama kita apresiasi tindakan kepolisian tadi, karena insiden yang dihadapi tadi siang adalah bukan sebuah peragaan apalagi show of force yang pastinya dibuat dengan skenario pasukan penindak pasti menang dan pasukan Sonora pasti kalah, pasukan penindak dalam latihan  pastilah lebih  taktis dan sempurna gerakan dan tindakan yang dilakukan, sekali lagi ini bukan drill apalagi pertunjukan, ini nyata, berbahaya dan bisa jadi sekali seumur hidup.

http://m.news.viva.co.id/news/read/817395-sandera-pondok-indah-selamat-nasib-perampok

 

 

 

Operasi Nusa Candi

Eksekusi terpidana Mati Trio Bom Bali

dicuplik dari buku  berjudul : BRIMOB: Dulu, Kini, dan Esok ;

penulis: Atim Supomo; Djumarwan;Surya Putra;Masqudori, terbitan November 2015

Pengalaman bertugas dalam operasi penegakan hukum dengan keluar masuk hutan, berhadapan dengan gerombolan bersenjata pengacau keamanan adalah cerita dalam rutinitas pengabdian sebagai anggota Brimob Polri, namun dalam situasi yang berbeda, adalah suatu masalah yang berbeda ketika mendapat tugas sebagai tim eksekusi bagi terpidana mati Amrozi dkk. alias Amrozi dkk., yang menjadi tantangan adalah bagaimana caranya menemukan 12 orang yang “cocok” bertugas selaku eksekutor hukuman mati.

Dengan dasar Ren Ops Nusa Candi 2008 Polda Jateng No. Pol. : R / REN OPS / 05 / IV / 2008 tanggal 24 April 2008 tentang Pengamanan pelaksanaan eksekusi terpidana mati kasus Bom Bali I Amrozi cs.Perintah menyiapkan regu tembak, membuat tidur menjadi tidak nyenyak, pikiran tentang bagaimana prosedur dan siapa yang akan melaksanakan tugas nantinya, beban pikiran lambat laut hilang sampai saatnya para komandan Kompi Jajaran Sat. Brimob Polda Jateng dikumpulkan oleh Kasat Brimob KBP Drs. Wahyudi Hidayat, suasana rapat riuh dengan berbagai masukan dan saran unsur pimpinan terkait rencana kegiatan kedepan, suasana hening ketika terdengar suara – suara Kasat Brimob membuka rapat.

Ditengah keheningan kembali disampaikan bahwa mulai besok para Komandan Kompi jajaran harus mulai menyeleksi dan menyerahkan nama personil yang dinilai layak dan cocok menerima tugas khusus sebagai eksekutor pidana mati, ditegaskan bahwa tugas membutuhkan 60 nama personil yang akan diseleksi dan dilatih secara intensif super ketat dibimbing oleh Wakasat Brimob Jateng AKBP Drs.Imam Margono.

Seperti dugaan awal bahwa proses pengajuan 60 nama kandidat eksekutor tidak semulus yang diharapkan, perlu dimaklumi memang tugas sebagai eksekutor adalah pekerjaan yang spesifik, lain dari pada yang lain. Butuh kekuatan lahir bathin, mental dan spiritual yang tangguh agar pekerjaan tuntas dan tidak menimbulkan masalah di kemudian hari, walaupun keahlian menembak dan olah terampil menggunakan senjata api adalah makanan sehari-hari Brimob.

Brimob dikenal mahir dalam menembak, minta mata kena mata, bukan minta kepala kena betis atau kaki, dan berpengalaman menghadapi kelompok kriminal bersenjata di hutan lebat Papua dan konflik bersenjata Aceh, tetapi kini masalahnya berbeda, ada satu yang mengganjal, menjadi eksekutor hukuman mati terhadap nyawa orang.

Bolak balik ganti nama kandidat berkali – kali, akhirnya ke 60 kandidat terbaik hasil seleksi antar Kompi final dapat diajukan ke meja Wakasat Brimob, mengingat tenggang waktu yang makin dekat untuk mempersiapkan semua kebutuhan lain terkait personil pendukung, peralatan maupun merancang skenario eksekusi agar tidak terendus secara berlebihan oleh media.Pada akhirnya 60 Kandidat ekesekutor selanjutnya secara resmi dipanggil untuk dikumpulkan dan diberikan arahan tugas.

Organisasi Brimob yang dibentuk secara hierarkhi kuat memiliki perilaku organisasi yang sangat khas, selain garis hierarkhi yang dirancang sedemikian ketat adalah semangat korsa dan hubungan antar personil yang sangat dekat. sehingga adalah sewajarnya di tubuh Brimob seorang komandan harus memiliki prinsip selain mampu berperan menjadi komandan yang tegas dan tidak boleh ditawar seorang insan komandan juga harus bisa mengemban peran sebagai kawan tempat berkeluh kesah, dan sebagai orang tua yang mampu mengayomi segenap kebutuhan dan kesulitan anggota. Pelaksanaan Hukuman Mati oleh Jajaran Satbrimob Polda Jatengterhadap terpidana Kasus Terorisme (Pelaku Bom Bali)di Pulau Nusakambangan pada tanggal 09 November 2008.

Keahlian mengambil peran seperti ini yang dimainkan manakala menyadari bahwa tidak mudah menemukan dan menugaskan seorang anggota, walaupun nyatanya ahli dan secara fisik mampu dan layak sebagai seorang anggota regu tembak. Butuh kejelian tersendiri untuk mencari mereka yang terampil dan layak secara lahir bathin,matang secara mental dan memiliki keteguhan spritual sehangga menjalankan tugas ekesekusi mati dapat terlaksana secara tuntas tanpa ekses lain terhadap institusi maupun diri pribadi masing masing anggota. Alhasil dengan siasat “among” ke 60 kandidat menyatakan kesanggupan dan siap mengikuti seleksi regu tembak, dengan motivasi sampai detik itu tidak satupun kandidat yang berani tunjuk jari untuk mundur.

Seleksi pertama adalah tahapan psikologi, dengan tes yang dilakukan oleh Biro Personil Polda Jateng, berupa tes tertulis dan wawancara yang berlangsung seharian penuh dipimpin langsung oleh Kabag Psikologi AKBP Purnomo. Disela-sela tes berlangsung, Kabag Psikologi Polda menyampaikan bahwa biasanya tes psikologi dilakukan untuk menguji kematangan anggota agar tidak happy trigger, kini tes justru dilakukan untuk mencari anggota yang matang kepribadiannya dalam tugas mengeksekusi terpidana mati.

Tim Psikologi juga menyampaikan bahwa mungkin tidak setiap psikolog “beruntung” terlibat memberikan rekomendasi “tiket” pelaksana eksekusi hukuman mati. Hasil tes psikologi memang tidak bisa diberikan hari itu juga, diperlukan beberapa waktu untuk pengolahan hasil tes tertulis dan wawancara, secara sekilas Kabag Psikologi Polda Jateng menyampaikan terdapat beberapa kandidat yang harus diperhatikan secara lebih cermat, antara lain ketika kandidat si A karena istrinya baru saja mengetahui sedang hamil dan belum sempat disampaikan kepada Danki, sedangkan kandidat B, menurut hasil pengamatan dan wawancara justru memiliki kecenderungan agresif, bisa jadi juga karena sedang bermasalah dengan istrinya dirumah.

Masukan – masukan penting dari tinjauan psikolog men-jadikan daftar kandidat kembali menciutkan jumlah kandidat: 1 Kandidat dicoret karena alasan manusiawi “ istri sedang hamil” , 1 dicoret karena sedang konflik rumah tangga , dan 2 Kandidat dicoret karena masih terlalu muda dan belum pernah test mission ke daerah konflik, dengan pertimbangan lebih baik 2 kandidat junior ini mendapat pengalaman di medan tugas entah di operasi mana saja namun tidak dengan mencari pengalaman tugas sebagai regu tembak di awal karier penugasan mereka.

Para kandidat yang layak, digembleng memasuki latihan menembak dan prosedur eksekusi, menurut prosedur nantinya eksekusi akan dilakukan pada malam hari, dengan penerangan yang minim, dengan jarak antara regu tembak dan terpidana tidak lebih dari 5 meter, Jarak yang relatif dekat tadi dimaksudkan agar impact balistik peluru tidak terlalu kuat untuk mengoyak tubuh, dan terdapat ketentuan yaitu menyiapkan seorang Danru eksekusi, lengkap dengan revolver di pinggang yang dapat digunakan sewaktu – waktu, manakala tembakan salvo 3 butir peluru regu tembak belum berhasil menuntaskan hukuman terpidana, maka mau tidak mau Danru harus menempelkan revolver tepat di pelipis terpidana mengarah ke otak, dengan satu tembakan tunggal, peluru dalam revolver diharapkan bisa menuntaskan tugas yang belum terselesaikan oleh regu tembak.

Urusan menyiapkan regu tembak sebenarnya cukup mudah saja, tinggal dilatih secara intensif menembak titik hitam dalam jarak 5 meter, dengan grouping tembakan sekecil kecilnya tepat diarah jantung terpidana, maksudnya agar tidak menimbulkan kesakitan secara berlarut – larut.

