PEMOLISIAN PROTAGONIS DI NAD TO WIN HEART AND PEOPLE’S MIND

PEMOLISIAN PROTAGONIS DI NAD
TO WIN HEART AND PEOPLE’S MIND

Tugas utama Polri selaku Civilian adalah untuk memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat serta menegakkan hukum Negara Kesatuan Republic Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Polri dituntut sedemikian rupa memenuhi tugas yang dibebankan kepada mereka oleh hukum, dengan melayani masyarakat dan dengan melindungi semua orang terhadap tindakan-tindakan yang tidak sah, sesuai dengan tingkat tanggung jawab tinggi yang diwajibkan oleh profesi mereka serta para petugas penegak hukum harus menghormati dan melindungi martabat manusia dan mempertahankan serta menjunjung tinggi hak asasi manusia dari semua orang dimana saja dan kapan saja
Bahwa tugas Polisi secara universal selaku Civilian Police di daerah bergejolak membutuhkan suatu pendekatan yang berbeda secara metode teknis maupun strategi, menghadapi Pluralisme masyarakat Indonesia yang sangat heterogen serta rentan terhadap terjadinya konflik vertikal dan Horizontal membutuhkan suatu daya cipta, rasa dan Karsa yang berasaskan konsep Think Global and Act Local
Apa kemenangan yang paling mutlak ?…. adalah menang perang tanpa harus berperang ( TzunTzu , The Art Of War ), secara universal Polisi termasuk Polri tidak akan pernah terlibat Perang Konvesional kecuali terlebih dahulu sempat dideklarasikan sebagai Combatan menurut Konvensi Genewa . Polisi bukanlah pasukan tempur, kecuali dideklarasikan sebagai bagian dari militer. Penyebutan Polisi bukanlah pasukan tempur mengandung maksud bahwa operasi Kepolisian bukanlah operasi militer. Dalam konteks ini pembatasan model pendekatan polisi dan militer jelas berbeda, sekalipun diwilayah konflik bersenjata yang sama sehingga Polri bekerja tidak menjadi bagian militer.
Bagaimana dengan Pemolisian di NAD sebagai strategi dan falsafah Polri kekinian . ? Saat ini aceh memasuki suatu tahapan baru , setelah konflik melelahkan yang berlansung secara putus sambung selama lebih dari 30 tahun, adalah dengan melakukan perubahan pola Antagonis menjadi Pola peran Protagonis sebagai pembimbing, dan menjadi mitra yang didasari pemahaman bahwa Polri tidak akan mampu sendirian untuk menyelesaikan masalah keamanan dan ketertiban dalam masyarakat, dibutuhkan kerja sama dalam kesejajaran antara petugas Polri dan masyarakat dalam memecahkan suatu masalah social, tentunya dengan memperhatikan kekhasan dan nilai- nilai moral setempat.

Identifikasi terhadap kegagalan pendekatan kekuatan bersenjata di NAD :
Profesionalisme Aparat TNI- Polri dalam penyelesaian konflik Aceh.
Tindakan penggunaan kekerasan yang berlebihan (excessive use of force) yang dilakukan oleh aparat TNI –Polri merupakan pelanggaran dan penyalahgunaan wewenang (abuse of power).yang menimbulkan luka traumatis masyarakat dan menyuburkan dukungan bagi kelompok GAM , padahal penggunaan kekerasan dan senjata api merupakan kewenangan yang diberikan oleh undang-undang sebagai pilihan terakhir (last resort) bagi aparat kepolisian dalam menjalankan tugasnya.
Bentuk tindakan kekuatan berlebihan yang ditampilkan oleh Aparat TNI – Polri diwujudkan terhadap subyek yang tidak dalam penguasaannya seperti setelah terjadi serangan oleh kelompok GAM terhadap iring-iringan kendaraan maupun Patroli serta Kawasan Kantor dan Asrama serta fasilitas milik umum maupun pemerintah yang sering kali memicu terjadinya kekerasan berlebihan terhadap masyarakat disekitar lokasi kejadian baik berupa pemukulan , penghinaan dan terjadinya penembakan membabi-buta sebagai pelampiasan rasa kesal ataupun kemarahan Aparat saat diserang tak seorang masyarakatpun yang datang untuk menginformasikan rencana serangan. Selain itu juga ditemukan penggunaan kekuatan secara berlebihan dilakukan terhadap subyek yang berada dalam penguasaannya. Hal ini biasa ditujukan kepada seseorang atau kumpulan orang yang telah ditahan atau ditangkap dimana polisi menggunakan metode penyiksaan terhadap mereka untuk mendapatkan keterangan atau hal lain.
Tindakan kekerasan yang ditampilkan diatas memiliki hubungan dengan tingkat Profesionalisme personel yang ditugaskan didaerah konflik, kata profesionalisme yang menunjuk kepada kadar keahlian atau kemampuan setiap personel untuk melakukan dan bertindak secara benar menurut tugas dan tanggung jawab yang dimiliki .
Profesionalisme hanya dapat diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan yang benar dan tepat porsi serta materi , adanya dukungan terhadap perangkat lunak dan keras yang logis dan masuk akal. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Drs Usman Kasminto saat menyusun Buku Tantangan Polri mengamankan Aceh ( 2003 ) menyebutkan bahwa Polri sebagai organisasi belum mampu menentukan standart kualifikasi kemampuan dan latihan yang harus dijalani setiap personil Polri yang melaksanakan tour of duty ke Aceh , Rekruitment ? juga perlu ditanyakan sudah tepat atau hanya sekedar melaksanakan perintah Mabes Polri?

Peran pers dan persepsi masyarakat .
Simpati masyarakat kearah GAM hal ini didukung oleh keahlian mereka dalam melancarkan PUS (Perang Urat Syaraf ) dan Public Opini setting , berupa tindakan intimidasi dan kontra opini melalui media massa Koran setempat sehingga fakta dilapangan sering kali menyimpang, GAM memahami kekuatan yang dimiliki Media Massa untuk mengontrol dan mencari dukungan rakyat, untuk berbalik membenci Pemerintah dan semua aparat Pemerintahan melalui media setting dengan menekan dan mengancam wartawan untuk dihabisi keluarganya apabila tidak memuat berita seperti yang GAM inginkan sedangkan keberadaan satgas Penerangan yang dikirim dari Mabes Polri , tidak lebih sekedar tukang foto tanpa kemampuan menulis konter opini melalui pemuatan berita di media massa.
Pola pendekatan yang berempati terhadap kebutuhan dasar Manusia
Tugas dan Kewajiban Polisi dalam menyediakan rasa aman bagi masyarakat merupakan entry point untuk mencapai keberhasilan keamanan , Polisi yang memahami kedudukannya ini ibarat seorang salesman yang menawarkan produk berupa KEAMANAN kepada market yakni masyarakat . Wajib dipahami keamanan ( safety, security, surety ,peace ) merupakan barang langka ditengah situasi keamanan yang serba sulit, merujuk kepada Minimanual Urban Guerilla oleh Carlos Marighella
“The role of the urban guerrilla, in order to win the support of the population, is to continue fighting, keeping in mind the interests of the people and heightening the disastrous situation within which the government must act. These are the conditions, harmful to the dictatorship, which permit the guerrillas to open rural warfare in the middle of an uncontrollable urban rebellion.”

