PEMOLISIAN PROTAGONIS DI NAD TO WIN HEART AND PEOPLE’S MIND

PEMOLISIAN PROTAGONIS DI NAD
TO WIN HEART AND PEOPLE’S MIND

Tugas utama Polri selaku Civilian adalah untuk memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat serta menegakkan hukum Negara Kesatuan Republic Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Polri dituntut sedemikian rupa memenuhi tugas yang dibebankan kepada mereka oleh hukum, dengan melayani masyarakat dan dengan melindungi semua orang terhadap tindakan-tindakan yang tidak sah, sesuai dengan tingkat tanggung jawab tinggi yang diwajibkan oleh profesi mereka serta para petugas penegak hukum harus menghormati dan melindungi martabat manusia dan mempertahankan serta menjunjung tinggi hak asasi manusia dari semua orang dimana saja dan kapan saja
Bahwa tugas Polisi secara universal selaku Civilian Police di daerah bergejolak membutuhkan suatu pendekatan yang berbeda secara metode teknis maupun strategi, menghadapi Pluralisme masyarakat Indonesia yang sangat heterogen serta rentan terhadap terjadinya konflik vertikal dan Horizontal membutuhkan suatu daya cipta, rasa dan Karsa yang berasaskan konsep Think Global and Act Local
Apa kemenangan yang paling mutlak ?…. adalah menang perang tanpa harus berperang ( TzunTzu , The Art Of War ), secara universal Polisi termasuk Polri tidak akan pernah terlibat Perang Konvesional kecuali terlebih dahulu sempat dideklarasikan sebagai Combatan menurut Konvensi Genewa . Polisi bukanlah pasukan tempur, kecuali dideklarasikan sebagai bagian dari militer. Penyebutan Polisi bukanlah pasukan tempur mengandung maksud bahwa operasi Kepolisian bukanlah operasi militer. Dalam konteks ini pembatasan model pendekatan polisi dan militer jelas berbeda, sekalipun diwilayah konflik bersenjata yang sama sehingga Polri bekerja tidak menjadi bagian militer.
Bagaimana dengan Pemolisian di NAD sebagai strategi dan falsafah Polri kekinian . ? Saat ini aceh memasuki suatu tahapan baru , setelah konflik melelahkan yang berlansung secara putus sambung selama lebih dari 30 tahun, adalah dengan melakukan perubahan pola Antagonis menjadi Pola peran Protagonis sebagai pembimbing, dan menjadi mitra yang didasari pemahaman bahwa Polri tidak akan mampu sendirian untuk menyelesaikan masalah keamanan dan ketertiban dalam masyarakat, dibutuhkan kerja sama dalam kesejajaran antara petugas Polri dan masyarakat dalam memecahkan suatu masalah social, tentunya dengan memperhatikan kekhasan dan nilai- nilai moral setempat.

Identifikasi terhadap kegagalan pendekatan kekuatan bersenjata di NAD :
Profesionalisme Aparat TNI- Polri dalam penyelesaian konflik Aceh.
Tindakan penggunaan kekerasan yang berlebihan (excessive use of force) yang dilakukan oleh aparat TNI –Polri merupakan pelanggaran dan penyalahgunaan wewenang (abuse of power).yang menimbulkan luka traumatis masyarakat dan menyuburkan dukungan bagi kelompok GAM , padahal penggunaan kekerasan dan senjata api merupakan kewenangan yang diberikan oleh undang-undang sebagai pilihan terakhir (last resort) bagi aparat kepolisian dalam menjalankan tugasnya.
Bentuk tindakan kekuatan berlebihan yang ditampilkan oleh Aparat TNI – Polri diwujudkan terhadap subyek yang tidak dalam penguasaannya seperti setelah terjadi serangan oleh kelompok GAM terhadap iring-iringan kendaraan maupun Patroli serta Kawasan Kantor dan Asrama serta fasilitas milik umum maupun pemerintah yang sering kali memicu terjadinya kekerasan berlebihan terhadap masyarakat disekitar lokasi kejadian baik berupa pemukulan , penghinaan dan terjadinya penembakan membabi-buta sebagai pelampiasan rasa kesal ataupun kemarahan Aparat saat diserang tak seorang masyarakatpun yang datang untuk menginformasikan rencana serangan. Selain itu juga ditemukan penggunaan kekuatan secara berlebihan dilakukan terhadap subyek yang berada dalam penguasaannya. Hal ini biasa ditujukan kepada seseorang atau kumpulan orang yang telah ditahan atau ditangkap dimana polisi menggunakan metode penyiksaan terhadap mereka untuk mendapatkan keterangan atau hal lain.