Secara sukarela terdapat beberapa anggota Bintara tinggi yang bersedia mengambil tanggung jawab sebagai komandan regu tembak yang artinya pada dirinya siap lahir bathin melakukan tembakan penghabisan bila regu tembak gagal, entah karena kasihan melihat Komandan Kompi panas dingin menyiapkan regu tembak yang waktunya makin sempit atau karena rasa pengabdian yang tinggal tersisa beberapa tahun lagi, lantas ingin memberikan yang terbaik bagi Polri,  yang penting mereka siap, iklhas dan sukarela.

Persiapan Regu tembak dan pernak – pernik harus matang luar dan dalam, tidak saja urusan keahlian dan kemampuan menembak disiapkan, badan kuat dan sehat tidak berarti banyak bila mental dan spiritual bermasalah, urusan spiritual menjadi perhatian yang tidak boleh luput, selama hampir 2 minggu latihan intensif, dilakukan juga pembekalan rohani dengan cara mengundang beberapa Kyai untuk memberikan penguatan spiritual khususnya bagi pelaksana, mereka di-undang untuk bersama – sama mengadakan pengajian dan memberikan siraman rohani.

Memindahkan tahanan seperti Amrozi dkk, dengan catatan sebagai Master Mind Bombditangannya tentunya perlu banyak perhitungan matang, dengan adanya vonis hukuman mati, seorang terpidana dapat saja nekat mengakhiri hidupnya atau lebih fatal dengan membunuh petugas pengawal.

Uji coba dengan menggunakan dengan berbagai skenario dilakukan, mulai dari situasi landai dan tenang tanpa per-lawanan berlanjut ke skenario Amrozi CS. mengamuk didalam sel, di lorong ruangan sel, mengamuk di pintu keluar dan masuk Rantis dan skenario Amrozi dkk. mengamuk didalam Mobil Rantis dengan melukai serta membunuh petugas.

Pada sesi latihan dan uji coba skenario dilakukan dengan metode pengawalan yang dilakukan dengan membagi petugas menjadi tim pembawa dan tim pengaman. Tim pembawa adalah tim dengan beranggotakan 6 orang (4 Pembawa terpidana, 1 Dantim, dan 1 Pengemudi) yang bertugas menerima Amrozi dkk. dari tangan sipir Lapas, memasangkan dan melepas borgol tangan, kaki, mengangkat tubuh Amrozi dkk. kedalam rantis serta siap bergumul bila Amrozi dkk. sengaja melawan petugas.

Sebagai catatan, bahwa tim Pembawa tidak diperkenankan membawa senjata api jenis apapun, namun membawa 2 set borgol tangan dan kaki, 2 set penutup kepala warna hitam untuk Amrozi dkk. 1 botol air minum untuk Amrozi dkk. Sewaktu – waktu minta minum, 2 setTaser Gun / Stun Gun, dan 2 botol OC spray ( semprotan cabe, sebagai alat kejut listrik yang dibawa oleh 2 anggota tim pembawa depan dan belakang, untuk tim kawal adalah berjumlah 8 (delapan) orang, dengan menggunakan body armour level 4, helm balistic, senpi organik dan alkom, terbagi dalam 2 kendaraan yang akan mengapit mobil Rantis pembawa Amrozi dkk.

Suasana mencekam makin mengental ketika pada pada hari Jum’at-Sabtu tanggal 30 Oktober-01 Nopember 2008 pukul 00.00-02.00 wib pelaksanaan pemindahan para pendukung Amrozi dkk. Atas nama Subur dkk. bersama 9 (sembilan) napi lainnya dari LP Batu ke LP Pasir Putih (SMS) dilanjutkan pada hari Sabtu tanggal 01 Nopember 2008 pukul 10.00 WIB pelaksanaan sterilisasi ruangan/sel terhadap ketiga terpidana mati Amrozi dkk. Dipimpin Wakasat Brimobda Jateng AKBP Drs. Imam Margono.

Pada hari Sabtu s/d Minggu tanggal 08 – 09 Nopember 2008 pukul 22.00 WIB Rangkaian pelaksanaan ETM Amrozi Cs. Urutan rangkaian tersebut dimulai pada pukul 21.00 WIB, Jaksa Eksekutor dan Kalapas Batu menandatangani BAP serah terima terpidana di ruangan Kalapas Batu dilanjutkan oleh tim pengawal terpidana dengan didampingi petugas Lapas memasuki sel terpidana langsung membawa terpidana menuju lokasi eksekusi, tepat pada pukul 00.00 WIB Tim eksekusi memasuki lapangan dan laporan siap pelaksanaan tugas,pukul 01.20 Wib eksekusi selesai dilaksanakan.

Jenazah ketiga terpidana mati kemudian dirawat dan disholatkan sesuai agama yang dianut untuk selanjutnya pada pukul 06.00 Wib dengan menggunakan 2 unit Helicopter Poludara melanjutkan penerbangan meninggalkan Pulau Nusakambangan (menuju ke Banten dan Lamongan Jawa Timur).

in the line of fire

_MG_2975

perubahan metode,lokasi,waktu,aktor dan sasaran dalam kontek serangan teror di Indonesia maupun secara Global dapat dilihat bahwa terdapat beberapa dinamika.

pada awal tahun 2000an sasaran yang menjadi serangan teroris adalah fasilitas milik asing maupun berbau asing seperti warung makan waralaba ayam goreng sebagai sebuah konsep Far Enemy, metode serangan juga menggunakan bom dengan switch manual dan manusia ( bom bunuh diri)

Pada era 2010 sasaran terorisme bergeser menjadi petugas Polri atau TNI yang kini dianggap sebagai Near Enemy, musuh dek yang berada disekitar kelompok teroris dibandingkan sasaran Far Enemy yang dalam eksekusinya membutuhkan biaya, dukungan dan usaha yang sangat besar, serta resiko tergulungnya seluruh jaringan bilamana gagal dalam mengkesekusi.

IMG00118-20100713-1358

sebagai sebuah pengingat akan ancaman teror yang tetap melekat kepada setiap sendi kehidupan masyarakat Indonesia dan terhadap anggota TNI dan Polri adalah peristiwa pengungkapan kasus penembakan terhadap anggota Polri yang pernah marak (dan masih rawan terulang).

teror sebagai sebuah makna diukur lewat sejauh mana perbuatan tersebut berhasil menimbulkan ketakutan dan kengerian yang menjalar ditengah masyarakat terutama mereka yang didifinisikan sebagai lawan, tidak heran akibat teror penembakan terhadap anggota Polri , lantas memunculkan diskusi apakah pelaksanaan tugas Polri dalam penanggulangan kejahatan terorisme di Indoensia harus dihentikan dan membiarkan saja benih-benih terorisme berkembang dan tumbuh besar di NKRI

AKP Anumerta Bryan

Seorang anggota Brimopda Papua di Jayapura, membawa foto Briptu Sahrul Mahulau (28) dari Kompi 3 Dewa Satbrimobda yang menjadi korban penembakan oleh kelompok separatis bersenjata di Kota Lama Mulia, Puncak Jaya , Senin (15/2). (ANTARA/Anang Budiono)

Suherman
Teror penembakan anggota Polri akhirnya berhasil diungkap sekaligus dilakukan penindakan hukum oleh Polri, dilakukan oleh kelompok teroris jaringan Abu Umar yang merupakan gabungan dari kelompok Jaba, Jakarta, dan kelompok Depok. Abu Umar sendiri sudah ditangkap pada 4 Juli 2011 di Bojong, Bogor dengan barang bukti sejumlah senjata laras panjang dan pistol.
(Rebo, 2014) memberikan penjelasan skripsi di STIK-PTIK tahun 2014 tentang sepak terjang Abu Umar alias Muhammad Ichwan alias Indra Kusuma alias Andi Yunus alias Nico Salman yang mempunyai spesialisasi sebagai pemasok senjata dari Filipina dengan jalur Tawau, Nunukan-Kalimantan Timur, Palu-Sulawesi Tengah dan Surabaya.
Tahun 1990, sebagai anggota Darul Islam dirinya mengikuti pelatihan militer di Moro Filipina, sebanyak 18 orang jaringan Abu Umar diketahui telah ditangkap sampai saat ini.
Mengenai sepak terjang jaringan 
kelompok teroris Abu Umar mempunyai target serangan Kedubes Singapura di Jakarta dan operasi Ightilat berupa penyerangan terhadap kelompok Syiah, Abu Umar juga terlibat penyerangan terhadap mantan Menteri Pertahanan Matori Abdul Jalil dan penyerangan markas Brimob di Ambon pada 2005.
Abu Umar mempunyai hubungan dengan anggota jaringan Darul Islam lainnya. Salah satu yang berhasil ditangkap pada Juli 2011 adalah Iwan Kurniawan. Iwan sendiri merupakan adik kandung Arham alias Eceng Kurnia yang tewas ditembak Polisi pada tahun 2010 di Aceh.

andi sapa

Andriandi Sumsel

Arham merupakan mantan anggota komando AMIN yang keluar dari Darul Islam tahun 1999. Iwan tadinya membawa senjata dari Kalimantan dan akan diserahkan ke Abu Umar sebelum tertangkap, kelak senjata selundupan inilah yang banyak digunakan untuk menebar terror di Jakarta ( penembakan terhadap anggota Polisi) dan perampokan / Fa,i terhadap Bank BRI unit Tiga Raksa Kab. Tangerang.
Berkaitan dengan peristiwa penembakan terhadap sejumlah aparat kepolisian yang terjadi di beberapa tempat khususnya yang terjadi di wilayah hukum Polda Metro Jaya, sesungguhnya merupakan rangkaian peristiwa penembakan yang terjadi pada hari Sabtu, 27 Juli 2013 di Jalan Cirendeu Raya depan Sekolah Al Fatah, Pamulang, Tangerang Selatan.
Aipda Patah Saktiyono (55), anggota Polantas Polsek Gambir Jakarta Pusat ditembak oleh dua pria tidak dikenal yang mengendarai motor, dalam peristiwa penembakan tersebut Aipda Patah selamat walapun mengalami luka tembak setelah peluru menembus punggung belakang kiri menembus ke dada depan.