Taktik gerilya ? apa korelasinya dengan tugas Polisi ? , bahwa organisasi ( GAM ) tidak pernah melihat atau mau tahu dengan kedudukan Polri sebagai , Non-Combatan, Penegak Hukum dan bukan pasukan tempur, sekali dikategorikan “Aparat” ( TNI ,POLRI, Pegawai pemda, guru dan semua pegawai yang mendapat gaji dari NKRI ) adalah musuh, justru keberadaan sebagai anggota Polri merupakan primary target yang harus dihancurkan (culik kemudian dibunuh ) untuk menimbulkan ketakutan dan ketegangan di masyarakat, serta menciutkan nyali dan memancing amarah petugas yang lain agar semakin bertindak represif.
Situasi kemanan yang dihadapi Polri saat itu, merupakan wujud terjadinya ketegangan dan konflik vertikal bersenjata dalam negeri antara Pemerintah dengan sekelompok masyarakat yang memiliki pandangan dan keyakinan yang berbeda secara frontal berjuang dengan menggunakan senjata
Pengalaman perorangan,sebagai penentu pola Komunikasi & pendekatan terhadap masyarakat.
Frekuensi penugasan yang telah dijalani oleh rekan-rekan di Brimob dalam penugasan Operasi Pemulihan Keamanan berbagai wilayah konflik di Indonesia telah membangun kesiapan mental dan kemampuan beradaptasi di lingkungan yang rawan. Rekan rekan kami di Brimob menyadari resiko tugas di daerah Konflik, bahwa kecerobohan dan tindakan arogansi justru akan memberikan pengaruh yang kontraproduktif terhadap keberhasilan tugas dalam rangka memberikan back-up satuan kewilayahan agar dapat melaksanakan kegiatan kepolisian secara optimal.yang menarik beberapa rekan personil Brimob yang kami kenal, menyunting gadis dari daerah Konflik untuk dijadikan Bhayangkari, sehingga sedikit banyak memberikan penilaian positif dan membuka pikiran masyarakat bahwa kedatangan mereka ke daerah- daerah tersebut justru untuk menjalin silaturahmi.Kesadaran yang harus terus menerus ditumbuhkan kepada personil Brimob bahwa tugas utama mereka untuk melindungi keamanan dan keselamatan Rakyat, dihidupkan dengan memberikan perintahtugas yang mengedepankan paradigma “ Apa yang terbaik bagi Rakyat adalah yang terbaik bagi Polri”
Upaya –upaya simpatik yang mengedepankan penghormatan terhadap budaya lokal setempat dalam merebut dan memenangkan hati rakyat sehingga dapat membatasi, menutup dan memutus dukungan rakyat terhadap GAM dilakukan dengan kegiatan counter Opini, developing good Public opinion, pelayanan masyarakat dan pendekatan Agama yang dilakukan di tiap- tiap pos keamanan yang kami miliki di beberapa Gampong dan setiap melaksanakan Operasi Penegakkan Hukum maupun Operasi Pemulihan Keamanan.
Suatu pengalaman yang menarik adalah ketika rekan di Brimob menyapaikan bahwa” menjadi Dukun juga bisa Memenangkan Perang” bahwa pernah dalam suatu operasi Pemulihan Keamanan seorang anggota Brimob dgn inisial Bripda Y, karena kebetulan memiliki kemampuan pengobatan supranatural, berinisiatif membuka praktek pengobatan tradisional disekitar Pos Brimob di Gampong B di pedalaman Aceh.
Tanggapan awalnya masih biasa biasa saja, hanya sebagian kecil masyarakat di sekitar Pos Gambong B yang mau datang untuk berobat, namun setelah sekian lama kunjungan masyarakat makin padat lagi, sehingga pengobatan yang biasanya dilakukan 2 kali seminggupun atas permintaan masyarakat dilaksanakan hampir sepanjang minggu .
Menurut penuturan rekan kami, berdasarkan informasi seorang pasien yang datang berobat, pihak GAM wilayah **** yang dipimpin oleh sdr. TGK Nyak XXX pernah melarang masyarakat untuk berobat ke tempat mereka, setiap orang yang datang ke tempat kami akan dicap CUAK dan diancam akan dibunuh.
Berkah bulan puasa datang kepada mereka , seseorang warga desa datang ketempat Brimob untuk berobat, namun tanpa diduga secara sembunyi sembunyi menyampaikan melalui secarik kertas bahwa pada sore hari nanti apabila akan hujan, seorang anggota GAM dari wilayah Gampong S akan melarikan diri dengan menumpang ojek, rencana pelarian akan dilaksanakan saat hujan, dengan harapan bahwa personil Brimob yang sering mengadakan sweeping kendaraan tidak akan memeriksa dirinya, atas informasi tersebut pimpinan memerintahkan beberapa anggota untuk melaksanakan penyergapan, dan Alhamdulilah informasi yang diperoleh dari pasien yang datang ke Pos brimob membuahkan hasil. Pada saat diinterograsi, awalnya tersangka tetap mengelak mengakui dirinya sebagai anggota aktif GAM yang diduga menyimpan 3 pucuk senpi jenis AK 47, sampai akhirnya pimpinan berinisiatif mengundang keluarga tersangka melalui perantara Geuchik Gampong M untuk mendatangkan orang tua dan kakak perempuannya.Upaya pendekatan dengan mendatangkan keluarga tersangka guna menyentuh hatinya awalnya semula gagal, karena masyarakat di daerah Gampong M, sangat trauma terhadap perilaku aparat TNI/Polri yang dulu pernah bertugas disitu, selain adanya intimidasi dari pihak GAM sendiri terhadap keluarga tersangka.
Berpacu dengan upaya opini setting yang dilakukan oleh GAM , pimpinan Brimob akhirnya meminta Bripda Y untuk berbicara langsung dengan keluarga tersangka, setelah keluarga tersangka mengetahui bahwa anaknya ditahan di pos Brimob serta diawasai langsung oleh Bripda Y yang selama ini dikenal sebagai seorang yang sering membantu melalui metode pengobatan tadisional masyarakat setempat, akhirnya keluarga tersangka mau datang dan menjeguk anaknya di Pos Brimob.
Setelah keluarga tersangka datang , maka pimpinan Brimob di pos menyampaikan bahwa putra mereka ditangkap karena terlibat GAM, dan disarankan untuk menunjukkan lokasi penimbunan senjata yang disimpan, pihak keluarga menyanggupi dan memahami apalagi setelah adanya jaminan keselamatan atas putranya.
Akhirnya berakhir sudah petualangan T alias Tengku M setelah semua senjata yang selama ini dipakai untuk menyerang dan meneror penduduk guna menarik pajak ditemukan di areal perkebunan Kelapa Gampong M, sebanyak 3 pucuk senpi ( 2 pucuk AK- 47, dan 1 pucuk M-16 , berikut sejumlah peluru ) sebagai barang bukti, tanpa perlu susah payah melakukan kontak senjata, tanpa perlu adanya pertumpahan darah dan tanpa mengeluarkan sebutir peluru. selanjutnya tersangka T kami serahkan kepada pihak Polsek M untuk dibina sebagai contoh anggota GAM yang telah menyerah secara sadar .
Da’i Brimob
Nanggroe Aceh Darussalam dikenal sebagai Daerah Serambi Makkah , menjadikan suasana kehidupan keagamaan secara Islam sangatlah kental,ini dipahami sebagai faktor yang dapat menguntungkan operasi pemulihan Keamanan, upaya penugasan Satgas Da’I Kamtibmas oleh Mabes Polri ,secara kasat mata dirasakan belum optimal, seperti diketahui sebagian personil Da’I Kamtibmas yang seharusnya berkunjung ke Meunasah, Pesantren, Masjid, pada faktanya hanya dikumpulkan di aula Polres, demi alasan keamanan dan keselamatan personil yang bersangkutan. ( sebagian anggota Da’I Kamtibmas yang ditugaskan merupakan korban dari penunjukan surat perintah saja, tanpa pelatihan yang cukup mengenai esensi Agama Islam serta kearifan budaya lokal Aceh ) , sehingga motivasi untuk bertugas demikian rendah serta bertugas tanpa dilengkapi alat beladiri yangmemadai.
Melihat kondisi tersebut, kepada setiap pos Brimob dalam jajaran untuk menggalakkan kegiatan pengajian dan pembacaan surat Yasin secara bersama masyarakat lingkungan sekitar Pos setiap malam jumat, serta apabila memungkinkan melaksanakan Sholat berjamaah di Masjid di sekitar Pos. Rupanya perintah tersebut ditanggapi secara positif, bahwa dalam jajaran personil Brimob ternyata memiliki banyak potensi “ Da’I Dadakan “ yang sering didaulat untuk memberikan ceramah serta mengajarkan baca tulis Quran kepada anak- anak di beberapa Meunasah yang ada di dekat Pos Brimob.
Tanggapan-tanggapan positif mulai tumbuh dengan ditandai masyarakat berani datang, sekedar ngobrol dengan anggota jaga di Pos, membantu membersihkan Pos, dan yang terpenting adalah informasi tentang dukungan dan kekuatan logistic yang selama ini diperoleh GAM dari warga masyarakat mulai berkurang, dan mereka ( GAM ) kini hanya memperoleh dukungan bersumber dari saudara / kerabat dekatnya saja.
Patroli simpatik
Selain melaksanakan penggiringan, pemutusan dan penangkapan terhadap target operasi yang berhasil diidentifikasi, metode Patroli simpatik dengan berjalan kaki maupun menggunakan ranmor dilakukan untuk menunjukan kepada masyarakat bahwa Brimob selalu ada dan siap tugas, memberikan efek deterrent kepada GAM agar mobilitas diantara warga semakin terbatas .
Sering saat kami melaksanakan Patroli keluar masuk Kampung , warga masyarakat menanyakan identitas kami apakah berasal dari Pos Brimob di Gampong B, atau apakah kami rekan dari Bripda Y, sungguh suatu keuntungan bagi kami bahwa nama Bripda Y cukup dikenal sebagi seorang dukun yang cukup ampuh mengobati penyakit, manfaat lain yang dirasakan adalah selama 6 ( enam ) bulan bertugas, belum pernah sekalipun rombongan patroli jalan kaki, Kendaraan, Markas dan kegiatan kami diserang oleh GAM ,namun perolehan pucuk senjata milik GAM sebagai bukti eksistensi, juga tidak mengecewakan : 8 (delapan) pucuk senpi ( 1 pck M16, 6 pck AK-47, 1 pck pistol FN ) dan beberapa lembar dokumen serta perlengkapan logistik, diperoleh dari hasil penyergapan di beberapa lokasi.
Penutup
Guna mewujudkan sosok Polri selaku Polisi yang professional perlu adaya perubah kultur kerja organisasi Polri yang selama ini pendekatan dan totalitas pengabdian Bhayangkara lebih mendekati citra diri Militeristik dibandingkan citra diri polisi yang berwatak sipil. Citra diri militeristik ini yang selanjutnya termanifestasi pada sikap pelayanan yang kaku-prosedural, komunikasi kerja bersifat komando dan kepatuhan pada komando tanpa sikap kritis.Padahal dalam pelaksanaan tugas Polri sangat berbeda dengan militer, petugas Polri memerlukan kemampuan untuk berinovasi dan kreativitas dalam menerapkan diskresi Kepolisia,dengan demikian penanaman jati diri militeristik bersifat kontradiktif dengan konstruksi sosiologi empirik dari fungsi-fungsi kepolisian yang sepenuhnya bersifat civillian dalam melayani melindungi masyarakat.

