STRATEGI MELAWAN PENGGUNAAN INTERNET UNTUK KEGIATAN TERORISME DI INDONESIA

STRATEGI MELAWAN PENGGUNAAN INTERNET UNTUK KEGIATAN TERORISME
DI INDONESIA

SUATU KEHARUSAN DALAM PERUBAHAN STRATEGI TERORISME
Menelisik korelasi antara : pilihan tindakan, dengan kekuatan negara dan jaringan terorisme adalah sebagaimana yang disampaikan oleh Crenshaw (2003.9-11) yang menyatakan bahwa terdapat beberapa kelemahan yang menjadi pertimbangan dipilihnya tindakan terorisme oleh pihak oposan, yaitu: (a) senjata yang dimiliki pihak oposan adalah sedemikian lemah dan sedikit jumlahnya atau kurangnya kekuatan militer konvensional; (b) adanya kegagalan pihak oposan untuk memodifikasi dukungan dari masyarakat secara meluas; (c) kelemahan organisasi oposan adalah bersifat spesifik bagi negara-negara represif; dan (d) kendala waktu karena ketidaksabaran dan keinginan yang kuat untuk bereaksi secara terburu-bur, dari pendapat Crenshaw tersebut dapat disimpulkan bahwa terorisme hanya merupakan salah satu cara untuk mencapai suatu tujuan yang radikal, dimana pilihan tersebut dipengaruhi setidaknya dua faktor, yaitu: faktor subyek dalam hal ini kondisi para pihak atau kelompok tersebut dan faktor obyek dalam hal ini sasaran dari cara yang dipilih (terorisme), apabila faktor-faktor tersebut dinilai lebih menguntungkan untuk dicapainya tujuan melalui cara terorisme dibandingkan cara-cara lainnya, maka cara tersebutlah yang dipilih sebagai pilihan mantap yang rasional.
Manakala upaya represif negara dalam penanggulangan terorisme menjadi sedemikian efektif untuk memberangus dan menghentikan segenap langkah yang dilakukan kelompok teroris, maka metamorfosa terhadap: bentuk organisasi yang lebih flexible, pencarian modus operandi baru , pendefinisian sasaran secara selektif dan bagaimana memilih issue yang diusung perlu menjadi prioritas, apabila suatu jaringan yang dipersepsikan sebagai kelompok teroris tetap bertahan dengan kondisi terakhirnya maka suatu keniscayaan dalam waktu singkat kekuatan negara sebagai lawan akan dapat menghancurkan dengan sekejap.
Salah satu inovasi dari learning organizations yakni organisasi yang mampu terus menerus melakukan adaptasi dan bertumbuh dalam keadaan yang sesulit apapun .Nitibaskara (2009.225) adalah dengan terobosan untuk bertahan dari segenap upaya represif yang dilakukan oleh otoritas negara yang dilawan atau ditentang berupa penggunaan internet sebagai sarana kegiatan, adalah melalui suatu pertimbangan berdasarkan pengalaman maupun dibangun oleh pengetahuan dan keahlian pribadi masing-masing anggota jaringan teror untuk menggoptimalkan segenap kelebihan dan meniadakan kekurangan yang dimiliki dari sebuah teknologi bernama internet untuk kegiatan terorisme.