Rabu, 7 Agustus 2013 depan Gang Mandor Jalan Otista Raya RT 03/11 Kelurahan Ciputat Kecamatan Ciputat Kota, Tangerang Selatan, Aiptu Dwiyatno (50), anggota Bimas Polsek Metro Cilandak tewas ditembak oleh pelaku teror, dalam peristiwa tersebut korban meninggal dunia setelah peluru berkaliber 9 mm. menembus kepala korban.

Jumat, 16 Agustus 2013 Jalan Graha Raya depan Masjid Bani Umar, Kelurahan Prigi Baru, Kecamatan Pondok Aren, Bintaro, Tangerang. Dua anggota menjadi korban penembakan yang dilakukan oleh pelaku, kejadian terjadi saat Aiptu Kus Hendratma dan Bripka Ahmad Maulana, Anggota Polsek Pondok Aren akan berangkat ke kantor untuk melaksanakan apel malam, dalam peristiwa tersebut kedua korban meninggal dunia.
Sebenarnya saat itu jaringan teror tidaklah merubah modus, target atau sasaran namun yang diharapkan adalah spirit of terror dalam menebar rasa ketakutan, sehingga mereka tidak peduli siapapun targetnya yang terpenting adalah pesannya sampai yaitu munculnya rasa takut.

Memang selama ini targetnya dalah Negara Barat, berdasarkan perintah fatwa dari Osama Bin Laden adalah Amerika dan sekutunyalah sebagai target, akan pasca kematian Osama, maka Ayman al-Zawahiri sebagai penggantinya, menyerukan perubahan dalam organisasi teror dan komando untuk berubah dengan melakukan apa saja dengan kemampuan yang dimiliki baik secara perorangan maupun kelompok khususnya untuk menyerang Negara-negara yang menganut paham Demokrasi, termasuk Indonesia.
Pemerintah dan alat Negara Indonesia oleh jaringan Abu Umar dianggap thoghut ( setan), Polisi sendiri sebagai alat Negara dalam tugas penegakkan hukum positif di dunia, sehingga dengan demikian setiap anggota Polisi diyakini memilki pemahaman yang berbeda dan bertentangan dengan jaringan teroris Abu Umar, target utama tetaplah demokrasi dan Polisi hanya sebagai simbol adanya spirit of terror.

Pelaksanaan penindakan yang dilakukan di Kelurahan Kampung Sawah, Ciputat, Tangerang Selatan dilakukan seluruhnya dibawah tanggung jawab Kadensus 88 AT dengan pertimbangan bahwa dalam memberantas terorisme menggunakan law enforcement bukan war on terror sehingga yang melakukannya adalah penyidik, jadi penyidik meminta bantuan kepada penindak (Wanteror Gegana) untuk melakukan penindakan.
Semua yang dilakukan atas dasar penegakan hukum, Indonesia memiliki strategi di level nasional yaitu pendekatan penegakan hukum dan bukan praktek perang, dimana UU pemberantasan terorisme memberikan wewenang kepada penyidik, penyidik yang berwenang melakukan penegakan hukum adalah Polisi dalam hal ini Densus 88 AT dengan dukungan penuh Detasemen C/ Wanteror Satuan I Gegana.

KBP Drs. Imam Widodo, selaku Kasat I Gegana (pada tanggal 31 Desember 2013 kurang lebih pukul 15:30 WIB), memerintahkan Kompol F.S, sebagai Kaden C Wanteror untuk menyiapkan personel siaga Unit wanteror. Detik-detik penindakan Tersangka terorisme dimulai setelah Unit Wanteror tiba di posko taktis terdekat TKP pada pukul 19 : 30 wib untuk melaksanakan koordinasi dengan tim surveilance untuk mendapatkan data awal berupa informasi mengenai tersangka, jumlah senjata, dan peta lokasi sasaran/target.

Adapun cara bertindak yang disiapkan adalah melakukan penangkapan di jalan pada saat tersangka keluar rumah untuk meminimalisir korban, dimana berdasarkan informasi intelijen yang diperoleh bahwa pada hari itu tepat pada malam tahun baru 2014 para pelaku terror merencanakan untuk melakukan hunting kepada anggota Polri yang sedang berada di jalan, dengan demikian pelaku harus bisa ditangkap hidup caranya adalah membagi beberapa personel Wanteror Gegana di 4 titik untuk melakukan penangkapan di jalan.

Unit wanteror sedang bersiap menuju titik-titik penyergapan ketika terjadi perubahan rencana, tiba-tiba 2 (dua) orang pelaku teror diketahui telah bergerak keluar lebih cepat dari rumah sehingga harus dilakukan penangkapan segera.
Tim berhasil mengamankan tersangka atas nama Dayat alias Daeng alias Hidayat. Tim gabungan melakukan penangkapan saat tersangka atas nama Dayat bersama dengan 1 (satu) orang tidak dikenal lainnya yang mengendarai sepeda motor Honda jenis Supra Fit bernopol B 8722 EDP.

Tersangka atas nama Dayat menyadari kedatangan petugas sehingga berupaya untuk melarikan diri, namun tidak bisa melarikan diri justru malah tersangka berusaha melawan petugas, sehingga untuk menghindari korban dari pihak petugas maupun masyarakat disekitar TKP maka unit wanteror mengambil tindakan tegas terhadap tersangka atas nama Dayat, dari Dayat polisi berhasil mengamankan barang bukti 1 (satu) buah pucuk senjata api jenis pengun. Dalam penangkapan tersangka tersebut salah satu anggota unit tindak Gegana BKO Densus 88 AT an. Briptu Daniel Tokoro mengalami luka di bagian betis kaki sebelah kiri akibat recoset tembakan.

Penangkapan dari salah satu orang yang bersama Dayat diperoleh informasi bahwa masih ada lagi sekitar 5(lima) orang tersangka lainnya yang bersembunyi dikontrakan di Kampung Sawah, Unit Striking Force / Unit wanteror segera bergerak menuju TKP. Ditemukan di TKP ternyata kelompok pelaku terror tinggal di sebuah kontrakan dengan tembok berwarna cat pink.
Langkah prosedural unit wanteror Satuan I Gegana adalah memberikan peringatan kepada tersangka yang berada didalam kontrakan tembok berwarna cat pink untuk keluar dan menyerahkan diri kepada petugas, tetapi peringatan tersebut dibalas dengan tembakan oleh para pelaku dari dalam kontrakan.

Para tersangka tetap tidak mau menyerah bahkan melakukan perlawanan. unit wanteror mengambil langkah dengan menembakkan beberapa butir granat gas air mata kedalam kontrakan berupaya memberikan tekanan agar para tersangka keluar dan menyerahkan diri.

Boas

gugur di sulteng

Seorang anggota Brimopda Papua di Jayapura, membawa foto Briptu Sahrul Mahulau (28) dari Kompi 3 Dewa Satbrimobda yang menjadi korban penembakan oleh kelompok separatis bersenjata di Kota Lama Mulia, Puncak Jaya , Senin (15/2). (ANTARA/Anang Budiono)
Tim pendobrak unit wanteror Gegana mencoba masuk dengan mendobrak pintu dengan menggunakan Shoot Gun, dengan maksud membuka celah menembakkan senjata kurang mematikan (Less Lethal Weapon) dengan peluru gas air mata. Walaupun dengan dihujani tembakan gas air mata tersangka masih tetap menolak menyerahkan diri.

Tim pendobrak wanteror Gegana (Breacher) melaksanakan pendobrakkan menggunakan peledak terhadap pintu depan dan jendela untuk mengontrol pergerakan pelaku dalam ruangan, walaupun pintu telah berhasil dibuka ternyata salah seorang pelaku malah sempat mendorong motor ke arah pintu sehingga pintu tertutup kembali, unit wanteror kembali tidak bisa melihat kedalam kontrakan.
Susana TKP gelap karena para tersangka telah mematikan saklar lampu dari dalam sehingga menambah kesulitan bagi unit wanteror. keadaan tersebut dilaporkan Katim wanteror Gegana kepada Kasat I Gegana untuk menyiapkan pasukan unit wanteror dan unit jibom untuk penebalan serta membawa peralatan penerangan berupa floodlight portable.
Tim Penebalan pasukan unit wanteror dan unit jibom dari Sat I Gegana Korps Brimob Polri dipimpin Kasat I Gegana datang ke TKP untuk menambah kekuatan karena ada perlawanan serta di perkirakan kekuatan dari TSK lebih dari 3 (tiga) orang, informasi tersebut diperoleh dengan menghitung suara teriakan dari dalam kontrakan yang mengindikasikan bahwa tersangka lebih dari 3 (tiga) orang, selain ditinjau dari suara teriakan tersangka indikator lainnya adalah diperoleh dari menghitung intensitas tembakan balasan oleh para tersangka dari dalam kontrakan.