PENINDAKAN HURU HARA,SUKSES TAPI TANPA EKSES

MENJAWAB KEGALAUAN PENCARIAN ALAT KHUSUS PHH DAN DALMAS YANG MANGKUS DAN SANGKIL

Salah satu pointers yang menjadi penekanan saat rapim Polri Rapim yang mengambil tema “Melalui Rapim TNI-Polri 2012, Kita Tingkatkan Sinergitas TNI-Polri Guna Menjaga Keutuhan NKRI.” Adalah saat Presiden memberikan pengarahan pada hari Jumat 20 Januari 2012 di auditorium Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) bagaimana Polri dapat merancang suatu langkah antisipasi sekaligus penanggulangan yang efektif terhadap setiap peristiwa huru hara yang sering berakhir chaos, korban baik dari pelaku langsung , masyarakat sekitar termasuk keselamatan diri anggota Polri yang harus berhadapan dengan massa anarkhis. Ketika korban berjatuhan .
Adalah suatu kepastian muncul sorotan publik terhadap profesionalisme Polri selaku aparat negara yang diserahi tugas menghamankan dan melindungi masyarakat, tidak mudah ketika semua media menayangkan penggunaan kekuatan oleh Polri sebagai suatu bentuk brutalisme , sikap tidak profesional ,penggunaan kekuatan dilakukan secara berlebihan dan tidak tepat sasaran.
Kondisi pasca kerusuhan makin panas ketika Polri sendiri harus sedemikian berhati-hati memberikan pernyataan tentang suatu peristiwa yang terjadi sementara masyarakat selalu harap harap cemas menunggu informasi terkini, tidak lepas dengan media massa sebagai agen informasi sosial masyarakat,memiliki kapabilitas menayangkan suatu peristiwa berdasarkan keterangan yang diperoleh, terlepas apakah suatu keterangan tersebut nantinya harus diralat atau diklarifikasi oleh temuan berikutnya.
Kerusuhan yang mengharu biru terjadi dengan berbagai latar belakang permasalahan, bahkan semenjak suatu keputusan belum sah dan mendapat restu maupun persetujuan dari komponen pemangku kepentingan yang lebih tinggi atau dari komponen pengawas lainnya, suatu peristiwa kerusuhan bisa saja terjadi lebih dahulu dengan ending kepada bentrok antara kepolisian dan masyarakat setempat, adalah hal lumrah dalam kacamata pendapat Residual effect , Polri sebagai keranjang sampah semua permasalahan dalam masyarakat namun tidak menjadi lumrah ketika sebagai sebuah fenomena Residual Effect justru menjadikan Polri sebagai Tong sampah yang benar benar busuk yang perlu diganti dengan organ lain mirip Polri.
Penggunaan kekuatan oleh kepolisian saat bertugas melayani masyarakat sering dihadapkan kepada kenyataan bahwa : pertama : pilihan penggunaan kekuatan secara dinamis berada diluar kemampuan Polri dalam menyiapkan personil dan peralatan, kedua : perkembangan situasi di lapangan yang sangat dinamis belum mampu diantisipasi oleh piranti-piranti lunak yang berkaitan dengan perkembangan situasi huru hara, ketiga : prosedur penggunaan kekuatan termasuk tataran tanggung jawab dan rentang kendali dalam suatu kegiatan pelayanan kepolisian yang merangkat dari kondisi tertib dan aman menjadi situasi huru hara dalam sekejap.
Polri perlu melakukan langkah langkah terobosan terkait pelayanan unjuk rasa yang sering berakhir dengan huru hara, ketika taktik dan teknik pembubaran massa yang dikenal dengan Dalmas dan PHH dengan leading aktor Sabhara dan Brimob yang dikedepankan, kerap memunculkan penggunaan senjata api yang seharusnya merupakan sebuah “ final resort” / pilihan terakhir yang tak dapat dielakkan justru menjadi tindakan yang menuai badai kritik, lantas muncul berbagai pertanyaan mengapa polri tidak mengedepankan komunikasi humanis, apakah metode persuasif tidak mampu dilakukan dan mengapa kekuatan yang lebih lunak dapat begitu saja dilompati dalam sebuah eskalasi unjuk rasa menjadi huru hara anarkhis.
Strategi Polri dengan pola pelayanan unjuk rasa adalah wujud pengakuan dan perlindungan hukum terhadap kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum. Di Indonesia yang terjadi justru adalah ketika unjuk rasa yang semula damai dalam sekejap berubah menjadi sebuah drama memilukan dengan wajah anarkhis dan brutalisme selalu dipertontonkan, atau ketika unjuk rasa damai dilakukan secara berkelanjutan berhari hari dibarengi dengan menutup dan blokade akses fasilitas umum yang otomatis melumpuhkan urat nadi sendi perekonomian suatu wilayah.
Sebagai suatu negara Demokrasi, walaupun Demokrasi itu sendiri kerap dipelajari di Bundaran HI, adalah jamak bila di Indonesia suatu perbedaan pendapat , kebuntuan saluran komunikasi dan aspirasi disampaikan dengan menggunakan bahasa kekerasan dan intimidasi kekuatan. Posisi Polri sebagai garda penjaga peradaban manusia harus memberikan segenap daya upaya terbaik dan mungkin dilakukan untuk mencegah segenap potensi konflik vertikal maupun horisontal dalam batas kewajaran suatu dinamika bernegara, Sudah selayaknya pola pengendalian massa “Dalmas” maupun PHH, kini mendapat kajian mendalam,dengan didasari pemikiran mengapa formasi Dalmas dan PHH dengan segenap perlengkapannya didukung sejumlah piranti lunak sebagai landasan operasional selalu berhasil membubarkan bahkan menceraiberaikan massa, namun selalu pula berbuntut dengan sejumlah komplain dan tuntutan terhadap Polri. Suatu kesuksesan dapat Polri raih namun dengan tambahan ekses lanjutan berupa catatan pelanggaran HAM maupun komplain atas Brutalisme selalu menjadi catatan penutup kesuksesan pemulihan dan pemeliharaan kamtibmas. Sebuah keberhasilan bagi suatu piranti lunak yang terdapat selama ini mendesain formasi kekuatan dan peralatan termasuk paradigma bagi setiap petugas Polri saat harus berhadapan dengan massa untuk bersiap “perang total”.
Beberapa benang merah dalam setiap piranti lunak yang mengatur kegiatan pelayanan terhadap pengunjuk rasa damai maupun anarkhis adalah adanya temua:
1. Menempatkan Petugas Polri senantiasa head on head, langsung bertatapan muka dengan Massa, semenjak tahapan awal oleh negosiator, kemudian oleh Dalmas Awal dan Dalmas Lanjutan sampai ke PHH Brimob adalah dengan menempatkan petugas selalu langsung / frontal dengan massa, tingkat kritikal manakala Petugas Polri terpancing atas perilaku massa maupun sebaliknya Massa merasa dilecehkan maupun terintimidasi akibat tatapan maupun gerak tubuh Petugas Polri .
2. Peralatan yang disiapkan dalam mendukung tugas pelayanan unjuk rasa ditempatkan mulai dari kekuatan terendah sampai tertinggi dengan konsekuensi terdapat ancaman nyata terlebih dahulu untuk menggunakan kekuatan dengan status level lebih tinggi, Petugas Polisi harus mengambil sikap pasif atau diserang lebih dahulu oleh massa yang artinya juga membiarkan konsentrasi massa menjadi sedemikian jenuh dan lebih kental dalam tekanan psikologis, yang ada tinggal menunggu faktor pencetus sebelum meletus dan membakar menjadi kerusuhan skala besar.
3. Lebih spesifik adalah ketika Petugas Dalmas lanjutan dan atau PHH dilengkapi dengan senjata api, sebagai suatu pemikiran kritis apakah tujuan melengkapi dengan senjata api merupakan suatu keharusan saat berhadapan dengan unjuk rasa , huru-hara ataupun kerusuhan anarkhis, seperti diketahui bahwa dengan memberikan perlengkapan senjata api terkandung maksud untuk dapat memberikan tembakan peringatan ke udara sebagai deteren, yang justru menjadi pertanyaan kembali terkait tembakan peringatan apakah efektif atau justru membuat massa menjadi lebih beringas.
Ketika teknologi berkembang sedemikian pesat termasuk teknologi kepolisian di dalamnya, secara serius di beberapa negara bahkan senantiasa melakukan penelitian terkait taktik dan teknik kepolisian ditataran praktis maupun strategis guna membangun kepercayaan dan menjaga kredibilitas profesionalisme kepolisian di mata masyarakat dibandingan dengan program pembuatan Pin “ Pelayanan Prima “ untuk di sematkan didada. Beberapa Kepolisian modern menyadari bahwa tindakan Kepolisian secara berlebihan dengan menggunakan teknik dan pelengkapan secara tidak proporsional menurut ukuran masyarakat dimana kepolisian itu berada adalah merupakan ancaman serius terhadap penilaian kelayakan sebuah Dinas/ Jawatan Kepolisian untuk dipertahankan sebagai penjaga peradaban manusia.
Ketika event skala dunia digelar, sebagai contoh Kepolisian Seatlle sempat kewalahan menghadapi demonstran yang melakukan tindakan anarkhis berupa penjarahan dan pembakaran kawasan pertokoan, pendekatan dengan menggunakan Tameng dan Tongkat serta senjata api tidak dapat meredam aksi anarkhis menentang Konfrensi G20 berlangsung, hal serupa hampir terjadi ketiga kelanjutan konfrensi G20 kembali di gelar di Pitsburgh, Kepolisian lokal di Pitsburgh cepat bertindak walaupun masih mengedepankan penggunaan Tameng dan Tongkat namun terdapat beberapa teknologi era Star wars yang digunakan .
“LONG-RANGE ACOUSTIC DEVICES” (LRADs)
Sebagai sebuah peralatan yang bekerja dengan menggunakan kekuatan gelombang suara sampai 150 decibel, efektif digunakan menekan sekaligus membubarkan massa pengunjuk rasa maupun blokade massa di sepanjang jalan Pitsburgh tanpa adanya pukulan maupun letusan senjata, massa yang sangat terganggu akibat serangan “ Sonic Boom” akan mengalami disorientasi sesaat dan tekanan hebat pada gedang telinga , sehingga mempengaruhi keseimbangan tubuh dan kemapuan berfikir otak manusia. LRADs juga dapat mengahantarkan suara perintah dan himbauan Kepolisian secara lebih jernih dan jelas untuk didengar massa dalam radius sampai 1 kilometer dari lokasi,sebagai perangkat Public address yang mampu mengalahkan suara riuh rendah suara manusia di tengah kerumunan massa.
Menurut beberapa pengakuan petugas kepolisian yang pernah menggunakan, perangkat LRADs, sangat efektif dan ringkas dibawa dalam kendaraan kecil, harga yang ditawarkan berkisar mulai pada angka US$.30.000 sebanding dengan manfaat dan manuverbilitas yang diberikan, sebagai asumsi pengadaan mobil Ford Ranger Public Address Dalmas Sabhara Polri, dengan menggunakan basis SUV Ford Ranger ditambah perangkat Public Address, selama ini hanya efektif untuk “menghibur” massa demonstran, karena sosok tambun dan berkemampuan manuver rendah, ringkih, tanpa proteksi serta sangat dekat dengan demonstran menyebabkan kurang menjadi idola dalam pelayanan unjuk rasa.
Penggunaan LRADs semakin meluas setelah kepolisian di beberapa negara menempatkan perangkat ini sebagai peralatan vital pengurai massa, Kepolisian Thailand, dan Singapura tercatat sebagai negara di Asean yang telah menggunakan LRADs, beberapa pertimbangan dari pengguna adalah harga kompetitif dan juga memiliki mobilitas tinggi, LRADs tersedia dalam berbagai versi untuk digunakan secara portabel perorangan, dipasang diatas kendaraan Taktis, ditempatkan pada Helikopter, termasuk unit anti terror dan Militer, LRADs juga mulai digunakan secara khusus sebagai bagian pertahanan Kapal Komersial dari kemungkinan ancaman bajak laut.
Urgensi penggunaan LRADs sebagai perangkat dengan teknologi tepat guna dalam penanganan Huru hara semakin terasa bilamana melihat kondisi piranti lunak penangan unjuk rasa maupun huru hara , kebutuhan akan adanya “ Barrier zone” daerah pembatas yang mutlak ada guna mencegah pertemuan massa dengan petugas Polri secara langsung bertatapan dalam jarak sangat dekat “ Head on head”, selama ini Barrier belum lazim dibentuk memngingat proses penempatan kekuatan yang disiapkan untuk melakukan tindakan pembubaran masa mengharuskan Formasi pasukan Dalmas dan PHH berada sedekat mungkin dengan massa, logikanya adalah tongkat lecut dan tameng sekat hanya bisa bekerja bial ada massa yang menempel didepan formasi pasukan dalmas dan PHH.