MENGAPA MEMILIH INTERNET
Terdapat berbagai keunggulan internet sebagai suatu teknologi yang dapat digunakan sebagai sarana ideal bagi kegiatan terorisme , adanya kemampuan untuk mewujudkan komunikasi real time yang memungkinkan orang-orang berkomunikasi menggunakan fasilitas jejaring sosial yang meyebabkan dokumen elektronik berupa : instruksi, informasi intelijen dan bahkan pendanaan dapat ditransaksikan secara elektronik dalam sekejap lewat perantaraan email.
Internet hanya membutuhkan dana cukup murah untuk dapat digunakan, dengan demikian jaringan teroris dengan mudah membangun kemampuan yang dapat menyamai bahkan bahkan kadang –kadang melebihi kemampuan yang dimiliki oleh organisasi militer, lembaga pemerintahan dan swasta dalam hal menyiapkan dan menyelenggarakan sarana dan prasarana komunikasi, kegiatan pengumpulan informasi intelijen, termasuk membangun fasilitas pelatihan serta membuat suatu media propaganda bagi masyarakat umum.
Keberadaan internet juga memberikan keuntungan bagi sempalan maupun kelompok teroris yang awalnya berlatar belakang primodialisme dan berada dalam jangkauan wilayah terbatas, kini melalui internet dapat menunjukkan eksistensi di berbagai belahan dunia secara global, internet dapat menyelenggarakan komunikasi lintas tempat antar benua dari dan kemana saja termasuk memungkinkan adanya mencari perhatian dunia lewat informasi yang diunggah melalui suatu situs internet yang bisa diakses siapa saja dan dimana saja.
Perkembangan bandwidth internet yang semakin positif, didukung kemunculan software-software baru yang memungkinkan penggunaan internet menjadi semakin mudah, murah dan menyenangkan bagi pembuatan dan penyebaran berbagai informasi lewat internet, adalah ketika peristiwa pembunuhan terhadap seorang anggota tentara Inggris bernama Lee Rigby yang terjadi di John Wilson Street, kota Woolwich, London timur pada Rabu (22/5) pukul 14:20 waktu setempat, dalam sekejap rekaman video aksi sadis tersebut telah menyebar di dunia maya dengan diawali fasilitas smartphone yang dimiliki saksi mata di TKP, dalam hitungan menit berbagai tanggapan muncul baik yang mengutuk maupun memberikan penilaian yang berbeda atas peristiwa tadi.
Internet juga memberikan kemampuan untuk mengenkripsikan dokumen elektronik yang ditransaksikan lewat suatu situs di internet, teknologi ini memungkinkan pengguna internet untuk tetap merahasiakan identitas jatidirinya menjadi suatu anonimitas dalam berkomunikasi maupun melakukan transaksi keuangan, dibutuhkan teknologi tandingan dan upaya yang tidak mudah bagi aparat penegak hukum maupun agen-agen intelijen untuk dapat mengungkap siapa sebenarnya identitas anonim yang ditemukan dalam transaksi elektronik di internet, untuk mendapatkan kemampuan anonimitas tadi adalah bukan suatu maslah pelik , dengan mudah fasilitas berupa software pendukung dapat diunduh secara gratis maupun dengan membayar sejumlah biaya termasuk dengan membuat akun-akun anonim yang disediakan oleh provider jejaring sosial seperti yahoo dan hotmail.
Beberapa upaya yang digunakan untuk mengantisipasi penggunaan internet untuk kegiatan terorisme berdasarkan prinsip teknologi yang digunakan, kerap berbenturan dengan aspek yuridiksi lintas negara, sebagaimana dipahami bahwa fenomena internet dalam kegaiatan terorisme tidak ubahnya dengan penggunaan internet sebagaimana lazimnya sebagai public goods yang dapat diakses lintas negara dengan akibat kepada permasalahan freedom of speech yang membutuhkan kajian lebih mendalam terkait implementasi perlindungan hak azasi manusia yang berbeda –beda antar negara.

