in the line of fire

_MG_2975

perubahan metode,lokasi,waktu,aktor dan sasaran dalam kontek serangan teror di Indonesia maupun secara Global dapat dilihat bahwa terdapat beberapa dinamika.

pada awal tahun 2000an sasaran yang menjadi serangan teroris adalah fasilitas milik asing maupun berbau asing seperti warung makan waralaba ayam goreng sebagai sebuah konsep Far Enemy, metode serangan juga menggunakan bom dengan switch manual dan manusia ( bom bunuh diri)

Pada era 2010 sasaran terorisme bergeser menjadi petugas Polri atau TNI yang kini dianggap sebagai Near Enemy, musuh dek yang berada disekitar kelompok teroris dibandingkan sasaran Far Enemy yang dalam eksekusinya membutuhkan biaya, dukungan dan usaha yang sangat besar, serta resiko tergulungnya seluruh jaringan bilamana gagal dalam mengkesekusi.

IMG00118-20100713-1358

sebagai sebuah pengingat akan ancaman teror yang tetap melekat kepada setiap sendi kehidupan masyarakat Indonesia dan terhadap anggota TNI dan Polri adalah peristiwa pengungkapan kasus penembakan terhadap anggota Polri yang pernah marak (dan masih rawan terulang).

teror sebagai sebuah makna diukur lewat sejauh mana perbuatan tersebut berhasil menimbulkan ketakutan dan kengerian yang menjalar ditengah masyarakat terutama mereka yang didifinisikan sebagai lawan, tidak heran akibat teror penembakan terhadap anggota Polri , lantas memunculkan diskusi apakah pelaksanaan tugas Polri dalam penanggulangan kejahatan terorisme di Indoensia harus dihentikan dan membiarkan saja benih-benih terorisme berkembang dan tumbuh besar di NKRI

AKP Anumerta Bryan

Seorang anggota Brimopda Papua di Jayapura, membawa foto Briptu Sahrul Mahulau (28) dari Kompi 3 Dewa Satbrimobda yang menjadi korban penembakan oleh kelompok separatis bersenjata di Kota Lama Mulia, Puncak Jaya , Senin (15/2). (ANTARA/Anang Budiono)

Suherman
Teror penembakan anggota Polri akhirnya berhasil diungkap sekaligus dilakukan penindakan hukum oleh Polri, dilakukan oleh kelompok teroris jaringan Abu Umar yang merupakan gabungan dari kelompok Jaba, Jakarta, dan kelompok Depok. Abu Umar sendiri sudah ditangkap pada 4 Juli 2011 di Bojong, Bogor dengan barang bukti sejumlah senjata laras panjang dan pistol.
(Rebo, 2014) memberikan penjelasan skripsi di STIK-PTIK tahun 2014 tentang sepak terjang Abu Umar alias Muhammad Ichwan alias Indra Kusuma alias Andi Yunus alias Nico Salman yang mempunyai spesialisasi sebagai pemasok senjata dari Filipina dengan jalur Tawau, Nunukan-Kalimantan Timur, Palu-Sulawesi Tengah dan Surabaya.
Tahun 1990, sebagai anggota Darul Islam dirinya mengikuti pelatihan militer di Moro Filipina, sebanyak 18 orang jaringan Abu Umar diketahui telah ditangkap sampai saat ini.
Mengenai sepak terjang jaringan 
kelompok teroris Abu Umar mempunyai target serangan Kedubes Singapura di Jakarta dan operasi Ightilat berupa penyerangan terhadap kelompok Syiah, Abu Umar juga terlibat penyerangan terhadap mantan Menteri Pertahanan Matori Abdul Jalil dan penyerangan markas Brimob di Ambon pada 2005.
Abu Umar mempunyai hubungan dengan anggota jaringan Darul Islam lainnya. Salah satu yang berhasil ditangkap pada Juli 2011 adalah Iwan Kurniawan. Iwan sendiri merupakan adik kandung Arham alias Eceng Kurnia yang tewas ditembak Polisi pada tahun 2010 di Aceh.

andi sapa

Andriandi Sumsel

Arham merupakan mantan anggota komando AMIN yang keluar dari Darul Islam tahun 1999. Iwan tadinya membawa senjata dari Kalimantan dan akan diserahkan ke Abu Umar sebelum tertangkap, kelak senjata selundupan inilah yang banyak digunakan untuk menebar terror di Jakarta ( penembakan terhadap anggota Polisi) dan perampokan / Fa,i terhadap Bank BRI unit Tiga Raksa Kab. Tangerang.
Berkaitan dengan peristiwa penembakan terhadap sejumlah aparat kepolisian yang terjadi di beberapa tempat khususnya yang terjadi di wilayah hukum Polda Metro Jaya, sesungguhnya merupakan rangkaian peristiwa penembakan yang terjadi pada hari Sabtu, 27 Juli 2013 di Jalan Cirendeu Raya depan Sekolah Al Fatah, Pamulang, Tangerang Selatan.
Aipda Patah Saktiyono (55), anggota Polantas Polsek Gambir Jakarta Pusat ditembak oleh dua pria tidak dikenal yang mengendarai motor, dalam peristiwa penembakan tersebut Aipda Patah selamat walapun mengalami luka tembak setelah peluru menembus punggung belakang kiri menembus ke dada depan.

Rabu, 7 Agustus 2013 depan Gang Mandor Jalan Otista Raya RT 03/11 Kelurahan Ciputat Kecamatan Ciputat Kota, Tangerang Selatan, Aiptu Dwiyatno (50), anggota Bimas Polsek Metro Cilandak tewas ditembak oleh pelaku teror, dalam peristiwa tersebut korban meninggal dunia setelah peluru berkaliber 9 mm. menembus kepala korban.

Jumat, 16 Agustus 2013 Jalan Graha Raya depan Masjid Bani Umar, Kelurahan Prigi Baru, Kecamatan Pondok Aren, Bintaro, Tangerang. Dua anggota menjadi korban penembakan yang dilakukan oleh pelaku, kejadian terjadi saat Aiptu Kus Hendratma dan Bripka Ahmad Maulana, Anggota Polsek Pondok Aren akan berangkat ke kantor untuk melaksanakan apel malam, dalam peristiwa tersebut kedua korban meninggal dunia.
Sebenarnya saat itu jaringan teror tidaklah merubah modus, target atau sasaran namun yang diharapkan adalah spirit of terror dalam menebar rasa ketakutan, sehingga mereka tidak peduli siapapun targetnya yang terpenting adalah pesannya sampai yaitu munculnya rasa takut.

Memang selama ini targetnya dalah Negara Barat, berdasarkan perintah fatwa dari Osama Bin Laden adalah Amerika dan sekutunyalah sebagai target, akan pasca kematian Osama, maka Ayman al-Zawahiri sebagai penggantinya, menyerukan perubahan dalam organisasi teror dan komando untuk berubah dengan melakukan apa saja dengan kemampuan yang dimiliki baik secara perorangan maupun kelompok khususnya untuk menyerang Negara-negara yang menganut paham Demokrasi, termasuk Indonesia.
Pemerintah dan alat Negara Indonesia oleh jaringan Abu Umar dianggap thoghut ( setan), Polisi sendiri sebagai alat Negara dalam tugas penegakkan hukum positif di dunia, sehingga dengan demikian setiap anggota Polisi diyakini memilki pemahaman yang berbeda dan bertentangan dengan jaringan teroris Abu Umar, target utama tetaplah demokrasi dan Polisi hanya sebagai simbol adanya spirit of terror.

Pelaksanaan penindakan yang dilakukan di Kelurahan Kampung Sawah, Ciputat, Tangerang Selatan dilakukan seluruhnya dibawah tanggung jawab Kadensus 88 AT dengan pertimbangan bahwa dalam memberantas terorisme menggunakan law enforcement bukan war on terror sehingga yang melakukannya adalah penyidik, jadi penyidik meminta bantuan kepada penindak (Wanteror Gegana) untuk melakukan penindakan.
Semua yang dilakukan atas dasar penegakan hukum, Indonesia memiliki strategi di level nasional yaitu pendekatan penegakan hukum dan bukan praktek perang, dimana UU pemberantasan terorisme memberikan wewenang kepada penyidik, penyidik yang berwenang melakukan penegakan hukum adalah Polisi dalam hal ini Densus 88 AT dengan dukungan penuh Detasemen C/ Wanteror Satuan I Gegana.

KBP Drs. Imam Widodo, selaku Kasat I Gegana (pada tanggal 31 Desember 2013 kurang lebih pukul 15:30 WIB), memerintahkan Kompol F.S, sebagai Kaden C Wanteror untuk menyiapkan personel siaga Unit wanteror. Detik-detik penindakan Tersangka terorisme dimulai setelah Unit Wanteror tiba di posko taktis terdekat TKP pada pukul 19 : 30 wib untuk melaksanakan koordinasi dengan tim surveilance untuk mendapatkan data awal berupa informasi mengenai tersangka, jumlah senjata, dan peta lokasi sasaran/target.

Adapun cara bertindak yang disiapkan adalah melakukan penangkapan di jalan pada saat tersangka keluar rumah untuk meminimalisir korban, dimana berdasarkan informasi intelijen yang diperoleh bahwa pada hari itu tepat pada malam tahun baru 2014 para pelaku terror merencanakan untuk melakukan hunting kepada anggota Polri yang sedang berada di jalan, dengan demikian pelaku harus bisa ditangkap hidup caranya adalah membagi beberapa personel Wanteror Gegana di 4 titik untuk melakukan penangkapan di jalan.

