UNMISS DAN KONDISI REPUBLIK SUDAN SELATAN SAAT INI

UNMISS DAN KONDISI REPUBLIK SUDAN SELATAN SAAT INI

DSC00595

DSC00027

DSC00035
20141030_144004

20140923_091941

20141010_173115
UNMISS berdiri berdasarkan rekomendasi Sekretaris Jenderal melalui resolusi Dewan Keamanan nomer 1996 (2011) tertanggal 8 Juli 2011 yang  menetapkan berdirinya Misi PBB di Sudan Selatan (UNMISS) untuk periode satu tahun, pertanggal 9 Juli 2011, dengan tujuan untuk memperbaharui  Mandat Misi PBB di Sudan (UNMIS) sebelumnya yang berakhir pada tanggal yang sama.

20150529_093458

Tujuan UNMISS adalah untuk mengkonsolidasikan perdamaian dan keamanan, dan membantu menciptakan  kondisi yang sesuai untuk  pembangunan di Republik Sudan Selatan, sekaligus untuk memperkuat kapasitas Pemerintah Sudan Selatan agar dapat memerintah secara efektif dan demokratis termasuk menjalin hubungan baik dengan tetangga-tetangganya.

4

images (9)

Napak tilas sejarah berdirinya republik Sudan Selatan dimulai dari adanya  Comprehensive Peace Agreement  tahun 2005 yang berlanjut dengan adanya referendum dan kemerdekaan Sudan Selatan itu sendiri. Pada  tanggal 9 Juli 2011, Sudan Selatan berhasil menjadi negara terbaru di dunia. Kelahiran Republik Sudan Selatan merupakan puncak dari proses perdamaian enam tahun yang dimulai dengan penandatanganan Perjanjian Perdamaian Komprehensif (CPA) pada tanggal 9 Januari 2005 antara Pemerintah Sudan  ( Khortum ) dan Gerakan Pembebasan Rakyat Sudan (SPLM), guna mengakhiri lebih dari 20 tahun masa perang.

IMG_0662

Misi PBB di Sudan (UNMIS) mendukung pelaksanaan CPA selama periode interim yang dibentuk oleh Pemerintah Sudan dan SPLM ketika CPA ditandatangani, termasuk menyerukan referendum untuk menentukan status Sudan Selatan. Referendum diadakan pada bulan Januari 2011, hampir 98,83% pemilih memberikan  suara untuk kemerdekaan. Sekretaris Jenderal PBB menyambut pengumuman hasil akhir referendum dan menyatakan sebagai cerminan kehendak rakyat Sudan Selatan.

DSC00852

Setelah akhir periode peralihan kekuasaan dan dilanjutkan dengan kemerdekaan Sudan Selatan pada Juli 2011, Dewan Keamanan akhirnya membentuk misi baru, yakni Misi PBB di Sudan Selatan (UNMISS) dengan mengadopsi resolusi Dewan Keamanan PBB nomer : 1996 (2011) tertanggal 8 Juli 2011 .

20150124_150957

Pada  tanggal 15 Desember 2013, kekerasan kembali pecah di Juba , ibukota Sudan Selatan dan dengan cepat menyebar ke lokasi lain di negara itu yang mengakibatkan krisis politik dan mengancam kondisi keamanan nasional, dampak konflik paling parah dirasakan didaerah  seperti : Central Equatoria, Jonglei, Lakes, Unity dan Upper Nile.

20141103_151043

Konflik juga berakibat adanya ketegangan hubungan antara Pemerintah dan UNMISS, terjadi peningkatan sentimen anti-PBB yang berasal dari salah persepsi tentang peran Misi selama krisis. Tuduhan yang tidak mendasar bagi UNMISS memihak salah satu pihak serta kecurigaan bahwa Misi PBB telah membantu dan bersekongkol dengan pasukan anti-pemerintah.