Tindakan kekerasan yang ditampilkan diatas memiliki hubungan dengan tingkat Profesionalisme personel yang ditugaskan didaerah konflik, kata profesionalisme yang menunjuk kepada kadar keahlian atau kemampuan setiap personel untuk melakukan dan bertindak secara benar menurut tugas dan tanggung jawab yang dimiliki .
Profesionalisme hanya dapat diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan yang benar dan tepat porsi serta materi , adanya dukungan terhadap perangkat lunak dan keras yang logis dan masuk akal. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Drs Usman Kasminto saat menyusun Buku Tantangan Polri mengamankan Aceh ( 2003 ) menyebutkan bahwa Polri sebagai organisasi belum mampu menentukan standart kualifikasi kemampuan dan latihan yang harus dijalani setiap personil Polri yang melaksanakan tour of duty ke Aceh , Rekruitment ? juga perlu ditanyakan sudah tepat atau hanya sekedar melaksanakan perintah Mabes Polri?

Peran pers dan persepsi masyarakat .
Simpati masyarakat kearah GAM hal ini didukung oleh keahlian mereka dalam melancarkan PUS (Perang Urat Syaraf ) dan Public Opini setting , berupa tindakan intimidasi dan kontra opini melalui media massa Koran setempat sehingga fakta dilapangan sering kali menyimpang, GAM memahami kekuatan yang dimiliki Media Massa untuk mengontrol dan mencari dukungan rakyat, untuk berbalik membenci Pemerintah dan semua aparat Pemerintahan melalui media setting dengan menekan dan mengancam wartawan untuk dihabisi keluarganya apabila tidak memuat berita seperti yang GAM inginkan sedangkan keberadaan satgas Penerangan yang dikirim dari Mabes Polri , tidak lebih sekedar tukang foto tanpa kemampuan menulis konter opini melalui pemuatan berita di media massa.
Pola pendekatan yang berempati terhadap kebutuhan dasar Manusia
Tugas dan Kewajiban Polisi dalam menyediakan rasa aman bagi masyarakat merupakan entry point untuk mencapai keberhasilan keamanan , Polisi yang memahami kedudukannya ini ibarat seorang salesman yang menawarkan produk berupa KEAMANAN kepada market yakni masyarakat . Wajib dipahami keamanan ( safety, security, surety ,peace ) merupakan barang langka ditengah situasi keamanan yang serba sulit, merujuk kepada Minimanual Urban Guerilla oleh Carlos Marighella
“The role of the urban guerrilla, in order to win the support of the population, is to continue fighting, keeping in mind the interests of the people and heightening the disastrous situation within which the government must act. These are the conditions, harmful to the dictatorship, which permit the guerrillas to open rural warfare in the middle of an uncontrollable urban rebellion.”

Taktik gerilya ? apa korelasinya dengan tugas Polisi ? , bahwa organisasi ( GAM ) tidak pernah melihat atau mau tahu dengan kedudukan Polri sebagai , Non-Combatan, Penegak Hukum dan bukan pasukan tempur, sekali dikategorikan “Aparat” ( TNI ,POLRI, Pegawai pemda, guru dan semua pegawai yang mendapat gaji dari NKRI ) adalah musuh, justru keberadaan sebagai anggota Polri merupakan primary target yang harus dihancurkan (culik kemudian dibunuh ) untuk menimbulkan ketakutan dan ketegangan di masyarakat, serta menciutkan nyali dan memancing amarah petugas yang lain agar semakin bertindak represif.
Situasi kemanan yang dihadapi Polri saat itu, merupakan wujud terjadinya ketegangan dan konflik vertikal bersenjata dalam negeri antara Pemerintah dengan sekelompok masyarakat yang memiliki pandangan dan keyakinan yang berbeda secara frontal berjuang dengan menggunakan senjata
Pengalaman perorangan,sebagai penentu pola Komunikasi & pendekatan terhadap masyarakat.
Frekuensi penugasan yang telah dijalani oleh rekan-rekan di Brimob dalam penugasan Operasi Pemulihan Keamanan berbagai wilayah konflik di Indonesia telah membangun kesiapan mental dan kemampuan beradaptasi di lingkungan yang rawan. Rekan rekan kami di Brimob menyadari resiko tugas di daerah Konflik, bahwa kecerobohan dan tindakan arogansi justru akan memberikan pengaruh yang kontraproduktif terhadap keberhasilan tugas dalam rangka memberikan back-up satuan kewilayahan agar dapat melaksanakan kegiatan kepolisian secara optimal.yang menarik beberapa rekan personil Brimob yang kami kenal, menyunting gadis dari daerah Konflik untuk dijadikan Bhayangkari, sehingga sedikit banyak memberikan penilaian positif dan membuka pikiran masyarakat bahwa kedatangan mereka ke daerah- daerah tersebut justru untuk menjalin silaturahmi.Kesadaran yang harus terus menerus ditumbuhkan kepada personil Brimob bahwa tugas utama mereka untuk melindungi keamanan dan keselamatan Rakyat, dihidupkan dengan memberikan perintahtugas yang mengedepankan paradigma “ Apa yang terbaik bagi Rakyat adalah yang terbaik bagi Polri”
Upaya –upaya simpatik yang mengedepankan penghormatan terhadap budaya lokal setempat dalam merebut dan memenangkan hati rakyat sehingga dapat membatasi, menutup dan memutus dukungan rakyat terhadap GAM dilakukan dengan kegiatan counter Opini, developing good Public opinion, pelayanan masyarakat dan pendekatan Agama yang dilakukan di tiap- tiap pos keamanan yang kami miliki di beberapa Gampong dan setiap melaksanakan Operasi Penegakkan Hukum maupun Operasi Pemulihan Keamanan.