Unit wanteror sedang bersiap menuju titik-titik penyergapan ketika terjadi perubahan rencana, tiba-tiba 2 (dua) orang pelaku teror diketahui telah bergerak keluar lebih cepat dari rumah sehingga harus dilakukan penangkapan segera.
Tim berhasil mengamankan tersangka atas nama Dayat alias Daeng alias Hidayat. Tim gabungan melakukan penangkapan saat tersangka atas nama Dayat bersama dengan 1 (satu) orang tidak dikenal lainnya yang mengendarai sepeda motor Honda jenis Supra Fit bernopol B 8722 EDP.

Tersangka atas nama Dayat menyadari kedatangan petugas sehingga berupaya untuk melarikan diri, namun tidak bisa melarikan diri justru malah tersangka berusaha melawan petugas, sehingga untuk menghindari korban dari pihak petugas maupun masyarakat disekitar TKP maka unit wanteror mengambil tindakan tegas terhadap tersangka atas nama Dayat, dari Dayat polisi berhasil mengamankan barang bukti 1 (satu) buah pucuk senjata api jenis pengun. Dalam penangkapan tersangka tersebut salah satu anggota unit tindak Gegana BKO Densus 88 AT an. Briptu Daniel Tokoro mengalami luka di bagian betis kaki sebelah kiri akibat recoset tembakan.

Penangkapan dari salah satu orang yang bersama Dayat diperoleh informasi bahwa masih ada lagi sekitar 5(lima) orang tersangka lainnya yang bersembunyi dikontrakan di Kampung Sawah, Unit Striking Force / Unit wanteror segera bergerak menuju TKP. Ditemukan di TKP ternyata kelompok pelaku terror tinggal di sebuah kontrakan dengan tembok berwarna cat pink.
Langkah prosedural unit wanteror Satuan I Gegana adalah memberikan peringatan kepada tersangka yang berada didalam kontrakan tembok berwarna cat pink untuk keluar dan menyerahkan diri kepada petugas, tetapi peringatan tersebut dibalas dengan tembakan oleh para pelaku dari dalam kontrakan.

Para tersangka tetap tidak mau menyerah bahkan melakukan perlawanan. unit wanteror mengambil langkah dengan menembakkan beberapa butir granat gas air mata kedalam kontrakan berupaya memberikan tekanan agar para tersangka keluar dan menyerahkan diri.

Boas

gugur di sulteng

Seorang anggota Brimopda Papua di Jayapura, membawa foto Briptu Sahrul Mahulau (28) dari Kompi 3 Dewa Satbrimobda yang menjadi korban penembakan oleh kelompok separatis bersenjata di Kota Lama Mulia, Puncak Jaya , Senin (15/2). (ANTARA/Anang Budiono)
Tim pendobrak unit wanteror Gegana mencoba masuk dengan mendobrak pintu dengan menggunakan Shoot Gun, dengan maksud membuka celah menembakkan senjata kurang mematikan (Less Lethal Weapon) dengan peluru gas air mata. Walaupun dengan dihujani tembakan gas air mata tersangka masih tetap menolak menyerahkan diri.

Tim pendobrak wanteror Gegana (Breacher) melaksanakan pendobrakkan menggunakan peledak terhadap pintu depan dan jendela untuk mengontrol pergerakan pelaku dalam ruangan, walaupun pintu telah berhasil dibuka ternyata salah seorang pelaku malah sempat mendorong motor ke arah pintu sehingga pintu tertutup kembali, unit wanteror kembali tidak bisa melihat kedalam kontrakan.
Susana TKP gelap karena para tersangka telah mematikan saklar lampu dari dalam sehingga menambah kesulitan bagi unit wanteror. keadaan tersebut dilaporkan Katim wanteror Gegana kepada Kasat I Gegana untuk menyiapkan pasukan unit wanteror dan unit jibom untuk penebalan serta membawa peralatan penerangan berupa floodlight portable.
Tim Penebalan pasukan unit wanteror dan unit jibom dari Sat I Gegana Korps Brimob Polri dipimpin Kasat I Gegana datang ke TKP untuk menambah kekuatan karena ada perlawanan serta di perkirakan kekuatan dari TSK lebih dari 3 (tiga) orang, informasi tersebut diperoleh dengan menghitung suara teriakan dari dalam kontrakan yang mengindikasikan bahwa tersangka lebih dari 3 (tiga) orang, selain ditinjau dari suara teriakan tersangka indikator lainnya adalah diperoleh dari menghitung intensitas tembakan balasan oleh para tersangka dari dalam kontrakan.

Kelompok pelaku mengetahui petugas akan menerobos sehingga terus memberikan perlawanan dengan dengan menembakan senjata api kearah Unit wanteror dan melemparkan beberapa granat rakitan namun karena pembakarannya tidak sempurna granat rakitan tersebut tidak meledak.
Negosiasi verbal lewat pengeras suara juga masih berlanjut untuk terus membujuk para pelaku menyerahkan diri tetapi tidak dihiraukan malah terus melakukan perlawanan dengan menembakan senjata api ke arah unit wanteror gegana.

Upaya lanjutan tim pendobrak adalah kembali melakukan pemasangan breaching wall untuk mencoba membuka akses masuk kedalam rumah, pada saat tim pendobrak menyinari ruangan dengan senter kedalam ruangan didapati salah seorang pelaku berada dipojok dalam bak kamar mandi yang posisinya hanya terlihat dari celah tembok yang runtuh, para pelaku leluasa menembaki petugas dari dalam bak kamar mandi.

Salah satu tiba-tiba melompat keluar dari dalam bak kamar mandi dan berusaha menyerang petugas dengan tembakan terarah ke tim Penetrasi sehingga tim membalas untuk melumpuhkan dengan tembakan, dari hasil kontak tembak tersebut lima orang pelaku bersenjata meninggal di lokasi dan didapati barang bukti 5 pucuk senjata api pistol caliber 9 mm beserta magazine, 1 pucuk Revolver caliber 38, dan 17 buah bom/granat rakitan, sejumlah bahan Kimia (Kimia urea, chlorat, black powder, alat solder dan rangkaian switching elektronik), sejumlah uang Rp. 200.000.000.- (lembar Rp 100.000.-) diindikasikan adalah uang dari hasil perampokan / Fa,i yang terjadi di Bank BRI unit Tiga Raksa Kab. Tangerang.

Jasadmu sunyi namun jiwamu selalu abadi

I am the police, and I’m here to arrest you. You’ve broken the law. I did not write the law. I may disagree with the law but I will enforce it. No matter how you plead, cajole, beg or attempt to stir my sympathy. Nothing you do will stop me from placing you in a steel cage with gray bars.
If you run away I will chase you. If you fight me I will fight back. If you shoot at me I will shoot back. By law I am unable to walk away. I am a consequence. I am the unpaid bill. I am fate with a badge and a gun.
Behind my badge is a heart like yours. I bleed, I think, I love, and yes I can be killed and although I am but one man, I have thousands of brothers and sisters who are the same as me. They will lay down their lives for me and I them. We stand watch together.
The thin-blue-line, protecting the prey from the predators, the good from the bad.
1. AKP Anumerta Bryan Theophani Tatontos. Bryan menjabat sebagai Komandan Kompi Brimobda Sulteng, gugur dalam kontak senjata antara polisi dan kelompok teroris bersenjata di Pegunungan Langka di Desa Kilo, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Poso pada tanggal 21 Agustus 2015.
2. Brigadir Polisi Dua (Bripda) M. Andriadi (22) dan Bripda Rian Andriansyah (22). anggota Brimob Polda Sumatera Selatan yang di Bantuan Kendali Operasi (BKO) pada satuan tugas (satgas) pengamanan (Pam) PT Freeport Indonesia. Gugur pada tanggal 1 Januari 2015.
3. Bharada (Bhayangkara Dua) Putu Satria gugur dalam baku tembak itu terjadi setelah satu regu Brimob menyisir kawasan Desa Sahunca, Poso Pesisir Selatan pada tangal 6 Februari 2014.
4. Aiptu Thomson Siahaan dan Bripda Everson. Gugur saat sedang membantu kegiatan perayaan Natal GKI klasis Ilaga. Dua anggota Brimob yang bertugas di Kabupaten Puncak, Papua, ditembak saat berada di halaman depan Kantor Bupati Puncak di Ilaga, Rabu 3 Desember 2014 sekitar pukul 09.30 WIT.
5. Bripda Suherman, anggota Striking Force/ Gegana Korbrimob Polri yang di BKO kan pada Satgas Bom, gugur pada tanggal 30 Agustus 2012 dalam penyergapan terduga teroris di Solo Jawa Tengah.
6. Dua polisi bernama Briptu Andi Sapa anggota Polres Poso dan Brigadir Sudirman anggota Polsek Poso Pesisir hilang saat sedang mengintai tempat pelatihan teroris. Jenasah kedua almarhum ditemukan pada tanggal 16 Oktober 2012, di daerah Tamanjeka, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Poso, Sulawesi Tengah.
7. Empat anggota Brimob gugur dan melukai Dua anggota lainnya. Bhayangkara yang gugur adalah adalah Briptu Wayan Putu Ariawan, Briptu Ruslan, Briptu Winarto dan Briptu Eko Wijaya Sumarno Insiden penembakan terjadi Kamis tanggal 20 Desember 2012 sekitar pukul 10.00 WITA saat personel brimob berpatroli di Desa Kalora menggunakan sepeda motor dan kendaraan roda empat. Tanpa diduga, tim patroli diberondong tembakan dari arah perbukitan dan diduga dilakukan kelompok bersenjata yang diperkirakan berjumlah sembilan orang.
8. Bripda Sahrul anggota Brimob Polda Papua gugur ditembak di Mulia, ibukota Kabupaten Puncak Jaya saat sedang bertugas di wilayah rawan konflik pada 15 Februari 2010 Pkl.10.50 WIT.
9. Briptu Boas Maosiri, gugur dalam penyergapan kelompok teroris di Aceh Besar, pada tanggal 7 Maret 2010, selain Boas, dua polisi lainnya pun gugur dalam kontak tembak yakni anggota Satbrimob Polda Aceh : Brigadir Dua Dharmansyah dan Brigadir Dua Sri Handri Kusumo.