Kelompok pelaku mengetahui petugas akan menerobos sehingga terus memberikan perlawanan dengan dengan menembakan senjata api kearah Unit wanteror dan melemparkan beberapa granat rakitan namun karena pembakarannya tidak sempurna granat rakitan tersebut tidak meledak.
Negosiasi verbal lewat pengeras suara juga masih berlanjut untuk terus membujuk para pelaku menyerahkan diri tetapi tidak dihiraukan malah terus melakukan perlawanan dengan menembakan senjata api ke arah unit wanteror gegana.

Upaya lanjutan tim pendobrak adalah kembali melakukan pemasangan breaching wall untuk mencoba membuka akses masuk kedalam rumah, pada saat tim pendobrak menyinari ruangan dengan senter kedalam ruangan didapati salah seorang pelaku berada dipojok dalam bak kamar mandi yang posisinya hanya terlihat dari celah tembok yang runtuh, para pelaku leluasa menembaki petugas dari dalam bak kamar mandi.

Salah satu tiba-tiba melompat keluar dari dalam bak kamar mandi dan berusaha menyerang petugas dengan tembakan terarah ke tim Penetrasi sehingga tim membalas untuk melumpuhkan dengan tembakan, dari hasil kontak tembak tersebut lima orang pelaku bersenjata meninggal di lokasi dan didapati barang bukti 5 pucuk senjata api pistol caliber 9 mm beserta magazine, 1 pucuk Revolver caliber 38, dan 17 buah bom/granat rakitan, sejumlah bahan Kimia (Kimia urea, chlorat, black powder, alat solder dan rangkaian switching elektronik), sejumlah uang Rp. 200.000.000.- (lembar Rp 100.000.-) diindikasikan adalah uang dari hasil perampokan / Fa,i yang terjadi di Bank BRI unit Tiga Raksa Kab. Tangerang.

Jasadmu sunyi namun jiwamu selalu abadi

I am the police, and I’m here to arrest you. You’ve broken the law. I did not write the law. I may disagree with the law but I will enforce it. No matter how you plead, cajole, beg or attempt to stir my sympathy. Nothing you do will stop me from placing you in a steel cage with gray bars.
If you run away I will chase you. If you fight me I will fight back. If you shoot at me I will shoot back. By law I am unable to walk away. I am a consequence. I am the unpaid bill. I am fate with a badge and a gun.
Behind my badge is a heart like yours. I bleed, I think, I love, and yes I can be killed and although I am but one man, I have thousands of brothers and sisters who are the same as me. They will lay down their lives for me and I them. We stand watch together.
The thin-blue-line, protecting the prey from the predators, the good from the bad.
1. AKP Anumerta Bryan Theophani Tatontos. Bryan menjabat sebagai Komandan Kompi Brimobda Sulteng, gugur dalam kontak senjata antara polisi dan kelompok teroris bersenjata di Pegunungan Langka di Desa Kilo, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Poso pada tanggal 21 Agustus 2015.
2. Brigadir Polisi Dua (Bripda) M. Andriadi (22) dan Bripda Rian Andriansyah (22). anggota Brimob Polda Sumatera Selatan yang di Bantuan Kendali Operasi (BKO) pada satuan tugas (satgas) pengamanan (Pam) PT Freeport Indonesia. Gugur pada tanggal 1 Januari 2015.
3. Bharada (Bhayangkara Dua) Putu Satria gugur dalam baku tembak itu terjadi setelah satu regu Brimob menyisir kawasan Desa Sahunca, Poso Pesisir Selatan pada tangal 6 Februari 2014.
4. Aiptu Thomson Siahaan dan Bripda Everson. Gugur saat sedang membantu kegiatan perayaan Natal GKI klasis Ilaga. Dua anggota Brimob yang bertugas di Kabupaten Puncak, Papua, ditembak saat berada di halaman depan Kantor Bupati Puncak di Ilaga, Rabu 3 Desember 2014 sekitar pukul 09.30 WIT.
5. Bripda Suherman, anggota Striking Force/ Gegana Korbrimob Polri yang di BKO kan pada Satgas Bom, gugur pada tanggal 30 Agustus 2012 dalam penyergapan terduga teroris di Solo Jawa Tengah.
6. Dua polisi bernama Briptu Andi Sapa anggota Polres Poso dan Brigadir Sudirman anggota Polsek Poso Pesisir hilang saat sedang mengintai tempat pelatihan teroris. Jenasah kedua almarhum ditemukan pada tanggal 16 Oktober 2012, di daerah Tamanjeka, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Poso, Sulawesi Tengah.
7. Empat anggota Brimob gugur dan melukai Dua anggota lainnya. Bhayangkara yang gugur adalah adalah Briptu Wayan Putu Ariawan, Briptu Ruslan, Briptu Winarto dan Briptu Eko Wijaya Sumarno Insiden penembakan terjadi Kamis tanggal 20 Desember 2012 sekitar pukul 10.00 WITA saat personel brimob berpatroli di Desa Kalora menggunakan sepeda motor dan kendaraan roda empat. Tanpa diduga, tim patroli diberondong tembakan dari arah perbukitan dan diduga dilakukan kelompok bersenjata yang diperkirakan berjumlah sembilan orang.
8. Bripda Sahrul anggota Brimob Polda Papua gugur ditembak di Mulia, ibukota Kabupaten Puncak Jaya saat sedang bertugas di wilayah rawan konflik pada 15 Februari 2010 Pkl.10.50 WIT.
9. Briptu Boas Maosiri, gugur dalam penyergapan kelompok teroris di Aceh Besar, pada tanggal 7 Maret 2010, selain Boas, dua polisi lainnya pun gugur dalam kontak tembak yakni anggota Satbrimob Polda Aceh : Brigadir Dua Dharmansyah dan Brigadir Dua Sri Handri Kusumo.

THE UNSUNG LEGEND………….DITEMPA DIDAERAH KONFLIK UNTUK MENYELESAIKAN KONFLIK

THE UNSUNG LEGEND………….DITEMPA DIDAERAH KONFLIK UNTUK MENYELESAIKAN KONFLIK

IMG-20131228-00241
SESEORANG MENJADI LEGENDA BUKANLAH PEKERJAAN GAMPANG, TERNYATA BETUL JUGA APA YANG DISIRATKAN DALAM TULISAN “ A GOOD KING WASN’T BORN , HE HAS TO BE MADE “ ATAU LEBIH MUDAHNYA ADALAH A GOOD SOLDIER WASN’T BORN , BUT HE HAS TO BE MADE (TRAINNED )

NAMA JACKI ULY BAGI SEBAGIAN ORANG MUNGKIN HANYA DIKENAL SECARA TERBATAS NAMUN BAGI GOLONGAN KAUM BRIMOB APALAGI ANGGOTA POLRI DAN BARISAN POLISI INTERNASIONAL PERNAH TERGABUNG DALAM UN–POL DIMASA MASA LALU NAMA DIATAS ADALAH SEBUAH JAMINAN MUTU ATAS INTEGRITAS DAN DEDIKASI KEPADA TUGAS YANG MENJADI TANGGUNG JAWABNYA.