PERANG INFORMASI DALAM PENANGGULANGAN TERORISME
Mendudukan sudut pandang bahwa penanggulangan penggunaan internet untuk kegiatan terorisme berangkat dari pemahamanan bahwa internet sejatinya digunakan sebagai sarana perang informasi, dimana sudut pandang perang informasi ini harus diwujudkan dalam bentuk penanggulangan yang menyasar kepada bagaimana memerangi ide yang ditransaksikan secara elektronik, sehingga upaya penegakkan hukum terhadap pengguna internet yang menggunakan untuk kegiatan terorisme akan lebih efektif bilamana diikuti dengan upaya memutus sumber pendanaan kegiatan terorisme dan menyiapkan langkah antisipasi terhadap teknologi yang digunakan untuk menyebarkan ide.
Sebagai sebuah perang informasi, maka upaya melawan penggunaan internet untuk kegiatan terorisme selain kepada pelaku, dukungan finasial dan kemudahan teknologi, adalah juga kepada agenda ideologi yang membutuhkan kebijakan strategi suatu negara dalam mendayagunakan lembaga dan kelembagaan yang dimiliki melalui pendekatan-pendekatan secara struktural dan sistematis, agar dapat memenangkan perang ide di dunia cyber, upaya counter narrative dan counter opinion harus secara hati-hati dipilih dengan memperhatikan kesesuain bahasa dan mahzab ideologi yang dimiliki oleh pelaku terorisme. Selektifitas terhadap sumber dan ketokohan pembicara termasuk konteks pilihan bahasa sangat menetukan keberhasilan suatu strategi perang melawan ide untuk dilancarkan.
Tinjauan atas kehatian-hatian dan kecermatan dalam implementasi counter narrative dan counter opinion tidak terlepas dari eksistensi terorisme sebagai perang asimetrik yang memiliki kecenderungan menunjuk kepada akar permasalahan terrorisme sebagai akibat perkembangan sikap fundamentalisme berbasis agama, sehingga ditemukan kecenderungan untuk memandang agama bukan sebagai suatu ajaran tetapi kepada cara pandang dan perjuangan, dengan demikian pertentangan dan tumbuh suburnya fundamentalisme sebagai akar pertentangan dunia hanya akan efektif dilawan dengan menggunakan pemahaman yang sama terhadap suatu pandangan.
Hendropriyono (2009.1) mengatakan bahwa akar dari terorisme memerlukan tanah untuk hidupnya, dan kesuburan tanah tersebut memberikan pengaruh langsung terhadap kesuburan pohon terorisme, tanah yang subur itu adalah lingkungan masyarakat fundamentalis / ekstrem, yang merupakan habitat, sehingga terorisme selalu timbul tenggelam dalam sejarah kehidupan manusia, sehingga upaya counter narrative dan counter opinion akan berjalan sempurna bilamana aspek lingkungan yang menyuburkan tumbuhnya terorisme dapat digarap/ dikondisikan terlebih dahulu lewat suatu pendekatan maupun pengkondisian sehingga kelak dukungan berupa sumber daya manusia sebagai basis massa dan dana sebagai basis operasional dapat berhenti dengan sendirinya.

MEMUTUS PENDANAAN TERORISME MENGGUNAKAN INTERNET
Sisi lain sebagai salah satu bentuk penggunaan internet oleh jaringan terorisme adalah dalam rangka pengumpulan dan pendistribusian dana , sebagaimana lazimnya kegiatan terorisme lainnya yang tidak akan terlepas dari adanya kebutuhan akan ketersediaan dan adanya dukungan dana untuk operasional. Belajar dari fenomena pendanaan terorisme di dunia Internasional adalah bagaimana perjalanan career criminal dari seorang pemuda Inggris bernama Younis Tsouli alias “Irhabi007” yang akhirnya dikenal didunia terorisme internasional sebagai seorang terrorist virtual ,dirinya mulai mendapatkan perhatian dari jaringan Al Qaeda in Iraq ( AQI) yang terkesan dengan keahlian komputer dan ambisi jihad radikal yang dimiliki, segera Tsouli memperoleh akses untuk menyebarkan video-video propaganda Al Qaeda lewat fasilitas webhosting gratis, walaupun kemudian akses webhosting gratis tadi akhirnya disadari memiliki keterbatasan bandwidth yang memaksa dirinya untuk mencari sumber dana guna melangsungkan pemuatan konten-konten propaganda milik Al Qaeda di dunia cyber.
Salah satu cara yang digunakan oleh Younis Tsolui berkolaborasi dengan Tariq al-Dour untuk membiayai kegiatana propaganda Al Qaeda di internet adalah dengan melakukan carding terhadap berbagai akun kartu kredit yang ditemukan di internet, pada saaat penangkapan dilakukan oleh otoritas Inggris ditemukan lebih dari 37.000 akun kartu kredit curian yang telah digunakan untuk mengumpulkan lebih dari $3,5 juta, termasuk didalamnya kelihaian dari Tsolui untuk menghindari endusan aparat keamanan dengan melakukan pencucian uang lewat kegiatan judi online, wujud kelihaian lainnya adalah menggunakan 72 akun kartu kredit curian tadi untuk pembayaran dan registrasi terhadap lebih dari 182 websites yang dikelola oleh 95 provider yang berbeda.
Terorisme sangat memerlukan infrastruktur sistem keuangan untuk memobilisasi dan menyalurkan dananya, namun yang membuat pendanaan terorisme menjadi sangat berbahaya adalah strategi teroris dalam menggunakan organisasi amal atau nirlaba sebagai sumber pendanaan dan kemampuan menginfiltrasi sistem keuangan negara-negara miskin dan berkembang, selain itu, pendanaan terorisme dapat pula berasal dari sumber yang halal atau legal, yang mempersulit penelusuran dan pembuktian aliran dana tersebut dibandingkan dengan money laundering yang sumber dananya hanya dari hasil tindak pidana.