ME KNOW YOU or YOU KNOW ME ????

Masa masa libur lebaran kali ini adalah tumpah ruahnya manusia dari berbagai penjuru hilir mudik untuk satu tujuan : ….mudik

Mudik yang mensyaratkan hal lain adalah balik,,,, ketempat kerja , tempat usaha dan yang pasti sumber penghidupan .

Termasuk dalam hingar bingar arus mudik dan balik adalah siswa -siswa pendidikan pembentukan baik TNI dan Polri, di terminal bus , stasiun kereta api dan tentu juga bandara .

Siswa -siswa pembentukan TNI dan Polri yg berada di ruang publik sedikit banyak menarik perhatian masyarakat. Mulai dari cukuran kepala yg plontos , pakaian dinas yang masih kedodoran sampai bawaan mulai ransel , koper bahkan kardus oleh oleh yang katanya buat pelatih maupun pembina di lemdik.

Satu hal yg menarik adalah bagaimana pola komunilkasi antara siswa spn X dengan spn Y ! Apalagi antar matra tni dan polri , satu kekhawatiran adalah ketika benih -benih egosentris mulai tertanan dalam konsep in group dan out group.

Lewat pengamatan sekilas terlihat penguatan identitas aku dan kamu terlihat sangat kuat , antara siswa pusdik x dengan pusdi Y tidak saling menyapa bahkan untuk saling mendekat dan bersalaman , konsep in group semakin menguat bila dilihat pada hubungan antar matra ! ( Tni dan polri ) , sedikit yg masih terjalin kontak berupa komunikasi ( saling mendekat dan jabat tangan) adalah ketika taruna tni dan polri bertemu di lobby bandara .

Secara tidak sadar , dan perlahan konsep in group dan out group akan semakin meguat seiring makin lama dan makin berkualitas proses penguatan identitas internal dalam kelompoknya.

akibatnya adalah akan muncul militansi yang memang sangat dibutuhkan oleh pekerja-pekerja bidang keamanan seperti tni dan polri menghadapi tantangan tugas yang sangat berat . Militansi dibentuk melalui keyakinan bahwa ingroup merupakan tempat individu mendapatkan kenyamanan dan perlindungan .

Namun efek samping yang bisa jadi muncul seiring militansi adalah adanya sikap arogansi berlebihan berupa anarkhisme atas nama korsa dan kesatuan ( in group) bahwa dirinya dan kelompoknya lah yang paling begini dan paling begitu .

Strategi kacang hijau dan olah raga bersama sering menjadi pilihan reaktif atas keputus asaan pimpinan satuan tni dan polri melihat ada saja ulah oknum -oknumnya yang saling adu jago hanya karena lirik lirikan semata .

Fenomena tanding jago yang mungkin setua sejarah masing masing kesatuan bersenjata berdiri , dan mungkin juga tradisi menyiapkan bubur kacang hijau , kemudian olah raga bersama berupa senam poco-poco plus dangdutan senantiasa menjadi opsi terakhir selain ancaman hukuman disiplin dan pidana bagi kedua oknum yg terlibat tanding .

Militansi yg mengarah kepada anarkhisme antara dua identitas yg saling berbeda ternyata memerlukan lebih dari sekedar bubur kacang hijau sebagai penawarnya , dengan melihat basis pembentukan militansi adalah adanya penguatan nilai nilai internal dalam group yang mampu mengeliminir berbagai identitas awal menjadi identitas baru bernama TNI dan Polri atau yang lainnya , maka dengan membalik proses militansi dengan memberikan identitas alternatif selain A atau B adalah merupakan sebuah keharusan .

Pola pandangan yang berpijak dari fakta bahwa setiap manusia merupakan mahluk sosial yang memiliki identitas primordial seperti SARA ytermasuk adalah merupakan mahluk sosial yang membutuhkan kesenangan sebagai sarana rekreasi .

Dengan membandingkan fenomena ” tidak saling kenal ” antara sesama siswa SPN X dan Y di satu ruang publik dengan paguyuban perantau suku X di jakarta, pengurus gereja dan paduan suara X , dan pengurus organisasi selam , menembak dan terjun payung ( olah raga khas angkatan ) adalah terdapat kesimpulan bahwa :

Fenomena in group dan out group yang muncul sebagai akibat adanya identitas berbeda ( tni dan polri ) secara berangsur angsur melebur menjadi sebuah identitas baru ( identitas alternatif ) yang disebut senagai : sesama perantauan suku X di jakarta yg beranggotakan berbagai profesi, sesama pengurus masjid , maupun gereja yg berlatar belakang berbagai kesatuan , dan juga sesama penggiat dan pengurus olah raga selam , menembak dan terjun payung sebagai sesama komunitas .

Identitas asli berupa TNI dan Polri memang tidak hilang , dan tetap merupakan identitas latent yang sewaktu waktu muncul menjadi militansi bahkan anarkhi, namun adanya identitas alternatif (sesama perantauan X dan pengurus komunitas ) bisa menjadi katup penyelamat dari mampatnya saluran komunikasi antar kelompok , lewat orang orang didalamnya komunikasi kedua kelompok ( antar group ) bisa lebih terbuka untuk menemukan …. Ini salah pahamnya disini dan solusi yang saling menghormati adalah begini.

Sudah saatnya bukan hanya level perwira yang kebetulan berlatar belakan akademi tni maupun akpol bertemu dalam forum kegiatan integrasi seperti latsitarda maupun porsitar , mungkin kelak harus ada giat TMMD yang melibatkan polri didalamnya secara aktif dan terintegrasi atau sebaliknya bulan bhakti kamtibmas yg digagas polri dengan melibatkan TNI , dimana kedua gagasan tadi sedapat mungkin melibatkan siswa siswa pembentukan bintara dan tamtama tni polri sejak awal, bersama sama menemukan identitas alternatif ” kami “selain identitas “aku” dan “kamu”

Saya menulis,maka saya ada.

woman in un mission, wanita pemberani di tanah sudan selatan

WANITA YANG KEBETULAN MEMILIH POLISI SEBAGAI JALAN HIDUP

RUANG PENJARA YANG PENGAP , TAHANAN PRIA DAN WANITA BERCAMPUR DALAM SEBUAH RUANGAN HANYA BERSEKAT BAMBU, TAHANAN WANITA DAN ANAK YG MASIH DISUSUI MENEMPATI SALAH SATU POJOK RUANGAN , BERLATAR BELAKANG SEORANG TAHANAN YANG MENDERITA GANGGUAN JIWA SEDANG BERKELILING DI AREAL TAHANAN, BELUM LAGI TAHANAN YANG MASIH BABAK BELUR AKIBAT PERKELAHIAN SESAMA TAHANAN MAUPUN AKIBAT KEKERASAN FISIK SAAT TERTANGKAP TANGAN MELAKUKAN KEJAHATAN, ADALAH SEKELUMIT CERITA PENGANTAR TENTANG UNMISS ( UNITED NATIONS MISSION ON SOUTH SUDAN) YANG TELAH DIJALANI OLEH SEORANG AKP JAYANTI MANDASARI HARAHAP , LULUSAN AKPOL 2005.
“A LOT OF FUN IN MISSION”, TERGANTUNG BAGAIMANA ANDA MENYIAPAKAN DIRI DALAM MENJALANKAN KEHIDUPAN UN MISSION SEBAGAI PEACE KEEPER SANG PENJAGA PERDAMAIAN
2013-10-08 10.06.53

