INDONESIA SANTUN

Dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada beliau salah satu Dosen Idola saya, ijinkan saya membagi sebuah tulisan beliau yg saya temukan dari sebuah jaringan sosmed yg saya ikuti.

Pesan yang ingin disampaikan adalah adanya kecerdasan untuk mengetahui,memahami dan menjalankan setiap ajaran agama yang sesungguhnya berlandaskan tata aturan hubungan manusia dengan sang penciptanya ,manusia dengan sesama manusia se imam dan tidak, serta manusia dengan lingkungannya.

Sebuah refleksi…….tulisan  Sarlito Wirawan

Negeri Paling Islami

Seperti apakah negeri yang islami itu? Awalnya saya membayangkan negeri yang islami adalah negeri yang tidak jauh-jauh cirinya dari negeri yang surgawi, yaitu yang tanahnya subur, di tengahnya terhampar sungai-sungai yang dialiri susu kental manis (SKM), dan bidadari-bidadari cantik siap menanti para suami yang pulang kerja, sambil mengasuh putra-putri yang lucu-lucu.

Damai, sejahtera, adil, tidak ada kezaliman, dan tidak ada kemaksiatan. Tetapi, adakah negeri seperti itu di bumi Allah ini? Selama saya berkarier puluhan tahun sebagai psikolog internasional, saya sudah mengunjungi hampir seluruh dunia, dari Selandia Baru sampai Alaska, dari Amerika sampai Afrika, tetapi tidak satu pun tempat yang saya jumpai, yang matching dengan bayangan saya tentang negeri islami tersebut di atas.

Tetapi, dua peneliti dari George Washington, yaitu Prof Dr Scheherazade S Rehman dan Prof Dr Hossein Askari (dari namanya ketahuan bahwa mereka muslim), telah melakukan penelitian terhadap negara- negara (yang riil ada di dunia) yang paling islami. Mereka memublikasikan hasil penelitiannya dalam laporan bertajuk ”An Economic Islamicity Index (EI2)” yang dimuat dalam Global Economy Journal Volume 10, Issue 3, 2010, Article 1.

Buat dua profesor yang pintar- pintar itu, ternyata tidak sulit untuk merumuskan negara yang islami. Caranya adalah mengumpulkan ayat dan hadis yang mendeskripsikan bagaimana hendaknya suatu negara itu sehingga bisa disebut islami. Maka itu, Prof Rehman dan Prof Askari menemukan lima ajaran dasar Islam yang dijadikannya sebagai indikator keislaman sebuah negara, yaitu

(1)Ajaran Islam mengenai hubungan seseorang dengan Tuhan dan hubungan sesama manusia, (2) Sistem ekonomi dan prinsip keadilan dalam politik dan pemerintahan, (3) Hak asasi manusia dan hak politik, (4) Ajaran Islam berkaitan dengan hubungan internasional dan masyarakat kehidupan sosial, (5) Sistem perundang-undangan untuk nonmuslim. Tentu dalam penelitiannya dua profesor itu menceritakan bagaimana lima ajaran dasar itu dipecah menjadi variabel-variabel konkret yang terukur, yang membuat penelitian mereka sahih.

Tetapi, yang mencengangkan setelah penelitian itu dinyatakan sahih adalah hasilnya yang di luar dugaan kebanyakan orang (apalagi di Indonesia). Orang Indonesia rata-rata mengharapkan bahwa negara yang paling islami adalah negara-negara Islam seperti Arab Saudi, atau bahkan sekarang ada yang memuja Irak dan Suriah (ISIS). Tetapi, nyatanya tidak seperti itu.

Negara paling islami dalam penelitian itu (keadaan 2010) adalah Selandia Baru, diikuti oleh juara dua Luxemburg (negara tetangganya Belanda). Dua-duanya negara non-Islam. Amerika yang sering dianggap biangnya budaya Barat ada di posisi ke-15 bersama Belanda, dan Israel musuh bebuyutan banyak muslim Indonesia berada di urutan ke-17. Arab Saudi nomor ke-91 dan Indonesia sendiri di urutan ke-104, Mesir tambah hancur lagi yaitu di nomor ke-128, Irak dan Suriah (ISIS) masing-masing di urutan ke-148 dan 168.

Sedangkan 56 negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) berada pada urutan rata-rata ke-139 dari 208 negara yang disurvei. Tetapi, ada satu yang menarik, Malaysia. Negara tetangga kita ini duduk dalam urutan ke-33, yang tertinggi di antara negara-negara muslim. Karena itu, kita juga tidak pernah mendengar ada bom-boman di Malaysia. ***

Beberapa tahun lalu saya pernah menjadi dosen tamu (pensyarah pelawat) di Universitas Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia. Saya bekerja full time selama satu semester di universitas yang konon adalah UI-nya Malaysia. Jadi, saya lumayan tahu betul gaya hidup masyarakat di sana. Dalam urusan beragama, Malaysia sangat disiplin mengatur umatnya.

Yang pertama, mereka mengaku sebagai negara Islam, tetapi bukan sembarang Islam, melainkan Islam Sunni dari mazhab Syafii. Saya pernah mengunjungi Universitas Agama Islam Antar Bangsa di Kuala Lumpur, dan di sana secara eksplisit dinyatakan bahwa universitas itu tidak menerima mahasiswa dari sekte Islam yang lain, kecuali Islam S
unni mazhab Syafii.

Anda mau salat Jumat? Anda harus ke masjid kampus, atau masjid-masjid di tempat lain yang sudah diakui resmi oleh pemerintah. Hanya orang-orang dengan kualifikasi tertentu boleh menjadi khatib, dan mereka diberi license resmi oleh pemerintah. Mau bikin acara keagamaan apa pun (Islam) harus dipimpin ulama yang besertifikat. Jadi, samalah kira-kira dengan agama Kristen atau Katolik yang ulamanya harus sekolah teologi atau seminari dulu.

Dengan demikian, tidak ada ustaz-ustaz gadungan, atau ustaz-ustaz dadakan yang tiba-tiba naik mimbar Jumat dan pada akhir khotbahnya mengajak umat untuk mendoakan para mujahidin ISIS di Irak, Suriah, dan Poso (ini pernah terjadi betulan di Jakarta). Tidak ada lagi majelis-majelis taklim yang banyak mengajari ibu-ibu dengan kebenciankebencian pada agama lain atau sekte lain.

Karena itulah, Islam Indonesia makin jauh dari ideal menurut ukuran Prof Rehman dan Prof Askari. Tidak aneh kalau tiba-tiba                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        c C.c.c                                                                  seorang dokter wanita secantik dokter Rica tiba-tiba membelot menjadi pengikut kelompok radikal dan berani meninggalkan suaminya begitu saja dengan membawa anak balitanya. Rasanya di zaman Jamaah Islamiah tidak ada tuh , rekrutmen untuk keluarga dan wanita.

Di zaman NII orang yang terhipnosis, paling banyak terkuras koceknya, tetapi tidak sampai harus hijrah ke Irak dan Suriah. Tetapi, di zaman ISIS semuanya lengkap. Bukan hanya laki-laki, tetapi juga wanita dan keluarga, dan para ahli diangkut ke Irak dan Suriah. Last but not least , mereka yang balik dari Irak dan Suriah, seperti sudah diduga, menjadikan Indonesia (baca: Jakarta) sebagai ajang jihadnya.

Jadi, Indonesia yang ingin jadi negara paling islami justru menjadi sarang teroris karena islami tidak sama dengan membiarkan semua sekte berkembang biak dan beranak pinak dengan bebas sebebas-bebasnya.