Suatu pengalaman yang menarik adalah ketika rekan di Brimob menyapaikan bahwa” menjadi Dukun juga bisa Memenangkan Perang” bahwa pernah dalam suatu operasi Pemulihan Keamanan seorang anggota Brimob dgn inisial Bripda Y, karena kebetulan memiliki kemampuan pengobatan supranatural, berinisiatif membuka praktek pengobatan tradisional disekitar Pos Brimob di Gampong B di pedalaman Aceh.
Tanggapan awalnya masih biasa biasa saja, hanya sebagian kecil masyarakat di sekitar Pos Gambong B yang mau datang untuk berobat, namun setelah sekian lama kunjungan masyarakat makin padat lagi, sehingga pengobatan yang biasanya dilakukan 2 kali seminggupun atas permintaan masyarakat dilaksanakan hampir sepanjang minggu .
Menurut penuturan rekan kami, berdasarkan informasi seorang pasien yang datang berobat, pihak GAM wilayah **** yang dipimpin oleh sdr. TGK Nyak XXX pernah melarang masyarakat untuk berobat ke tempat mereka, setiap orang yang datang ke tempat kami akan dicap CUAK dan diancam akan dibunuh.
Berkah bulan puasa datang kepada mereka , seseorang warga desa datang ketempat Brimob untuk berobat, namun tanpa diduga secara sembunyi sembunyi menyampaikan melalui secarik kertas bahwa pada sore hari nanti apabila akan hujan, seorang anggota GAM dari wilayah Gampong S akan melarikan diri dengan menumpang ojek, rencana pelarian akan dilaksanakan saat hujan, dengan harapan bahwa personil Brimob yang sering mengadakan sweeping kendaraan tidak akan memeriksa dirinya, atas informasi tersebut pimpinan memerintahkan beberapa anggota untuk melaksanakan penyergapan, dan Alhamdulilah informasi yang diperoleh dari pasien yang datang ke Pos brimob membuahkan hasil. Pada saat diinterograsi, awalnya tersangka tetap mengelak mengakui dirinya sebagai anggota aktif GAM yang diduga menyimpan 3 pucuk senpi jenis AK 47, sampai akhirnya pimpinan berinisiatif mengundang keluarga tersangka melalui perantara Geuchik Gampong M untuk mendatangkan orang tua dan kakak perempuannya.Upaya pendekatan dengan mendatangkan keluarga tersangka guna menyentuh hatinya awalnya semula gagal, karena masyarakat di daerah Gampong M, sangat trauma terhadap perilaku aparat TNI/Polri yang dulu pernah bertugas disitu, selain adanya intimidasi dari pihak GAM sendiri terhadap keluarga tersangka.
Berpacu dengan upaya opini setting yang dilakukan oleh GAM , pimpinan Brimob akhirnya meminta Bripda Y untuk berbicara langsung dengan keluarga tersangka, setelah keluarga tersangka mengetahui bahwa anaknya ditahan di pos Brimob serta diawasai langsung oleh Bripda Y yang selama ini dikenal sebagai seorang yang sering membantu melalui metode pengobatan tadisional masyarakat setempat, akhirnya keluarga tersangka mau datang dan menjeguk anaknya di Pos Brimob.
Setelah keluarga tersangka datang , maka pimpinan Brimob di pos menyampaikan bahwa putra mereka ditangkap karena terlibat GAM, dan disarankan untuk menunjukkan lokasi penimbunan senjata yang disimpan, pihak keluarga menyanggupi dan memahami apalagi setelah adanya jaminan keselamatan atas putranya.