SEPERTI DALAM UNMISS ( UN MISSION IN SOUTH SUDAN ), UNMIS ( UN MISSION IN SUDAN ) DAN MINUSTAH ( UN STABILIZATION MISSION IN HAITI / MISSION DES NATIONS UNIES POUR LA STABILIZATION EN HAITI) DENGAN PANDUAN ADALAH UN CORE VALUES : PROFESIONALISME , INTEGRITAS, RESPECT TO DIVERSITY.
DITEMPATKAN DISEBUAH DAERAH YANG JAUH DIPEDALAMAN 1,5 JAM PENERBSNGAN DARI IBU KOTA SUDAN KHOURTOM , BAGI SEORANG POLISI WANITA SEPERTI JAYANTI MANDASARI AWALNYA BUKAN SEBUAH HAL YANG MENYENANGKAN , BERANGKAT DARI MINIMNYA PENGETAHUAN SEPERTI MASYARAKAT INDONESIA PADA UMUMNYA APA DAN BAGAIMANA SUDAN YANG KEMUDIAN PECAH MENJADI SUDAN SELATAN , HANYA BERBEKAL KETEGUHAN HATI SEKERAS KARANG PADA AKHIRNYA MAMPU MEMBUAT JAYANTI MANDASARI MENJADI LEADER OF POLICE STATION ( UN POLICE ) DIMANA SEMUA ANGGOTANYA BERASAL DARI MANCA NEGARA , SEORANG WANITA POLISI YANG MEMIMPIN PELAYANAN UN MISSION UNTUK RESTRUKTURISASI DAN REBUILDING KEPOLISIAN SUDAN SELATAN.
SEBAGAI SEBUAH TIPS DARI JAYANTI MAYASARI ADALAH BAGAIMANA MEMPERSIAPKAN DIRI MELALUI PRE DEPLOYMENT RECRUITMENT BERUPA KEMAMPUAN BAHASA INGGRIS , MENGEMUDI KENDARAAN STIR KIRI DAN MENEMBAK, SERTA DILANJUTKAN DENGAN WAWANCARA YANG DILAKSANAKAN OLEH UN DPKO LANGSUNG VIA TELPON DARI NEW YORK, SELAIN ITU SETIAP KANDIDAT KHUSUSNYA DARI KEPOLISIAN HARUSLAH MINIMAL SUDAH BERTUGAS DI KEPOLISIAN SETIDAKNYA 5 TAHUN BERDINAS.
SEBAGAI SEBUAH PENGALAMAN SEUMUR HIDUP, UNTUK IKUT MEMBERIKAN KONTRIBUSI SEBAGAI POLISI PENJAGA PERDAMAIAN DALAM UN MISSION , BAGI SEORANG POLWAN SEPERTI JAYANTI MANDASARI TENTULAH MENJADI SEBUAH QUANTUM LEAP YANG MEMBERIKAN TAMBAHAN WAWASAN BARU UNTUK KELAK BISA MEMBERI SUMBANGSIH BAGI PELAKSAAAN TUGAS POLRI DI TANAH AIR.
fpu 1
SEBAGAI SEORANG WANITA DENGAN PROFESI POLWAN , BAGI JAYANTI TANTANGAN SEKALIGUS MENJADI KENANGAN MANIS MANAKALA BERTUGAS DI MISSION AREA YANG MENGHARUSKAN DIRINYA KEMANA- MANA MAU TIDAK MAU DAN HARUS MAMPU SENDIRIAN MENGEMUDIKAN KENDARAAN DENGAN SETIR KIRI DU BELANTARA ANTAH BERANTAH SUDAN SELATAN, KEMANDIRIAN DAN KEBANGGAN MENJADI KEPINGAN INDONESIA, ITULAH SATU SATUNYA PENGUAT BAGI JAYANTI ( BENDERA MERAH PUTIH DITEMPEL DILENGAN ).
UN POST DI DAERAH MALAKAL SUDAN SELATAN, SEBAGAI SALAH SATU POST YANG DISEBUTKAN JAYANTI ADALAH MERUPAKAN BAGIAN DARI KONFLIK SOSIAL YANG MENODAI WAJAH SUDAN DAN SUDAN SELATAN , KONFLIK INTERNAL YANG BELUM SELESAI JUGA DENGAN COMPREHENSIVE PEACE AGREEMENT, ANGKA KEJAHATAN YG SANGAT TINGGI , PEREDARAN SENJATA API ILLEGAL DITENGAH MASYARAKAT , BELUM LAGI PENGARUH IKLIM DAN CUACA EKSTRIM , PENYEBARAN PENYAKIT MENULAR KHAS GURUN .
TUGAS UTAMA UNMISS BERANGGKAT DARI UN RESOLUTION 1996 ( 2011). UNTUK MENINGKATKAN KAPASITAS SSPS MELALUI KEGIATAN ADVISING AND MENTORING , LOCAL POLICE DI SUDAN DAN SUDAN SELATAN. KEGIATAN SEHARI HARI SEBAGAI SEORANG POLICE ADVISER DALAM UNMISS ADALAH TIDAK JAUH DARI BAGAIMANA MEMBERIKAN PELATIHAN DAN ASISTENSI ,TERMASUK MEMBERIKAN TRANSFER ILMU DAN TEKNOLOGI KEPOLISIAN, BAGAIMANA MENGELOLA DAN MENYELENGGARAKAN TUGAS -TUGAS PEMOLISIAN MENURUT STANDAR MINIMUM YANG DAPAT MEMENUHI ASPEK HAM DAN PROFESIONALISME .
fpu 2
MEMBERIKAN ADVICE DAN MENTORING KEPADA KEPOLISIAN LOKAL DI SUDAN SELATAN MEMBUTUHKAN KECERDIKAN SELAIN KECERDASAN TERSENDIRI, KETIKA SEBAGIAN BESAR ANGGOTA KEPOLISIAN SUDAN SELATAN YANG TIDAK MAMPU MEMAHAMI BAHASA INGGRIS DNEGAN FASIH , MEMBUTUHKAN KEHADIRAN PENERJAMAH BAHASA ARAB, DAN PENDEKATAN KULTURAL UNTUK MAMPU MENARIK PERHATIAN DAN MINAT LOCAL POLICE SUDAN SELATAN UNTUK MAU BERTRANSFORMASI,KATA KUNCI DARI JAYANTI ADALAH : FRIENDLY ANYTIME
POSISI PRETISIUS POLWAN JAYANTI DALAM MISI UNMISS ADALAH SEBAGAI CO-LOCATOR TEAM DI SITE MALAKAL, KEMUDIAN MENANJAK LAGI OPERATIONS OFFICER TEAM SITE MALAKAL , TERMASUK BERTUGAS SEBAGAI KORDINATOR TRAINING DI WILAYAH YANG BERNAMA UPPER NILE STATE, TERNYATA JABATAN- JABATAN YANG PERNAH DIEMBAN JAYANTI ADALAH JABATAN YANG BIASANYA HANYA DIISI OLEH POLISI LAKI-LAKI DAN ITUPUN SUDAH MENJADI JARAH NEGARA-NEGARA EROPA DAN AMERIKA.
INILAH SALAH SATU DAYA TARIK UN MISSION SEBAGAI POLICE ADVISER, DENGAN TUGAS YANG TERMASUK RANKLES DUTIES ( LEPAS PANGKAT ), JADI APAPUN PANGKAT KITA DINEGARA ASAL, BAGI UN-DPKO HANYA ADA SATU ! KEMAMPUAN ANDALAH YANG MENENTUKAN SIAPA YG BERHAK MEMIMPIN , MAKA TIDAK ANEH DI UN-MISSIONS, SEORANG AKP POLWAN INDONESIA AKAN MEMIMPIN SEORANG LETKOL DAN KAPTEN DARI NEGARA LAINNYA. PROSES SELEKSI SECARA TRANSPARAN DAN BERBASIS KOMPETENSI MEMBUAT SETIAP ORANG YANG POTENSIAL MEMILIKI PELUANG MENDAPATKAN POSISI-POSISI KUNCI DALAM MISI.
MENJADI COORDINATOR SITE YANG MEMBAWAHI BEBERAPA ANGGOTA KEPOLISIAN DARI MANCANEGARA MENJADIKAN JAYANTI HARUS PINTAR-PINTAR MEMBANGUN KOMUNIKASI , SEBAGAI SEEORANG PERWIRA TERMUDA , WANITA DAN DARI ASIA , BARRIER PSIKOLOGIS DITEROBOS JAYANTI DENGAN PENDEKATAN KREATIF , SALAH SATUNYA MENGHILANGKAN JURANG KOMUNIKASI DENGAN MEMANGGIL SENIOR POLISI MANCANEGARA YANG MENJADI ANAK BUAHNYA DENGAN SEBUTAN UNCLE ATAU PAMAN , NAMUN JANGAN SALAH , KADANG-KADANG KETEGASAN DAN SEDIKIT MENGANGKAT ALIS AJ]KAN MENJADI SUATU “PENDEKATAN” KHUSUSNYA MENGHADAPI REKAN YANG BEKERJA SEENAKNYA.
CERITA INDAHNYA UN-MISSIONS TIDAK TERLEPAS DARI INDAHNYA SETELAH SESUATU BERLALU : MENGHADAPI REKAN YANG SEENAKNYA MENGGUNAKAN JEEP PATROLI TANDA MELAPOR , ATAUPUN YANG BEKERJA SEMAUNYA MENGGUNAKAN STANDAR OPERATIONAL ALA NEGARANYA , NAMUN ADA JUGA CERITA MENARIK, AKIBAT KELEBIHAN YANG DIMILIKI SALAH SEORANG ANGGOTA POLISI INDONESIA YANG MENJADI KEHEBOHAN PASCA KEBERHASILAN MENANGKAP SEEKOR ULAR PITON YANG MENGGANAS DI SEKITAR CAMP PENGUNGSI , AKIBATNYA ADALAH SETIAP ADA INSIDEN TERKAIT ULAR DAN BINATANG BUAS LAINNYA, MAKA MASYARAKAT SUDAN KHUSUSNYA DI PENGGUNGSIAN AKAN BERBONDONG-BONDONG MEMANGGIL POLISI INDONESIA LAINNYA HANYA UNTUK MENJINAKKAN ULAR .
8 JAM PERJALANAN DARAT DALAM TUGAS LONG DURATION PATROL TERMASUK MENEROBOS MEDAN OFF-ROAD , TERMASUK MENGGANTI BAN MOBIL SENDIRIAN DAN BERKEMAH DI JALAN ADALAH KESEHARIAN TUGAS JAYANTI, BAGI DIRINYA WANITA HARUSLAH TEGAR DENGAN SEGALA KONDISINYA , DALAM MISI YANG DIJALANI BERSAMA BEBERAPA POLWAN MANCANEGARA TERNYATA BANYAK JUGA GESTURE DAN PERILAKU TERTENTU YANG JUSTRU MENDUDUKAN WANITA MENJADI SEDEMIKIAN LEMAH , JAYANTI MENJELASKAN KERAP KALI JUSTRU KAUM WANITA ITU SENDIRI YANG MENEMPATKAN POSISINYA SEBAGAI MAHLUK CANTIK YANG BISA DIKESAMPINGKAN DALAM SUATU KEGIATAN .
MENGGAGAS PROGRAM DALAM KEGIATAN PEMOLISIAN DI DAERAH MISI ADALAH TIDAK TERLEPAS DARI BAGAIMANA MEMBERIKAN CONTOH KEMUDIAN DILANJUTKAN MEMBANGUN KEMAMPUAN DAN MENDORONG POLISI LOKAL UNTUK MEMBANGUN KINERJA KEPOLISIANNYA , DALAM TRANSFER PENGETAHUAN DAN SPIRIT KEPOLISIAN ADALAH DENGAN MENANAMKAN BAHWA UN POLICE DALAM MISSION INI ADALAH SEKEDAR MENTOR DAN PENASEHAT SEMATA, SEDANGKAN LOKAL POLICE ADALAH SEBENAR-BENARNYA AKTOR PEMANGKU KEPENTINGAN KEAMANAN UNTUK NEGERINYA.
RESEP JAYANTI ADALAH DENGAN MELIBATKAN SEBANYAK- BANYAKNYA DAN SESERING MUNGKIN , TATAP MUKA DAN KEBERSAMAAN ANTARA POLISI LOKAL SUDAN SELATAN DENGAN MASYARAKAT DALAM SETIAP KEGIATAN DALAM KONTEKS LOKAL, DIMULAI DENGAN CARA YG SEDERHANA BERUPA KUNJUNGAN DARI PINTU KE PINTU MAUPUN KE SETIAP KOMUNITAS DAN MENGHADIRI SETIAP PERTEMUAN YANG DIGAGAS WARGA.
SAATNYA UNTUK : “ PUT OFF YOUR BLACK SUN GLASSES , SET YOUR SMILE AND START TO MAKE AN EYE CONTACT “ MARI MELEPAS KACAMATA HITAM KITA, DILANJUTKAN MEMASANG SENYUMAN YANG RAMAH DAN MULAILAH DENGAN TATAPAN MATA TULUS, UCAPKAN “MARI KITA BEKERJASAMA UNTUK MELINDUNGI ANDA DAN MASYARAKAT”

SAYA MENULIS, MAKA SAYA ADA.