SARLITO WIRAWAN SARWONO
Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

14 Januari 2016

kekhawatiran selama ini melihat dinamika serangan teror di dunia yang dipastikan akan berpengaruh terhadap Indonesia akhirnya terbukti sudah, lewat ulah sekelompok orang yang menjadikan Indonesia semakin terkenal sebagai ladang persemaian, pembibitan , pembinaan , tumbuh dan berkembang paham-paham radikal yang menjadikan teror sebagai sebuah bahasa dalam penyampaian pesan.

gejala adanya serangan teror dengan mengambil bentuk active shooter ( padanan kata dalam bahasa Indonesia selanjutnya saya sebut dengan tembakan membabi buta) yang memiliki keterkaitan dengan sebuah kelompok teror di dunia baik secara langsung ( diinisiasi dan difasilitasi oleh ISIS ) maupun oleh para Lone wolf yang bergerak dengan dasar inspirasi pesona dan khayalan -khayalan doktrin ISIS .

mengutip dari  http://news.detik.com/internasional/3119028/indonesia-negara-ke-13-yang-jadi-target-serangan-isis-dalam-2-tahun-terakhir , yang menyatakan bahwa  Seperti dilansir New York Times, Jumat (15/1/2016) yang telah melakukan analisis terkait penyerangan yang dilakukan oleh ISIS sepanjang tahun 2015 dan awal tahun 2016, Indonesia merupakan negara ke-13 di luar Suriah dan Irak, yang menjadi target teror mereka.
Sepanjang tahun 2015 hingga awal tahun 2016, ada 13 negara yang telah menjadi sasaran utama sejumlah serangan. Ke-13 negara tersebut antara lain Perancis, Libya, Lebanon, Mesir, Tunisia, Saudi Arabia, Libya, Yaman, Bangladesh, Kuwait, Afghanistan, Turki serta Indonesia.
1. Serangan ISIS yang paling menyedot perhatian dunia pada tahun 2015 terjadi pada tanggal 11 Januari 2015, saat dua orang pria bersenjata dengan senapan Kalashnikov AK-47 menyerang kantor media mingguan, Charlie Hebdo. Penyerangan itu berdasarkan adanya karikatur satir Islam dan agama lainnya di dalam kantor redaksi tersebut.
2. Serangan kedua yang juga menyita perhatia dunia terjadi pada 26 Juni 2015, saat seorang pemuda secara membabi buta menembakkan senjata api di Hotel Riu Imperial, Tunisia. Penembakan itu membuat 38 orang turis asal Eropa tewas dalam insiden berdarah tersebut. ISIS mengklaim bertanggung jawab atas penyerangan ini.
3. Tanggal 13 November menjadi malam yang mencekam bagi warga Paris, Perancis. Setelah serangan Charlie Hebdo, kali ini sedikitnya tujuh lokasi berbeda di wilayah Paris dilanda serangan teror yang memakan korban jiwa. Sumber keamanan Paris mengatakan akibat serangan teror ini korban tewas mencapai total 153 orang. Kementerian Dalam Negeri Prancis menyebut 112 orang di antaranya tewas di Gedung Konser Bataclan. Lagi-lagi pihak ISIS mengatakan bahwa mereka bertanggungjawab atas aksi penembakan dan ledakan tersebut.
4. Di awal pergantian tahun 2016 tepatnya tanggal 12 Januari, ledakan besar terjadi di kawasan Sultanahmet, distrik wisata bersejarah di Istanbul, Turki hari ini. Sedikitnya 10 orang tewas dan 15 orang lainnya luka-luka dalam insiden yang terjadi di lapangan Sultanahmet di jantung wisata Istanbul, kota terpadat penduduknya di Turki. Perdana Menteri (PM) Turki Ahmet Davutoglu memastikan pelaku bom bunuh diri itu merupakan anggota ISIS. Pelaku masuk ke wilayah Turki dari perbatasan Suriah.
5. Tanggal 14 Januari 2016, ledakan bom terjadi di sebuah pos polisi dan gerai kopi Starbuck di Jl MH Thamrin, Jakarta. Aksi ini juga menyebabkan 1 WNI dan 1 WN Kanada meninggal, sementara 23 orang lainnya mengalami sejumlah luka. Lima pelaku juga dinyatakan tewas setelah dua diantaranya melakukan aksi bunuh diri dengan meledakkan bom.

sebagai sebuah fenomena yang harus diambil hikmahnya serangan teror di  Jalan Thamrin Jakarta dimulai dengan memahami infografis  yang diambil dari http://news.detik.com/infografis/3119027/kronologi-teror-isis-di-thamrin      sebagai berikut :

krobologi

 

Serangan yang terjadi di tengah hari tepat dijantung Kota Jakarta tentunya menimbulkan berbagai pertanyaan antara lain apakah Intelijen Indonesia sudah bekerja dengan optimal kemudian seberapa cepat aparat keamanan mampu melakukan penanggulangan.

dengan tidak  bermaksud menuding serta mencari kambing hitam yang kerap terjadi  bahkan dalam sebuah diskusi intelektual di Indonesia adalah dengan mengkritisi  peran Intelijen negara baik dalam ranah BIN, BAIS TNI , BIK , dan komunitas  Intelijen lainnya nasional maupun daerah

warning menjelang pergantian tahunh baru dan event natal 2015 telah berulang kali dirilis : bahwa Indonesia ,khususnya Jakarta dan Bali memiliki peluang menjadi lokasi serangan teror , kemudian fasilitas umum yang kerap didatangi pihak Barat , bahkan beberapa pimpinan Polri seperti Kapolri dan Kapolda Metrojaya pun tidak luput dari kisaran ancaman .

pencegahan dan upaya pengkondisian pun sudah dilakukan, telah juga dilakukan secara marathon, di beberapa kota  pasukan Densus 88/ AT Mabes Polri beserta satuan-satuan kewilayahan berhasil melakukan beberapa penangkapan  calon pelaku teror maupun simpatisan lainnya, walaupun ada juga gunjingan dan protes terbuka dari sekelompok LSM dan pribadi yang mengatakan penangkapan tersebut dilakukan secara sembrono dan bertujuan mengkriminalisasi salah satu agama di Indonesia.

Intelijen bukanlah pesulap apalagi ahli nujum , intelijen bekerja dengan merangkai fakta-fakta dengan sebuah teori kausalitas untuk dijadikan sebagai pendapat yang digunakan untuk membuat kebijakan, bahkan Amerika dan Perancis serta beberapa negara Barat lainnya ( lihat pada data diatas) tetap sulit mengidentifikasi urusan KAPAN dan DIMANA serangan teror selanjutnya akan terjadi, mungkin hanya mereka yang disebut sebagai paranormal, dukun dan ahli nujum Indonesia saja yang  mampu  menyebutkan secara jelas bahwa pada tanggal X dan di lokasi Y akan terjadi serangan bom seperti tragedi Thamrin.

hikmah lain yang bisa diambil dengan melihat begitu cepat pihak Kepolisian merespon serangan simultan dan penembakan membabi buta ( active shooter ) di Thamrin adalah dalam jangka waktu kurang dari 15 menit seluruh penyerang bisa dilumpuhkan.

kepolisian berseragam maupun non seragam merangsek dengan cepat dalam hitungan menit setelah kejadian ledakan pertama dalam cafe Starbuck, jajaran Polsek Menteng segera melakukan tindakan kepolsian, hal ini memberi hikmah bahwa taktik penempatan petugas reserse maupun Intelijen berpakaian preman sebagaimana lazimnya di pusat-pusat keramaian masyarakat atau dulu dikenal dengan Police Hazard sangatlah efektif melakukan penangkalan terhadap aksi-aksi teror seperti ini.

personel berpakaian preman berbaur  ditengah masyarakat akan berdaya guna apabila setiap personil dilengkapi dengan senjata api termasuk rompi anti peluru yang bisa disembunyikan dibalik kemeja yang digunakan, sampai saat ini  terdapat kecenderungan senjata api organik  lebih banyak digudangkan oleh para Kepala Satuan  dari pada digelar untuk melengkapi anggota dilapangan.

memang pertimbangan pimpinan tentulah sangat baik, daripada disalahgunakan, dibuat main-main ataupun dengan melihat kesiapan psikologis pemegang senpi, maka banyak anggota dilapangan yang terpaksa bertugas hanya bermodalkan doa semata, namun dibeberapa satuan , justru kebijakan pimpinan malah membekali anggota yang turun kelapangan dengan senjata api melekat dipinggang, alasanya sangat klasik : daripada anggota saya mati ditembak rampok, atau senjata diberikan bukan buat pajangan apalagi sekedar foto-foto, tetapi digunakan untuk menyelamatkan masyarakat dan petugas.