BUKU YANG BERJUDUL “ JACKI ULY …. POLISI DI WILAYAH KONFLIK , CHALLENGE AND UNCERTAINTY “ TERBITAN SOEKARNO INSTITUT MENARIK UNTUK DIJADIKAN REFERENSI TENTANG GAYA KEPEMIMPINAN SEORANG POLISI YANG MENGHABISKAN MASA PENGABDIANNYA KHUSUSNYA DALAM KONDISI DARURAT DAN PENUH BAHAYA YANG MENGANCAM.
BUKU INI DIMULAI DENGAN ALUR CERITA YANG SANGAT SEDERHANA , ADALAH MASA KECIL , BAGAIMANA KETERTARIKAN DIRINYA DENGAN KORPS BRIMOB POLRI , MASA –MASA AWAL PENUGASAN SEBAGAI ANGGOTA POLRI, PENUGASAN DI TIMOR-TIMUR PADA MASA AWAL INTEGRASI, PENUGASAN DI SATUAN KEWILAYAHAN POLRI, BERTUGAS DI BERBAGAI MISI PERDAMAIAN PBB SAMPAI BEBERAPA PERISTIWA DIMANA JACKI ULI BUKAN SEKEDAR SEBAGAI PENONTON NAMUN JUSTRU SEBAGAI PELAKU SEJARAH.
BEBERAPA HAL MENARIK YANG PERLU MENJADI DISKUSI ADALAH KETERLIBATAN DIRINYA DALAM OPERASI KEPOLISIAN SPESIALIS DAERAH KONFLIK .
PERTAMA ADALAH PENUGASAN ONE WAY TICKET ( HALAMAN 97 ) KETIKA UPAYA DAMAI MULAI DILAKUKAN PIHAK NKRI UNTUK MERANGKUL KELOMPOK PERLAWANAN BERSENJATA FRETELIN DI TIMOR TIMUR TAHUN 1980, UPAYA FIRST CONTACT INILAH YANG BELUM BANYAK DIKETAHUI UMUM BAHWA NAMA JACKI ULY, KEMUDIAN AIPTU WUNTU DARI BRIMOB JABAR, CAPA LUKMAN DARI KOPASSUS, BERANGKAT BERJALAN KAKI DARI DAERAH LOS ( MUNGKIN LOS PALOS) JALAN DARAT TANPA SENJATA MENUJU GUNUNG SABURAI YANG DIKENAL SEBAGAI CAMP PERLAWANAN KELOMPOK FRETELIN PIMPINAN JOSE PAREIRA.
FIRST KONTAK PIMPINAN JACKI ULY INILAH YANG PADA AKHIRNYA MEMBUKAKAN JALAN BAGI ROMBONGAN BERIKUT DENGAN MENGGUNAKAN HELIKOPTER BERPENUMPANG PASTOR DARI MALIANA, SESEORANG DARI GOWA INDIA, DANDIM , KASI INTEL KOREM DAN PERWIRA DARI BAKIN MULUS MENDARAT DI LOKASI CAMP MUSUH UNTUK MEMULAI UPAYA REKONSILIASI.
ROMATISME YANG DICERITAKAN MUNGKIN SAAT HARI H DAN JAM J BAGI JACKI ULY BUKANLAH HAL BIASA , MENYADARI BAHWA MISI TADI BISA SAJA MENJADI MISI TERAKHIR DALAM HIDUP, MAKA SEPUCUK SURAT WASIAT MASIH SEMPAT DITITIPKAN KEPADA REKAN SEBELUM ROMBONGAN BERANGKAT.
PADA BAB ONE WAY TICKET INI JUGA TERDAPAT SEKELUMIT INFORMASI BAHWA TRAGEDI PENYANDERAAN PESAWAT GARUDA DC 9 WOYLA RUTE PENERBANGAN KEMAYORAN JAKARTA MENUJU POLONIA MEDAN TERJADI PADA SAAT YANG SANGAT KEBETULAN BERBARENGAN DENGAN PELAKSANAAN LATIHAN GABUNGAN ABRI PADA SESI PENDARATAN PANTAI DI PULAU BURU MALUKU TENGAH.
TANGGAL 28 MARET 1981 UPAYA RAID DI BANDARA DON MUANG BERHASIL DILAKUKAN DAN SEKALI LAGI DI TANGGAL YANG SAMA PRESIDEN RONALD REAGEN TERTEMBAK DI AMERIKA DIMANA PADA AKHIRNYA HEADLINE NEWS BERITA LEBIH MEMPOPULERKAN BERITA REAGEN TERTEMBAK DIBANDING RAID DI DON MUANG.
TRAGEDI SANTA CRUZ JUGA DIBAHAS DALAM BAB 16, ADALAH KETIKA BERITA ACARA YANG BERISIKAN KRONOLOGI TRAGEDI HARUS DIMANIPULASI ATAS PERMINTAAN SESEORANG , KEBERANIAN MENGATAKAN TIDAK UNTUK SESUATU YANG TIDAK DILAKUKAN MENJADI DILEMA TERSENDIRI DALAM TATARAN SIAPA KAWAN DAN LAAN SAAT ITU. ( HALAMAN 143)
CERITA LAIN YANG MASIH SANGAT SESUAI DENGAN KONTEKS BRIMOB SAAT INI ADALAH BAGAIMANA MENGHADAPI KEJAHATAN YANG SIFATNYA EKSTRA ORDINARY, KEJAHATAN LUAR BIASA HANYA BISA DILAWAN DENGAN UPAYA –UPAYA LUAR BIASA YANG DILAKUKAN SECARA UNSTRUCTURE JUGA.
RESIKO DIANGGAP AROGAN ATAU DICAP SOK HEBAT MENJADI BAGIAN TERSENDIRI BAGI MEREKA YANG MELAKUKAN TUGAS UNSTRUCTURE TADI, BERANGKAT DENGAN 3 HELIKOPTER POLUDARA LALU MENDARAT SECARA TIBA TIBA DI SUPADIO PONTIANAK SUDAH CUKUP MEMBUAT GEGER PEJABAT TNI-POLRI DISANA.
PENAMPILAN BLUE JEANS DENGAN HANYA BAJU KAOS, PLUS LENGKAP DENGAN STYER KHAS DETASEMEN GEGANA BRIMOB TIDAK PELAK MEMBUAT PARA PUNGGAWA WILAYAH KELABAKAN ,,, ADA APA DI PONTIANAK ?.
URUSAN MABES POLRI DAN MABES ABRI KALA ITU YANG MEMESANKAN DENGAN SANGAT BAHWA INI ADALAH TOP SECRET MISSION , PESANAN TADI MENJADI DILEMA TERSENDIRI ANTARA SEORANG DANDEN GEGANA BRIMOB DAN PIMPINAN DAERAH, HAL INI BAGI SEBAGIAN GENERASI MUDA BRIMOB MASIH DAN SEPERTINYA TERUS AKAN TERJADI DALAM KONTEKS HARKAMTIBMAS SAMPAI KAPANPUN KHUSUSNYA MELAWAN KEJAHATAN EKSTRA ORDINARY DENGAN UPAYA YANG EKSTRA JUGA.
KETERLIBATAN JACKI ULY DALAM KANCAH INTERNASIONAL MEMBERIKAN WAWASAN BAHWA POLISI INDONESIA MEMILIKI KEMAMPUANKHAS TERSENDIRI KHSUSUSNYA BAGAIMANA MENERAPKAN KEPEMIMPINAN DI DAERAH KONFLIK SEPERTI KAMBOJA, BOZNIA HESEGOVINA DAN LAINNYA.
BISA JADI BAGI JACKI ULY ADALAH FAKTOR KE-BRIMOB-AN TADI YANG MENJADI BEKAL DAN MENEMPA KEMAMPUAN MANAGERIAL YANG DIMILIKI DI TINGKAT INTERNASIONAL, TERNYATA LAHIR BESAR DAN MATANG DIMEDAN TUGAS PERTEMPURAN KELAK MENEMPA SESEORANG MENJADI PEMIMPIN SERBA BISA YANG SIAP BEKERJA DENGAN KONDISI TERBURUK SEKALIPUN,.
MEMANG BENAR SEORANG NAHKODA YANG CAKAP TIDAK DILAHIRKAN DILAUTAN YANG TENANG NAMUN HARUSLAH DITENGAH BADI DAN OMBAK YANG KERAS DAN KEJAM.
SEBAGAI SEBUAH BUKU YANG LAYAK MENJADI REFERENSI GENERASI MUDA POLRI DAN MASYARAKAT LAINNYA TENTUNYA ADA BEBERAPA HAL YANG PERLU MENJADI PERBAIKAN.
PILIHAN SAMPUL DEPAN PERLU ADANYA PERBAIKAN DAN PENYEMPURNAAN AGAR KESA PERTAMA BUKU TENTANG SEPAK TERJANG POLISI SPESIALIS DAERAH SUSAH LANGSUNG MUNCUL.
KARENA TERLALU SERING BERTUGAS , ………… KEHIDUPAN NORMAL BARU DIPEROLEH MENJELANG PENSIUN………… SEBAGIAN WAKTU TERBAIKNYA DISUMBANGKAN DEMI NEGARA DAN BANGSA…………WAKTU SAYA MENJADI SEORANG KOMANDAN TERASA SERBA SULIT DALAM MENGATASI MASALAH KELUARGA ( PENSIUNAN) YANG TINGGAL DI ASRAMA………..KALAU MAU DIKELUARKAN MEREKA (PENSIUNAN) MAU KEMANA?….. AKHIRNYA NEGARA MEMBERI PESANGON KEPADA MEREKA YANG NOTABENENYA ADALAH PEJUANG , AGAR MEREKA DAPAT MEMBELI RUMAH…………… ( JACKI ULY 2013: 3)

The ressurection of the lost regiment

RESIMEN YANG HILANG

Detik-detik menjelang pemberangkatan pasukan untuk suatu hajatan akbar justru merupakan masa yang paling menegangkan , dering telpon dari mabes ABRI kala itu mengagetkan semua pasukan dan komandan Brimob, dering yang mewartakan bahwa Brimob boleh tampil sebagai pasukan upacara lengkap dengan loreng pelopor , tepat di hari ulang tahun ABRI 5 Oktober 1998.