Prosedur pembubaran massa yang sering menimbulkan komplain adalah adanya pemukulan dan kekerasan yang dilakukan petugas Polri terhadap pelaku kerusuhan yang tertangkap maupun aksi kejar kejaran antara petugas dan massa, LRADs dapat digunakan untuk memulai adanya “barrier zone “ seperti diketahui kekuatan sonic boom LRADs mampu diatur sedemikian rupa sehingga dalam jarak tertentu massa tidak berani mendekat, lapis pertama adalah menggunakan kekuatan LRADs dengan asumsi Barrier Zone tersebut mampu mencegah lemparan batu dan Molotov cocktail massa tidak sampai ke petugas , kemudian lapis kedua adalah dengan menggunakan jangkauan tembakan meriam air “ Water Canon” sebagai antisipasi penyusupan massa yang nekat merangsek menyerang maupun untuk memadamkan jilatan api dari Bom Molotov, dan terakhir sebagai lapis ketiga menggunakan formasi pasukan Dalmas dan PHH.
Harapan dengan adanya Barrier Zone adalah :1. petugas Polri tidak perlu melakukan pukulan dengan tongkat rotan maupun kekerasan lain saat membubarkan massa, karena massa tidak berada langsung sangat dekat didepan tameng sekat PHH Brimob, 2. demikian juga untuk mencegah agar massa dan petugas Polri tidak saling terprovokasi oleh ucapan/ penghinaan , gesture maupun mimik wajah yang dapat memancing suasana semakin keruh dan penuh tekanan.3. LRADs dapat digunakan sebagai Public Address yang mampu mengalahkan suara riuh rendah di tengah massa dalam jarak 1 kilometer untuk menepis rumor yang berkembang, memutus orasi dan agitasi provokator,dan desas desus ditengah massa.
CHEMICAL AGENT( Bahan – bahan Kimia)
Penelitian ilmiah tentang teknologi kimia penanganan huru hara berkembang secara pesat dalam beberapa dekade, dikenal sebagai CN dan CS kemudian mengalami perkembangan dengan penemuan Capcaisin sebagai agent kimia yang mampu menceraiberaikan massa namun tanpa resiko mematikan . Beberapa penemuan baru yang perlu diapresiasi oleh Polri dalam memberikan kekuatan Deteren sebagai bagian dari bargaining power dalam penanganan huru hara adalah dengan meningkatkan penggunaan bahan-bahan Kimia sebagai lapis kekuatan kedua yang bekerja secara efektif bersama LRADs membentuk Barrier zone,digunakan dalam formasi penyekatan dan penggiringan pelaku huru hara agar bubar tanpa sempat melakukan tindakan anarkhis
STINK BOMB
Selain mata dan gendang telinga , indra penciuman merupakan bagian organ tubuh yang sangat sensitif terhadap rangsang , dalam dekade terakhir penggunaa agen kimia untuk penanggulangan Huru hara berkisar kepada penggunaan CN, CS maupun OC yangg lebih mengarah kepada sensor mata manusia, kini Teknologi Kepolisian mulai mengembangkan agen kimia baru yang memanfaatkan kelemahan sensor hidung manusia terhadap bau menyengat dan busuk , hasil penelitian yang dilakukan terhadap perilaku manusia menunjukkan bahwa manusia sangat bereaksi terhadap bau bauan menyengat khususnya bau yang diasosiasikan dengan konotasi jorok maupun kotoran, demikian sebaliknya ketika indera penciuman manusia memberikan rangsang mencolok terhadap aroma makanan yang mampu membangkitkan selera makan manusia dibandingkan penampilan fisik suatu hidangan yang tidak begitu atraktif asalkan dengan aroma yang sangat sedap, akhirnya menggugah keinginan bersantap bagi manusia.
Stink Bomb dikembangkan pertama kali sebagai bagian dari lelucon yang kemudian digunakan dalam berbagai kesempatan, Kepolisian Israel tercatat berhasil mengembangkan Bomb Bau Busuk untuk melakukan tindakan represif terhadap pejuang Palestina di jalur Gaza, ketika Bomb Bau Busuk ditembakkan ke arah demonstran akan menyebabkan cairan kimia khusus, mampu menimbulkan mual, muntah maupun rasa tidak nyaman lainnya akibat bau Kotoran dan bangkai menyengat yang bahkan tidak mudah hilang walaupun dicuci berulang kali dari sekujur tubuh demonstran.
Menurut catatan Guiness Book of Records terdapat 2 ( dua) senyawa kimia yang paling berbau busuk; pertama adalah senyawa kimia yang tersusun dari 8 (delapan) unsur kimia yang terdapat dalam kotoran manusia , dimana senyawa pertama ini merupakan stadar test minimum terhadap setiap produk pengharum dan penyegar ruangan yang masuk ke pasaran Amerika, sedangkan senyawa kedua adalah merupakan campuran dari 5 ( lima ) unsur kimia berbasis belerang dengan aroma mirip daging maupun makanan busuk.secara sederhana Bomb Bau Busuk berasal dari unsur kimia Amonium Sulfida yang memiliki aroma telur busuk yang sangat kuat, sehingga ketika ditembakkan ke udara dan menempel pada tubuh, pakaian, kendaraan pelaku Huru-hara , nantinya secara perlahan akan bereaksi dibantu oleh kelembaban udara membentuk Hidrogen Sulfida dan Ammonia, yang akhirnya akan memberiukan sensasi Bau Telur Busuk disekujur tubuh pelaku Unjuk rasa, selain digunakan untuk proses identifikasi juga digunakan sebagai sarana pressure psikologis akibat paparan bau menyegat disekitar pengunjuk rasa.
Beberapa unsur kimia yang digunakan oleh beberapa produsen Bomb Bau Busuk “ Stink Bomb “ adalah : Mercaptans : Methanethiol berwujud gas sehingga sulit digunakan dan dibawa bawa. Ethanethiol memiliki aroma khas seperti Urine Kambing , berbasis unsur Belerang (sulfur compounds) : Hydrogen Sulfide,dengan aroma khas telur busuk, Ammonium sulfide, Selain beraroma telur busuk juga dapat meinmbulkan sensasi perih di permukaan kulit, dengan basis unsur kimia Carboxylic acids seperti Propionic acid dengan aroma khas keringat manusia, Butyric acid, dengan aroma yang sama namun lebih kuat menyengat dan lebih tahan lama, Valeric acid dan Caproic acid, dengan aroma seperti keju busuk, gugus Aldehydes seperti Amines, Ethylamine dengan aroma amis Ikan : Putrescine : aroma daging membusuk, Cadaverine : dengan aroma bau mayat , dan Heterocyclic compounds dengan aroma seperti kotoran manusia
MARKER INK
KepolisianIndia tercatat memberikan tambahan cairan pewarna pada air yang digunakan oleh rantis Water Canon, metode penandaan dengan menggunakan cairan berwarna sangat efektif sebagai penanda kepada kelompok pelaku huru hara disatu tempat berdasarkan jenis warna yang ditinggalkan, dibuat dari bahan organik non toxic cairan pewarna dapat juga dimasukkan kedalam proyektil khusus yang ditembakkan dengan tekanan gas, sehingga pelaku huru hara termasuk tokoh penggerak dapat dengan mudah diidentifikasi lebih lanjut atas cipratan warna yang berada di pakaian maupun bagian tubuh lainnya, teknologi tinta yang digunakan kini telah berhasil memproduksi tinta yang melekat lebih lama dibandingkan noda tinta biasa, selain teknologi tinta berwarna khusus, pada kepolisian Canada penggunaan tinta tanpa warna juga kerap digunakan sebagai penanda khusus terhadap pelaku huru hara, tinta yang secara kasat mata berupa cairan bewarna bening akan bereaksi ketika terpapar sinar Ultra Violet, sehingga pelaku tidak sadar bahwa dirinya telah terpapar tinta penanda .
PEPPER BALL DAN PAINT BALL
Pepper ball tercatat sebagai salah satu produsen peralatan Real Marker yang bergerak dibidang penyediaan teknologi non lethal bagi militer, penegak hukum maupun untuk olahraga rekerasional, tercatat Brimob Polri masih menggunakan perlatan Pepper Ball sebagai bagian dari formasi PHH Brimob Polri.Model TAC-700 automatic diklaim oleh produsen sebagai senjata non lethal yang mampu memberikan tekanan terhadap pelaku huru hara yang sering dihadapi Polisi dengan jangkauan sekitar 150 feet dan jarak efektif pada 60 feet dan daya sembur 700 butir proyektil non lethal full automatic mode permenit .
Pengalaman menunjukkan penggunaan Pepper Ball sangat efektif dalam penanggulangan massa anarkhis di jalanan, maupun kerusuhan di dalam penjara seperti yang pernah terjadi pada Lapas Super Maksimum Security di Nusa Kambangan. Pepper Ball yang diadopsi Brimob Polri tercatat memiliki beberapavarian proyektil non lethal yang meliputi: proyektil isian PAVA ( sejenis bubuk cabai yang mengandung capcaisin ,dengan sensasi sangat perih di mata dan menimbulkan iritasi pada hidung) Proyektil Marker dengan isian cat sebagai penanda, dan Proyektil latihan dengan isian tepung dan sedikit aroma PAVA untuk kegunaan latihan.
Model TAC-700 yang dibanderol dengan harga sekitar US$ 800 , memiliki rival yang tidak kalah menarik sebagai senjata non lethal weapon, rujukan lain adalah merek Tippman type X7 Phenom ,A5 dan 98 Custom , yang sangat sesuai bagi peralatan PHH Brimob Polri, kemudian menjadi pemikiran lebih lanjut adalah ketika Perkap No 8 tahun 2010 Tata Cara Lintas Ganti Dan Cara Bertindak Dalam Penanggulangan Huru-Hara dan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia No. 16 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengendalian Massa, tidak menyebutkan formasi bagi petugas yang dilengkapi dengan Pepper Ball sebagai sarana penekan dan proteksi bagi Pasukan PHH, kemudahan dan efektifitas penggunaan Pepper Ball sebagai pengendali massa anarkhis sering terbentur kepada pengadaan proyektil yang terbatas, seperti diketahui bahwa proses pengadaan dan pembelian termasuk perawatan senjata membutuhkan jalur birokrasi dalam daur logistik yang cukup panjang.
Kebutuhan satuan diwilayah dengan mengedepankan penggunaan Pepper Ball sebagai senjata Non Lethal Weapon dirasakan sangat mendesak dalam tugas pelayanan unjuk rasa maupun pengendalian massa, mengingat dengan melengkapi senjata api bagi petugas Polri yang harus head on head dengan massa pengunjuk rasa adalah sama dengan mempersiapkan petugas Polri untuk menggunakan senjata api yang diberikan kepadanya, walaupun secara yuridis formil penggunaan senjata api sebagai alat beladiri petugas maupun dalam rangka melindungi nyawa dan harta benda masyarakat lain secara lebih luas diatur dalam produk hukum seperti Perkap 1 Tahun 2009 dan Protap 01 Tahun 2010, namun apapun alasan penggunaan senjata api, apalagi dengan timbul korban baik dikedua pihak, akan menimbulkan polemik dan permasalahan baru terkait HAM,Profesionalisme Polri, termasuk agenda Reformasi Polri didalamnya.
TASER
Kepolisian di Amerika telah menggunakan Taser secara meluas untuk mencegah penggunaan senjata api secara berlebihan , maupun menghindari korban jiwa terhadap masyarakat maupun petugas itu sendiri, Taser bekerja dengan cara mengalirkan kejutan arus listrik yang dihantar melalui kabel ketubuh manusia, dimana kejutan arus listrik tadi mampu mengendalikan kontraksi otot tubuh manusia, seseorang yang terkena kejutan arus listrik akan menyebabkan gangguan pada sensor saraf dan motorik tubuh sehingga dapat mengakibatkan lumpuh sesaat.
Penelitian yang dilakukan oleh Lousiana State University, Inova Fairfax Hospital di Virginia, University of Medical Center di Nevada dan The National Institute of Justice menunjukkan bahwa penggunaan Taser dalam tugas Kepolisian menunjukkan keberhasilan dalam menekan kecelakaan , cedera dan kematian akibat penmggunaan senjata api dan penggunaan kekuatan fisik lainnya, dari 1000 peristiwa penggunaan taser yang tercatat menunjukkan hampir 99,7 persen penggunaan Taser tidak menimbulkan cedera berat maupun permanen terhadap pelaku kejahatan , sedangkan 0,3 persen perlu mendapat perawatan lebih lanjut sebagai akibat cedera yang ditimbulkan saat terjatuh pasca mendapat tembakan Taser pada tubuhnya .