kontradiksi antara yang mengamankan ( kata lain dari melarang) pembawaan senpi dan yang justru mendorong  membawa senpi saat turun kelapangan dalam pendekatan gaya kepemimpinan dalam organisasi  seperti Polri ini tidaklah lepas dari  beberapa faktor yang menurut studi Tannenbaum dan Schmid sebagaimana dikutip Kadarman, et.al.(1996) menunjukkan bahwa gaya dan efektifitas gaya kepemimpinan dipengaruhi oleh :
1. Diri Pemimpin : Kepribadian, pengalaman masa lampau, latar belakang dan harapan pemimpin sangat mempengaruhi efektifitas kepemimpinan disamping mempengaruhi gaya kepemimpinan yang dipilihnya.
2. Ciri Atasan : Gaya kepemimpinan atasan dari manajer sangat mempengaruhi orientasi kepemimpinan manajer.
3. Ciri Bawahan :  Respon yang diberikan oleh bawahan akan menentukan efektivitas kepemimpinan manajer. Latar belakang pendidikan bawahan sangat menentukan pula caramanajer menentukan gaya kepemimpinannya.
4. Persyaratan Tugas : Tuntutan tanggungjawab pekerjaan bawahan akan mempengaruhi gaya kepemimpinan manajer.
5. Iklim Organisasi dan Kebijakan :  Ini akan mempengaruhi harapan dan prilaku anggota kelompok serta gaya kepemimpinan yang dipilih oleh manajer.
6. Perilaku dan Haapan Rekan :  Rekan sekerja manajer merupakan kelompok acuan yang penting. Segala pendapat yang diberikan oleh rekan-rekan manajer sangat mempengaruhi efektivitas hasil kerja manajer.

kompilasi dari enam aspek diatas memberikan kesimpulan bahwa Kucing atau macan ditentukan dari kepalanya, Kalau Kepalanya ( dalam hal ini Komandanya ) adalah Kucing , maka keseluruhan dari leher sampai ekor akan menjadi kucing yang mengeong dan bisanya melingkar di kaki pemiliknya, sedangkan Kepala Macan akan menjadikan seluruh komponen tubuhnya menjadi Macan yang mengaum dan menerkam. memang pilihan menjadi Macan atau Kucing adalah sebuah pilihan dengan segala resiko yang melekat didalamnya.

kembali kepada kesigapan dan trengginas jajaran  Kepolisian  saling  bahu membahu menumpas pelaku serangan teror di Thamrin adalah begitu banyak petugas tertumpah di jalan dan hampir seluruhnya membawa senjata api, dalam sebuah pemberitaan bahka disebutkan terdapat seorang pamen yang berani beradu tembakan dengan pelaku,http://www.tribunnews.com/nasional/2016/01/14/kapolsek-menteng-dedy-tabrani-saya-tembak-seorang-teroris-hingga-tewas

dedi

termasuk seorang Wakakor  Brimob, Brigjen Pol Anang Revandoko ikut berada  ditengah baku tembak Brigjen Anang.jpg

banyak pelajaran lain yang dapat dipetik dari  serangan teror seperti ini, selain kecepatan tindakan dan keberanian mengambil keputusan dilapangan ditengah kepanikan yang melanda warga masyarakat adalah kelak menjadi kewajiban bagi setiap  pimpinan satuan untuk berani mengambil inisiatif melatihkan kemampuan taktis menghadapi serangan teror seperti active shooter ini, kemampuan yang boleh jadi akan terwujud bilamana insting petarung ditumbuhkan lewat latihan yang sifatnya bertahap, bertingkat dan berlanjut.

latihan yang sifatnya sederhana dan tidak perlu mengeluarkan banyak anggaran, asalkan ada kreatifitas dari anggota yang bersangkutan dengan dilandasi kesadaran bahwa sebagai seorang polisi di lapangan maka resiko yang dihadapi adalah mulai yang paling lunak  sampai paling fatal, mulai dari cibiran , cemooh masyarakat sampai meregang nyawa dalam kontak senjata.

cara menggunakan senjata api dengan berlatih  menggunakan senjata kosong, teknik beladiri , teknik melitas dan berlindung dari tembakan termasuk bagaimana bereaksi menghadapi serangan bersenjata dari dalam mobil, pertokoan , bank dan bagaimana membuat barikade untuk mengisolasi penyerang dan insiden dimana semuanya ada dan bisa ditemukan secara gratis di  youtube.

Polri secara keseluruhan tidak boleh alergi dengan terminologi TAKTIKAL, dan menjadikan frase tadi menjadi  dasar naluri  ksatria petarung kejahatan yang siap melayani , melindungi dan mengayomi masyarakat dengan senyum dan ketulusan serta senantiasa siap sedia menjadi Macan pemberani untuk bertarung dalam kontak fisik bahkan senjata dengan penjahat.

 

 

 

STRATEGI MELAWAN PENGGUNAAN INTERNET UNTUK KEGIATAN TERORISME DI INDONESIA

STRATEGI MELAWAN PENGGUNAAN INTERNET UNTUK KEGIATAN TERORISME
DI INDONESIA

SUATU KEHARUSAN DALAM PERUBAHAN STRATEGI TERORISME
Menelisik korelasi antara : pilihan tindakan, dengan kekuatan negara dan jaringan terorisme adalah sebagaimana yang disampaikan oleh Crenshaw (2003.9-11) yang menyatakan bahwa terdapat beberapa kelemahan yang menjadi pertimbangan dipilihnya tindakan terorisme oleh pihak oposan, yaitu: (a) senjata yang dimiliki pihak oposan adalah sedemikian lemah dan sedikit jumlahnya atau kurangnya kekuatan militer konvensional; (b) adanya kegagalan pihak oposan untuk memodifikasi dukungan dari masyarakat secara meluas; (c) kelemahan organisasi oposan adalah bersifat spesifik bagi negara-negara represif; dan (d) kendala waktu karena ketidaksabaran dan keinginan yang kuat untuk bereaksi secara terburu-bur, dari pendapat Crenshaw tersebut dapat disimpulkan bahwa terorisme hanya merupakan salah satu cara untuk mencapai suatu tujuan yang radikal, dimana pilihan tersebut dipengaruhi setidaknya dua faktor, yaitu: faktor subyek dalam hal ini kondisi para pihak atau kelompok tersebut dan faktor obyek dalam hal ini sasaran dari cara yang dipilih (terorisme), apabila faktor-faktor tersebut dinilai lebih menguntungkan untuk dicapainya tujuan melalui cara terorisme dibandingkan cara-cara lainnya, maka cara tersebutlah yang dipilih sebagai pilihan mantap yang rasional.
Manakala upaya represif negara dalam penanggulangan terorisme menjadi sedemikian efektif untuk memberangus dan menghentikan segenap langkah yang dilakukan kelompok teroris, maka metamorfosa terhadap: bentuk organisasi yang lebih flexible, pencarian modus operandi baru , pendefinisian sasaran secara selektif dan bagaimana memilih issue yang diusung perlu menjadi prioritas, apabila suatu jaringan yang dipersepsikan sebagai kelompok teroris tetap bertahan dengan kondisi terakhirnya maka suatu keniscayaan dalam waktu singkat kekuatan negara sebagai lawan akan dapat menghancurkan dengan sekejap.
Salah satu inovasi dari learning organizations yakni organisasi yang mampu terus menerus melakukan adaptasi dan bertumbuh dalam keadaan yang sesulit apapun .Nitibaskara (2009.225) adalah dengan terobosan untuk bertahan dari segenap upaya represif yang dilakukan oleh otoritas negara yang dilawan atau ditentang berupa penggunaan internet sebagai sarana kegiatan, adalah melalui suatu pertimbangan berdasarkan pengalaman maupun dibangun oleh pengetahuan dan keahlian pribadi masing-masing anggota jaringan teror untuk menggoptimalkan segenap kelebihan dan meniadakan kekurangan yang dimiliki dari sebuah teknologi bernama internet untuk kegiatan terorisme.