IMG-20141212-WA0028

Pernyataan publik yang bermusuhan justru dibuat oleh pejabat senior Pemerintah, akibatnya akses UNMISS untuk bergerak bebas akhirnya terhambat. Demonstrasi mengecam PBB terjadi beberapa kali di Ibukota termasuk di beberapa kota seperti Rumbek (Lakes State) dan Aweil (Bah el Ghazal North State).

DSC00032

Krisis senantiasa memiliki konsekuensi negatif terhadap hak asasi manusia di berbagai negara, terutama di daerah yang mengalami  konfrontasi militer besar seperti di ibukota nasional dan di Jonglei, Upper Nile danUnity States). UNMISS memperkirakan ribuan orang tewas selama pertempuran pada awal-awal masa krisis. Kedua pihak dalam konflik bertanggung jawab atas serangan etnis yang menargetkan warga sipil dimana kedua belah pihak, gagal mematuhi hukum kemanusiaan dan hak asasi manusia.

DSC00698

Dalam empat minggu pertama krisis, hampir 500.000 orang telah mengungsi di Sudan Selatan dan selebihnya sekitar 74.300 orang telah menyeberang ke negara tetangga.  Angka ini terus meningkat, total pada akhir Februari 2014 telah mencapai 900.000 orang, termasuk di antaranya 167.000 orang telah menyeberang ke negara tetangga. Jumlah warga sipil terdampak konflik  yang berkategori rawan pangan meningkat menjadi 1.100.000-3.200.000 orang, sekitar 500.000 pengungsi lainnya juga membutuhkan bantuan pangan, berarti bahwa krisis ini telah berdampak terhadap kelangsungan hidup 3,7 juta rakyat Sudan Selatan.

Ketika pertempuran meletus di Juba dan tersebar di seluruh wilayah Greater Upper Nile, puluhan ribu warga sipil melarikan diri dari daerah di mana sejumlah besar pembunuhan yang terjadi, termasuk untuk melarikan diri serangan yang ditargetkan terhadap komunitas tertentu, gelombang pengungsian  mengarah ke lokasi-lokasi  UNMISS  Compound di Juba, Bor , Akobo, Bentiu, Malakal dan Melut untuk mencari perlindungan.

UNMISS akhirnya membuka gerbang untuk pengungsi dan memerintahkan  para anggota Military Engineers untuk bekerja sama dengan Lembaga kemanusiaan, membangun fasilitas didalam kawasan UNMISS Compound untuk perlindungan warga sipil, Sejak itu, sebanyak 85.000 warga sipil telah mencari perlindungan di Delapan UNMISS Compound di seluruh negeri.

DSC00907

Gelombang warga sipil yang menjadikan Compound PBB sebagai kawasan perlindungan darurat seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya di Sudan Selatan, UNMISS berupaya untuk menjamin keamanan yang memadai dan perlindungan kepada mitra lembaga kemanusiaan agar dapat untuk memberikan bantuan yang layak kepada pengungsi.

20141110_183638

IMG_0552

DSC00015

Dalam rangka menguatkan kapasitas  UNMISS untuk mengatasi krisis, Dewan Keamanan melalui resolusi 2132 (2013) tertanggal 24 Desember yang disetujui lewat rekomendasi Sekretaris Jenderal memutuskan untuk segera meningkatkan  jumlah kekuatan Militer dan Polisi pada UNMISS.

20141029_082106

Kekuataan pasukan militer UNMISS dinaikkan menjadi 12.500 personil dan menjadikan komponen polisi menjadi 1.323 personel, termasuk didalamnya pasukan Formed Police Units, melalui pemindahan antar misi sementara dari beberapa Misi operasi pemeliharaan perdamaian PBB lainnya sekitar UNMISS melalui kerjasama antar-misi / Inter Mission Cooperation, kerjasama antar-misi memainkan peran penting dalam meningkatkan kapasitas suatu Misi untuk menyelamatkan nyawa dan melindungi warga sipil dari bahaya lebih lanjut.