REKOMENDASI
Penggunaan Tongkat dan tameng dalam tugas pengendalia massa dan penindakan Huru hara perlu mendapat sentuhan tambahan alat yang mampu mencegah massa anarkhis bertemu secara langsung dengan petugas Polri secara berhadap hadapan dengan batas Tameng sebagai sekat,Tambahan alat yang digunakan ditujukan untuk membentuk “Barrier Zone” daerah pembatas dengan menempatkan peralatan LRADs sebagai “sonic boom” sebagai lapis pertama , Water Canon dengan tinta penanda dan atau Cairan busuk sebagai lapis kedua, dan Formasi PHH / Dalmas dengan Tameng dan Tongkat sebagai lapis ketiga
Penggunaan Senjata Api perlu dibatasi sampai tingkat paling minimum, sedangkan penggunaan Senjata Non Lethal seperti : Senjata Pepper Ball, Granat Flash Bang,Fogger Gas air Mata, Taser perlu ditingkatkan, penempatan petugas Polri yang bersenjatakan Non Lethal Weapon sebagai elemen pelindung formasi PHH dan Dalmas serta sebagai elemen pendobrak yang mendukung pergerakkan Pasukan PHH / Dalmas dalam melakukan penggiringan, penyekatan maupun penangkapan massa anarkhis .
Peralatan Non lethal Weapon dan Akustik perlu mendapat tempat dan pelatihan lebih lanjut, perubahan dan revisi terhadap Perkap No.8 Tahun 2010 Tata Cara Lintas Ganti Dan Cara Bertindak Dalam Penanggulangan Huru-Hara dan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia No. 16 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengendalian Massa , Perkap No.1 Tahun 2009 Penggunaan Kekuatan Dalam Tindakan Kepolisian dan Protap No. 01 Tahun 2010 sebagai landasan yuridis yang memberikan ruang gerak bagi penggunaan peralatan No Lethal weapon dan Akustik secara lebih luas dan kuat mengurangipenggunaan kekuatan Fisik berlebihan dan Senjata Api yang selalu menimbulkan perdebatan.