MENGAPA MEMILIH INTERNET
Terdapat berbagai keunggulan internet sebagai suatu teknologi yang dapat digunakan sebagai sarana ideal bagi kegiatan terorisme , adanya kemampuan untuk mewujudkan komunikasi real time yang memungkinkan orang-orang berkomunikasi menggunakan fasilitas jejaring sosial yang meyebabkan dokumen elektronik berupa : instruksi, informasi intelijen dan bahkan pendanaan dapat ditransaksikan secara elektronik dalam sekejap lewat perantaraan email.
Internet hanya membutuhkan dana cukup murah untuk dapat digunakan, dengan demikian jaringan teroris dengan mudah membangun kemampuan yang dapat menyamai bahkan bahkan kadang –kadang melebihi kemampuan yang dimiliki oleh organisasi militer, lembaga pemerintahan dan swasta dalam hal menyiapkan dan menyelenggarakan sarana dan prasarana komunikasi, kegiatan pengumpulan informasi intelijen, termasuk membangun fasilitas pelatihan serta membuat suatu media propaganda bagi masyarakat umum.
Keberadaan internet juga memberikan keuntungan bagi sempalan maupun kelompok teroris yang awalnya berlatar belakang primodialisme dan berada dalam jangkauan wilayah terbatas, kini melalui internet dapat menunjukkan eksistensi di berbagai belahan dunia secara global, internet dapat menyelenggarakan komunikasi lintas tempat antar benua dari dan kemana saja termasuk memungkinkan adanya mencari perhatian dunia lewat informasi yang diunggah melalui suatu situs internet yang bisa diakses siapa saja dan dimana saja.
Perkembangan bandwidth internet yang semakin positif, didukung kemunculan software-software baru yang memungkinkan penggunaan internet menjadi semakin mudah, murah dan menyenangkan bagi pembuatan dan penyebaran berbagai informasi lewat internet, adalah ketika peristiwa pembunuhan terhadap seorang anggota tentara Inggris bernama Lee Rigby yang terjadi di John Wilson Street, kota Woolwich, London timur pada Rabu (22/5) pukul 14:20 waktu setempat, dalam sekejap rekaman video aksi sadis tersebut telah menyebar di dunia maya dengan diawali fasilitas smartphone yang dimiliki saksi mata di TKP, dalam hitungan menit berbagai tanggapan muncul baik yang mengutuk maupun memberikan penilaian yang berbeda atas peristiwa tadi.
Internet juga memberikan kemampuan untuk mengenkripsikan dokumen elektronik yang ditransaksikan lewat suatu situs di internet, teknologi ini memungkinkan pengguna internet untuk tetap merahasiakan identitas jatidirinya menjadi suatu anonimitas dalam berkomunikasi maupun melakukan transaksi keuangan, dibutuhkan teknologi tandingan dan upaya yang tidak mudah bagi aparat penegak hukum maupun agen-agen intelijen untuk dapat mengungkap siapa sebenarnya identitas anonim yang ditemukan dalam transaksi elektronik di internet, untuk mendapatkan kemampuan anonimitas tadi adalah bukan suatu maslah pelik , dengan mudah fasilitas berupa software pendukung dapat diunduh secara gratis maupun dengan membayar sejumlah biaya termasuk dengan membuat akun-akun anonim yang disediakan oleh provider jejaring sosial seperti yahoo dan hotmail.
Beberapa upaya yang digunakan untuk mengantisipasi penggunaan internet untuk kegiatan terorisme berdasarkan prinsip teknologi yang digunakan, kerap berbenturan dengan aspek yuridiksi lintas negara, sebagaimana dipahami bahwa fenomena internet dalam kegaiatan terorisme tidak ubahnya dengan penggunaan internet sebagaimana lazimnya sebagai public goods yang dapat diakses lintas negara dengan akibat kepada permasalahan freedom of speech yang membutuhkan kajian lebih mendalam terkait implementasi perlindungan hak azasi manusia yang berbeda –beda antar negara.

PERANG INFORMASI DALAM PENANGGULANGAN TERORISME
Mendudukan sudut pandang bahwa penanggulangan penggunaan internet untuk kegiatan terorisme berangkat dari pemahamanan bahwa internet sejatinya digunakan sebagai sarana perang informasi, dimana sudut pandang perang informasi ini harus diwujudkan dalam bentuk penanggulangan yang menyasar kepada bagaimana memerangi ide yang ditransaksikan secara elektronik, sehingga upaya penegakkan hukum terhadap pengguna internet yang menggunakan untuk kegiatan terorisme akan lebih efektif bilamana diikuti dengan upaya memutus sumber pendanaan kegiatan terorisme dan menyiapkan langkah antisipasi terhadap teknologi yang digunakan untuk menyebarkan ide.
Sebagai sebuah perang informasi, maka upaya melawan penggunaan internet untuk kegiatan terorisme selain kepada pelaku, dukungan finasial dan kemudahan teknologi, adalah juga kepada agenda ideologi yang membutuhkan kebijakan strategi suatu negara dalam mendayagunakan lembaga dan kelembagaan yang dimiliki melalui pendekatan-pendekatan secara struktural dan sistematis, agar dapat memenangkan perang ide di dunia cyber, upaya counter narrative dan counter opinion harus secara hati-hati dipilih dengan memperhatikan kesesuain bahasa dan mahzab ideologi yang dimiliki oleh pelaku terorisme. Selektifitas terhadap sumber dan ketokohan pembicara termasuk konteks pilihan bahasa sangat menetukan keberhasilan suatu strategi perang melawan ide untuk dilancarkan.
Tinjauan atas kehatian-hatian dan kecermatan dalam implementasi counter narrative dan counter opinion tidak terlepas dari eksistensi terorisme sebagai perang asimetrik yang memiliki kecenderungan menunjuk kepada akar permasalahan terrorisme sebagai akibat perkembangan sikap fundamentalisme berbasis agama, sehingga ditemukan kecenderungan untuk memandang agama bukan sebagai suatu ajaran tetapi kepada cara pandang dan perjuangan, dengan demikian pertentangan dan tumbuh suburnya fundamentalisme sebagai akar pertentangan dunia hanya akan efektif dilawan dengan menggunakan pemahaman yang sama terhadap suatu pandangan.
Hendropriyono (2009.1) mengatakan bahwa akar dari terorisme memerlukan tanah untuk hidupnya, dan kesuburan tanah tersebut memberikan pengaruh langsung terhadap kesuburan pohon terorisme, tanah yang subur itu adalah lingkungan masyarakat fundamentalis / ekstrem, yang merupakan habitat, sehingga terorisme selalu timbul tenggelam dalam sejarah kehidupan manusia, sehingga upaya counter narrative dan counter opinion akan berjalan sempurna bilamana aspek lingkungan yang menyuburkan tumbuhnya terorisme dapat digarap/ dikondisikan terlebih dahulu lewat suatu pendekatan maupun pengkondisian sehingga kelak dukungan berupa sumber daya manusia sebagai basis massa dan dana sebagai basis operasional dapat berhenti dengan sendirinya.

MEMUTUS PENDANAAN TERORISME MENGGUNAKAN INTERNET
Sisi lain sebagai salah satu bentuk penggunaan internet oleh jaringan terorisme adalah dalam rangka pengumpulan dan pendistribusian dana , sebagaimana lazimnya kegiatan terorisme lainnya yang tidak akan terlepas dari adanya kebutuhan akan ketersediaan dan adanya dukungan dana untuk operasional. Belajar dari fenomena pendanaan terorisme di dunia Internasional adalah bagaimana perjalanan career criminal dari seorang pemuda Inggris bernama Younis Tsouli alias “Irhabi007” yang akhirnya dikenal didunia terorisme internasional sebagai seorang terrorist virtual ,dirinya mulai mendapatkan perhatian dari jaringan Al Qaeda in Iraq ( AQI) yang terkesan dengan keahlian komputer dan ambisi jihad radikal yang dimiliki, segera Tsouli memperoleh akses untuk menyebarkan video-video propaganda Al Qaeda lewat fasilitas webhosting gratis, walaupun kemudian akses webhosting gratis tadi akhirnya disadari memiliki keterbatasan bandwidth yang memaksa dirinya untuk mencari sumber dana guna melangsungkan pemuatan konten-konten propaganda milik Al Qaeda di dunia cyber.
Salah satu cara yang digunakan oleh Younis Tsolui berkolaborasi dengan Tariq al-Dour untuk membiayai kegiatana propaganda Al Qaeda di internet adalah dengan melakukan carding terhadap berbagai akun kartu kredit yang ditemukan di internet, pada saaat penangkapan dilakukan oleh otoritas Inggris ditemukan lebih dari 37.000 akun kartu kredit curian yang telah digunakan untuk mengumpulkan lebih dari $3,5 juta, termasuk didalamnya kelihaian dari Tsolui untuk menghindari endusan aparat keamanan dengan melakukan pencucian uang lewat kegiatan judi online, wujud kelihaian lainnya adalah menggunakan 72 akun kartu kredit curian tadi untuk pembayaran dan registrasi terhadap lebih dari 182 websites yang dikelola oleh 95 provider yang berbeda.
Terorisme sangat memerlukan infrastruktur sistem keuangan untuk memobilisasi dan menyalurkan dananya, namun yang membuat pendanaan terorisme menjadi sangat berbahaya adalah strategi teroris dalam menggunakan organisasi amal atau nirlaba sebagai sumber pendanaan dan kemampuan menginfiltrasi sistem keuangan negara-negara miskin dan berkembang, selain itu, pendanaan terorisme dapat pula berasal dari sumber yang halal atau legal, yang mempersulit penelusuran dan pembuktian aliran dana tersebut dibandingkan dengan money laundering yang sumber dananya hanya dari hasil tindak pidana.