Akhirnya berakhir sudah petualangan T alias Tengku M setelah semua senjata yang selama ini dipakai untuk menyerang dan meneror penduduk guna menarik pajak ditemukan di areal perkebunan Kelapa Gampong M, sebanyak 3 pucuk senpi ( 2 pucuk AK- 47, dan 1 pucuk M-16 , berikut sejumlah peluru ) sebagai barang bukti, tanpa perlu susah payah melakukan kontak senjata, tanpa perlu adanya pertumpahan darah dan tanpa mengeluarkan sebutir peluru. selanjutnya tersangka T kami serahkan kepada pihak Polsek M untuk dibina sebagai contoh anggota GAM yang telah menyerah secara sadar .
Da’i Brimob
Nanggroe Aceh Darussalam dikenal sebagai Daerah Serambi Makkah , menjadikan suasana kehidupan keagamaan secara Islam sangatlah kental,ini dipahami sebagai faktor yang dapat menguntungkan operasi pemulihan Keamanan, upaya penugasan Satgas Da’I Kamtibmas oleh Mabes Polri ,secara kasat mata dirasakan belum optimal, seperti diketahui sebagian personil Da’I Kamtibmas yang seharusnya berkunjung ke Meunasah, Pesantren, Masjid, pada faktanya hanya dikumpulkan di aula Polres, demi alasan keamanan dan keselamatan personil yang bersangkutan. ( sebagian anggota Da’I Kamtibmas yang ditugaskan merupakan korban dari penunjukan surat perintah saja, tanpa pelatihan yang cukup mengenai esensi Agama Islam serta kearifan budaya lokal Aceh ) , sehingga motivasi untuk bertugas demikian rendah serta bertugas tanpa dilengkapi alat beladiri yangmemadai.
Melihat kondisi tersebut, kepada setiap pos Brimob dalam jajaran untuk menggalakkan kegiatan pengajian dan pembacaan surat Yasin secara bersama masyarakat lingkungan sekitar Pos setiap malam jumat, serta apabila memungkinkan melaksanakan Sholat berjamaah di Masjid di sekitar Pos. Rupanya perintah tersebut ditanggapi secara positif, bahwa dalam jajaran personil Brimob ternyata memiliki banyak potensi “ Da’I Dadakan “ yang sering didaulat untuk memberikan ceramah serta mengajarkan baca tulis Quran kepada anak- anak di beberapa Meunasah yang ada di dekat Pos Brimob.
Tanggapan-tanggapan positif mulai tumbuh dengan ditandai masyarakat berani datang, sekedar ngobrol dengan anggota jaga di Pos, membantu membersihkan Pos, dan yang terpenting adalah informasi tentang dukungan dan kekuatan logistic yang selama ini diperoleh GAM dari warga masyarakat mulai berkurang, dan mereka ( GAM ) kini hanya memperoleh dukungan bersumber dari saudara / kerabat dekatnya saja.
Patroli simpatik
Selain melaksanakan penggiringan, pemutusan dan penangkapan terhadap target operasi yang berhasil diidentifikasi, metode Patroli simpatik dengan berjalan kaki maupun menggunakan ranmor dilakukan untuk menunjukan kepada masyarakat bahwa Brimob selalu ada dan siap tugas, memberikan efek deterrent kepada GAM agar mobilitas diantara warga semakin terbatas .
Sering saat kami melaksanakan Patroli keluar masuk Kampung , warga masyarakat menanyakan identitas kami apakah berasal dari Pos Brimob di Gampong B, atau apakah kami rekan dari Bripda Y, sungguh suatu keuntungan bagi kami bahwa nama Bripda Y cukup dikenal sebagi seorang dukun yang cukup ampuh mengobati penyakit, manfaat lain yang dirasakan adalah selama 6 ( enam ) bulan bertugas, belum pernah sekalipun rombongan patroli jalan kaki, Kendaraan, Markas dan kegiatan kami diserang oleh GAM ,namun perolehan pucuk senjata milik GAM sebagai bukti eksistensi, juga tidak mengecewakan : 8 (delapan) pucuk senpi ( 1 pck M16, 6 pck AK-47, 1 pck pistol FN ) dan beberapa lembar dokumen serta perlengkapan logistik, diperoleh dari hasil penyergapan di beberapa lokasi.
Penutup
Guna mewujudkan sosok Polri selaku Polisi yang professional perlu adaya perubah kultur kerja organisasi Polri yang selama ini pendekatan dan totalitas pengabdian Bhayangkara lebih mendekati citra diri Militeristik dibandingkan citra diri polisi yang berwatak sipil. Citra diri militeristik ini yang selanjutnya termanifestasi pada sikap pelayanan yang kaku-prosedural, komunikasi kerja bersifat komando dan kepatuhan pada komando tanpa sikap kritis.Padahal dalam pelaksanaan tugas Polri sangat berbeda dengan militer, petugas Polri memerlukan kemampuan untuk berinovasi dan kreativitas dalam menerapkan diskresi Kepolisia,dengan demikian penanaman jati diri militeristik bersifat kontradiktif dengan konstruksi sosiologi empirik dari fungsi-fungsi kepolisian yang sepenuhnya bersifat civillian dalam melayani melindungi masyarakat.