AKPOL DARI MASA KE MASA

SINOPSIS
( dari 60 halaman)
SEJARAH AKADEMI KEPOLISIAN
KOL. POL. DRS J.E.F.BOEDI R. KOESTONO & TEAM
1999

wjsmk6

Awal Terbentuknya Sekolah Polisi Bagian Tinggi

Sejak tahun 1925, Sukabumi merupakan sebuah kota tempat pendidikan dasar dan lanjutan bagi anggota kepolisian. Pada saat Indonesia di proklamirkan dalam usaha keamanan dan ketertiban pada tanggal 18 Agustus 1945 Jepang memerintahkan agar kepolisian tetap di pertahankan. Di era kemerdekaan kebutuhan akan tenaga kepimpinan kepolisian yang cakap dan bermoral tinggi terasa sangat mendesak untuk segera dipenuhi, oleh karena itu pada tanggal 14 Juni 1946 dibukalah secara resmi kursurs inspektur, perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian. Dengan surat keputusan Perdana Menteri NO.POL.212/19/22 tanggal 17 Juni 1946 di Metroyudan, yang diresmikan oleh Presiden RI Ir.Soekarno dan WAPRES Moh.Hatta. Dan diangkatlah Pembantu Komisaris Besar Polisi Soebarkah sebagai Kepala Sekolah Polisi Negara Republik Indonesia.
Pada tanggal 16 Februari 1947 di gedung Reksabajan Yogyakarta diadakan rapat Dewan Guru Besar untuk uerencanakan pendirian Akademi Kepolisian, dan diputuskan pada tanggal 29 April 1947 Dewan Kurator Akademi Polisi diresmikan: Berdasarkan surat keputusan Kepala Jawatan Kepolisian Negara NO.POL: 33/1/S/1947 tanggal 27 Nopember 1947 Akademi Polisi berdiri di Yogyakarta.
Sejalan dengan pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda, maka pemerintahan RI dipindahkan dari Yogyakarta ke Jakarta, sehingga pada bulan Juli 1950 Akademi Kepolisian dialihkan ke Jakarta

Perkembangan Akademi Polisi meenjadi Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian

Pada Tanggal 4 Juli 1950 diadakan rapat gabungan antara jawatan Kepolisian Negara. Dewan Kurator dan Dewan Guru Besar memutuskan pergantian nama Akademi Kepolisian menjadi Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian disingkat PTIK. Realisasi Pergantian nama dimulai tanggal 1 September 1950 dengan Surat Keputusan Perdana Menteri No: 47 J Ph I I II/53. Sebagai tonggak Sejarah berdirinya PTIK pada tanggal 17 Juni 1952 awal lahirnya Sarjana Ilmu Kepolisian sebanyak 16 orang yang diberi nama angkatan Parikesit.
Pada tanggal 6 Juni 1953 ditetapkan peraturan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian yang baru dan Diperkuat dengan Surat Keputusan Perdana Mentri No: 47/87/PM/II/1954 tanggal 7 April 1954 mengatur tentang kedudukan mahasiswa PTIK.
Pada tanggal 3 Mei 1954 dalam sejarah PTIK sangat penting, Karena lahirnya Tri Brata. Pembawa gagasan Tri Brata adalah Prof.DR.Djoko Soetono. Semula Tri Brata hanya dianggap sebagai Ucapan kaul bagi calon-calon Perwira Kepolisian yang meninggalkan almamaternya guna mengabdi kepada masyarakat Nusa dan Bangsa. Pertama kalinya Tri Brata diucapkan oleh Drs.Soeparno Soeryaatmadja.
Pada tahun 1960 Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) dengan ketetapan MPRS No.11/MPRS/1960, menetapkan bahwa kedudukan Hukum (Civil Effect) lulusan PTIK disamakan dengan kedudukan hukum lulusan Fakultas-fakultas negeri .Keputusan ini kemudian diperkuat dengan Surat Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP) Kepada ketua dewan Guru Besar PTIK No.463/9/PTIP, tanggal 8 Agustus 1961. Pada tahun 1962 para lulusan bagian Bakaroleat Perguruan PTIK untuk pertama kali diberi hak gelar Sarjana Muda Ilmu Kepolisian (SMIK).
Pada tanggal 6 Juli 1965 dengan surat Keputusan Presiden RI No. 155 tahun 1955 mulai direalisir proses pengintegrasian Akademi-akademi Angkatan perang yang setaraf dengan Bakaloreat PTIK yang pada saat itu Akademi Ilmu Kepolisian yang bertempat di Sukabumi . Lahirlnya Akademi Angkatan Kepolisian berdasarkan Surat Keputusan Mentri Panglima Angkatan Kepolisian No. 468/5B/ IV/ 65, tanggal 25 Mei 1965.
Pada tanggal 1 Oktober 1965 Sekolah Angkatan Kepolisian berubah nama menjadi Akademi Angkatan Kepolisian yang diresmikan oleh Menteri Panglima Angkatan Kepolisian Inspektur Jendral Polisi SOETJIPTO JOEDODIHARDJO.

Perkembangan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian Menjadi Akademi Angkatan Kepolisian
Mulai pertengahan tahun 1965 di Sekolah Angkatan Kepolisian Sukabumi terjadi perubahan besar- besaran yang prinsipil. Sebagai relisasi dari Keputusan Presiden No. 290/1964 tertanggal 12 November 1964 terjadilah integrasi antara kepolisian dalam satu wadah yang di sebut Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) Menyusul Surat Keputusan Presiden / Panglima ABRI No. 185/ Koti/ 1965 yang berisi integrasi Akademi- akademi tiap angkatan dalam Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI)
SAK sebagai pusat Pendidikan Kepolisian di Sukabumi beralih menjadi Akademi Angkatan Kepolisian (AAK). Komandan SAK yang lama AKBP Drs. R. MOH. SOEBEKTI di ganti oleh Brigjen R. SOEMANTRI SAKIMI sebagai Gubernur AAK.
Akademi Angkatan Kepolisian dalam masa peralihan ini berlangsung sampai dengan 16 Desember 1966. Untuk selanjutnya terhitung mulai tanggal tersebut berubah menjadi Akabri bagian Kepolisian.

_MG_4508

20110917_012

20110917_013

Akabri Bagian Kepolisian Sukabumi (1967-1980)
Dengan dikeluarkannya Keppres RI No. 185/Koti/ 1965 tanggal 16 Desember 1965 tentang peresmian berdirinya AKABRI, maka secara administratif Akademi Angkatan Kepolisian (AAK) yang baru saja diresmikan tanggal 1 Oktober 1965 berubah namanya menjadi AKABRI Bagian Kepolisian. naMun secara Formil perubahan nama tersebut baru dilaksanakn pada tanggal 16 Desember 1966.
Kurikulum AKABRI bagian kepolisian semenjak berdirinya mengalami beberapa perubahan :
1. Berdasrkan Keputusan Men Hankam/Pangab No Keo/ B/ 1969 tanggal 31 Maret 1969 pendidikan yang semula 3 tahun diseragamkan menjadi empat tahun.
2. Kurikulum AKABRI Bagian Umum
a. Kurikulum Integratif
b. Kurikulum latihan
– Vira Carya adalah latihan tahap awal
– Pra Yudha adalah Latihan tahap akhir
– Pra Tangkas
– RPS adalah Napak tilas perjalanan Panglima Besar Sudirman .
– Bhina Eka Bhakti
3. Kurikulum Integrasi
a. Tri Loka Daya
b. Lasitarda
c. Kegiatan Jasmani Taruna
_MG_4372

BRZ_0153

DSC_0655
Akabri Bagian Kepolisian Semarang (1980-1985)
Setelah dikaji secara mendalam atas keputusan Men Hankam/Pangab No : Kep/B/76/1968 tanggal 8 Maret 1968 tentang penunjukan Kodya Magelang sebagai tempat Akabri dalam rangka integrasi total, disimpulkan bahwa Kodya Magelang kurang sepenuhnya dapat menampung kebutuhan serta aspirasi suatu Akademi ABRI pada umumnya.Khususnya kurang menjamin sifat- sifat khas angkatan.
Atas dasar saran staf dan pengkajian mendalam yang diarahkan pada tugas pokok AKABRI, Maka Men Hankam /Pangab dalam rapat yang dilaksanakan tanggal 27 Agustus 1973 mengambil keputusan bahwa tempat AKABRI dalam rangka Integrasi penuh/total, ditetapkan berlokasi di :
a. Mako AKABRI, AKABRI Bagian Laut dan AKABRI Bagia Kepolisian di Kodya Semarang
b. AKABRI Bagian Umum dan Darat tetap di Magelang.
c. AKABRI Bagian Udara di Yogyakarta.
d. AKABRI Bagian Laut di Surabaya

Sebagai pengukuhan dari keputusan Men Hankam/ Pangab tersebut, telah dikeluarkannya Skep Men Hankam/Pangab No: Skep/ B/300/IV/1974 tanggal 4 April 1974 tentang Penunjukan Danjen Akabri sebagai Kepala Program Pembangunan proyek Akabri di Semarang, yang selanjutnya dalam perencanaan pembangunan dibagi dalam tahapan sebagai berikut :
a. Tahun 1975-1977 Pembangunan Kompleks Akabri Bagian Kepolisian
b. Tahun 1978-1979 Pembangunan Kompleks Mako Akabri
c. Tahun 1980-1982 Pembangunan Kompleks Akabri Bagian Laut.