20141210_112559

Keinginan  Sekretaris Jenderal PBB melihat perkembangan terakhir di Sudan Selatan adalah  agar UNMISS untuk sementara harus memprioritaskan pada perlindungan warga sipil, hak asasi manusia yang berkontribusi terhadap penciptaan kondisi keamanan yang kondusif dalam rangka pengiriman bantuan kemanusiaan, seperti yang ditetapkan dalam wilayah kewenangannya, selain itu ketidakberpihakan Misi terhadap pihak-pihak bertikai akan berdampak positif selama konflik berlangsung.

Pada tanggal 27 Mei 2014, Dewan Keamanan PBB, dengan suara bulat mengadopsi resolusi 2155 (2014) yang memberikan amanat kepada UNMISS untuk : memberikan perlindungan warga sipil, monitoring hak asasi manusia dan dukungan untuk pengiriman bantuan kemanusiaan, dan meningkatkan kekuatan pasukan Misi untuk 12.500 dan komponen polisi untuk sampai 1.323 personel.

IMG-20150628-WA0001

Berdasarkan resolusi  nomer 2155 (2014) inilah Mabes Polri kemudian merespon permintaan UNDPKO untuk mengirimkan 16 personel Polri yang  sebelumnya telah lulus UNSAT dan dinyatakan layak mengikuti penugasan selaku IPO pada misi UNMISS.

IMG_0608

Saat ini  telah diberlakukan Mandat  terbaru berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB nomer 2223 ( 2015) tertanggal 28 Mei tahun 2015 yang memberikan tugas kepada UNMISS untuk melakukan :  Protection of Civilian, Monitoring and investigating human rights, Creating the conditions conducive to the delivery of humanitarian assistance, dan Supporting the Implementation of the Cessation of Hostilities Agreement,  dimana fokus utama kegiatan Individual Police Offices (IPOs) sendiri adalah kepada Protection of Civilian  ( POC ) terutama di penampungan Internal Displaced People / IDP.

Protection of Civilian dilaksanakan untuk melindungi warga sipil di bawah ancaman kekerasan fisik, dengan perlindungan khusus bagi perempuan dan anak-anak, patroli aktif dengan perhatian khusus ditujukan pada warga sipil pengungsi, dalam pelaksaan Protection of Civilian, IPO bekerjasama dengan Formed Police Unit (FPU) yang kemudian disebut UN Police (UNPOL).

IMG-20150604-WA0001

Kondisi Kamtibmas di Republik Sudan Selatan saat ini ternyata tetap masih bergejolak, secara teoritis kawasan POC merupakan kawasan steril dari konflik senjata, tidak seorangpun diijinkan masuk apabila berstatus kombatan apalagi bersenjata, tujuannya adalah agar setiap IDP yang berada didalamnya akan terjamin keamanan dan keselamatan mereka selama konflik berlangsung, hal ini tidak lepas  dari sikap sempalan faksi yang bertikai di Sudan Selatan dipimpin para warlords yang memperoleh dukungan dari komunitas–komunitas suku, antara Suku Dinka melawan Suku Shilluk atau dengan Suku Nuer dan suku-lainnya.

Umumnya masalah pemicu adalah bentrok adalah : curi mencuri ternak sapi, rekruitmen tentara child soldier, melarikan perempuan, mabuk miras dan berkelahi, seperti yang terjadi pada tanggal 27 Juni 2015 pukul 18.00 EAT dilaporkan terjadi pertempuran antara pasukan pemerintah (SPLA) dengan pasukan oposisi (SPLA IO) yang berafiliasi dengan milisi Shiluk, di dua tempat berbeda yaitu di kota Malakal dan daerah sekitar area airport. Pertempuran yang terjadi berjarak sekitar 3 km dengan menggunakan berbagai jenis senjata ringan, berat, mortar hingga peluncur roket.