PROYEKSI MASA DEPAN PENDANAAN TERORISME DI INDONESIA
Konteks keIndonesiaan dalam fenomena penggunaan internet untuk pendanaan terorisme adalah dengan melihat bagaimana jaringan terorisme di Indonesia mendapatkan dana operasional yang selama ini bersumber dari : Fa’I, infaq / sumbangan sedekah, dari berbagai usaha legal milik jaringan NII dan JAT, sumber dana dari hasil cyber crime, termasuk sokongan dari luar negeri.
Proyeksi kedepan terhadap korelasi antara penggunaan internet dan pendanaan terorisme adalah ketika kegiatan Fa’I yang selama ini dilakukan dengan perampokan terhadap toko emas, kantor pengadaian dan beberapa bank ternyata malah menyulitkan jaringan terorisme itu sendiri, resistensi masyarakat semakin menguat manakala pada akhirnya diketahui sebagai contoh adalah ketika perampokan terhadap toko emas di Serang, Banten ternyata malah digunakan untuk membiayai serangan bom Bali I, pun demikian dengan reaksi yang diberikan oleh Polri lewat tindakan penegakkan hukum yang menjadikan pelaku –pelaku perampokan toko emas, bank dan penggadaian tidak dapat tidur nyenyak dibawah bayang –bayang penangkapan oleh pihak kepolisian lewat Satgas Antiteror Mabes Polri.
Keberadaan UU. No.9 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme (PPTPPT) diyakini akan memberikan tekanan yang sangat kuat terhadap upaya pengumpulan dana untuk kegiatan terorisme khusunya yang berasal dari badan usaha milik organisasi yang berkaitan dengan jaringan terorisme , sumber sokongan dana dari luar negeri maupun sumber dana operasional terorisme yang dibungkus dalam bentuk infaq, dimana dalam rumusan pasal-pasal dalam undang-undang diatas mewajibkan adanya penerapan prinsip mengenali Pengguna Jasa Keuangan yang dilakukan dengan pelaporan dan pengawasan kepatuhan PJK, adanya pengawasan kegiatan pengiriman uang melalui sistem transfer atau pengiriman uang melalui sistem lainnya dan adanya pengawasan pembawaan uang tunai dan/atau instrumen pembayaran lain ke dalam atau ke luar daerah pabean Indonesia.
Pada masa mendatang diyakini masalah pendanaan terorisme di Indonesia akan mengalami perubahan modus operansi dari semula bersumber kepada kegiatan Fai, sokongan dana luar negeri , sedekah dan hasil badan usaha , menjadi upaya pengumpulan dana yang tidak terlepas dari penggunaan internet untuk kegiatan terorisme, sehingga upaya penanggulangan tindak pidana terorisme akan berlarut larut tanpa hasil memuaskan bilamana tidak diikuti oleh pengembangan kapasitas dan kapabilitas otoritas negara dalam melawan penggunaan internet sebagai alat pengumpul dana terorisme.