PROYEKSI MASA DEPAN PENDANAAN TERORISME DI INDONESIA
Konteks keIndonesiaan dalam fenomena penggunaan internet untuk pendanaan terorisme adalah dengan melihat bagaimana jaringan terorisme di Indonesia mendapatkan dana operasional yang selama ini bersumber dari : Fa’I, infaq / sumbangan sedekah, dari berbagai usaha legal milik jaringan NII dan JAT, sumber dana dari hasil cyber crime, termasuk sokongan dari luar negeri.
Proyeksi kedepan terhadap korelasi antara penggunaan internet dan pendanaan terorisme adalah ketika kegiatan Fa’I yang selama ini dilakukan dengan perampokan terhadap toko emas, kantor pengadaian dan beberapa bank ternyata malah menyulitkan jaringan terorisme itu sendiri, resistensi masyarakat semakin menguat manakala pada akhirnya diketahui sebagai contoh adalah ketika perampokan terhadap toko emas di Serang, Banten ternyata malah digunakan untuk membiayai serangan bom Bali I, pun demikian dengan reaksi yang diberikan oleh Polri lewat tindakan penegakkan hukum yang menjadikan pelaku –pelaku perampokan toko emas, bank dan penggadaian tidak dapat tidur nyenyak dibawah bayang –bayang penangkapan oleh pihak kepolisian lewat Satgas Antiteror Mabes Polri.
Keberadaan UU. No.9 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme (PPTPPT) diyakini akan memberikan tekanan yang sangat kuat terhadap upaya pengumpulan dana untuk kegiatan terorisme khusunya yang berasal dari badan usaha milik organisasi yang berkaitan dengan jaringan terorisme , sumber sokongan dana dari luar negeri maupun sumber dana operasional terorisme yang dibungkus dalam bentuk infaq, dimana dalam rumusan pasal-pasal dalam undang-undang diatas mewajibkan adanya penerapan prinsip mengenali Pengguna Jasa Keuangan yang dilakukan dengan pelaporan dan pengawasan kepatuhan PJK, adanya pengawasan kegiatan pengiriman uang melalui sistem transfer atau pengiriman uang melalui sistem lainnya dan adanya pengawasan pembawaan uang tunai dan/atau instrumen pembayaran lain ke dalam atau ke luar daerah pabean Indonesia.
Pada masa mendatang diyakini masalah pendanaan terorisme di Indonesia akan mengalami perubahan modus operansi dari semula bersumber kepada kegiatan Fai, sokongan dana luar negeri , sedekah dan hasil badan usaha , menjadi upaya pengumpulan dana yang tidak terlepas dari penggunaan internet untuk kegiatan terorisme, sehingga upaya penanggulangan tindak pidana terorisme akan berlarut larut tanpa hasil memuaskan bilamana tidak diikuti oleh pengembangan kapasitas dan kapabilitas otoritas negara dalam melawan penggunaan internet sebagai alat pengumpul dana terorisme.

Terorisme dan radikalisasi dalam format kejahatan Transnasional

Perbedaan TPPO dan People Smugling
Perbedaan antara penyelundupan manusia dengan Perdagangan Manusia bisa membingungkan. Kebingungan ini bisa menyulitkan dalam mendapatkan informasi yang akurat, khususnya dari negara-negara transit. Perdagangan manusia seringkali, tapi tidak selalu, melibatkan penyelundupan; korban pada awalnya setuju untuk diangkut di dalam sebuah negara atau melintasi perbatasan. Yang membedakan antara dua kegiatan seringkali memerlukan informasi yang terinci mengenai keadaan akhir para korban.
Penyelundupan pada umumnya dipahami sebagai pengadaan atau pengangkutan manusia untuk mendapatkan keuntungan untuk masuk secara ilegal ke dalam sebuah negara. Tetapi menyediakan fasilitas untuk masuk atau melintasi sebuah negara secara ilegal, secara tersendiri, bukanlah perdagangan manusia, walaupun seringkali dilaksanakan dalam keadaan yang berbahaya.
Penyelundupan orang / People Smugling seringkali melibatkan para migran yang telah setuju dengan kegiatan tersebut. Sementara itu, perdagangan manusia/ Human Trafficking , bisa tanpa persetujuan mereka atau kalaupun korban pada awalnya sudah memberi persetujuan, persetujuan mereka telah ditiadakan karena pemaksaan, penipuan, atau tidakan kejam dari pada pelaku perdagangan.
Korban perdagangan manusia seringkali tidak menyadari bahwa mereka akan dipaksa melakukan prostitusi atau mengalami situasi kerja paksa yang bersifat eksploitasi. Karena itu, penyelundupan bisa menjadi perdagangan ilegal. Komponen kunci yang membedakan perdagangan dengan penyelundupan adalah unsur kecurangan, penipuan, atau pemaksaan.
Tidak seperti penyelundupan, perdagangan manusia dapat terjadi baik korban dipindahkan di dalam negeri atau ke luar negeri. tidak penting apakah korban telah diangkut ke suatu situasi eksploitasi untuk suatu bentuk perdagangan manusia keji terjadi atau tidak. Sudah cukup untuk menjelaskan bahwa seseorang adalah korban Jika dia direkrut, ditampung, disediakan, atau diperoleh “untuk bekerja atau melayani secara paksa, melalui penggunaan kecurangan, penipuan atau pemaksaan untuk tujuan-tujuan penghambaan, peonasi, penjeratan hutang (ijon), atau perbudakan.”