Pertempuran berlangsung hingga malam hari dan puncaknya pada pukul 22.00 EAT, pertempuran semakin sengit dan mendekat hingga jarak sekitar 200 m dari Alfa gate UN Compound di Malakal.

IMG_0578

Kontak tembak antar faksi didekat UN Compound Malakal yang berujung dengan jatuhnya kota Malakal ketangan SPLA IO tentunya menjadi pertimbangan sendiri bagi UNMISS, ditambah tanpa adanya jaminan kepatuhan antar faksi terhadap mandate UNMISS, maka UNMISS sempat mengeluarkan perintah evakuasi sekaligus relokasi  personil UNPOL dari Malakal menuju lokasi yang lebih kondusif.

20141029_082301

Selama hampir 2 minggu semenjak kota Malakal jatuh ketangan SPLA IO , tidak ada penerbangan milik sipil maupun PBB yang bisa melintas antara Malakal-Juba atau Malakal–Bentiu, trauma atas tertembaknya helicopter milik PBB beberapa waktu lalu oleh salah satu pihak yang bertikai.DSC01008

Data kekuatan komponen UNMISS per Juni 2015 adalah : kekuatan awal UNMISS yang disetujui negara Sudan Selatan meliputi hingga 7.000 personil militer, 900 personil polisi dan sejumlah Komponen sipil yang sesuai, kemudian sesuai dengan dengan perubahan mandate 2155 (2014) terdapat penambahan jumlah yang signifikan hingga 12.500 personil militer, 1323 personil polisi sipil (termasukFPU ) dan sejumlah Komponen sipil yang sesuai.

20141029_10483120141029_104659

Kekuatan personel UNMISS saat ini sesuai data tanggal (30 Juni 2015) dengan wewenang otorisasi sampai tanggal 30 November 2015 berdasarkan  Resolusi Dewan Keamanan PBB nomer 2223 (2015) tanggal 28 Mei 2015 adalah sebagai berikut :  terdapat 12.523 total personil berseragam: 11.350 komponen pasukan Militer; 179 perwira penghubung militer ; 994 Polisi (termasuk FPU), 769 personil sipil internasional, 1.204 staf sipil lokal  dan 409 Relawan PBB.

20150604_201219

Negara kontributor pada UNMISS dari komponen personil militer adalah: Australia, Bangladesh, Benin, Bhutan, Bolivia, Brasil, Kamboja, Kanada, China, Denmark, Mesir, El Salvador, Ethiopia, Fiji, Jerman, Ghana, Guatemala, Guinea, India, Indonesia , Jepang, Yordania, Kenya, Kirgistan, Mongolia, Namibia, Nepal, Belanda, Selandia Baru, Nigeria, Norwegia, Paraguay, Peru, Polandia, Republik Korea, Rumania, Rusia, Rwanda, Senegal, Sri Lanka, Swedia, Swiss, Timor-Leste, Togo, Uganda, Ukraina, Inggris, Republik Tanzania, Amerika Serikat, Vietnam, Yaman, Zambia dan Zimbabwe.

Komponen Polisi meliputi : Albania, Argentina, Bangladesh, Bosnia dan Herzegovina, Brazil, China, Ethiopia, Fiji, Jerman, Ghana, India, Indonesia, Kenya, Kyrgyzstan, Namibia, Nepal, Belanda, Nigeria, Norwegia, Rumania, Rusia, Rwanda , Samoa, Senegal, Sierra Leone, Afrika Selatan, Sri Lanka, Swedia, Swiss, Turki, Uganda, Ukraina, Inggris, Amerika Serikat, Zimbabwe.