POSISI POLRI DALAM MENGANTISIPASI PENGGUNAAN SENJATA OLEH TERORIS DI INDONESIA

POSISI POLRI DALAM MENGANTISIPASI
PENGGUNAAN SENJATA OLEH TERORIS DI INDONESIA
Pendahuluan
Perubahan lingkungan keamanan di Asia Pasifik terutama terkait pada masalah-masalah keamanan regional yaitu tentang percepatan pembangunan senjata penghancur massal atau Weapons of Mass Destruction (WMD). Percepatan pembangunan senjata yang sekarang lebih mengkhawatirkan daripada yang sebelumnya. Asia Pasipik merupakan sebuah wilayah dimana intitusional regionalnya tidak berkembang, ketegangan lintas perbatasan relatif tinggi, kemampuan senjata meningkat, khususnya masalah perkembangan WMD yang belum terselesaikan.
Pada masa perang dingin, perkembangan vertikal yaitu peningkatan tetap dalam ukuran senjata WMD oleh negara-negara yang telah melampaui ambang batas adalah kejadian yang jauh lebih umum karena hanya meliputi dua negara Super Power yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet. Setelah Uni Soviet runtuh, maka muncul perkembangan yang dikategorikan perkembangan horizontal terhadap kepemilikan WMD oleh negara-negara yang menyeberangi ambang batas sebagai pendatang baru ke dalam Klub Nuklir seperti Korea Utara dan Irak, oleh Robert O’Neill disebut negara “the underdog”. Kedua negara ini mempunyai potensi menawarkan akses WMD kepada kelompok teroris. Sehingga menjadi prioritas tertinggi pada agenda keamanan negara-negara regional pada umumnya dan AS pada khususnya.
Sejak kejadian 11 September 2001 menunjukkan secara jelas menjadikan keamanan internasional sebagai papan catur utama dalam konflik kekuatan yang sangat besar oleh negara hyper power Amerika Serikat. Strategi pemerintahan Bush dalam mendeteksi dan mengembangkan mekanisme yang tepat untuk mengatasi ancaman ini adalah dengan penggunaan kekuatan militer terhadap negara-negara yang diduga mempunyai kemampuan membantu kegiatan kapada teroris dan memiliki WMD yaitu Irak. Pernyataan Presiden Bush walau dikategorikan kontroversial, tetapi menghasilkan skenario yang mencemaskan terhadap negara-negara Asia Pasipik. Namun upaya melaksanakan invasi terhadap Irak tersebut tidak membuahkan hasil karena tidak ditemukannya WMD seperti dugaan AS.
Untuk mengatasi masalah tersebut, Amerika Serikat kemudian mengusulkan Six Party Talks yang melibatkan Korea Selatan, Korea Utara, AS, Jepang, Cina, dan Rusia. Pada putaran pertama tahun 2003, diplomat Korea Utara menyatakan bahwa Pyongyang tidak memiliki pilihan selain mendeklarasikan kepemilikan senjata nuklir dan akan melakukan uji coba senjata nuklir. Namun mereka juga mengatakan bahwa Pyongyang akan menghentikan program nuklirnya jika AS mengubah kebijakan permusuhannya, menghalangi pertumbuhan ekonomi Korea Utara, dan membantu kebutuhan energi Korea Utara. Korea Utara pun mengaku memiliki program nuklir, tetapi menolak untuk mengakhiri kecuali AS sepakat untuk mengadakan pembicaraan bilateral dan menormalkan hubungan. Ketika tuntutan ini ditolak Washington, Korea Utara menarik diri dari perjanjian non proliferasi nuklir (NPT).
Korea Utara menimbulkan ancaman yang jelas berbeda dengan Irak. Irak adalah negara Islam yang kaya akan sumber daya alamnya dengan sejarah dari penggunaan aktual dari WMD dan dengan catatan tentang dukungannya kepada teroris. Sedangkan Korea Utara adalah negara dengan kondisi perekonomian yang lemah sebagai akibat embargo oleh AS, namun mempunyai kemampuan untuk membuat WMD, sehingga dalam menaikkan kondisi perekonomian tersebut, kemungkinan adanya upaya penjualan WMD bisa dikatakan lebih besar terjadi dalam pendekatan semacam itu.
Gerakan Teroris di Indonesia
Akar permasalahan teroris di Indonesia dan juga negara lainnya adalah adanya paham radikal yang tertanam di benak para teroris yang membenarkan berbagai tindakan melawan hukum untuk mencapai suatu tujuan tertentu dengan menyesatkan ajaran agama. Dengan melakukan tindakan teror, para teroris percaya bahwa mereka telah berjuang di jalan tuhan dan akan mendapatkan imbalan yang berlipat ganda di kehidupan akhirat nanti.
Dengan sederet “prestasi” pengungkapan jaringan teroris, pemerintah Indonesia menjadi bagian terpenting dalam agenda internasional perang melawan terorisme. Sebagai alat diplomasi, prestasi tersebut tentu saja memupuk benefit politik dan komitmen-komitmen kerjasama internasional yang signifikan dalam memperkuat agenda pemberantasan terorisme dan agenda-agenda sektor keamanan lainnya. Dukungan pemerintah Amerika Serikat dan Australia terhadap Kepolisian RI dan secara khusus kepada Datasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror, harus diakui sebagai bentuk apresiasi internasional kepada pemerintah Indonesia dalam pemberantasan terorisme.
Dengan banyaknya pengungkapan teroris ini, telah diketahui berbagai macam modus operandi, kelompok teroris dan sumber dana yang diperoleh kelompok tersebut dalam melaksanakan aktifitasnya di Indonesia. Fakta-fakta yang terungkap dapat terlihat dari berbagai hasil pengungkapan tersebut sebagai berikut :
1. Kelompok teroris Abu Omar memperoleh dana dari berbagai macam cara. Selain hasil patungan para anggota, dana juga diperoleh dari keuntungan penjualan senjata api ke kelompok teroris lain. Polisi meyakini kelompok Abu Omar memasukkan senjata dari Filipina melalui jalur Mindanau-Tawau-Nunukan (Kalimantan Timur)-Tanjung Perak (Surabaya). Terkait kelompok ini, Tim Densus 88 telah melakukan penangkapan dengan jumlah 18 orang. 11 diantaranya ditangkap Juli 2011 lalu, termasuk pimpinannya Abu Omar dan 7 orang lainnya ditangkap pada Sabtu, minggu pekan lalu, di Tangerang, Jaktim dan Bekasi. Kebanyakan mereka ditangkap karena kepemilikan senjata api yang diduga diselundupkan dari Filiphina.
2. Polri menyatakan tiga DPO yang ditangkap Densus 88 di Tangerang, Sabtu (12/11/2011) pagi, merupakan pengembangan dari kelompok pemasok senjata api Abu Omar. Kelompok tersebut memasok senjata api ilegal dari Filipina melalui Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Timur. “Ini pengembangan dari penangkapan Abu Omar, terkait senjata api di Nunukan, Kalimantan Timur. Mereka adalah DPO terorisme, karena melakukan jual beli senjata api asal Filipina, ” ujar Kabag Penum Polri, Kombes (Pol) Boy Rafli Amar.
3. Kelompok terduga teroris Abu Omar diduga merupakan kelompok pemasok senjata api jaringan teroris di Indonesia. Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri telah menangkap enam jaringan Abu Omar yakni, DAP (34), BH alias Dodi (35), AA alias Agung (31), S (31), DWT (50) dan SGO alias Sogih di Tangerang dan Jakarta, Sabtu (12/11) dan Minggu (13/11). Dikatakan, mereka diduga menyelundupkan senjata tersebut melalui jalur laut, di antaranya melalui pelabuhan tradisional di wilayah Jawa Timur dan Sulawesi.
Dari fakta-fakta diatas menunjukkan bahwa gerakan teroris di Indonesia masih dikategorikan ancaman yang serius karena dukungan terhadap gerakan tersebut mendapat dukungan bukan hanya dalam negeri tetapi luar negeri. Akibatnya gerakan teroris ini sebagai bagian dari ancaman nyata terhadap hak atas rasa aman dan ancaman nyata terhadap hak asasi manusia juga merupakan tugas konstitusional pemerintah.
Kedudukan Polri dalam Antisipasi Penggunaan Senjata Teroris di Indonesia
Pemberantasan terorisme di Indonesia secara massif dimulai sejak peristiwa Bom Bali I pada 12 Oktober 2002. Namun demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa agenda pemberantasan terorisme di Indonesia merupakan bagian dari agenda perang global melawan terorisme yang dikomandoi AS dan sekutunya pasca peristiwa 11 September 2001. Sebagai bagian dari agenda internasional, sejak 2002, pemerintah Indonesia menggunakan isu terorisme dan kinerja pemberantasan terorisme sebagai kapital politik diplomasi internasional.
Terorisme dapat menimbulkan ancaman terhadap keamanan dalam negeri, stabilitas negara Indonesia, hilangnya nyawa manusia, pelanggaran terhadap hak-hak hidup manusia. Sebagai negara hukum, Indonesia memiliki kewajiban untuk melindungi hak-hak warga negaranya. Melalui Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme dan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian, terhadap pelaku tindak pidana terorisme harus diberantas untuk mewujudkan perlindungan, pengayoman, dan penegakan hukum terhadap masyarakat. Salah satu peran Polri untuk memberantas terorisme adalah membentuk Detasemen Khusus 88 Anti Teror sebagai pasukan khusus untuk melakukan pemberantasan.
Lebih lanjut kedudukan Polri dalam melakukan pemberantasan terorisme selalu ditempatkan sebagai aparat terdepan karena berkaitan dengan penegakan hukum. Dalam hal ini, tugas Polri tersebut sebagaimana yang diamanatkan dalam undang-undang menjadi dominan dibanding aparat lainnya. Sedangkan pihak TNI hanya sebatas fungsi bantuan bila diperlukan oleh Polri.
Dengan alasan tersebut di atas, keberadaan Densus 88 AT Polri harus menjadi kesatuan professional yang mampu menjalankan perannya dengan baik sesuai dengan tugas dan fungsinya sebagaimana ditegaskan pada awal pembentukan. Bila merujuk pada Skep Kapolri No. 30/VI/2003 tertanggal 30 Juni 2003 maka tugas dan fungsi dari Densus 88 AT Polri secara spesifik untuk menanggulangi meningkatnya kejahatan terorisme di Indonesia, khususnya aksi terror dengan modus peledakan bom. Dengan penegasan ini berarti Densus 88 AT Polri adalah unit pelaksana tugas penanggulangan terror dalam negeri, sebagaimana tertuang dalam UU Anti Terorisme.
Densus 88 Anti Teror harus mengoptimalkan kembali fungsi dan perannya khususnya di bidang intelijen. Peran intelijen ini harus dilaksanakan koordinasi dengan pihak instansi yang mengembang fungsi intelijen lainnya, contohnya TNI dan BIN. Selama ini belum terdapat koordinasi yang berarti dalam kegiatan intelijen dimaksud. Sehingga terkesan pelaksanakan penyelidikan terhadap informasi kelompok terorisme hanya dilakukan oleh Densus 88 Anti Teror.
Disamping itu, Polri juga harus meningkatkan kerja sama luar negeri di bidang penanggulangan terorisme secara maksimal untuk menekan jaringan terorisme yang memiiiki hubungan dengan luar negeri serta menyelesaikan akar permasalahan yang melibatkan isu di luar teritorial Indonesia, melalui peningkatan peran aktif Indonesia dalam forum regional dan internasional penanggulangan terorisme, pemanfaatan dukungan dari negara maju untuk kepentingan pembangunan kapasitas Indonesia, peningkatan kerja sama untuk menyelesaikan akar permasalahan terorisme radikal, dan peningkatan hubungan kerja sama di bidang operasional dan taktis dengan negara terkait, dengan mengedepankan peran Kementerian Luar Negeri, BNPT dan NCB Interpol. Karena selama ini juga belum terungkap secara komperhensif tentang sumber dana yang diperoleh kelompok terorisme dalam menjalankan aksinya di Indonesia. Hal ini merupakan permasalahan serius karena bila tidak diantisipasi secara dini, maka perolehan senjata yang lebih canggih seperti WMD diatas dapat dilakukan oleh kelompok atau jaringan teroris yang beraksi di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Adjie Santoso Perdanakusumah, Terorisme, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 2005.
Petrus Reinhard Golose, Deradikalisasi Terorisme (Humanis, soul approach dan menyentuh akar rumput), YPKIK, Jakarta, 2009.
Stephen Hoadley and Jurgen Ruland, Asian Security Reassessed, Institute of Southeast And Studies, Singapore, 2006.
http://www.lensaindonesia.com/2011/11/15/sumber-dana-kelompok-teroris-abu-omar-dari-jual-senpi.html

http://www.jogja.tribunnews.com/2011/11/12/senjata-api-terduga-teroris-dipasok-lewat-nunukan

http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2011/11/15/101878/Kelompok-Abu-Omar-Diduga-Pemasok-Senjata-Teroris