Kejahatan Jalanan dan Premanisme Latar belakang dan Penanggulangannya Oleh: Prof. Dr. Sarlito Wirawan S.

Kejahatan Jalanan dan Premanisme
Latar belakang dan Penanggulangannya
Oleh: Prof. Dr. Sarlito Wirawan S.

Kejahatan jalanan (street crime) dan premanisme adalah kejahatan-kejahatan tingkat akar rumput yang benar-benar meresahkan rakyat kecil. Jauh lebih meresahkan ketimbang kasus Nazarudiin atau Chandra Hamzah yang saat ini banyak dibicarakan di media massa. Akan tetapi media massa tidak terlalu tertarik untuk membahas kejahatan jalanan, karena dianggap sebagai masalah kecil yang tidak menarik untuk diberitakan di media (kecuali mungkin harian seperti Pos Kota).
Di sisi lain, kejahatan-kejahatan besar seperti kasus sodomi dan mutilasi anak-anak oleh pelaku Robot Gedek dan Baiquini (Babeh) terjadi di jalanan dan korbannya adalah anak-anak jalanan. Aksi-aksi Kapak Merah, perampokan dengan berpura-pura menunjukkan ban rusak (sasarannya wanita yang menyetir sendiri), sweeping FPI, pencurian kendaraan bermotor sampai tawuran antar geng (rebutan lahan parkir), antar kampong, dan antar sekolah terjadi hampir setiap hari dengan mengambil jalanan sebagai arenanya.
Pasalnya, jalanan adalah arena publik, dimana berbagai kepentingan tertumpah menjadi satu, bertemu, bersatu dan membaur, dan tidak ada aturan yang jelas di sana. Aturan lalu lintas yang sudah jelas pun dilanggar (parkir di tempat terlarang, naik motor melawan arus, berkendara motor di atas kaki lima, atau justru berdagang (statis) di atas kaki Lima. Polisi yang harusnya mengatur, menertibkan situasi di jalan raya tidak selalu berada di sana, dan kalaupun ada maka dia kewalahan mengatur situasi.
Mengapa arena publik jadi sasaran? Selain karena di sana tidak ada yang mengatur, sehingga setiap orang bisa berbuat semaunya sendiri, juga karena terlalu banyaknya penduduk. Sebagian dari penduduk kota metropolitan tidak akan keluar ke jalanan kalau ada tempat lain yang lebih menyenangkan. Karena rumah yang sempit dan sumpek, tidak ada hiburan, maka mereka nongkrong di pinggir jalan. Sebagian hanya sekedar kong-kouw saja, sebagian yang lain bekerja, mencari nafkah dan seterusnya, termasuk terlibat kriminal.
Jadi faktor pertama dari kejahatan jalanan adalah faktor demografis. Di kota-kota besar yang penduduknya jarang (seperti Melbourne), hampir tidak kita temui orang menumpuk di jalanan dalam jumlah besar, kecuali ada acara tertentu, misalnya festival. Yang kedua adalah faktor pengangguran dan kemiskinan. Yang nongkrong berlama-lama di jalanan sudah pasti bukan orang-orang yang sibuk bekerja termasuk supir taksi, kurir paket, salesman atau agen asuransi yang pekerjaannya setiap hari memang menelusuri jalan, melainkan orang-orang yang tidak bekerja, atau tidak mau bekerja. Yang meramaikan jalanan adalah anak-anak Balita, ABG, Remaja, dewasa, sampai tua. Yang miskin, cacat, sampai berpakaian perlente, semuanya dengan tujuannya masing-masing.
Sebagaimana di setiap kesempatan, keramaian jalanan juga dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu yang ingin mengambil keuntungan. Pencopet, pemeras, tukang palak, pengamen, dsb. semua mencari kesempatan dengan caranya masing-masing. Sebagian terorganisasi, misalnya pengemis, pencopet, tukang parkir, sebagian bahkan terlibat dalam organisasi Mafia internasional (misalnya: jaringan Narkoba), tetapi sebagian yang lain bekerja secara perorangan.
Mereka yang melakukan kejahatan perorangan dampaknya kecil pada masyarakat (kalau tertangkap mereka bisa habis dipukuli masyarakat). Tetapi kejahatan-kejahatan terorgansasi bisa sangat meresahkan masyarakat. Tawuran antar sekolah, misalnya, adalah salah satu bentuk kejahatan terorganisasi yang mengganggu masyarakat secara kronis. Preman-preman berjubah organisasi agama Islam, juga meresahkan karena mereka sering melakukan sweeping, khususnya pada pihak-pihak yang kurang setoran pada mereka. Hal ini diperkuat oleh faktor ketiga, yaitu adanya identitas kelompok mereka yang kuat (ingroup feeling). Dengan adanya perasaan identitas kelompok yang kuat itu, maka rasa persaingan antar kelompok bisa sangat kental dan permusuhan/tawuran jalanan bisa berlangsung bertahun-tahun.
