10 INDIKASI INSTANSI BERSIH/KORUP:

Meski gak penting tapi aku bisa masuk ke milis buyut mentor.

Begini infonya. Sumber akhir milis [WS96], sumber awal belum diketahui. Tapi isinya bagus.
10 INDIKASI INSTANSI BERSIH/KORUP:

  Mudah-mudahan gak repost, biar gak ditegor ama si Babeh lagi.. Ini adalah 10 ciri-ciri instansi yg bersih dan instansi yg korup.

1. Kebiasaan makan para pegawainya

Instansi yang bersih: Jika makan di warung makan para karyawan akan membayar sendiri-sendiri makanan mereka. Jarang ada acara makan-makan.

Instansi yang korup: Ada kebiasaan saling traktir antar pegawai. Sering ada acara makan-makan. Uang mudah keluar mudah.

2. Pegawai honorer

Instansi yang bersih: Biasanya hanya mempekerjakan tenaga honorer di bidang kebersihan dan keamanan saja. Itupun biasanya merupakan tenaga outsourcing.

Instansi yang korup: Banyak mempekerjakan honorer. Para pegawai honorer ini terdapat di semua seksi yang ada di kantor. Pegawai asli malah lebih banyak menganggur.  Pegawai honorer umumnya adalah kerabat dari pegawai dengan harapan kelak akan diangkat sebagai pegawai tetap.

3. Keberadaan orang asing

Instansi yang bersih: Tidak pernah ada orang-orang asing yang bercokol di kantor ataupun di sekitar kantor.

Instansi yang korup: Biasanya sering dihuni oleh orang-orang asing/bukan pegawai. Mereka setiap hari bercokol di dalam atau di sekitar kantor tersebut. Biasanya mereka menjadi calo atau makelar penghubung antara orang kantor dengan warga yang membutuhkan layanan.

4. Sikap bawahan terhadap atasan

Instansi yang bersih: Sikap hormat bawahan terhadap atasan sewajarnya. Begitu juga atasan terhadap bawahan tidak akan terlalu menuntut. Tugas atasan terhadap bawahan akan dianggap sebagai beban. Tidak ada pamrih atau harapan tertentu. Tercipta suasana egaliter.

Instansi yang korup: Sikap hormat bawahan terhadap atasan berlebihan dan cenderung menjilat. Bawahan disuruh atasan malah senang dan bangga. Merasa jadi orang penting. Ada pamrih mendapatkan sesuatu. Entah jabatan atau materi. Atasan cenderung sangat berkuasa dalam mengatur kantor tanpa ada yang berani melakukan kritik atau protes.

5. Ada Seksi favorit

Instansi yang bersih:

Tidak ada satu bagian kantor yang menjadi favorit dan diincar banyak orang. Semuanya sama saja. Yang membedakan hanya pekerjaannya.

Instansi yang korup:

Ada seksi tertentu yang menjadi incaran banyak orang. Mereka menyebutnya dengan istilah seksi “basah” dan seksi “kering”.  Seksi ini menjadi sumber dana bagi semua kegiatan foya-foya kantornya.

6. Target

Instansi yang bersih:

Para pegawainya sangat menyukai target dan pekerjaan yang memerlukan biaya rendah untuk menghindari resiko kesalahan dan beban pekerjaan yang berat.

Instansi yang korup:

Para pegawai mengharapkan target pekerjaan yang tinggi dan berbiaya besar. Karena semakin besar biaya yang terlibat semakin besar peluang korupsinya.

7. Auditor atau Pemeriksa

Instansi yang bersih:

Biasa-biasa saja didatangi tim auditor/pemeriksa baik dari internal maupun eksternal. Temuan dari tim pemeriksa akan direspon sesuai dengan saran pemeriksa. Instansi yang bersih biasanya juga jarang sekali kedatangan tim auditor/pemeriksa. Umumnya pemeriksa yang bersih enggan mengaudit kembali karena jarang menemukan koreksi atau bagi tim auditor yang “nakal” merasa tidak memperoleh “sesuatu”.  Instansi yang bersih umumnya berani “nyuekin” tim auditor/pemeriksa.