Perbedaan antara Organized Crime Group dengan Transnasional terror Group :
1. Perbedaan dilihat kepada ; Motivasi melakukan kejahatan, orientasi terhadap tujuan organisasi, peran media massa, legitimasi / pengakuan terhadap perbuatan, pernyataan bertanggung jawab atas tindakan, dan hubungna dengan aparat pemerintah .
2. Sedangkan persamaannya adalah : dilakukan oleh orang waras, penggunaan kekerasan dan pidana , dilakukan secara terselelubung,sebagai perbuatan yang bertentangan dengan norma hukum nasional dan Internasional, merupakan bagian dari asimetric war terhadap negara, sangat lighat mudah beradaptasi ,kerap melakukan serangan kepada sasaran yang kerap menimbulkan simpati, kerap memberikan bantuan kepada masyarakat setempat atau masyarakat yg simpati, mengikuti dan menggunakan perkembangan teknologi terbaru, senantiasa membangun jaringan cukup kuat bila memiliki pelindung yang kuat.

Proses Radikalisasi

Berdasarkan type Radikal terbagi berdasarkan perpaduan antara faktor : persepsi dari pelaku dan tingkat dukungan tertentu , sehingga terdapat perpaduan ; Coordinated radikal , Opportunistic , Militants dan loners.
Kemudian berdasarkan tingkat komitmen terhadap radikalisme terdapat beberapa faktor yang berpengaruh : kisaran waktu menerima pengaruh Radikal ( Lomh atau short ) dan kualitas pengaruh radikal yang diberikan ( high dan low) : simpatisan, pendukung, New Comers, aktivist dan anggota inti.
Tahapan Radikalisasi adalah : proses Pra Radikalisasi, pengidentifikasian diri , Indoktrinasi, Jihadisasi dan serangan , sedangkan anak tangga yang merubah Radikalisasi menjadi terorism adalah :
1. Intepretasi psikologis atas kondisi dalam masyarakat.
2. Pilihan untuk melawan perlakuakn tidak adil.
3. Penyiapan tindakan agresi
4. Penguatan Moral.
5. Solidifikasi , pemantapan pola fikir dan pembenaran atas aksi yang dilakukan oleh organisasi teroris.
6. Tindakan terorisme berupa kekerasan terhadap kemanusian yang dibenarkan.
Dalam perspektif radikalisme di Indonesia adalah : akibat rendahnya dan metode pengajaran dogmatis , krisis identitas dan pencarian motivasi hidup, kesulitan ekonomi, alienasi sosial budaya, batasan akses politik, solidaritas sesama, dan dualisme masyarakat terkait Terorisme sebagai dukungan ataupun pertentangan.