Tetapi faktor yang paling utama (faktor keempat), sebetulnya adalah lemahnya control sosial dari pihak aparat. NYPD (New York Polce Department) yang sudah sangat canggihpun, termasuk dalam hal anggaran, masih tidak bisa mengatasi sepenuhnya kejahatan di kota New York. Apalagi Polda Metro yang dananya memang serba terbatas.
Untuk mengatasi hal itu, di beberapa kota di dunia ini, diadakan polisi sukarela. Di Malaysia sejumlah orang sipil (biasa diapanggil: Rela), membantu PDRM (Polis Di Raja Malaysia), untuk menangkapi warga Negara Indonesia yang berkeliaran di Malaysia tanpa surat-surat keterangan dan ditengarai sebagai sumber kejahatan. Di Indonesia sudah lama di kenal Siskamling (Sistem keamanan Lingkungan), tetapi tidak terlalu berjalan, khususnya di kota-kota besar, karena suasana keakraban/kekeluargaan sudah tidak ada lagi di kota seperti Jakarta.
Walaupun begitu, cara paling jitu untuk mengurangi kejahatan jalanan adalah dengan mencegah urbanisasi. Kita tahu bahwa masalah pokoknya adalah kepadatan penduduk, maka dengan mencegah urbanisasi, kita bisa mengurangi kemungkinan berkembangnya kejahatan jalanan. Namun mengurangi urbanisasi tidak cukup dengan mencegah orangluar Jakarta masuk ke Jakarta (razia KTP, misalnya), namun harus dengan pendekatan yang jauh lebih komprehensif, yaitu misalnya dengan mengadakan lapangan kerja di daerah-daerah asal. Sehingga penduduk tidak perlu bermigrasi ke kota besar. Namun pendekatan-pendekatan komprehensif seperti ini belum bisa terlaksana di Indonesia. Cara kerja pemerintah dan pemerintah daerah kita masuh disertai dengan ego-sektoral yang tingggi, sehingga kurang perduli pada strategi pembangunan yang menyeluruh. Ketika sudah menjadi masalah di jalanan, barulah Polisi, Satpol PP dan aparat keamanan lainnya dikerahkan untuk menanggulangi, yang hasilnya pasti jauh dari efektif.

CORETAN KASAR

PERUBAHAN YANG HARUS DIMULAI…..

by KURNIA ” ASENG” HADI

Pantas kah kita mengeluh…? Padahal kita dikaruniai kedua tangan yang kuat untuk mengubah dunia. Layakkah kita berkesah sedangkan kita karuniai akal dan pikiran serta kecerdasan yang memungkinkan kita untuk membenahi segala sesuatu dan permasalahan yang ada. Apakah kita akan menyianyiakan segala yang ada atas karunia Allah swt tersebut…? Hingga akhirnya kita menyi-nyiakan semua tanggung jawab yang ada di pundak kita… Jangan biarkan apa yang menjadi kekuatan terbesar kita akan terjungkal dan hanyut akan keluh kesah diri kita. Mari kita teggakn hati dan bahu, jangan biarkan semangat hilang hanya karena tidak tahun apa yang menjadi jawaban dari segala persoalan dan permasalahan yang kita hadapi.
Jangan pernah membiarkan kelemahan menghujamkan kelemahan kita, sesungguhnya ada orang-orang yang lebih berhak mengeluh daripada kita. Yaitu orang-orang yang memang tercipta dirinya sebagai pecundang, orang-orang yang bodoh karena keterbatasan ilmu pengetahuan dan orang-orang yang sama sekali lemah keimanan dan ketaqwaannya karena dasar akidah yang lemah, dan banyak lagi. Rekan-rekan insane Kepolisian adalah sosok insane yang terbaik dari insan lainnya, hal tersebut dibuktikan dari awal proses perekrutan masuk instutisi kepolisian yang sulit dengan berbagai persayaratan yang tidak sembarang orang mampu melaluinya seperti halnya tes masuk Bintara kepolisian, seleksi AKPOL, seleksi PPSS, dan lainnya. Berbagai ilmu pengetahuan dan keteramp[ilan yang sudah kita kenyam mulai kita menjadi anggota kepolisian, berbagai pengalaman yang sangat berharga dari perjalanan karier dan masa kedinasan yang sudah kita alami bersama, berbagai kebijakan politik dan pandangan kultur dari masyarakat Indonesia mulai dari Orde Lama hingga pada orde Reformasi ssaat ini sudah kita lalui. Apakah kita selalu saja larut dengan berbagai keluh kesah kita berkaitan dengan kesenjangan, kesederhanaan, kebutuhan dan semua aspek pribadi yang tujuannya untuk memenuhi kebutuhan hidup kita semata. Kesemuanya hal tersebut memang benar sangat penting dalam melanjutkan roda kehidupan, tetapi yang teramat penting ialah bagaimana rasa tanggung jawab kita untuk mempertahankan eksistensi, semangat dan tujuan organisasi Polri yang kian hari kian meningkat tanggung jawab terhadap bangsa, Negara dan masyarakat pada umumnya.