Korban personil UNMISS semenjak  misi berlangsung adalah: 17 orang militer; 1 orang polisi; 5 komponen sipil internasional; 6 warga sipil lokal; 7 lainnya.

makna konfrensi Asia Afrika dan Mangga Soekarno di Sudan

Soekarno’s Manggoes

Pasca Konfresi Asia Afrika di tahun 1955 adalah adanya kesadaran bangsa –bangsa di dunia khususnya asia dan afrika akan kemerdekaan dan persamaan derajat antar bangsa d dunia, peran Sekarno sedemikian gemilang sehingga tidak heran nama Soekarno dan Indonesia menjadi perhatian sendiri di benua Hitam Afrika yang kini semakin menggeliat untuk bangkit, termasuk sejarah panjang berdirinya Negara Sudan pada 1 Januari 1956 setahun setelah KAA , walaupun diiringi konflik internal yang berdarah darah .
Bukti hubungan adanya kedekatan Indonesia dan Sudan terlihat semenjak kedatanagan ulama besar Sudan “ Syekh Ahmed Surkati “ di tahun 1911 yang mendirikan Yayasan Al Irsyad di Indonesia , termasuk dukungan Indonesia dengan perlakuan khusus membangkitkan nasionalisme Sudan lewat “ meja khusus “ Sudan yang bahkan belum merdeka termasuk pemberian bendera Putih Polos sebagai representasi identitas Sudan ( bendera putih polos tersebut masih dapat dilihat di Museum Asia Afrika di Bandung ).Tidak heran terdapat nama Mangga Soekarno yang menjadi unggulan di Sudan , diyakini ditasbihkan ke varietas Mangga manis yang konon bibitnya diberikan langsung oleh presiden pertama Indonesia.

~0532644

~2830375

~5354012

IMG_0554

IMG_0557

IMG_0562

Bangsa-bangsa Afrika yang kini mulai menggeliat , ternyata masih menyimpan konflik –konflik akibat pertikaian antar dan internal Negara, masalah kemanusiaan menjadi perhatian utama dunia khususnya PBB, hal ini tidak lepas dari nilai strategis Bangsa –bangsa Afrika yang memiliki cadangan Minyak bumi yang sangat besar termasuk kekayaan alam berupa mineral lainnya.
Hubungan emosional yang terjalin antara beberpa Negara di Afrika khususnya Sudan dengan Indonesia sesungguhnya merupakan kekuatan tersendiri bagi bangsa Indonesia dalam konteks bargaining power di dunia Internasional, tinggal bagaimana kepemimpinan baru di Indonesia mulai secara intensif merubah kiblat pasar dan harapan kepada Afrika, ketika pasar eropa dan Amerika menjadi sedemikan keras memberikan perlakukan terhadap produk-produk Indoensia.

DSC01403

DSC04303

DSCN1885

DSCN2143

IMG_3177

SAM_0787

Benua Hitam yang menjajikan sebagai the promise land bagi pasar produk-produk barang , jasa dan tenaga ahli Indonesia hanya akan terwujud bilamana terdapat kemudahan birokrasi hubungan dagang antara Negara , termasuk dengan menambah frekuensi misi-misi ekonomi, perdaganan, pendidikan, demokrasi, pertahanan dan keamanan.

Active_Armed_Movement_February_2013_A0
south_sudan_map[1]

UNMISS Mandate_Page_1

UNMISS Mandate_Page_2

UNMISS Mandate_Page_3

UNMISS Mandate_Page_4

UNMISS Mandate_Page_5

When Diamond aren’t Forever, kaitan perdagangan Berlian Berdarah dengan tragedi kemanusiaan, terorisme dan keuntungan Broker senjata