Akabri Kepolisian Menjadi Akpol
Dengan Dikeluarkannya Keputusan Pangab No.: Kep/01/P/I/1984 tanggal 29 Januari 1984 tentang Pokok-pokok Organisasi dan Fungsi Badan-badan pelaksanaan Pusat ABRI, maka tugas AKABRI ditetapkan sebagai mengkoordinasikan penyelenggaraan pembinaan pendidikan pembentukan Perwira yang berjiwa Sapta Marga, memiliki kemampuan dasar marta serta menguasai pengetahuan akademis agar mampu mengembangkan pribadi, sebagai kader pimpinan dilingkungan ABRI. Dengan surat Perintah Pangab No.: Sprin/07/VI/1984 tanggal 17 Juni 1984 tetang perintah serah Terima Pengalihan Akabri Bagian dari Danjen Akabri kepada Kas Angkatan/Kapolri, maka berarti pulalah bahwa Akabri Bagian Kepolisian kembali dibawah kendali kapolri. Dengan telah diserah terimakannya tugas dan wewenang kepada Akabri bagian, maka tugas Akabri hanyalah meliputi penyelenggaraan pendidikan Integratif, dukungan administrasi pendidikan, tataran tanggung jawab dan wewenang operasi pendidikan serta dukungan administrasi.

IMG_7374

IMG_7329
AKPOL MANDIRI

Integrasi Polri ke dalam ABRI sebenarnya telah mulai diletakan pada tanggal 1 Agustus 1947, yaitu dengan dimiliterisasikannya Kepolisian berdasarkan Penetapan Dewan Pertahanan No. 112/1947, namun hanya berjalan beberapa tahun.
Dengan terus bergulirnya arus reformasi yang menuntut terwujudnya tatanan yang demokratis, maka pada sidang intimewa MPR tahun 1998 telah membuahkan ketetapan-ketetapan yang salah satunya ketetapan No. X/MPR/1998 tentang pokok-pokok reformasi kehidupan nasional sebagai haluan negara, yang menginstruksikan kepada Presiden selaku Mandataris MPR yang antara lain untuk melaksanakan Agenda Reformasi dibidang hukum dalam bentuk “Pemisahan secara tugas, fungsi dan wewenang Aparatur penegak hukum agar dapat dicapai proporsionalitas, profesionalitas dan integritas yang utuh”. Atas dasar ketetapan MPR tersebut dikeluarkan Instruksi Presiden No.2 tanggal 8 Maret 1999 sebagai langkah-langkah kebijaksanaan dalam rangka pemisahan kepolisian Negara RI dari ABRI yang ditindak lanjuti dengan keputusan Menhankam/Pangab No: Kep/05/P/III/1999 tanggal 31 Maret 1999 tentang pelimpahan wewenang penyelenggaraan pembinaan Kepolisian Negara RI dari Pangab kepada Menhankam yang realisasinya dilaksanakan pada tanggal 1 April 1999.
Oleh karena Akpol secara teknis Administrasi dibawah kendali AKABRI, maka sebagai tindak lanjut atas Keputusan Pangab No. 05/P/III/1999 tersebut dikeluarkanlah Skep Kapolri No. Skep/ 389/IV/1999 tanggal 9 April 1999 tentang Akpol Mandiri, maka semenjak tanggal 10 April 1999 Akpol dinyatakan terpisah dari Akademi Militer, Akademi Angkatan laut, Akademi Angkatan Udara serta teknis Administrasi juga lepas dari Mako Akademi TNI (dulu Mako AKABRI).
Untuk pengadaan Taruna Akpol masukan T.A. 1999/2000 karena saat itu masih dalam masa peralihan dan program werving sudah terencana dalam program Mabes ABRI, maka pelaksanaannya masih dilaksanakan bersama dengan Akademi TNI lainnya. Mulai tahun Akademi 2000/2001 werving untuk taruna Akpol dilaksanakan penuh oleh Polri dengan pelaksanaan dimulai dari tingkat daerah oleh Polda-Polda dan tingkat pusat yang diketuai Aspers Kapolri dengan melibatkan Akpol sebagai lembaga yang mendidik.
Seiring dengan pemisahan TNI dengan Polri maka kurikulum pendidikan di Akpol serta Identitas Taruna Akpol diganti secara bertahap, yang diawali pada perubahan atribut terutama pada tanda pangkat, evolet, badge dan lain-lain seperti yang tersebut pada Skep Kapolri No.Pol. : Skep/ IV/1999 tanggal 9 April 1999 tentang penetapan berlakunya atribut dan Seragam taruna Akpol Mandiri.

NKP POLRI ITU MUDAH DAN MENYENANGKAN MENJADIKAN ANDA SEGAR DAN SEMANGAT

LAY OUT NKP POLRI , MULAI DARI TEKNIK PENULISAN , TIP DAN TRIKNYA

contoh  produk , silahkan di klik :

contoh NKP WASKAT

NKP Pam Pemilu

 

OODA

UPDATE 21 FEBRUARI 2014

NKP ATAU BENTUKTULISAN DINAS LAINNYA SEPERTI NASKAP, TELAAHAN STAF , PRODUKINTELIJEN SAMPAI KEPADA LAPORAN SATUAN , SENANTIASA AKAN TERBAGI KEDALAM PENDAHULUAN KEMUDIAN BATANG TUBUH DAN PENUTUP

UNTUK PENDAHULUAN SECARA UMUM BERISIKAN FAKTA-FAKTA SUATU PERISTIWA ATAU BISA JUGA SEBUAH KEJADIAN YANG MENAJDI LATAR BELAKANG INTI DARI PEMBAHASAN DALAM TULISAN SELANJUTNYA. PADA PENDAHULUAN JUGA DIMASUKKAN DATA –DATA YANG MENDUKUNG PERISTIWA YANG INGIN KITA BAHAS , MISALKAN BILAMANA AKAN MENGULAS TENTANG PENYIDIKAN TERHADAP PELANGGARAN DISIPLIN ANGGOTA POLRI DI SALAH SATU WILAYAH , MAKA AKAN LEBIH BAIK BILAMANA DISERTAKAN TREND ATAU PERKEMBANGAN PELANGGARAN DISIPLIN DIWAKTU SEBELUMNYA. SEBAGAI PENUTUP DI BAGIAN PENDAHULUAN ADALAH PENEGASN YANG BIASA DISEBUT RUMUSAN MASALAH, ATAU PERSOALAN , MAKSUDNYA AGAR TULISAN KITA INI JELAS RUANG LINGKUPNYA, SEBAGAI CONTOH BILAMANA MEMBAHAS TENTANG PELANGGARAN DISIPLIN TENTUNYA RUANG LINGKUP BAHASAN NANTINYA ADALAH : PELANGGARAN DISIPLIN, PELAKU PELANGGARAN DISIPLIN, PENEGAK HUKUM DISIPLIN, FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP TERJADINYA PENAGGARAN DISIPLIN DAN PENEGAKKAN DISIPLIN SERTA YANG PASTI LOKASI PENULISAN TIDAK AKAN KEMANA MANA, BILA MENGAMBIL LOKASI DI TINGKAT POLSEK ARTINYA YANG DIBAHAS YA TINGKAT POLSEK BUKAN PADA TINGKATPOLRES.

KEMUDIAN UNTUK BATANG TUBUH UMUMNYA BERISIKAN KONDISI SAAT INI , YANG MENCERITAKAN SEGALA ASPEK YANG TERKAIT LANGSUNG DENGAN PERMASALAHAN YANG DITULIS PADA PENDAHUUAN DIATAS , BILAMANA KITA HENDAK MENULIS TENTANG PELANGGARAN DISIPLIN ANGGOTA POLRI DI TINGKAT POLSEK ARTINYA KONDISI SAAT INI YANG DIBAHAS ADALAH DARI ASPEK JENIS PELANGGARANNYA, ASPEK HUKUMANNYA, ASPEK PELAKUNYA , ASPEK PENYISIKNYA , ASPEK KEBIJAKAN KAPOLSEK DAN ASPEK LEGAL LAINNYA YANG TERKAIT SECARA LANGSUNG TERHADAP PERISTIWA TADI.
SETELAH SELESAI MEMBAHAS KONDISI SAAT INI AKAN DILANJUTKAN DENGAN FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH , SECARA UMUM FAKTOR TERDIRI DARI FAKTOR KEBIJAKAN ATAU INSTRUMENTAL BAIK YANG SIFATNYA NASIONAL, REGIONAL MAUPUN ATURAN KHUSUS POLRI , CONTOHNYA DALAH PERKAP TENTANG HUKUMAN DISIPLIN , KUHP, KUHAP, DAN PERATURAN LAINNYA .

FAKTOR PENGARUH YANG KEDUA ADALAH LINGKUNGAN ATAU ENVIROMENTAL YANG BERSAL DARI INTERNAL POLRI ( POLSEK YANG DIMAKSUD) ATAU EKSTERNAL POLRI , YAKNI LINGKUNGAN MASYARAKAT.