UNIT K-9 MILIK MENPOR DALAM SEBUAH SESI LATIHAN PENERJUNAN
UNIT K-9 MILIK MENPOR DALAM SEBUAH SESI LATIHAN PENERJUNAN
SESI LATIHAN PENJINAKAN UXO DALAM MANUVER JURU BALA
SESI LATIHAN PENJINAKAN UXO DALAM MANUVER JURU BALA
PENUTUPAN LATIHAN JURU BALA DI PELABUHAN RATU 1971
PENUTUPAN LATIHAN JURU BALA DI PELABUHAN RATU 1971
PENUTUPAN LATIHAN JURU BALA DI PELABUHAN RATU
PENUTUPAN LATIHAN JURU BALA DI PELABUHAN RATU

5

SESI LATIHAN  , PERHATIKAN TOPI FIELD CAP YANG SENGAJA DIBUAT  LEBAR SEBAGAI PENGGANTI BARET
SESI LATIHAN , PERHATIKAN TOPI FIELD CAP YANG SENGAJA DIBUAT LEBAR SEBAGAI PENGGANTI BARET

7

8

9

CONFIDENCE SHOOTING / TEMBAK KEPERCAYAAN  SKILL KHAS MENPOR YANG MASIH DIWARISI SAMPAI SEKARANG
CONFIDENCE SHOOTING / TEMBAK KEPERCAYAAN SKILL KHAS MENPOR YANG MASIH DIWARISI SAMPAI SEKARANG

11

12

IMG_0253

IMG_0259

IMG_0263

IMG_0267

IMG_0268

IMG_0271

IMG_0272

IMG_0274

IMG_0279

BADGE SATUAN II PELOPOR YANG BERKEDUDUKAN DI KEDUNG HALANG
BADGE SATUAN II PELOPOR YANG BERKEDUDUKAN DI KEDUNG HALANG
WE STRIKE
WE STRIKE
PERSENJATAAN SATUAN PELOPOR SAAT INI
PERSENJATAAN SATUAN PELOPOR SAAT INI

IMG_0300

IMG_0314

MENYERANG DAN MENGHILANG
MENYERANG DAN MENGHILANG

IMG_0387

IMG_0391

MANUVER
MANUVER

Suasana berubah senyap ketika tiba-tiba hanya di lingkar dalam Mako Korps Brimob saja turun hujan sedemekian lebat, memaksa pasukan upacara dari Batalyon B Resimen 1 Korps Brimob berteduh atau tepatnya berkumpul di selasar Museum Brimob ( kini menjadi Mako Satuan IV / Puslat ) sambil melhat lihat foto lawas perjuangan sesepuh MenPor
Entah ide siapa dan darimana, tiba –tiba ada celetukkan khas prajurit yang mengajak berdoa memohon agar perjuangan Men-Por dapat dilanjutkan hari itu, tidak dinyana berselang sekejap kemudian langit Kelapa Dua menjadi cerah dan hujanpun mulai reda.
Sekelumit cerita pengatar tadi adalah pengalan sejarah yang jarang diketahui oleh penerus Brimob saat ini , desas-desus adanya tarik urat leher antara Kapolri Jendral Dibyo Widoodo yang bersikeras agar Brimob dapat tampil dengan loreng Men-Por kebanggannya.
Sejarah berlanjut kembali dengan cerita bahwa pasca likuidasi Korps Brimob mengalami masa -masa kemunduran secara teknis kemampuan dan perlatan saran dan prasarana, dimulai pada era tahun 1969-1970, melihat foto foto lawas khusunya masa 80 an sampai 90 merupakan masa-masa tersulit bagi Brimob , tak pelak adanya curahan hati para prajurit dan pimpinan kala itu dengan menuliskan ” KAMI MASIH ADA ” makna mendalam dibalik tulisan yang kerap muncul di spanduk peringatan hari ulang tahun Korps Brimob.
Kualifikasi Pelopor dibentuk di Sekolah Pendidikan Pelopor yang memberikan pendidikan khusus kepada warga MOBRIG yang memenuhi persyaratan untuk menjadi anggota Kesatuan Pelopor (ranger). Pada masa Kepemimpinan R. Soeparto diupayakan untuk membentuk tenaga – tenaga instruktur yang berkualitas seperti ranger luar negeri. Beberapa langkah dilakukan, diantaranya Sekolah Pendidikan Mobile Brigade menyeleksi para Perwira instruktur untuk disekolahkan di luar negeri . Tempat Studi dipilih Philipina dan Jepang (Okinawa), karena Instrukturnya dari Angkatan Darat Amerika yang berpengalaman.

IMG_0416

IMG_0418

IMG_0442

IMG_0445

Police 8

Pengiriman para instruktur Sekolah Pendidikan Mobile Brigade ke luar negeri pertama kali dilakukan pada tahun 1955-1956. Mereka yang terpilih dari seleksi adalah : IPTU Soetrasno, IPTU Annas Tanuwidjaja, AIPTU Andi Abdulrohman, disamping itu, pengiriman juga dilakukan untuk beberapa perwira MOBRIG daerah, yakni : IPTU Soekari, IPTU K.E. Loemy, IPTU Wongso Dipuro, AIPTU Soediyatmo.
Selama satu tahun mereka belajar di luar negeri. Ilmu yang ditimba di kedua Negara itu cukup bermanfaat untuk pengembangan Sekolah Pendidikan Mobile Brigade. Mereka adalah tenaga instruktur yang sangat bermanfaat untuk pembentukan Ranger Indonesia.
Dari tangan merekalah proses pembentukan Ranger diambil dari peserta hasil lulusan SPN Sukabumi sebanyak 15 orang Agen Polisi kelas dua, yaitu AP. II Syakir, AP. II M. Calseus Sukisman, AP. II Bejo Rahayu, AP. II Sukardi, AP.II Rokhiyat, AP. II M. Ali Rifai, AP. IISuhanda, AP. II Ubeh, AP. II Mamin Rohman, AP. II Edy Kusman, AP. II Bunyani, AP. II Mawi, AP. II Untung Sutrisno, AP. II Sukidjo, AP. II Sukanto. Dalam pendidikan tersebut kelima belas orang dnyatakan lulus pada tanggal 20 Oktober 1956, dan lulusan pertama sekolah Ranger Pendidikan Mobile Brigade Porong sekaligus menandai lahirnya Ranger Indonesia. Mereka ditempatkan sebagai pembantu Instruktur Ranger Sekolah Pendidikan Mobile Brigade Porong.
Pada pertengahan tahun 1956 terpilih 8 orang untuk tugas pendidikan di Okinawa gelombang II yaitu IP II R. Sudarmadji, AIP II Miswan, AIP II Paimun Hadi Santoso, AIP II Subanu, AIP II Sutomo, AIP II Slamet, AIP II umun Surachman dan AIP II Sutomo. Mereka disertai 15 orang pembantu Instruktur Ranger hingga tahun 1959. Aktivitas Sekolah Pendidikan Mobile Brigade disibukan oleh pembentukan Satuan Ranger. Tanggal 14 September 1959 terbentuk Kompi pertama Ranger Indonesia dengan sebutan Kompi 5994.
Itulah sebabnya pada tahun 1959 Pendidikan Pelopor untuk Angkatan I baru dimulai . tercatat peserta didik sebanyak 196 orang, 117 orang gagal.karena pendidikan yang dikembangkan itu adalah pendidikan Pelopor, maka penekanan terletak pada pelajaran Leadership.
Dibidang itu para siswa banyak yang tidak lulus, yaitu sebanyak 71 orang. Pada angkatan II, siswa yang masuk sebanyak 169 orang. Pendidikan dilaksanakan pada tahun yang sama dengan angkatan I,, dari jumlah siswa tersebut diatas 109 dinyatakan lulus, dan 60 gagal, terutama leadership 49 orang, dan keahlian 11 orang. Penddidikan untuk angkatan III baru dilaksanakan tahun 1961 diikuti 242 siswa.
Hasil yang dicapai angkatan ini terlihat kurang bagus, karena lebih dari 50 % atau 128 siswanya tidak lulus. Hanya sebanyak 114 dinyatakan lulus. Berbeda dengan angkatan I, untuk angkatan III kelemahan terletak pada penguasaan materi keahlian. Sebanyak 122 orang tidak lulus keahlian, dan 6 orang gagal leadership, sejak tahun 1961 nama Ranger tidak lagi dipergunakan, diganti nama Pelopor.

DOKUMENTASI LORENG BRIMOB DARI MASA KEMASA

BEBERAPA FOTO DIBAWAH MERUPAKAN KONTRIBUSI SEORANG REKAN YANG SANGAT INTENS TERHADAP SEJARAH MILITER DI INDONESIA ” THANK YOU KEN ”

DSCF0976

http://www.fed-std-595.com/FS-595-Paint-Spec.html

href=”https://jurnalsrigunting.files.wordpress.com/2013/11/dsc_6436.jpg”>DSC_6436DSC_6447DSC_64301

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

UPACARA PERESMIAN BATALYON 32 PARA KORPS BRIMOB POLRI , PERHATIKAN PEMAKAIAN LORENG MACAN TUTUL TYPE M 1942 DENGAN SEDIKIT  PERBEDAAN PADA MOTIF YG LEBIH LEBAR DAN AGAK GELAP
UPACARA PERESMIAN BATALYON 32 PARA KORPS BRIMOB POLRI , PERHATIKAN PEMAKAIAN LORENG MACAN TUTUL TYPE M 1942 DENGAN SEDIKIT PERBEDAAN PADA MOTIF YG LEBIH LEBAR DAN AGAK GELAP

 

PDL KHUSUS UNTUK ANGGOTA YON 32 PARA BRIMOB
PDL KHUSUS UNTUK ANGGOTA YON 32 PARA BRIMOB
MOTIF LORENG UNTUK BATALYON 32 PARA YANG BERPANGKALAN DI SUKASARI
MOTIF LORENG UNTUK BATALYON 32 PARA YANG BERPANGKALAN DI SUKASARI
MOTIF LORENG MENPOR YANG PEMAKAIANNYA SANGAT TERBATAS , TERCATAT JAJARAN RESIMEN I ( KEDUNG HALANG ) DI TAHUN 1998 PERNAH MEMPEROLEH PEMBAGIAN JACKET BERMOTIF INI
MOTIF LORENG MENPOR YANG PEMAKAIANNYA SANGAT TERBATAS , TERCATAT JAJARAN RESIMEN I ( KEDUNG HALANG ) DI TAHUN 1998 PERNAH MEMPEROLEH PEMBAGIAN JACKET BERMOTIF INI