Dalam hal ini, saya akan memberikan sebuah ilusi dan gambaran tentang kegiatan penyidik yang dilakukan oleh Kepolisian Italy, yaitu bahwa seorang penyidik melakukan serangkaian kegiatan penyidikan secara profesional dan proporsional. Aspek profesionalisme mereka adalah mereka dalam melakukan serangkaian kegiatan penyidikan dilakukakan secara maksimal, artinya bahwa mereka mengumpulkan saksi, bukti, korban dan semua hal yang berkaitan dengan kejahatan sampai pada akarnya. Setelah mereka meyakinkan bahwa benar telah terjadi kejahatan, maka mereka melakukan penangkapan menggunakan unit yang khusus. Dalam hal penangkapan seorang tersangka, mereka menggunakan Satuan Carabinieri. Ini biasanya dilakukan jika menghadapi kejahatan-kejahatan yang sifatnya “street crime” atau “kejahatan jalanan”.
Bagian penyidikan di Italy terbagi atas dua hal, yaitu kejahatan biasa dengan luar biasa. Carabinieri biasanya melakukan penangkapan terhadap kejahatan-kejahatan yang berkaitan fisik atau bersekala besar. Sedangkan kesatuan khusus terhadap kejahatan khusus ada penyidik khusus pula yang menangani. Contoh kasus yang selama pendidikan di CoESPU terjadi adalah penangkapan kelompok mafia dan kelompok yang anti ras di Italy. Prosedur kerja semacam itu relevan dilakukan di Polri, karena Polri memiliki Satuan Brimob yang spesifik tugasnya untuk menghadapi kejahatan beritensitas atau berkharakteristik tinggi. Penyidik di Italy tidak melakukan penangkapan sendiri, mereka juga menggunakan pakaian “preman” sehingga untuk menghindari kesalahan prosedur dalam hal melakukan penangkapan dapat dieliminir semaksimal mungkin.
Memang dalam hal melakukan penangkapan adalah suatu hal yang substantif bagi proses penyidikan, tetapi hal tersebut juga sangat “riskan”. Dalam KUHAP di Indonesia hal yang bisa diajukan pra peradilan adalah aspek salah prosedur dalam penangkapan, penahanan dan penghentian penyidikan. Semua jenis kejahatan jalanan atau yang beritensitas tinggi penangkapannya diserahkan kepada Satuan Carabinieri. Jadi, seorang penyidik tidak perlu bersusah payah melakukan penangkapan. Memang, dalam penangkapan seorang tersangka penyidik tidak serta merta melepas tanggung jawab sepenuhnya kepada Satuan Carabinieri semata tetapi tetap mendampingi proses penangkapan tersebut. Hal tersebut dimaksudkan agar tepat sasaran dan segala macam administrasi penyidikan sudah lengkap. Yang paling unik dari proses penyidikan adalah mereka para penyidik biasa mengeluarkan Surat Penghentian Penyidikan dengan alasan belum cukup bukti atau masih dalam tidak terbukti suatu kejahatan, walaupun sudah dilakukan penangkapan termasuk dengan menggunakan Satuaan Carabinieri. Budaya seperti ini yang masih sangat jarang dilakukan di Indonesia.
Dengan kondisi seperti hal tersebut kita akan tetap larut…? Dalam undan-undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia pasal 18 tentang kewenangan “diskresi” kepolisian yang kita miliki apakah kita tidak mampu berbuat suatu perubahan yang nantinya perubahan tersebut dirasakan manfaatnya oleh bangsa, Negara dan masyarakat Indonesia. Permasalahan yang ada adalah, kekurang mampuan diri kita atau dasar ketidakmauan diri kita untuk melakukan suatu perubahan positif? Allah swt berfirman dalam wahyu pertama-Nya yang diturunkan oleh kepada Nabi Besar Muhammad saw yang mana berbunyi: “ IQRA’ “ yang artinya bacalah. Apapun kondisinya dan apa yang kita hadapi saat ini entah itu masalah kedinasan dan pribadi kita hendaknya kita memberdayakan akal yang telah dikaruniai oleh kita untuk mengatasi semua permasalahan yang ada.