TAHAP PENULISAN BERIKUTNYA ADALAH MEMBUAT YANG NAMANYA KONDISI IDEAL YANG DIHARAPKAN , CARANYA MUDAH SAJA , COBA LIHAT KEMBALI PADA TAHAP KONDISI SAAT INI.BILAMANA PADA KONDISI SAAT INI DITEMUKAN ADALAH …….. BELUM ADANYA ; TDAK BISA ; TIDAK OPTIMAL SUATU KEADAAN MAKA PADA KONDISIIDELA YANG DIHARAPKAN ADALAHA DENGAN ADANYA KONDISI :…. ADANYA , BISA, OPTIMAL SUATU KEADAAN.
SELESAI MENGIDENTIFIKASI KONDISI IDEAL SEBAGAI SUATU CITA-CITA TENTUNYA KITA DIMINTAKAN SOLUSI ATAU TEROBOSAN YANG HARUS DILAKUKAN AGAR KONDISI IDEAL ITU DAPAT DIWUJUDKAN , PADA TAHAPAN INI TULISAN SUDAH MENGARAH KEPADA UPAYA YANG DILAKUKAN.
TAHAPN MENULIS UPAYA YANG DILAKUKAN BERISIKAN ANALISA TERHADAP KONDISI SAAT INI, DENGAN FAKTOR YANG BERPENGARUH DITAMBAH KONSEP DAN TEORI YANG RELEVAN AGAR TERCIPTA KONDISI YANG IDEAL;
SECARA MUDAH DAPAT DIGAMBARKAN : KONDISI SAAT INI ( KUALITAS PENYIDIK PROPAM SANGAT RENDAH ) + FAKTOR YANG BERPENGARUH ( PERKAP TENTANG GAR DISIPLIN SUDAH ADA, ANGGOTA BELUM DIKJUR PROPAM, TIDAK PUNYA KOMPUTER ) + TEORI ATAU KONSEP YANG MENDUKUNG/ RELEVAN ( TEORI MANAJEMEN GEORGE R TERRY DAN KONSEP SWOT FREDY RANGKUTI ) = KONDISI IDEAL ( PENYIDIKAN GAR DISIPLIN OLEH AGT PROPAM BISA OPTIMAL, TRANSPARAN DAN AKUNTABEL )

TAHAPAN TERAKHIR ADALAH PENULISAN KESIMPULAN DAN SARAN SERTA REKOMENDASI
KESIMPULAN MERUPAKAN TAHAPAN YANG PALING SULIT , KARENA KESIMPULAN MERUPAKAN RANGKUMAN DARI : PERSOALAN + KONDISI SAAT INI+ FAKTOR YANG BERPENGARUH+ KONDISI IDEAL +UPAYA YANG DILAKUKAN MENJADI 1 PARAGRAF
KEMUDAIN SARAN HARUS DIBEDAKAN DENGAN REKOMENDASI , SEBAGAI CONTOH UNTUK SARAN LEBIH SIFATNYA KEPADA ORGANISASI SECARA INTERNAL YANG DIJADIKAN OBYEK TULISAN , CONTOH : KARENA TULISAN TENTANG GAR DISIPLIN AGT POLSEK X MAKA SARANYA DALAH KEPADA KAPOLSEK X SAJA SEDANGKAN REKOMENDASI ADALAH SARAN UNTUK PIHAK DILUAR / EKSTERNAL LOKASI TULISAN , SEPERTI KAPOLRES X MAUPUN KASI PROPAM POLRES X DAN MASYARAKAT DI WILKUM X

CATATAN: DALAM MEMULAI SUATU TULISAN USAHAKAN JANGAN MEMBUAT JUDUL TERLEBIH DAHULU, NAMUN TENTUKAN TEMANYA SAJA SERTA RUANG LINGKUP TULISAN NANTINYA, BILAMANA MENGEJAR JUDUL LENIH DAHULU SECARA TIDAK LANGSUNG TULISAN YANG DIBUAT MALAH TERJEBAK MUTER MUTER NGGAK KARUAN.

SEPERTI TEMA SIP SAAT INI “ DG SEMANGAT REFORMASI BIROKRASI POLRI, SETUKPA LEMDIKPOL MEMBENTUK FIRST LINE SUPERVISOR YG BERMORAL, PROFESIONAL, MODERN DAN UNGGUL SERTA MEMILIKI KARAKTER KEBHAYANGKARAAN DLM PELAKSANAAN TUGAS KEPOLISIAN GUNA MENSUKSESKAN PEMILU THN 2014”
YANG DILAKUKAN ADALAH MEMECAH DULU BAGIAN PERBAGIAN ATAU VARIABEL JUDUL DIATAS MENJADI :
1. SEMANGAT REFORMASI BIROKRASI POLRI
2. SETUKPA LEMDIKPOL MEMBENTUK FIRST LINE SUPERVISOR
3. BERMORAL, PROFESIONAL , MODERN DAN UNGGUL, KARAKTER BHAYANGKARA
4. TUGAS KEPOLISIAN
5. PEMILU 2014

DARI BREAK DOWN TERHADAP VARIABEL JUDUL DIATAS DAPAT KITA RANCANG KISI KISI / RUANG LINGKUP SEBAGAI BERIKUT :
1. SEMANGAT REFORMASI BIROKRASI POLRI :
DITERJEMAHKAN MENJADI KEINGINAN MASYARAKAT TERHADAP POLRI YANG BAGAIMANA :….. AMBILAH CONTOH TRANSPARANSI PENYIDIKAN

  1. SETUKPA LEMDIKPOL MEMBENTUK FIRST LINE SUPERVISOR
    DITERJEMAHKAN SEBAGAI PRODUK SETUKPA YAITU PERWIRA PERTAMA ( IPDA ) DENGAN JABATAN MULAI DARI PANIT, KANIT, DANTON, DSB OTOMATIS TANGGUNG JAWAB DAN OTORITASNYA SELEVEL DENGAN SEORANG PAMA TADI.
  2. BERMORAL, PROFESIONAL , MODERN DAN UNGGUL, KARAKTER BHAYANGKARA
    DITERJEMAHKAN SEBAGAI BENTUK PERILAKU YANG HARUS DITAMPILKAN SEORANG PAMA

  3. TUGAS KEPOLISIAN
    TUGAS KEPOLISIAN DILIHAT DARI STRUKTURNYA ADALAH PEMBINAAN KEKUATAN ATAU STAFF PEMBANTU PIMPINAN DAN UNSUR PELAKSANA UTAMA

  4. PEMILU 2014
    ADALAH OUTPUT DARI MOMEN KEGIATAN KITA

BERIKUT INI AKAN SAYA COBA SAMPAIKAN BEBERAPA RUMUSAN JUDUL
1. UPAYA KANIT PROPAM MENINGKATKAN KUALITAS PENYIDIKAN TERHADAP PELANGGARAN DISIPLIN ANGGOTA POLSEK X GUNA MENJAMIN AKUNTABILITAS POLRI DALAM PENYELENGGARAAN PEMILU 2014
2. UPAYA DANTON BRIMOB MENINGKATKAN KEMAMPUAN SAR MENGANTISIPASI BENCANA ALAM SECARA PROFESIONAL SELAMA PENYELENGGARAAN PEMILU 2014
3. PENGEMBANGAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI PERSUASIVE BAGI PENYIDIK LAKA LANTAS TERHADAP KETERIBATAN ANAK SEBAGAI PELAKU LAKA LANTAS SELAMA PEMILU 2014.
4. PENINGKATAN KESIAPAN PERSONIL SIE REN MELALUI ACARA JAM PIMPINAN GUNA EFEKTIFITAS DUKUNGAN ANGGARAN OPERASI DALAM PEMILU 2014

DEMIKIAN TULISAN SINGKAT INI SEMOGA BISA MEMBANTU

BERIKUT ADALAH CONTOH PAPARAN NKP YANG BISA DIJADIKAN REFERENSI SEKALIGUS ILHAM UNTUK MENULIS Lanjutkan membaca “NKP POLRI ITU MUDAH DAN MENYENANGKAN MENJADIKAN ANDA SEGAR DAN SEMANGAT”

CORETAN KASAR

PERUBAHAN YANG HARUS DIMULAI…..