When Diamond aren’t Forever, kaitan perdagangan Berlian Berdarah dengan tragedi kemanusiaan, terorisme dan keuntungan Broker senjata

Blood Diamond shows shifting alliances among the company seeking diamonds, rebel, seeking guns, mercenaries seeking money and innocent civilians caught in the middle. Explain how this can be considered a transnational criminal enterprise and conspiracy?
Dalam sebuah ilustrasi yang digambarkan dalam film Blood diamond terdapat sebuah pengetahuan baru, bahwa merupakan mata uang baru yang berlaku secara universal, mampu menjembatani perbedaan mata uang dan nilai jual yang dimiliki negara-negara di Dunia , perdagangan senjata secara illegal antara pedagang senjata gelap dengan pihak pemberontak RUF dilakukan dengan barter hasil tambang alam yang dilakukan oleh sekelompok pekerja kasar yang nota bene merupakan korban kekejaman pemberontak dengan memaksa penduduk setempat sebagai budak di era modern, kemudian juga menjadi mata uang baru yang menjembatani kepentingan korporasi perhiasan dunia akan kebutuhan mentah sebagai bahan baku utama perhiasan yang digunakan sebagai simbol kemakmuran.
Barter sebagai metode perdagangan primitif justru berkembang pesat ketika sebagi simbol kemakmuran bertemu dengan kepentingan penguasaan dan perbudakan modern oleh Pemberontak, alur perjalanan yang ditambang secara tradisional jauh dipedalaman wilayah konflik di jantung benua Afrika berjalan melalui jalur penyelundup keluar wilayah Afrika lewat tangan pedagang senjata maupun komoditas lain sampai akhirnya jatuh ketangan pedagang perhiasan di Eropa dan Amerika.
Apakah perdagangan dari jatung Afrika adalah merupakan sebuah bentuk kejahatan Transnational ? bila melihat perdagangan sebagai sebuah kegiatan pertukaran komoditas yang bernilai tinggi di pasaran internasional adalah hal biasa dalam konsep perdagangan, bahwa terdapat permintaan dan adanya suatu persediaan , tinggal bagaimana proses pembayaran dan sejumlah uang harus dipertukarkan, namun dalam kasus perdagangan seperti yang ditampilkan dalam film Blood Diamond terdapat beberapa hal yang perlu dikaji lebih dalam.
Pada tahun 2000 dilaksanakan the United Nation Convention against Transnational Organized Crime di Palermo. Konvensi ini dikenal dengan nama Konvensi Palermo. Konvensi ini menghasilkan 3 protokol: 1.Protokol untuk mencegah, menindak, dan menghukum perdagangan manusia, khususnya wanita dan anak. 2. Protokol melawan penyelundupan migran melalui darat, laut, dan udara.3. Protokol melawan perakitan dan perdagangan secara illegal senjata api, komponen dan amunisi.
Dengan melihat rumusan protokol ketiga dalam konvensi Palermo mulai terlihat bahwa selama ini yang didatangkan dari Benua Afrika memiliki peluang merupakan bagian dari hasil kegiatan perdagangan senjata illegal, hal ini terlihat dari perolehan merupakan bagian dari perdagangansenjata Illegal yang dilakukan oleh pedagang gelap senjata api kepada pemberontak RUF di afrika.
Seperti diketahui konflik di Afrika telah menyebabkan terjadi pengunsian besar besaran akibat pengusiran, perbudakkan, pembunuhan massal bahkan genosida terhadap kelompok masyarakat tertentu di benua Afrika, dimana semua itu dibiayai dan dibesarkan oleh perdagangan Berdarah dan Senjata illegal.
Masih menurut article 3 Konvensi Palermo, sebuah kejahatan disebut ‘transnational’ jika memenuhi salah satu atau lebih syarat berupa: Bila dilakukan di lebih dari satu Negara, Dilakukan di satu Negara tetapi bagian penting dari persiapan, perencanaan, pengendalian dan kontrol dilaksanakan di Negara lainnya.Dilakukan di satu Negara tetapi melibatkan organisasi kejahatan yang terkait dengan aktifitas kejahatan di lebih dari satu Negara,Dilakukan di satu Negara tetapi memiliki dampak penting di Negara lain.
Dengan merujuk kepada artikel ke 3 Konvensi Palermo dengan sangat jelas perdangan Berdarah apalagi dengan pelibatan aktor aktor kejahatan yang memperdagangkan senjata secara illegal adalah mutlak kegiatan perdagangan berdarah adalah suatu tindak kejahatan Transnasional, hal ini dapat dilihat pada analisa :
1. Dilakukan lebih dari satu negara :bahwa kegiatan perdagangan berdarah dimulai dari proses penambangan di Siera leone, Angola, Cote D Ivory, dan Repulik Democratic Congo diselundupkan ke beberapa negara tetangga yang relatif mudah dijangkau oleh pedagang Senjata gelap untuk kemudian dilakukan suatu barter.penyelundupan yang berharga Jutaan Dolar ini sangat memberikan suntikan dana segar bagi kelompok pemberontak maupun aparat pemerintah yang korup untuk terus menghidupkan perdagangan berdarah antar negara.
2. Dilakukan dalam suatu negara, namun bagian terpenting dalam persiapan,perencanaan,pelaksanaan dan pengendalian dilakukan di negara lain , dalam kasus Berdarah ini,proses penambangan dilakukan di wilayah konflik Afrika oleh tenaga kerja paksa maupun tawanan perang untuk selanjutnya diselundupkan keluar negeri lewat perbatasan negara tetangga, sedangkan proses pengolahan dan penjualan dilakukan di butik perhisan terkemuka di london maupun new York, kemungkinan pedagang perhiasaan di eropa dan Amerika tidak langsung memesan kepada pemberontak di pedalam Afrika karena sangat mempertaruhkan keselamatan dan kredibiltas hukum, sewaktu waktu dapat diajukan sebagai salah satu aktor kejahatan Transnasional , namun menggunakan jasa pedagang, broker senjata untuk menjebatani , “Gun for Diamond , and Diamond for Money”, peran broker senjata inilah yang menjadi sentral ketika permintaan dunia meningkat, maka konflik harus terus dipelihara agar permintaan senjata terus ada dan meningkat juga.
3. Dilakukan di satu Negara tetapi melibatkan organisasi kejahatan yang terkait dengan aktifitas kejahatan di lebih dari satu Negara, Keberadaan pemberontak RUF ( Revolutionary United Front )yang eksis pada awal tahun 1991,bersama sama dengan kombatan dari Liberia dan serdadu bayaran asal Burkina faso telah melakukan serangan terhadap pemerintahan Siera Leone dengan melakukan kampanye kekerasan berupa pembunuhan, pemerkosaan bahkan mutilasi/ pembuntungan terhadap warga sipil yang dianggap melawan eksistensi RUF, puncaknya pada Maret 1995 RUF berhasil menguasai tambang tambang yang selama ini dikuasai pemerintah Siera Leone,maka semenjak itulah perdangan dari tambang tambang yang dikuasai pemberontak mulai merambah dan membanjiri pasaran dunia, memang RUF tidak memiliki kaitan langsung dengan pedagang di Eropa maupun Amerika namun berkat kolaborasi antara RUF dan Broker senjata, maka kejahatan Transnasional terjadi .
4. Dilakukan di satu Negara tetapi memiliki dampak penting di Negara lain.kegiatan penambangan , perdagangan senjata dan penjualan adalah kegiatan yang berdiri sendiri namun memiliki saling keterkaitan terhadap dampak berdarah ini adalah dalam perkembangan dan intensitas Konflik bersenjata di Afrika, ribuan nyawa melayang , jutaaan manusia mengungsi serta sejumlah lainnya hidup dalam penderitaan sebagai pekerja paksa di camp tambang maupun harus kehilangan sebagaian anggota tubuh di Amputasi dan terpisah dari keluarga , semua itu adalah dampak dari kolaborasi Illegal antara pemberontak yang menguasi , dengan broker senjata derta pedagang .