Bagaimana Internet digunakan oleh organisasi terorism
Internet digunakan oleh kelompok terorisme adalah untuk propaganda berupa : pengahsutan , Radikalisasi dan rekrutmen anggota baru , digunakan untuk Pembiayaan ( Finacing ) kegiatan terorism dimana sumber pembiayaan dari sumbangan individu, dibiayai oleh negara sponsor maupun organisasi dan korporasi yang bersimpati termasuk sumber dana yang diperoleh dari kegiatan terorisme ( fa’i ) , digunakan sebagai metode menyampaikan pelatihan dan mendidik anggota yang kemungkinan tersebar di berbagai tempat berjauhan , sebagai sarana perencanaan berupa sarana melakukan komunikasi tertutup guna menghindari penjejakan para penegak hukum dan sebagai sumber informasi, sebagai sarana pelaksanaan kejahatan / eksekusi dan terakhir sebagai bentuk serangan terhadap internet itu sendiri berupa virus , trojan D-dOs.

Motivasi perpaduan antara teriorism dengan organisasi Kejahatan lain :
1. Untuk pertukaran keahlian : pencucian uang , keahlian penggunaan senjata dan bom, kemudahan pemalsuan identitas dan dokumen .
2. Untuk mendapatkan dukungan operasional seperti : pemanfaatan untuk kerjasama penyelundupan, sumber dana , memperoleh perlindungan bagi aktifitas kejahatan maupun secara fisik perorangan.
Dilakukan secara copycat / Activity appropriation : peniruan terhadap metode yang dilakukan antara kelompok terorism meniru atau ditiru oleh organisasi kriminal. Kerjasama temporer transaksional / Nexus, Simbiosa salaing ketergantungan dan kesamaan persepsi , prosedur dn struktur yang sejalan, Hybrid sebagai puncak tertinggi kerjasama yang mengarah kepada perjuangan politik bersama.

Faktor penyebab tumbuhnya extremims adalah : Terdapat beberapa faktor yang menumbuhkan ekstrimism seperti
1. konteks masyarakat tempat sikap ektrimis itu tumbuh , ikatan sosial , hubungan patron clien , kondisi sosial dan dimamika budaya serta masalah lokal spesifik setempat.
2. Konteks individual : kepribadian , sikap dan pandangan yang dimiliki , wawasan informasi dan pengetahuan yang dimiliki, pengaruh hubungan dalam keluarga pengalaman terhadap suatu issu terkait ajaran ektrimism.
3. Konteks faktor penarik ( pull factors) : daya tarik suatu ajaran dengan dengan tema yang relevan dengan norma dan nilai – nilai dalam masyarakat yang di bentuk dari kondisi masyarakat , pola pikir , persepsi dan pengalaman individu , adanya hubungan komunikaso secara intesif dengan kelompok tertentu termasuk penguatan akibat kulaitas komunikasi yang intens.
4. Konteks faktor Pendorong ( push factors) : keterasingan individu atau suatu kelompok dari masyarakat lainnya , kemiskinan yang berdapak kepada akses pendidikan, ekonomi dan status sosial jauh dari keterlibatan politik praktis yang dilakukan oleh birokrasi dan lembaga politik lainnya kurang diberikan pemahaman dan kesalahan informasi yang berlalut larut membangkitkan sikap ekstrimis

Konsepsi antara ACPO dan OSCT dalam CVE adalah membangun pemahaman bahwa pekerjaan CVE sesungguhnya bukan merupakan Not A Job for The Police Alone : dibutuhkan kerja sama antara CTU , Neighbourhood Policing( NB) dan Local Authority Partners (LAP), berupa kegiatan yang meliputi : kegiatan antara Counter terorism Unit (CTU) dgn NB adalah : komunikasi , penugasan, dan berbagai info intelijen untuk melakukan countyer terorism. Sedangkan antara NB dengan LAP adalah membangun kepercayaan dan hubungan baik, membangun kemapuan, dan berbagi informasi untuk melakukan counter ekstremism

Indikator Identifikasi dalam Investigasi Transnational Criminal Organization :
1. Struktur organisasi.
2. Ukuran/ Size. dampak yang ditimbulkan dari suatu perbuatan
3. Violence / kekerasan yang dilakukan.
4. Identitas Kesukuan dan sosial.
5. Activities / kegiatan.
6. Lintas batas antar wilayah.
7. ada indikasi Korupsi.
8. Pengaruh politik.
9. Lintas batas antara kegiatan legal dan ilegal
10. Kerjasama dengan kelompok kejahatan lainnya.

Upaya penanggulangan kejahatan Transnasional ( UN ODC ) adalah dengan : ekstradition, MLA, Joint Investigations, Spec Investigation techniques, Ops Gakkum, pusdata kriminal internasional ( Australian Bomb data center ), pelatihan dan bantek kepolisian ( JCLEC).