by KURNIA ” ASENG” HADI

Pantas kah kita mengeluh…? Padahal kita dikaruniai kedua tangan yang kuat untuk mengubah dunia. Layakkah kita berkesah sedangkan kita karuniai akal dan pikiran serta kecerdasan yang memungkinkan kita untuk membenahi segala sesuatu dan permasalahan yang ada. Apakah kita akan menyianyiakan segala yang ada atas karunia Allah swt tersebut…? Hingga akhirnya kita menyi-nyiakan semua tanggung jawab yang ada di pundak kita… Jangan biarkan apa yang menjadi kekuatan terbesar kita akan terjungkal dan hanyut akan keluh kesah diri kita. Mari kita teggakn hati dan bahu, jangan biarkan semangat hilang hanya karena tidak tahun apa yang menjadi jawaban dari segala persoalan dan permasalahan yang kita hadapi.
Jangan pernah membiarkan kelemahan menghujamkan kelemahan kita, sesungguhnya ada orang-orang yang lebih berhak mengeluh daripada kita. Yaitu orang-orang yang memang tercipta dirinya sebagai pecundang, orang-orang yang bodoh karena keterbatasan ilmu pengetahuan dan orang-orang yang sama sekali lemah keimanan dan ketaqwaannya karena dasar akidah yang lemah, dan banyak lagi. Rekan-rekan insane Kepolisian adalah sosok insane yang terbaik dari insan lainnya, hal tersebut dibuktikan dari awal proses perekrutan masuk instutisi kepolisian yang sulit dengan berbagai persayaratan yang tidak sembarang orang mampu melaluinya seperti halnya tes masuk Bintara kepolisian, seleksi AKPOL, seleksi PPSS, dan lainnya. Berbagai ilmu pengetahuan dan keteramp[ilan yang sudah kita kenyam mulai kita menjadi anggota kepolisian, berbagai pengalaman yang sangat berharga dari perjalanan karier dan masa kedinasan yang sudah kita alami bersama, berbagai kebijakan politik dan pandangan kultur dari masyarakat Indonesia mulai dari Orde Lama hingga pada orde Reformasi ssaat ini sudah kita lalui. Apakah kita selalu saja larut dengan berbagai keluh kesah kita berkaitan dengan kesenjangan, kesederhanaan, kebutuhan dan semua aspek pribadi yang tujuannya untuk memenuhi kebutuhan hidup kita semata. Kesemuanya hal tersebut memang benar sangat penting dalam melanjutkan roda kehidupan, tetapi yang teramat penting ialah bagaimana rasa tanggung jawab kita untuk mempertahankan eksistensi, semangat dan tujuan organisasi Polri yang kian hari kian meningkat tanggung jawab terhadap bangsa, Negara dan masyarakat pada umumnya.
Dalam hal ini, saya akan memberikan sebuah ilusi dan gambaran tentang kegiatan penyidik yang dilakukan oleh Kepolisian Italy, yaitu bahwa seorang penyidik melakukan serangkaian kegiatan penyidikan secara profesional dan proporsional. Aspek profesionalisme mereka adalah mereka dalam melakukan serangkaian kegiatan penyidikan dilakukakan secara maksimal, artinya bahwa mereka mengumpulkan saksi, bukti, korban dan semua hal yang berkaitan dengan kejahatan sampai pada akarnya. Setelah mereka meyakinkan bahwa benar telah terjadi kejahatan, maka mereka melakukan penangkapan menggunakan unit yang khusus. Dalam hal penangkapan seorang tersangka, mereka menggunakan Satuan Carabinieri. Ini biasanya dilakukan jika menghadapi kejahatan-kejahatan yang sifatnya “street crime” atau “kejahatan jalanan”.
Bagian penyidikan di Italy terbagi atas dua hal, yaitu kejahatan biasa dengan luar biasa. Carabinieri biasanya melakukan penangkapan terhadap kejahatan-kejahatan yang berkaitan fisik atau bersekala besar. Sedangkan kesatuan khusus terhadap kejahatan khusus ada penyidik khusus pula yang menangani. Contoh kasus yang selama pendidikan di CoESPU terjadi adalah penangkapan kelompok mafia dan kelompok yang anti ras di Italy. Prosedur kerja semacam itu relevan dilakukan di Polri, karena Polri memiliki Satuan Brimob yang spesifik tugasnya untuk menghadapi kejahatan beritensitas atau berkharakteristik tinggi. Penyidik di Italy tidak melakukan penangkapan sendiri, mereka juga menggunakan pakaian “preman” sehingga untuk menghindari kesalahan prosedur dalam hal melakukan penangkapan dapat dieliminir semaksimal mungkin.
Memang dalam hal melakukan penangkapan adalah suatu hal yang substantif bagi proses penyidikan, tetapi hal tersebut juga sangat “riskan”. Dalam KUHAP di Indonesia hal yang bisa diajukan pra peradilan adalah aspek salah prosedur dalam penangkapan, penahanan dan penghentian penyidikan. Semua jenis kejahatan jalanan atau yang beritensitas tinggi penangkapannya diserahkan kepada Satuan Carabinieri. Jadi, seorang penyidik tidak perlu bersusah payah melakukan penangkapan. Memang, dalam penangkapan seorang tersangka penyidik tidak serta merta melepas tanggung jawab sepenuhnya kepada Satuan Carabinieri semata tetapi tetap mendampingi proses penangkapan tersebut. Hal tersebut dimaksudkan agar tepat sasaran dan segala macam administrasi penyidikan sudah lengkap. Yang paling unik dari proses penyidikan adalah mereka para penyidik biasa mengeluarkan Surat Penghentian Penyidikan dengan alasan belum cukup bukti atau masih dalam tidak terbukti suatu kejahatan, walaupun sudah dilakukan penangkapan termasuk dengan menggunakan Satuaan Carabinieri. Budaya seperti ini yang masih sangat jarang dilakukan di Indonesia.
Dengan kondisi seperti hal tersebut kita akan tetap larut…? Dalam undan-undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia pasal 18 tentang kewenangan “diskresi” kepolisian yang kita miliki apakah kita tidak mampu berbuat suatu perubahan yang nantinya perubahan tersebut dirasakan manfaatnya oleh bangsa, Negara dan masyarakat Indonesia. Permasalahan yang ada adalah, kekurang mampuan diri kita atau dasar ketidakmauan diri kita untuk melakukan suatu perubahan positif? Allah swt berfirman dalam wahyu pertama-Nya yang diturunkan oleh kepada Nabi Besar Muhammad saw yang mana berbunyi: “ IQRA’ “ yang artinya bacalah. Apapun kondisinya dan apa yang kita hadapi saat ini entah itu masalah kedinasan dan pribadi kita hendaknya kita memberdayakan akal yang telah dikaruniai oleh kita untuk mengatasi semua permasalahan yang ada.
Sayyidina Ummar Bin Khatab menyampaikan: “Sampaikan kebenaran tersebut walaupun harus kita berhadapan dengan mata pedang”, artinya apapun yang namanya kebenaran hakiki hendaknya harus diutarakan dengan apapu segala konsekuensinya. Jangan menjadi sosok manusia yang kerdin, suka menjilat asala bapak senang, tidak punya prinsip dan hanyut akan arus roda kehidupan yang ada. Kita harus mandiri, Polri adalah insitutsi yang mandiri. Konsekuensinya berisikan akan orang-orang yang independen, tidak takut kepada penguasa, asa kepentingan dan sebagainya. Dan yang lebih utama lagi adalah jangan mudah menyerah dengan kondisi yang ada.
Gaung program pemerintah tentang “quick wins” sudah ditabuh, pimpinan Polri sudah menggelontorkan berbagai program guna menunjang hal seperti itu, mulai dari perekrutan, proses penyidikan, penanganan pelayanan bagi masyarakat dan banyak lagi. Kenapa kita tidak mendukungnya….? Jika kita hanya larut dengan permasalahan “remunerasi” maka kita termasuk golongan yang picik seperti telah diutarakan di atas awal tulisan ini. Mantan Presiden Amerika Jhon F Kennedy mengutarakan “jangan kau Tanya apa yang Negara berikan kepadamu, tetapi tanyalah apa yang telah engkau berikan kepada Negara mu”. Bung Karno menyampaikan “revolusi butuh pengorbanan”, tinggal kita memposisikan saat ini dengan mengambil hikmah bahwa inilah suatu wujud dari revolusi yang mana merupakan revolusi kultur dan social.
Rekan-rekan sekalian, hendaknya kita sadar sepenuhnya bahwa apa yang sedang kita miliki, kita nikmati dan kita rasakan saat ini adalah merupakan suatu amanah dari Allah swt, bangsa dan Negara serta masyarakat Indonesia. Janganlah kita mempunyai suatu pemikiran bahwa hal tersebut merupakan jerih payah diri kita semata, ingat bahwa kita adalah mahluk social yang mana kita tidak bias hidup akan keberadaan orang lain. Seorang pemimpin tidak akan disebut sebagai seorang pemimpin jika tidak ada orang yang dipimpinnya, seorang ahli tidak akan dianggap sedemikian jika tidak ada yang membandingkan dan merasakan sejauhmana keahliannya, seorang penyidik tidak akan menjadi seorang penyidik yang handal jika tidak mampu mengungkap sejauh mana tindak pidana yang terjadi, banyak hal lain yang mengisyaratkan bahwa kita tidak bias hidup sendiri..
Dengan hikmah Hari Bhayangkara kali ini hendaknya kita dapat me-refresh kembali apa yang sudah kita lakukan, kita kerjakan dan sejauh mana manfaatnya dirasakan oleh masyarakat Indonesia atau setidaknya bagi keluarga pribadi kita sendiri. Dimanapun kita bertugas, di bagian apapun kita berfungsi dan pada posisi serta jabatan apapun kita hendaknya mengkedepankan sikap amanah dan bertanggung jawab kepada bangsa, Negara, masyarakat, yang terutama adalah kepada keluarga dan diri sendiri. Kita dukung semangat “QUICK WINS” yang sudah dicanangkan oleh pemerintah merupakan suatu wujud profesionalisme Polri kepada masyarakat, jangan menganggap hal tersebut sebagai beban karena memang yang perlu kita lakukan untuk menarik simpati dari masyarakat.
Pesan saya sebagai penuh, hendaknya sesuatu hal dilakukan dengan penuh rasa jujur. Orang yang jujur adalah orang yang disiplin akan banyak hal, jika orang tersebut sudah disiplin sudah dipastikan orang tersebut akan memiliki rasa loyalitas yang tinggi. Konsekuensi dari wujud loyalitas tersebut adalah sikap integritas yang tinggi, jika hal tersebut sudah diraihnya maka ia akan mendapatkan kepercayaan dari orang maupun pihak lain. Jika sudah dipercaya oleh pihak lain maka dia akan mendapatkan keuntungan dari apa yang telah dia kerjakan, dan keuntungan tersebut adalah suatu nilai keberkahan dari semua jerih payah yang dilakukannya. Tidak itu saja, dia akan selalu dipakai oleh pihak lain karena memang mereka percaya kepada apa yang telah kita lakukan. Mari kita maknai Hari Bhayangkari dengan memulai suatu perubahan kearah yang positif dari sekarang, tidak terbatas dari satuan dan fungsi tempat kita berdinas saat ini tetapi diri sendiri dan keluarga lebih khusus lagi.
Salam Bhayangkara…..