Menpor

personil batalyon 32 para  dengan seragam khas
personil batalyon 32 para dengan seragam khas
motif camouflage yon 32 para
motif camouflage yon 32 para
rancangan motif camouflage untuk brimob yang dibuat oleh seorang ahli strategi militer ken conboy
rancangan motif camouflage untuk brimob yang dibuat oleh seorang ahli strategi militer ken conboy
pemakaian kembali loreng menpor dan loreng pelopor  pada saat peringatan 50 tahun emas brimob
pemakaian kembali loreng menpor dan loreng pelopor pada saat peringatan 50 tahun emas brimob

 

LORENG MACAN TUTULYANG DIGUNAKAN MENPOR PADA SAAT HUT BRIMOB TANGGAL 14 NOVEMBER 1961
LORENG MACAN TUTULYANG DIGUNAKAN MENPOR PADA SAAT HUT BRIMOB TANGGAL 14 NOVEMBER 1961
SOSOK PASUKAN MENPOR YANG BERTUGAS SEBAGAI PAWANG K9 YANG DIGUNAKAN SEBAGAI PENJEJAK
SOSOK PASUKAN MENPOR YANG BERTUGAS SEBAGAI PAWANG K9 YANG DIGUNAKAN SEBAGAI PENJEJAK
LORENG MACAN TUTUL YANG DIGUNAKAN OLEH DANYON 32 PARA
LORENG MACAN TUTUL YANG DIGUNAKAN OLEH DANYON 32 PARA
PEMASANGAN TANDA JABATAN DANYON 32 PARA
PEMASANGAN TANDA JABATAN DANYON 32 PARA
KOMANDAN UPACARA JUSTRU MENGGUNAKAN LORENG MOTIF TIGER STRIPE , DIYAKINI LORENG INI MASUK KE INDONESIA  ATAS INISIATIF HERMAN SARENS  SOEDIRO KETIKA MENJABAT SEBAGAI  KOMANDAN KOGABDIK PARA , DIMANA SAAT ITU PASUKAN YON 32 PARA MENGIKUTI PELATIHAN TERJUN PAYUNG
KOMANDAN UPACARA JUSTRU MENGGUNAKAN LORENG MOTIF TIGER STRIPE , DIYAKINI LORENG INI MASUK KE INDONESIA ATAS INISIATIF HERMAN SARENS SOEDIRO KETIKA MENJABAT SEBAGAI KOMANDAN KOGABDIK PARA , DIMANA SAAT ITU PASUKAN YON 32 PARA MENGIKUTI PELATIHAN TERJUN PAYUNG

Dirgahayu Korps Brimob Polri

Tepat pada tanggal 14 November 2013 korps Brimob Polri merayakan hari ulang tahun, dengan acara yang sederhana tepatnya di Mako Korps Brimob Kelapa Dua , Depok, Kapolri Jenderal Pol.Drs Sutarman memberikan sambutan, sebagai sebuah introspeksi perjalanan sejarah pengabdian Korps Brimob Polri tidaklah terepas dari berbagai dinamika perjalanan Bangsa Indonesia.
FINAL AMANAT KAPOLRI PD HUT BRIMOB KE 68 THN 2013 OK
Kali ini marilah kita luangkan sejenak mengenang salah satu fase-fase bersejarah dalam pengabdian Korps Brimob Polri, sengaja saya tampilkan sebuah kenang-kenangan dari upacara yang sama ditahun 1969 , sebuah masa yang patut dikenang karena pada masa- masa inilah tepatnya antara tahun 1969-1970 , Taring Resimen Pelopor mulai ditanggalkan sebagai sebuah pasukan berkonsep Striking Force dan berkemampuan Light Infantry menjadi sosok pasukan penegak hukum yang menempatkan due proses of law sebagi sebuah bahasa keseharian.

ketika jarum sejarah telah berputar dan tiada mungkin untuk dikembalikan , adalah suatu kebijaksanaan untuk mempelajari lika liku sejarah sebagai sebuah wawasan yang menjadi landasan bertindak dimasa depan.

Era Menpor bertaring mulai surut ditahun 1972 dan pada tahun 1974 , Anton Soedjarwo , sebagai Kadapol ( Kapolda ) Jakarta Raya kala itu membentuk Gegana sebagai jalan tengah untuk tetap menjaga eksistensi pasukan gerak cepat penghancur kejahatan tetap ekis di tubuh Polri.

Sangat menarik bila menyimak sambutan Kapolri kala itu , Komdjen Pol Drs. Hoegeng , tinggal bagaimana kita menyimak dan memahami dalam konteks bathiniah saat itu dan konteks kekinian , bahwa KAMI MASIH ADA.

Dirgahayu Korps Brimob Polri tetaplah semangat dalam menjaga peradaban manusia , Banggalah Korps Brimob Polri sebagai pasukan terbaik dalam melayani, melindungi dan melayani masyarakat.

IMG

IMG_0001

IMG_0002

IMG_0003
IMG_0004

IMG_0005
IMG_0006

IMG_0007

IMG_0008

IMG_0009

IMG_0010

IMG_0011

IMG_0012

IMG_0013

IMG_0014

IMG_0015
IMG_0016

IMG_0017

IMG_0018

IMG_0019

IMG_0020

IMG_0021

IMG_0022

IMG_0023
IMG_0024
IMG_0025

IMG_0026

Kutemukan dirimu dalam BOM yang kau tinggalkan

PUSAT ANALISIS BOM BRIMOB
(Improvised Explosive Devices analysis Centre of Mobile Brigade/IEDACM)
BUAH KREATIFITAS PARA PENJINAK BOM BRIMOB DI INDONESIA

cirebon21
Fenomena penggunaan internet sebagai sarana kegiatan terorisme di Indonesia, ternyata telah mengembangkan sekaligus menyempurnakan bentuk , modus , teknik yang digunakan dalam melancarkan serangan terror termasuk fakta bahwa internet telah melahirkan generasi-generasi baru terorisme yang lebih ganas dari generasi pendahulu diperiode sebelumnya.

kenteng21
Keganasan ini dapat dijumpai bahwa dengan internet, kegiatan propaganda, pelatihan, pembiayaan dan aksi dengan mudah dapat diakses secara bebas dan terbuka dari mana saja di Indonesia, dengan fokus kepada bagaimana generasi-generasi baru terorisme di Indonesia memperoleh pengetahuan baru terkait hal ikhwal keahlian yang dibutuhkan dalam melakukan serangan, haruslah fenomena tadi menjadi suatu perhatian besar bagi Polri yang berada di garda terdepan dalam upaya penegakkan hukum bersama para pemangku kepentingan lainnya dalam strategi penanggulangan terorisme di Indonesia.

paluu1
Beberapa peristiwa serangan teror khususnya yang menggunakan bom di Indonesia menunjukkan beberapa kecenderungan : pertama adalah : bahwa kemampuan meracik dan melancarkan serangan bom dalam konteks terorisme telah mengalami perubahan baik terhadap komposisi bahan racikan bom sebagai bahan peledak yang semakin bervariasi, kedua , keahlian meracik juga ditularkan lewat media –media online yang sangat mudah diakses, terakhir adalah Polri dalam hal ini Gegana Brimob Polri, dengan segala kekurangan dan sedikit kelebihan yang dimiliki menjadi satu-satunya organisasi yang dikedepankan untuk melakukan penangkalan.
Konsekuensi logis dari beberapa kecenderungan diatas adalah, terjadi pergeseran dan penyempurnaan terhadap taktik dan teknik serangan bom dalam konteks terorisme di Indonesia, dalam sebuah tulisan di internet dengan judul “ How to make a bomb in your kitchen mom “ di beberapa media radikal online , secara jelas memberikan tautan bahwa kini, keahlian meracik bom bukan lagi merupakan keahlian khas yang dimiliki unit –unit militer maupun paramiliter resmi, namun boleh siapa saja , bermodalkan sedikit pengetahuan tentang bahan-bahan kimia, elektronika , dan mekanika, dapat dengan mudah membuat dan melancarkan teror bom kapan saja dan dimana saja.