ANALISA PSIKOLOGI SOSIAL DALAM KASUS ” PENGEROYOKAN HINGGA TEWAS TERHADAP 2 (DUA) ORANG ANGGOTA POLRES KUNINGAN ”

ANALISA PSIKOLOGI SOSIAL DALAM KASUS
” PENGEROYOKAN HINGGA TEWAS
TERHADAP
2 (DUA) ORANG ANGGOTA POLRES KUNINGAN ”

I. URAIAN KASUS
Pada hari senin tanggal 26 agustus 2002 terjadi pengeroyokan terhadap 2 (dua) anggota Polres Kuningan berpangkat Bripda, masing-masing Asep Irawan (24) dan Mayan Radiana (24) tewas dikeroyok massa. Salah seorang diantaranya sempat dibakar hingga hampir gosong. Peristiwa tragis ini terjadi di Desa Sindangpanji, Kecamatan Cikijing, Majalengka Jawa Barat.
Almarhum Bripda Asep adalah penduduk Desa Pangkalan, Kecamatan Ciawigebang, Kuningan, yang bertugas di Satuan Lalu Lintas. Sedangkan Bripda Mayan adalah anggota Provost, penduduk Padalarang Kab. Bandung, sekujur tubuh Bripda Mayan, nyaris gosong.
Kedua petugas yang tengah berpakaian preman itu, dikeroyok setelah sebelumnya dituding hendak merampok sepeda motor oleh tersangka pencuri sepeda motor yang tengah dikejar kedua petugas naas tersebut.
Pengeroyokan yang berlangsung di wilayah hukum Polres Majalengka antara pukul 16.00 – 17.00 WIB. Insiden itu bermula ketika kedua polisi tersebut tengah mengejar sepeda motor yang dikendarai PLG, warga Desa Sindangpanji. PLG diduga sebagai pencuri sepeda motor. PLG dikejar dari wilayah Kuningan sampai Sindangpanji, Majalengka.
Di luar perkiraan ke dua polisi naas tersebut, lanjutnya, ternyata PLG lebih dulu tiba di Sindangpanji. Dia langsung menyebar informasi bahwa dirinya sedang dikejar-kejar pencuri sepeda motor. Sehingga begitu melihat kedua petugas berpakaian preman yang berboncengan sepeda motor itu tiba di wilayah perbatasan desanya, puluhan hingga ratusan masa langsung mencegatnya. Dan tanpa banyak basa basi lagi, mereka langsung mengeroyok keduanya hingga babak belur dan jatuh tak berdaya.
Ratusan masa yang sudah terprovokasi itu, bahkan terus beramai-ramai memukulinya dengan batu, potogan kayu dan bambu hingga kedua petugas itu tewas. Selain itu, aksi pembantaian masa juga diwarnai pembakaran terhadap korban Bripda Mayan. Aksi pembantaian sadis tersebut baru berakhir setelah pihak kepolisian dari Polres Majalengka dan Polres Kuningan menerjunkan puluhan petugasnya ke lokasi kejadian. Dari lokasi itu, polisi langsung menyeret 150 warga Desa Sindangpanji ke Mapolres Majalengka untuk dimintai keteranganya .
Polres Majalengka sudah menangkap dan mengamankan 150 orang penduduk Desa Sindangpanji. Delapan orang diantaranya termasuk PLG yang diduga sebagai pelaku utama pembantaian itu, tertangkap.
Kedua jenazah sempat divisum di rumah sakit Majalengka dan Selasa dinihari disemayamkan di Mapolres Kuningan. Selasa pagi sekira pukul 09.00 WIB kemarin, kedua jenazah telah diantarkan pihak Polres Kuningan untuk dikebumikan di alamatnya masing-masing. Pengantaran jenazah kedua polisi itu, didahului upacara pelepasan jenazah dipimpin Kapolres Kuningan AKBP Drs. Adios Salova.
Sejumlah warga Desa Sindangpanji yang kebetulan tengah berada di lokasi bekas kejadian, umumnya mengaku hanya mengetahui kejadiannya saja. Namun mereka menyatakan tidak mengetahui persis pemicu maupun asal-usul masa pengeroyoknya.
Ada yang menduga aksi pengeroyokan itu dipicu pula oleh kekesalan warga karena di jalan raya provinsi antara Cipasung Kuningan hingga Sindangpanji Cikijing, akhir-akhir ini sering terjadi aksi perampasan sepeda motor. Menurut informasi yang ter dengar, pada bulan-bulan tersebut, di jalur antara Cipasung-Sindangpanji sudah beberapa kali terjadi aksi perampasan sepeda motor. Bahkan diantaranya pernah terjadi di siang bolong, kata seorang warga yang enggan menyebutkan namanya.
Sementara itu, Kapolda Jabar Irjen Pol Drs. Sudirman Ail, SH, MBA di Mapolda menyesalkan aksi main hakim sendiri oleh masyarakat itu. Menurut Kapolda, cara-cara penghakiman seperti itu seharusnya jangan dibiarkan terjadi karena tidak akan menyelesaikan masalah. Menjelaskan soal awal mula kejadian itu, Kapolda menduga karena dua aparatnya kurang betul dalam menerapkan taktik dan teknik penangkapan terhadap pihak yang dicurigainya. Akibatnya, mereka diteriaki oleh massa.
II. ANALISA KASUS DAN PEMBAHASAN PSIKOLOGI
Dari kasus yang telah kami paparkan diatas, akan kami ‘analisa’ dengan menggunakan beberapa teori Psikologi sebagai acuan dalam membahas dan menjawab permasalahan yang terjadi tersebut.
Adapun teori-teori yang kami gunakan untuk membahas permasalah yang telah kami sampaikan diatas adalah sebagai berikut :
a. Teori AGRESI (Myers-1996): “Perbuatan agresif adalah perilaku fisik atau lisan yang disengaja dengan maksud untuk menyakiti atau merugikan orang lain”
Secara sepintas setiap perilaku yang merugikan atau menimbulkan korban pada pihak orang lain dapat disebut sebagai perilaku agresif.
Termasuk juga yang dapat kita lihat pada permasalahan diatas, dimana perilaku penduduk/massa dari Desa Sindang Panji, Kecamatan Cikijing kabupaten Majalengka yang yang melakukan pengeroyokan hingga menewaskan 2 (dua) orang anggota Polres Kuningan Jawa Barat tersebut diatas.
Demikian pula pada awal mula kejadian yaitu pada saat pengeroyokan yang dilakukan dimana PLG yang langsung menyebar informasi bahwa dirinya sedang dikejar-kejar pencuri sepeda motor. Sehingga begitu melihat kedua petugas berpakaian preman yang berboncengan sepeda motor itu tiba di wilayah perbatasan desanya, puluhan hingga ratusan masa langsung mencegatnya. Dan tanpa banyak basa basi lagi, mereka langsung mengeroyok keduanya hingga babak belur dan jatuh tak berdaya , termasuk juga dalam perbuatan agresi.
Secara umum, Myers (1996) membagi agresi dalam 2 (dua) jenis yaitu :
– Agresi rasa benci atau Agresi Emosi (Hostile Aggression)
Jenis agresi yang pertama (Hostile Aggression) ini merupakan ungkapan kemarahan dan ditandai dengan emosi yang tinggi, perilaku agresi ini adalah tujuan dari agresi itu sendiri. Jadi, agresi sebagai agresi itu sendiri. Sering disebut juga agresi jenis panas.
Akibat dari jenis agresi ini tidak dipikirkan oleh pelaku dan pelaku memang tidak peduli jika perbuatannya lebih banyak menimbulkan kerugian daripada manfaat yang didapat, dan