Ketika pedagang senjata api memperoleh maka, kaum pemberontak memperoleh Senjata yang digunakan untuk menyusun dan melakukan perlawanan kepada pemerintah yang berkuasa, tentunya hasil akhir barter antar dan senjata api berakhir di etalase toko perhiasan di Dunia.
Kaitan antara perdagangan senjata Api dan yang memiliki pengaruh secara langsung terhadap adanya suatu genosida, perbudakkan , pembunuhan dan pengusiran masyarakat di benua afrika akibat konflik senjata mendorong masyarakat dunia untuk menyebut yang ditambang dari wilayah konflik di Afrika sebagai Berdarah “ Blood Diamond “ masyarakat dunia dalam hal ini Masyarakat eropa bahkan perwakilan bangsa bangsa di PBB menganggap bahwa perdagangan berdarah memiliki kontribusi besar terhadap eksistensi konflik bersenjata yang terus berlarut larut tanpa akhir di Afrika.
This movie highlights the power of media in spotlighting injustices and helping to bring about change. Can you provide other examples where media attention to criminal activity helped to provoke positive changes ?
Peran media massa dalam mengangkat suatu fenomena kejahatan dan ketidakadilan dalam mewujudkan suatu perubahan yang lebih baik terlihat dalam beberapa liputan , sebagai contoh liputan yang terkait dengan kejahatan Transnasional maupun Organized Crime adalah :
Pertama : liputan tentang pembataian Orang Utan ( Pongo pygmaeus sp)., sebagai satwa endemik yang hampir punah . telah secara serampangan dibunuh oleh pemilik korporasi perkebunan Sawit di wilayah Kalimantan, menurut The Jakarta Globe Polri bekerja sama dengan Petugas dari Kantor Kementrian Kehutanan telah menangkap 2 ( dua ) orang tersangka pembantaian Orang Utan di wilayah Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara , Kalimantan Timur, penangkapan terhadap kedua tersangka pembantaian orang Utan akhirnya menjadi pemberitaan nasional bahkan Internasional terkait komitment pemerintah Indonesia dan Korporasi yang bergerak di bidang usaha perkebunan untuk lebih memberikan perhatian dan perlindungan terhadap keaneka ragaman hayati satwa dan kelestarian lingkungan hidup di Indonesia.
Hal senada juga menjadi liputan situs” The Jakarta Post yang menyebutkan bahwa Pemerintah bergerak lambat dalam penanganan kasus pembantaian orang Utan , berita yang semakin menarik adalah ketika peristiwa pembantaian Orang Utan , telah menggerakkan solidaritas dukungan menyelamatkan Orang Utan dan mengecam tindakan Korporasi perkebunan Sawit yang melakukan perluasan lahan dengan sengaja sehingga merusak habitat asli Orang Utan sampai akhirnya memaksa Orang Utan memasuki perkebunan untuk mencari makan, Demostrasi dan aksi dukungan menggejala di berbagai wilayah baik dalam dan luar negeri.
Kedua adalah terkait kejahatan terorisme dan Kejahatan atas penyelundupan senjata api illegal yang bersumber dari negara bekas konflik maupun masuk ke negara konflik, dalam sebuah pemberitaan dari “The Guardian” , bahwa selain maslah terorisme dan perdagangan senjata illegal yang turut memelihara konflik tetap berdarah darah di beberapa lokasi, adalah keterlibatan Berlian berdarah Blood Diamond yang digunakan sebagai alat tukar atau barter perdagangan senjata api illegal dan nafsu pemberontak bersenjata maupun keinginan Broker mendapatkan bahan baku murah namun berkualitas bagi butik-butik perhiasan ternama dunia.
Peran media massa menjadi begitu sentral setelah masyarakat akhirnya mengetahui bahwa berlian yang selama ini dianggap memiliki kekuatan daya tarik mode “ Diamond Last Forever” ternyata sebagian bersumber dari konflik bersenjata di Afrika, dimana penyiksaan , pembunuhan, mutilasi, pengusiran serta tindakan berdarah lainnya sebagai tindakan melanggar HAM merupakan sebuah harga yang harus diberikan dalam mendapatkan berlian berlian bermutu dari Afrika, bahkan dalam sebuah persidangan dengan menghadirkan aktris Hollywood ternama “ Naomi Campbell” dalam sidang terhadap panglima perangkonflik berdarah di Afrika “ Charles Taylor “ seorang mantanPresiden Sierra Leone , negara dimana Berlian Berdarah ditambang dari perut Bumi, kaitan antara Naomi Campbell selaku aktris dengan Charles Taylor diungkap oleh media massa pertama kali pada saat Naomi Campbell terlibat dalam acara penggalian dana amal bersama Nelson Mandela di tahun 1997.
Masih di situs yang sama , The Guardian juga pernah mengangkat bahwa perdangangan berlian berdarah ternyata digunakan untuk membiayai serangan massif teroris ke Amerika dalam skenario 911. Bahwa kelompok Teroris dari jaringan Al Qaeda telah melakukan pembelian berlian senilai 20M$ dimana diyakini baiaya yang diperlukan untuk melancarkan serangan massif dalam skenario 911 hanya menghabiskan dana 500.000$ saja, bahwa segi praktis dan sulit untuk dilacak menjadi pilihan mengapa Al Qaeda menugaskan agen agen kepercayaannya untuk menukarkan sejumlah senjata dengan berlian dari Afrika, senjata yang dengan sangat mudah ditemukan khususnya di negara negara kantong Al Qaeda dengan segera diantar begitu mendapat persetujuan pertukaran dengan berlian Berdarah Afrika lewat perantara Broker senjata Illegal.
Pertimbangan bahwa Berlian akan mudah dibawa, disimpan maupun dikirim untuk membiayai perlawanan Al Qaeda begitu mempesona jajaran petinggi Al Qaeda , seperti diketahui bahwa masalah pengiriman uang dan biaya kegiatan Teroris di berbagai negara sering terbentur kepada keharusan melaporkan sumber dan penerima uang kepada otoritas pemerintah setempat , termasuk adaya kewajiban untuk melaporkan sejumlah uang dalam limit tertentu di penerbangan Internasional.berkat peran pemberitaan media massa akhirnya masyarakat terbuka pemikiran dan pengetahuannya bahwa selama ini Berlian turut memberikan andil dalam konflikdan serangan teroris di muka bumi.

Daftar Bacaan:
1. http://www.guardian.co.uk/world/blood-diamonds

2. http://www.guardian.co.uk/world/2010/aug/11/naomi-campbell-denies-lying-over-diamonds

3. http://www.guardian.co.uk/world/2002/oct/20/alqaida.terrorism

4. http://www.thejakartaglobe.com/home/two-arrested-in-orangutan-slaughter-case-reports/479722

5. http://www.thejakartapost.com/news/2011/11/28/scene-govt-slow-solve-orangutan-killings-case.html

6. http://www.profauna.org/content/en/pressrelease/2011/melanie-subono-denounces-orangutan-massacres-on-kalimantan.html

7. http://www.argee.net/DefenseWatch/Conflict%20Diamonds-Funding%20Terrorism.htm

8. Lieutenant Colonel Stanley Q. Tunstall, Transnational Organized Crime And Conflict: Strategic Implications For The Military, Senior Service College Fellow,USAWC CLASS OF 2002, United States Army 2002.