Sayyidina Ummar Bin Khatab menyampaikan: “Sampaikan kebenaran tersebut walaupun harus kita berhadapan dengan mata pedang”, artinya apapun yang namanya kebenaran hakiki hendaknya harus diutarakan dengan apapu segala konsekuensinya. Jangan menjadi sosok manusia yang kerdin, suka menjilat asala bapak senang, tidak punya prinsip dan hanyut akan arus roda kehidupan yang ada. Kita harus mandiri, Polri adalah insitutsi yang mandiri. Konsekuensinya berisikan akan orang-orang yang independen, tidak takut kepada penguasa, asa kepentingan dan sebagainya. Dan yang lebih utama lagi adalah jangan mudah menyerah dengan kondisi yang ada.
Gaung program pemerintah tentang “quick wins” sudah ditabuh, pimpinan Polri sudah menggelontorkan berbagai program guna menunjang hal seperti itu, mulai dari perekrutan, proses penyidikan, penanganan pelayanan bagi masyarakat dan banyak lagi. Kenapa kita tidak mendukungnya….? Jika kita hanya larut dengan permasalahan “remunerasi” maka kita termasuk golongan yang picik seperti telah diutarakan di atas awal tulisan ini. Mantan Presiden Amerika Jhon F Kennedy mengutarakan “jangan kau Tanya apa yang Negara berikan kepadamu, tetapi tanyalah apa yang telah engkau berikan kepada Negara mu”. Bung Karno menyampaikan “revolusi butuh pengorbanan”, tinggal kita memposisikan saat ini dengan mengambil hikmah bahwa inilah suatu wujud dari revolusi yang mana merupakan revolusi kultur dan social.
Rekan-rekan sekalian, hendaknya kita sadar sepenuhnya bahwa apa yang sedang kita miliki, kita nikmati dan kita rasakan saat ini adalah merupakan suatu amanah dari Allah swt, bangsa dan Negara serta masyarakat Indonesia. Janganlah kita mempunyai suatu pemikiran bahwa hal tersebut merupakan jerih payah diri kita semata, ingat bahwa kita adalah mahluk social yang mana kita tidak bias hidup akan keberadaan orang lain. Seorang pemimpin tidak akan disebut sebagai seorang pemimpin jika tidak ada orang yang dipimpinnya, seorang ahli tidak akan dianggap sedemikian jika tidak ada yang membandingkan dan merasakan sejauhmana keahliannya, seorang penyidik tidak akan menjadi seorang penyidik yang handal jika tidak mampu mengungkap sejauh mana tindak pidana yang terjadi, banyak hal lain yang mengisyaratkan bahwa kita tidak bias hidup sendiri..
Dengan hikmah Hari Bhayangkara kali ini hendaknya kita dapat me-refresh kembali apa yang sudah kita lakukan, kita kerjakan dan sejauh mana manfaatnya dirasakan oleh masyarakat Indonesia atau setidaknya bagi keluarga pribadi kita sendiri. Dimanapun kita bertugas, di bagian apapun kita berfungsi dan pada posisi serta jabatan apapun kita hendaknya mengkedepankan sikap amanah dan bertanggung jawab kepada bangsa, Negara, masyarakat, yang terutama adalah kepada keluarga dan diri sendiri. Kita dukung semangat “QUICK WINS” yang sudah dicanangkan oleh pemerintah merupakan suatu wujud profesionalisme Polri kepada masyarakat, jangan menganggap hal tersebut sebagai beban karena memang yang perlu kita lakukan untuk menarik simpati dari masyarakat.
Pesan saya sebagai penuh, hendaknya sesuatu hal dilakukan dengan penuh rasa jujur. Orang yang jujur adalah orang yang disiplin akan banyak hal, jika orang tersebut sudah disiplin sudah dipastikan orang tersebut akan memiliki rasa loyalitas yang tinggi. Konsekuensi dari wujud loyalitas tersebut adalah sikap integritas yang tinggi, jika hal tersebut sudah diraihnya maka ia akan mendapatkan kepercayaan dari orang maupun pihak lain. Jika sudah dipercaya oleh pihak lain maka dia akan mendapatkan keuntungan dari apa yang telah dia kerjakan, dan keuntungan tersebut adalah suatu nilai keberkahan dari semua jerih payah yang dilakukannya. Tidak itu saja, dia akan selalu dipakai oleh pihak lain karena memang mereka percaya kepada apa yang telah kita lakukan. Mari kita maknai Hari Bhayangkari dengan memulai suatu perubahan kearah yang positif dari sekarang, tidak terbatas dari satuan dan fungsi tempat kita berdinas saat ini tetapi diri sendiri dan keluarga lebih khusus lagi.
Salam Bhayangkara…..