siap-salah1.jpg
Peristiwa ledakan bom di Pondok pesantren Umar bin Khatab Bima NTB memberikan informasi bahwa, kemampuan meracik bom pipa menjadi sedemikian mudah dilakukan hanya dengan bermodalkan gula pasir dan korek api saja, belum lagi pada peristiwa serangan bom bunuh diri di Masjid Mapolres Cirebon Kota, GBIS Kepunton Solo, Halaman Mapolres Poso termasuk barang bukti bom dan bahan peledak lainnya yang ditemukan pada saat penangkapan jaringan terorisme di Tambora Jakbar, Solo, Poso dan Makasar, bahan bahan yang sangat sederhana dan bahkan dijual bebas dipasaran kini dimanfaatkan secara meluas dalam aksi teror bom.
Aspek pelaku dan modus serangan juga mengalami berbagai perubahan dan mengarah kepada upaya penyempurnaan yang makin canggih, ketika Bom Bali I dilakukan , seperti diketahui adanya kebutuhan dana yang cukup besar untuk mebiayai dan dibutuhkan beberapa teknisi sebagai orang yang benar –benar ahli dalam meracik bom untuk melancarkan serangan massif tersebut.
Kecenderungan saat ini adalah ketika sebuah bom berukuran kecil saja sudah dapat menimbulkan ketakutan dan kepanikan yang meluas , dengan pertimbangan efektifitas dan efisiensi sekaligus tidak ingin mencederai perasaan khalayak ramai maka pada akhirnya pilihan penyempurnaan modus dan bentuk serangan adalah kapada sasaran selektif seperti kepada pemerintah dan segenap aparaturnya termasuk kepentingan beberapa negara yang didefenisikan sebagai far dan near enemies , dengan bom yang lebih portable ( bom buku, bom pipa dan bom tabung LPG 3 kg,dll ).
Sebagai suatu perbandingan trend teror bom beberapa tahun belakangan khususnya diawal tahun 2000an dengan konteks kekinian adalah ketika pada masa lalu kebanyakan pelaku bom , baik yang dilakukan dengan metode remote maupun secara manual dengan metode bunuh diri adalah mereka yang telah berusia cukup dewasa , namun kini trend pelaku telah beralih kepada mereka yang umurnya masih sangat muda , baik sebagai peracik mapupun “pengatin” bom bunuh diri itu sendiri.
Sebagai sebuah keharusan dalam mengantisipasi perkembangan teror bom di Indonesia adalah dengan memberikan apresiasi kepada sekelompok anggota Polri yang kebetulan saja kesehariaanya tidak terlepas dari urusan bom dan bom semata, ketika teror bom seiring perkembangan dan dinamika jaringan terorisme di Indonesia untuk mempertahankan eksistensi yang dimiliki , adalah Pusat Analisis Bom Brimob sebagai oase ditengah hiruk pikuk sebagai bagian upaya penanggulangan terorisme di lakukan di Indonesia.
Pusat Analisis Bom Brimob ( PABB ) merupakan sebuah unit kerja non structural yang digagas pertamakali untuk mengumpulkan dan menganalisa “bomb Signature” dari berbagai serpihan –serpihan yang tertingal pasca ledakan bom di berbagai TKP di Indoensia, sebagai unit kerja non structural tentunya sangat menarik untuk mengetahui bagaimana Improvised Explosive Devices (IED) analysis Centre of INP Mobile Brigade bekerja, yang pastinya tidak terlepas dari berbagai kekurangan yang bersumber dari internal maupun eksternal organisasi Brimob Polri yang menaunginya.
Dengan mengesampingkan lebih dahulu kepada kepada landasan operasional pembentukan PABB di Resimen I Gegana Korp Brimob Polri, tulisan ini dibuat untuk memberikan pemahaman bagaimana inovasi diterjemahkan secara kreatif oleh para Bomb Techs Gegana Brimob Polri, yang berangkat dari suatu kesadaran bahwa upaya penegakkan hukum terhadap teror bom membutuhkan suatu pendekatan scientific investigation , sebagai pendekatan ilmiah dalam upaya penyidikan kejahatan yang membutuhkan kompetensi yang mumpuni dengan didukung database pembanding bom yang valid dan terintegrasi.
Bermodalkan keahlian perorangan dari beberapa analis bom dan Bomb Techs dan didukung kerelaan untuk menyisihkan waktu dan rejeki yang didapat untuk merakit beberapa personal computer , PABB telah eksis untuk memberikan kajian-kajian dan analisa terkait temuan berbagai kepingan-kepingan sisa ledakan dari berbagai TKP bom di Indoensia untuk kemudian digunakan sebagai sebagai “pendapat ahli” dalam upaya pengumpulan alat bukti dalam proses penyidikan kejahatan secara ilmiah .
Kesadaran bahwa Indonesia khususnya Polri saat itu belum memiliki suatu pusat data dan kajian yang mampu memberikan analisa, kajian dan prediksi terhadap kasus –kasus bom yang pernah terjadi di Indonesia selama ini, baik berupa database modus operandi, teknologi yang digunakan, bahan racikan, teknik perakitan dan berbagai hal terkait lainnya adalah merupak mendorong sekaligus cambuk bagi sekumpulan operator penjinak bom untuk eksis dalam tugas dan pengabdiannya memberikan dedikasi memburu pelaku dan pembuat bom di Indonesia.
PABB dimulai dengan daur kegiatan yang cukup sederhana , dengan menggunakan logika bahwa tidak ada kejahatan yang sempurna, setiap kepingan yang tertinggal di TKP, akan diklasifikasikan terlebih dahulu menurut azas klasifikasi tertentu kedalam kumpulan database yang meliputi : apa saja bahan bahan baku pembuat bom yang ditemukan , bagaimana teknik peracikan yang dilakukan , metode serangan seperti apa, dan beberapa informasi yang nantinya dicocokan dengan beberapa temuan kepingan bom di berbagai TKP lainnya, sehingga dari daur kegiatan tadi menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa bom atau sisa kepingan yang ditemukan memiliki kesamaan tertentu dan beberapa variasi tertentu dengan bom yang dibuat atau pernah diledakkan oleh suatu kelompok ataupun jaringan teroris di Indonesia maupun manca negara.
Sebagai konsep yang sederhana namun ditangan Bomb Techs yang berdedikasi dalam diam, PABB mampu menghadirkan kajian dan analisa yang dapat dipertanggung jawabkan secara professional, mapun secara hukum formil dan material, betapa tidak , beberapa hasil kajian PABB ternyata banyak memberikan kontribusi sebagai data pembanding dan identifikasi dalam upaya pengungkapan kasus terorisme di Indonesia maupun lewat kerjasama IABTI ( International association of bomb technicians and investigators) sebagai masukan data yang sangat berharga dalam studi terorisme dan bom di dunia.
Proyeksi kedepan adalah menempatkan Improvised Explosive Devices (IED) analysis centre of INP Mobile Brigade yang saat ini masih berupa unit non structural menjadi sebuah unit yang solid dalam kiprah penanggulangan teror dan terorisme di Indonesia dengan memberikan apresiasi dengan dimulai kepada adanya dukungan kebijakan Polri terkait eksistensi unit PABB sebagai unit structural dalam naungan Resimen I Gegana Korp Brimob Polri , yang diwujudkan dalam kelembagaan resmi dalam tataran managerial (man power , budgeting, material and method ) serta adanya kerjasama antar dan inter satuan kepolisian lainnya sebagai sebuah hubungan tata cara kerja yang terintegrasi.
Sebuah cita-cita sederhana yang diproyeksikan sebagai salah satu innovative break through RBP Polri , perlu mendapat dukungan antara lain :
PABB membutuhkan setidaknya 1atau 2 orang yang ditugaskan sebagai operator database yang memiliki kemampuan untuk mengoperasionalkan komputer pada tingkatan programmer , yang diharapkan natinya mampu mengkompulsikan berbagai timbunan data yang dikumpulkan dari berbagai TKP bom baik yang dikumpulkan oleh operator penjinak bom Gegana Polri dan Satuan Brimob Daerah di Polda –Polda, PABB sebagai pusat database bom nasional harus didukung oleh validitas input database bom dari berbagai sumber lainnya.
PABB secara organisasi sebenarnya tidak perlu dibuat megah dan besar-besaran, cukup dengan dikukuhkan sebagai unit structural dibawah pembinaan Gegana Korp Brimob Polri akan lebih mudah nantinya untuk melaksanakan pembinaan kekuatan dan penggunaan kekuatan , yang dibutuhkan adalah kemudahan akses untuk berkoordinasi dengan satuan –satuan kewilayahan dan Mabes Polri seperti Densus 88 Mabes Polri, Pusiknas, Inafis , DVI, Puslabfor dan BNPT.
PABB juga membutuhkan tenaga –tenaga analis bom yang memiliki dasar kompetensi dengan standarisasi internasional , upaya mentoring selama ini yang dilakukan PABB dengan menularkan kemampuan analisa bom berjalan secara mandiri dengan menitipkan pada berbagai kesempatan pelatihan dan Training of Trainer Jibom selama ini, kelak dibutuhkan pelatihan khusus operator dan berbagai terobosan lainnya agar eksistensi PABB dapat semakin solid.
Aspek peralatan dan anggaran pendukung operasional tentunya tidak bisa dilupakan , bagaimana kini dengan modal komputer rakitan saja PABB sudah bisa berkiprah tentunya dengan akan lebih baik lagi bilamana didukung perangkat kerja yang memadai, saranan komputerisasi setidaknya dengan software identifikasi bom yang sebenarnya bisa dibuat oleh putra putri Indonesia, termasuk sarana mobilitas dan komunikasi lain yang berbasis internet, dengan sedikit kreatifitas dan kemauan keras apalagi didukung kordinasi yang mantap dengan dengan berbagai Satuan Brimob di Polda-Polda , konsep PABB sebagai pusat data dan analisa bom nasional akan terwujud.
Jalan panjang dalam mewujudkan akuntabilitas Polri dalam konteks upaya penegakkan hukum terhadap kasus-kasus teror dan bom di Indonesia telah dimulai dan dirintis lewat dedikasi dalam diam jajaran Penjinak Bom Resimen I Gegana Korp Brimob Polri , tinggal melanjutkan dan memberikan dukungan serta perhatian agar dedikasi yang diwujudkan dalam kreatifitas Improvised Explosive Devices (IED) analysis centre of INP Mobile Brigade ini menular dan menjadi wabah positif bagi seluruh jajaran Polri dimanapun dan apapun tugasnya.