– Agresi sebagai sarana untuk mencapai tujuan (Instumental Aggression)
Perbuatan yang dilakukan oleh penduduk Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka tersebut dapat dikategorikan kedalam jenis agresi yang pertama yaitu Agresi Rasa Benci atau Agresi Emosi (Hostile Aggression) yang semata-mata dilakukan untuk melampiaskan emosi terhadap 2 (dua) orang anggota Polres Kuningan tersebut karena mendapat informasi dar PLG yang menurutnya sedang dikejar-kejar oleh 2 (dua) orang pencuri kendaraan bermotor, Penduduk Desa Sindang Panji tidak memikirkan akibat dari perbuatan penganiayaan yang dilakukan secara beramai-ramai tersebut (agresi-nya) terhadap 2 (dua) orang anggota Polres Kuningan yang menggunakan pakaian preman tersebut, dan para penduduk Desa Sindang Panji tersebut memang tidak peduli jika perbuatannya (penganiayaan secara beramai-ramai) akan menimbulkan kerugian yang lebih banyak daripada manfaat yang didapat oleh mereka, dalam hal ini tuntutan dilakukannya terhadap pelaku.

b. Teori Lingkungan yaitu Teori Frustrasi-Agresi Baru (Berkowitz, 1978-1989 dan Berkowitz & Le Page, 1967). 
“ Jika suatu hambatan terhadap pencapaian suatu tujuan tidak dapat dimengerti alasannya maka akan timbullah Frustasi, yang akan membuat seseorang menjadi agresif ”.
Pada contoh kasus diatas, timbulnya rasa frustasi dari penduduk Desa Sindang Panji kec.Cikijing kab. Majalengka Jawa Barat karena sudah terlalu seringnya terjadi pencurian (pencurian kendaraan bermotor, pencurian hewan dan pencurian dengan kekerasan, pembobolan rumah kosong) pada bulan bulan terakhir sebelum kejadian pengeroyokan diatas
Sehingga karena ketidakmengertian tanpa alasan dan penjelasan yang tepat pada mereka itulah yang dapat memicu perilaku agresif dari para penduduk Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat.

Berkowitz mengatakan bahwa “frustrasi menimbulkan kemarahan dan emosi marah, hal inilah yang dapat memicu agresi. Marah itu sendiri baru timbul jika sumber frustasi dinilai mempunyai alternatif perilaku lain dari pada perilaku yang menimbulkan frustrasi itu”.
“Agresi beremosi benci tidak terjadi begitu saja (tiba-tiba), kemarahan memerlukan pancingan (cue) tertentu untuk dapat menjadi perilaku agresi yang nyata” (Berkowitz & Le Page, 1967).

Sama halnya seperti yang diungkapkan oleh Myers pada teorinya tentang Agresi rasa benci atau Agresi Emosi (Hostile Aggression), maka hal itupun berlaku pula pada teori Berkowitz dan Le Page, bahwa frustasi yang menimbulkan kemarahan dan emosi dari para penduduk Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat dapat menimbulkan/memicu agresi. Apalagi jika ditambah dengan informasi dar PLG yang menurutnya sedang dikejar-kejar oleh 2 (dua) orang pencuri kendaraan bermotor
Jadi agresi beremosi rasa benci dari para penduduk Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat tidak dilakukan tiba-tiba saja, tetapi ada pancingan tertentu PLG yang menginformasikan bahwa dirinya dikejar kejar pelaku pencurian kendaraan bermotor secara nyata melakukan perbuatan/perilaku agresinya.

c. Teori Pengaruh Kelompok (Staub-1996). 
“ Pengaruh Kelompok terhadap Perilaku Agresif, antara lain akan dapat menurunkan hambatan dari kendali moral.”
Selain karena faktor ikut terpengaruh, juga karena ada perancuan tanggung jawab (tidak merasa ikut bertanggung jawab karena dikerjakan beramai-ramai), ada desakan kelompok dan identitas kelompok (kalau tidak ikut akan dianggap bukan anggota kelompok) dan ada ‘deindividuasi’ (identitas sebagai individu tidak akan dikenal).

Bila dilihat dari sisi penduduk Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat yang melakukan penganiayaan secara beramai-ramai terhadap para korban yaitu Bripda Asep Irawan (24) dan Bripda Mayan Radiana (24) yang menyebabkan hingga tewasnya 2 (dua) orang anggota Polres Kuningan tersebut, maka dapat kita katakan bahwa kelompok mempunyai pengaruh terhadap perilaku agresif.
Ketika salah satu orang saja dari penduduk Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat melakukan pengeroyokan terhadap , Bripda Asep Irawan (24) dan Bripda Mayan Radiana (24) maka penduduk lainnya (massa) yang tadinya ragu-ragu/tidak mempunyai niat untuk melakukan penganiayaan akan terpengaruh untuk melakukan perbuatan yang sama seperti yang dilakukan para pelaku pencurian dengan kekerasan ( yang pada bulan – bulan terakhir sering terjadi di majalengka terhadap para korbannya ) bahkan mungkin dapat lebih kejam lagi dari perbuatan awal yang disaksikannya.

Disamping faktor ikut terpengaruh, penduduk Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat juga menganggap tidak ada yang bertanggung jawab/kerancuan tanggung jawab dalam penganiayaan secara beramai-ramai/pengeroyokan tersebut (tidak merasa ikut bertanggung jawab karena dikerjakan beramai-ramai). Juga karena adanya desakan dari para penduduk yang lain (kelompok) untuk ikut melakukan perbuatan itu, dan juga karena adanya identitas kelompok sehingga jika tidak melakukan penganiayaan secara-beramai-ramai akan dianggap bukan sebagai bagian dari penduduk . Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat

Selain itu, adanya de-individuasi yang menyebabkan pemikiran dari masyarakat Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat beranggapan bahwa identitas individunya tidak akan dikenal oleh orang lain karena perbuatan yang mereka lakukan secara beramai-ramai.
De-individuasi adalah keadaan hilangnya kesadaran akan diri sendiri (self awareness) dan pengertian evaluatif terhadap diri sendiri (evaluation apprehension) dalam situasi kelompok yang memungkinkan anonimitas dan mengalihkan (menjauhkan) perhatian dari individu (Festinger, Pepitone & Newcomb – 1952).

d. Teori Keterpaduan Kelompok / Group Cohesiveness (Gustave Le Bon-1975). 
Menurut Gustave Le Bon, psikologi massa berbeda sekali dengan psikologi individual.
Massa (crowd) mempunyai pikiran-pikiran, gagasan-gagasan dan kehendak sendiri yang tidak sama dengan yang ada pada pribadi. Massa mempunyai jiwa yang tidak sama dengan jiwa pribadi.
Jadi Le Bon berpendapat bahwa jiwa kelompok adalah irasional, impulsif, agresif, tidak dapat membedakan antara kenyataan dan khayalan, serta seolah berada dibawah pengaruh hipnotis.
Jika teori ini dikaitkan dengan permasalahan diatas, maka ;

Pada saat sebelum terjadinya pengeroyokan yang dilakukan oleh massa dari Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat, masyarakat tersebut belum dipengaruhi oleh Psikologi massa, mereka dalam jiwa pribadinya sebagai individual dengan tetap menjalankan aktifitas sehari-hari mereka, namun dengan adanya informasi dari PLG bahwa adanya pelaku pencurian kendaraan bermotor yang dianggap telah mengganggu tatanan keamanan dan ketertiban di , Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat terlebih dengan PLG (yang menurut dirinya adalah calon korban kejahatan) adalah warga Sindang Panji, maka perbuatan tersebut memberikan aksi dari warga Desa Lubuk Ruso yang melakukan perbuatan secara massal yang irasional, implusif, agresi, dengan tidak dapat membedakan antara kenyataan dan khayalan, hal ini ditunjukkan dengan perbuatan secara massal mengeroyok 2 (dua) orang anggota Polres Kuningan tersebut dan kemudian secara beramai-ramai meluapkan rasa kebencian itu dengan melakukan penganiayaan, sehingga mengakibatkan korban meninggal dunia, perbuatan itu bagaikan dibawah pengaruh hipnotis.

e. Teori Dinamika Kelompok yaitu Theory of Collective Behavior (NJ. Smelser-1963) 
Menurut Smelser, dalam perilaku massa ada tahapan-tahapan persyaratan (determinan) yang secara bertahap harus dipenuhi untuk dapat terjadinya perilaku massa. Secara logis kelima prasyarat itu berurutan. Artinya, pertama kali diperlukan adanya determinan pertama terlebih dahulu, kemudian determinan kedua menambah nilai (value added) dari determinan pertama, determinan ketiga menambah nilai determinan pertama dan kedua, dan seterusnya sehingga pada akhirnya terjadi kumulasi nilai pada determinan kelima sehingga meletus aksi itu. Determinan itu berturut-turut adalah sebagai berikut :

1. Situasi sosial (Sosial condusivenness).
2. Kejengkelan atau tekanan sosial ( Structural strain).
3. Berkembangnya prasangka kebencian yang meluas (Generalized hostile belief) terhadap suatu sasaran tertentu, yang berkaitan erat dengan faktor pencetus (precipitating factor).
4. Mobilisasi massa untuk beraksi (Mobilization for action).
5. Kontrol sosial (Social control).