Instansi yang korup:

Ketakutan menghadapi pemeriksa. Saran dan temuan Pemeriksa akan dihadapi dengan berusaha membayar/menyuap tim auditor agar menutupi atau membelokkan temuan tim auditor/pemeriksa.  Tim auditor suka banget mendatangi intansi model begini. Bahkan cenderung menjadi langganan. Karena dengan mudah mereka akan mendapat banyak temuan. Dan bagi tim auditor yang “nakal” mereka akan mudah memperoleh “sesuatu” dalam jumlah besar. Di sini tim auditor akan dilayani bagaikan raja.

8. Wartawan

Instansi yang bersih:

Instansi yang bersih akan menghadapi wartawan dengan sewajarnya. Tidak menutup-nutupi keadaan di kantor. Akibatnya sebuah instansi yang bersih jarang didatangi wartawan. Utamanya wartawan yang “nakal” karena tidak pernah mendapatkan “sesuatu”. Wartawan yang datang biasanya memang serius akan meliput suatu berita atau mencari data yang valid.

Instansi yang korup:

Ketakutan didatangi wartawan. Mereka sebisa mungkin menghindari bertemu wartawan dan menolak wawancara. Instansi seperti ini sering menjadi incaran wartawan. Umumnya adalah wartawan “nakal” yang mengharapkan “sesuatu”.

9. Parsel dan makanan

Instansi yang bersih:

Tidak ada parsel atau makanan kecil yang berlimpah di kantor. Umumnya klien kantor tersebut sudah percaya bahwa ada atau tidak adanya pemberian mereka akan dilayani dengan standar pelayanan yang sama. Jika ada parsel biasanya nilainya kecil dan berasal dari uang kebersamaan di mana pegawai yang berkedudukan lebih tinggi akan dipotong uang kebersamaan lebih besar tetapi parsel yang diterima sama. Intinya ada pengorbanan yang lebih besar dari pegawai yang berpenghasilan lebih besar. Tercipta rasa keadilan.

Instansi yang korup:

Banyak parsel berseliweran di kantor atau rumah pegawainya. Di dalam ruangan kantor juga tersedia makanan kecil yang berlimpah. Ini karena umumnya klien ketakutan pelayanan akan terhambat jika tidak ada pemberian. Terjadi anomali bawahan justru memberikan parsel kepada atasan layaknya upeti. Biasanya nilai parsel signifikan. Asal muasal dana untuk pengadaan parsel tidak jelas.

10. Hubungan antar pegawai.

Instansi yang bersih:

Hubungan antar pegawai harmonis karena tidak ada perasaan sebagai karyawan elit atau karyawan berpenghasilan lebih tinggi. Tidak ada pegawai yang berfungsi sebagai bos. Sangat jarang terjadi perselingkuhan antar pegawai.

Instansi yang korup:

Sering terjadi hubungan yang panas antar pegawai akibat rasa iri dan dengki antar mereka. Penyebabnya adalah adanya perbedaan penghasilan antar pegawai yang berpangkat sama. Selalu ada pegawai yang bersikap dan berfungsi layaknya bos dan tukang traktir karena banyak mendapat penghasilan ilegal. Banyak terjadi perselingkuhan antar pegawai. Uang panas akan membuat pemiliknya suka bermain api.

Itu adalah 10 tips yang dengan kasat mata bisa dilihat oleh orang dalam maupun luar untuk menilai kondisi suatu instansi. Sebenarnya ada juga ciri lain yang lebih spesifik. Tetapi ini umumnya hanya dapat dilihat oleh orang-orang yang terlibat. Seperti mark up harga barang di kuitansi seperti pernah diungkapkan oleh salah seorang perempuan yang berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil yang mengaku pernah melakukannya di sebuah media.