Jika teori ini dikaitkan dengan permasalahan diatas, maka dapat
dicermati sebagai berikut ;

1, Dengan adanya sistem kemasyarakatan yang ada di Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat dan adanya saling komunikasi antar warga yang begitu erat dan kekeluargaan, memberikan suatu ikatan kelompok yang kuat, dimana apabila ada salah satu warga yang mengalami keadaan yang dirugikan oleh orang lain diluar Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat, yang kemudian mekanisme dan sistem penyelesaian sengketa tidak dapat terakomodasi maka situasi tersebut memberikan peluang yang kondusif untuk terjadinya kerusuhan massa (Social Condusiveness). Social Condusiveness ini merupakan syarat Determinan pertama dalam teori ini.

2. Pada syarat Determinan kedua ini menambah nilai (Value added) pada Determinan pertama, hal ini ditunjukkan oleh warga Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat dengan secara bersama-sama (massal) warga Desa dengan segala rasa kebencian dan frustasi melakukan tindakan agresi terhadap dengan melakukan penganiayaan secara membabi buta dan kejam, terhadap Bripda Asep Irawan dan Bripda Mayan Radiana (yang disangka adalah pencuri kendaraan bermotor) sehingga menyebabkan meninggalnya kedua orang tersebut, dengan tidak mempedulikan sama sekali apapun akibatnya. Hal ini merupakan luapan kejengkelan dan atau tekanan sosial (Structural strain).

3. Begitu juga pada syarat Determinan Ketiga, memberikan dukungan terhadap determinan pertama dan determinan kedua, sehingga mewujudkan berkembangnya prasangka kebencian yang meluas (Generalized hostile belief) yang terbentuk pada warga Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat terhadap para pelaku pencurian, dalam kasus tersebut dapat kita lihat dengan adanya perubahan situasi yang berkembang melalui prasangka kebencian warga terhadap Bripda Asep Irawan dan Bripda Mayan Radiana yang disangka adlah kawanan pelaku pencurian sehingga menjadikan faktor pencetus (Precipitating factor), menjadikan peristiwa itu mengawali dari tindakan warga untuk melakukan penganiayaan secara massal dengan tidak manusiawi.

4. Pada syarat Determinan keempat ini juga memberikan nilai tambah terhadap Determinan kesatu, kedua dan ketiga, sehingga terwujudnya determinan keempat ini berupa bentuk mobilisasi massa untuk beraksi (Mobilization for action ), Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat siap menghadapi masalah yang sewaktu-waktu akan timbul dengan bentuk pengaktualisasian aksi massa.

5. Akhirnya terbentuknya syarat Determinan kelima dimana tentunya juga determinan kelima ini menambah nilai terhadap determinan pertama, kedua, ketiga dan keempat. Determinan kelima merupakan lawan dari determinan kesatu sampai dengan keempat. Jika determinan kelima ini kuat, maka kejadian kasus tersebut diatas, tidak akan terjadi, determinan kelima ini adalah Kontrol sosial (Social control). Dalam hal ini sejauh mana aparat keamanan yang ada/bersiaga dari tingkat bawahan sampai dengan tingkat atas, dapat melakukan pengendalian situasi di atau paling tidak menghambat faktor-faktor terhadap pemenuhan determinan-determinan sebelumnya, sehingga mata rantai determinan sebelumnya dapat putus dari hubungannya. Semakin kuat Determinan Kontrol sosial ini diwilayah Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat yang masyarakatnya cukup dikenal keras, maka semakin kecil peluang meletusnya kerusuhan atau penganiayaan massa itu.
Dengan terpenuhinya kelima syarat determinan secara berurutan dan tiap-tiap determinan menambah nilai determinan sebelumnya secara berurutan, maka Theory of Collective Behavior oleh N.J. Smelser secara analisa terpenuhi,

III. KESIMPULAN

Dari apa yang sudah kami paparkan diatas, maka kami dapat menarik beberapa kesimpulan terhadap kasus telah yang terjadi di Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat yang mengakibatkan 2 (dua) orang anggota Polres Kuningan yaitu Bripda Asep Irawan dan Bripda Mayan Radiana meninggal dunia ialah merupakan suatu sebab dan akibat dari beberapa persoalan/kekecewaan masyarakat Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat terhadap korban yang disangka adalah pelaku pencurian sehingga terjadi luapan emosi (yang menyebabkan agresivitas massa) setelah adanya beberapa faktor pemicu, antara lain :

1. kekesalan Warga karena sering terjadinya pencurian (curat, curas, curanmor)
2. Salah seorang warganya yaitu JPG menginformasikan bahwa dirinya menjadi calon korban pencurian kendaraan bermotor
Teori-teori Psikologi yang dapat menjelaskan permasalahan seperti yang kami kemukakan pada analisa kasus diatas, antara lain :
1. Berlakunya Teori AGRESI (Myers) pada saat terjadinya pengeroyokan yang dilakukan karena ada salah seorang warga Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat yaitu PLG menginformasikan bahwa dirinya menjadi calon korban pencurian kendaraan bermotor dan warga pun melakukan apa yang disebut perilaku agresi.
Perbuatan yang dilakukan oleh penduduk Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat dapat dikategorikan kedalam jenis agresi yang pertama yaitu Agresi Rasa Benci atau Agresi Emosi (Hostile Aggression) yang semata-mata dilakukan untuk melampiaskan emosi mereka terhadap2 (dua) orang anggota Polres Kuningan yaitu Bripda Asep Irawan dan Bripda Mayan Radiana yang disangka adalah kawanan pencuri kendararaan bermotor tersebut tidak peduli jika perbuatannya (penganiayaan secara beramai-ramai) akan menimbulkan kerugian yang lebih banyak daripada manfaat yang didapat oleh mereka.

2. Berlakunya Teori Lingkungan yaitu Teori Frustrasi-Agresi Baru (Berkowitz dan Berkowitz & Le Page), dengan timbulnya rasa frustasi dari penduduk Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat disebabkan karena sering terjadinya pencurian di desanya Agresi beremosi rasa benci dari para penduduk tidak dilakukan tiba-tiba saja, tetapi ada pancingan tertentu yaitu informasi adnya pelaku pencurian yang ‘disiarkan’ oleh PLG

3. Berlakunya Teori Pengaruh Kelompok (Staub) yang dapat terlihat dari penduduk Desa Sindang Panji, Kec.Cikijing, Kabupaten Majalengka Jawa Barat yang melakukan penganiayaan secara beramai-ramai terhadap para korban, maka dapat kita katakan bahwa kelompok mempunyai pengaruh terhadap perilaku agresif.

Semakin besar jumlah gerombolan pelakunya, maka semakin kejam juga proses pengeroyokan dan penganiayaannya (Mullen, 1986)
Mereka menganggap tidak ada yang bertanggung jawab/kerancuan tanggung jawab (karena dikerjakan beramai-ramai). Juga karena adanya desakan dari yang lain (kelompok) untuk ikut melakukan perbuatan itu, dan juga karena adanya identitas kelompok sehingga jika tidak melakukan akan dianggap bukan sebagai bagian dari mereka.
Selain itu, adanya de-individuasi yang menyebabkan pemikiran mereka beranggapan bahwa identitas individunya tidak akan dikenal oleh orang lain karena perbuatan yang mereka lakukan secara beramai-ramai.

4. Berlakunya Teori Keterpaduan Kelompok/Group Cohesiveness (Gustave Le Bon) yang menyebutkan bahwa psikologi massa berbeda sekali dengan psikologi individual.
Le Bon juga berpendapat bahwa jiwa kelompok adalah irasional, impulsif, agresif, tidak dapat membedakan antara kenyataan dan khayalan, serta seolah berada dibawah pengaruh hipnotis.

5. Berlakunya Teori Dinamika Kelompok yaitu Theory of Collective Behavior (NJ. Smelser) yang menyebutkan bahwa dalam perilaku massa ada tahapan-tahapan persyaratan (determinan) yang secara bertahap harus dipenuhi untuk terjadinya perilaku massa dan ke-5 (lima) prasyarat itu harus berurutan.
Determinan itu berturut-turut adalah sebagai berikut :

a. Situasi sosial (Sosial condusivennes).
b. Kejengkelan atau tekanan sosial ( Structural strain).
c. Berkembangnya prasangka kebencian yang meluas (Generalized hostile belief) terhadap suatu sasaran tertentu, yang berkaitan erat dengan faktor pencetus (precipitating factor).
d, Mobilisasi massa untuk beraksi (Mobilization for action).
e. Kontrol sosial (Social control).

Dengan timbulnya kelima syarat determinan secara berurutan dan tiap-tiap determinan menambah nilai determinan sebelumnya, maka Theory of Collective Behavior oleh N.J. Smelser akan dapat terpenuhi, sehingga akhirnya akan dapat menyebabkan gerakan massa/perilaku massa yang bila tidak dapat terkendali bisa menimbulkan kerugian pada semua pihak.

Daftar bacaan dan referensi :
1. Sarwono, Sarlito Wirawan (1997) : Individu & Teori-Teori Psikologi Sosial.
2. Sarwono, Sarlito Wirawan (1999) : Psikologi Kelompok & Psikologi Terapan.
3. Sunarto, Kamanto (2000) : Pengantar Sosiologi (Edisi Kedua), sebagai bahan bacaan.