Tetapi saya pikir cukup dengan 10 tips itu saja Anda akan dengan mudah menilai bahwa sebuah instansi itu bersih dari praktek KKN atau tidak. Cukup salah satunya terdapat di sebuah instansi, maka Anda sudah boleh meragukan integritas instansi yang bersangkutan.

Tetap kecenderungan yang ada adalah apabila satu indikasi ada, maka indikasi-indikasi yang lain akan mengikutinya.

 

Crime Rape

Crime Rape
By. Dra. Romani Sihite, Msi.

A.Teori yang dikemukakan oleh Steven Box, mengelompokkan Rape dalam 5 bentuk Rape Crime and Mistification
1.Sadistic Rape ( dikategorikan sebagai Psikopath )
Ada ciri-ciri tertentu
a)Motivasi rape
b)Agresifitas yang disertai
c)Serangan dan kekerasan
d)Disertai perilaku sadistis
2.Anger Rape
a)Kekerasan seksual adalah ekspresi kemarahan, geram, rasa tidak puas.
b)Tubuh korban ekspresi atas frustrasi dan kecewa
c)Biasa terjadi pada kasus kasus perampokan disertai kekerasan seksual karena tidak mendapat hasil rampokan.
3.Seductive Rape
a)Situasi merangsang > oleh kedua belah pihak
b)Harus disadari oleh CJS > anggap rape terjadi karena rangsangan
c)Kenyataan Rape banyak terjadi pada anak dibawah umur
d)Diciptakan oleh dua belah pihak yang tidak merangsang ( minimal 9-10 tahun)
e)Situasional
4.Domination Rape
a)Power Expresion
b)Menunjukkan Superioritas
c)Menunjukkan Unequal Position
5.Explotation Rape
a)Memanfaatkan posisi yang Vulnerable Position dari perempuan
b)Dependence position perempuan baik secara ekonomi – sosial
Oleh pendekatan Feminis point 4 dan 5 dijadikan satu pembahasan

Posisi perempuan yang paling rentan terhadap perlakuan-perlakuan kekerasan

3 hal penting yang ditekankan oleh Steven Box

1.Situasional Coditional R.S. perempuan dan laki-laki
2.Psikopath > Sadistic Rape laki-laki
3.Power (Unequal) Relationship > perempuan dan laki-laki
Tetapi tidak banyak menjelaskan langkah-langkah yang harus diambil untuk mencegah > lebih pada motivasi

C.Reaksi Sosial Masyarakat
Adanya Viktimisasi Sosial karena pengaruh
1.Blaming Victim > menyalahkan korban karena anggap korban sebagai pemicu
2.Stigmatisation karena :
a)Korban tidak perawan lagi
b)Aib keluarga
c)Amoral
3.Akibatnya :
a)Tkt pelaporan rendah
b)Korban menderita secara psikis maupun fisik

D.Perkosaan berdasarkan umur :
1.Forsible Rape
2.Statutory Rape

E.Kekerasan Seksual pada Media Massa (pornografi)
1.Agresifitas muncul karena rangsangan ( merupakan variabel antara )
2.Menurunkan Kesopanan > Mo’zher dan Kartz ( Pembelajaran dari media massa).
3.Merusak kesadaran > agresi terhadap kaum perempuan.

F.Keberpihakan hukum terhadap kaum perempuan
Pasal 285 KUHP
1.Pidana Maksimum
aPidana
1)Ringan
2)Bebas
Muatan keadilan lemah
bTidak bermuatan
1)Penjeraan
2)Prevensi

7.Kedudukan korban / perempuan lemah
1.Perlakuan > pada saat menjalani proses penyidikan s/d pengadilan.
a)Kasus ditarik / tidak dilanjutkan
b)Solusinya adalah Crisis Center
1)Tingkat pelaporan rendah
2)Terjamin Privacinya.
2.Pembuktian > Sulit
3.Metode Penyidikan > tanpa Empati
4.Pendampingan > Pemberdayaan
5.Kompensasi