Blood Diamond shows shifting alliances among the company seeking diamonds, rebel, seeking guns, mercenaries seeking money and innocent civilians caught in the middle. Explain how this can be considered a transnational criminal enterprise and conspiracy?
Dalam sebuah ilustrasi yang digambarkan dalam film Blood diamond terdapat sebuah pengetahuan baru, bahwa merupakan mata uang baru yang berlaku secara universal, mampu menjembatani perbedaan mata uang dan nilai jual yang dimiliki negara-negara di Dunia , perdagangan senjata secara illegal antara pedagang senjata gelap dengan pihak pemberontak RUF dilakukan dengan barter hasil tambang alam yang dilakukan oleh sekelompok pekerja kasar yang nota bene merupakan korban kekejaman pemberontak dengan memaksa penduduk setempat sebagai budak di era modern, kemudian juga menjadi mata uang baru yang menjembatani kepentingan korporasi perhiasan dunia akan kebutuhan mentah sebagai bahan baku utama perhiasan yang digunakan sebagai simbol kemakmuran.
Barter sebagai metode perdagangan primitif justru berkembang pesat ketika sebagi simbol kemakmuran bertemu dengan kepentingan penguasaan dan perbudakan modern oleh Pemberontak, alur perjalanan yang ditambang secara tradisional jauh dipedalaman wilayah konflik di jantung benua Afrika berjalan melalui jalur penyelundup keluar wilayah Afrika lewat tangan pedagang senjata maupun komoditas lain sampai akhirnya jatuh ketangan pedagang perhiasan di Eropa dan Amerika.
Apakah perdagangan dari jatung Afrika adalah merupakan sebuah bentuk kejahatan Transnational ? bila melihat perdagangan sebagai sebuah kegiatan pertukaran komoditas yang bernilai tinggi di pasaran internasional adalah hal biasa dalam konsep perdagangan, bahwa terdapat permintaan dan adanya suatu persediaan , tinggal bagaimana proses pembayaran dan sejumlah uang harus dipertukarkan, namun dalam kasus perdagangan seperti yang ditampilkan dalam film Blood Diamond terdapat beberapa hal yang perlu dikaji lebih dalam.
Pada tahun 2000 dilaksanakan the United Nation Convention against Transnational Organized Crime di Palermo. Konvensi ini dikenal dengan nama Konvensi Palermo. Konvensi ini menghasilkan 3 protokol: 1.Protokol untuk mencegah, menindak, dan menghukum perdagangan manusia, khususnya wanita dan anak. 2. Protokol melawan penyelundupan migran melalui darat, laut, dan udara.3. Protokol melawan perakitan dan perdagangan secara illegal senjata api, komponen dan amunisi.
Dengan melihat rumusan protokol ketiga dalam konvensi Palermo mulai terlihat bahwa selama ini yang didatangkan dari Benua Afrika memiliki peluang merupakan bagian dari hasil kegiatan perdagangan senjata illegal, hal ini terlihat dari perolehan merupakan bagian dari perdagangansenjata Illegal yang dilakukan oleh pedagang gelap senjata api kepada pemberontak RUF di afrika.
Seperti diketahui konflik di Afrika telah menyebabkan terjadi pengunsian besar besaran akibat pengusiran, perbudakkan, pembunuhan massal bahkan genosida terhadap kelompok masyarakat tertentu di benua Afrika, dimana semua itu dibiayai dan dibesarkan oleh perdagangan Berdarah dan Senjata illegal.
Masih menurut article 3 Konvensi Palermo, sebuah kejahatan disebut ‘transnational’ jika memenuhi salah satu atau lebih syarat berupa: Bila dilakukan di lebih dari satu Negara, Dilakukan di satu Negara tetapi bagian penting dari persiapan, perencanaan, pengendalian dan kontrol dilaksanakan di Negara lainnya.Dilakukan di satu Negara tetapi melibatkan organisasi kejahatan yang terkait dengan aktifitas kejahatan di lebih dari satu Negara,Dilakukan di satu Negara tetapi memiliki dampak penting di Negara lain.
Dengan merujuk kepada artikel ke 3 Konvensi Palermo dengan sangat jelas perdangan Berdarah apalagi dengan pelibatan aktor aktor kejahatan yang memperdagangkan senjata secara illegal adalah mutlak kegiatan perdagangan berdarah adalah suatu tindak kejahatan Transnasional, hal ini dapat dilihat pada analisa :
1. Dilakukan lebih dari satu negara :bahwa kegiatan perdagangan berdarah dimulai dari proses penambangan di Siera leone, Angola, Cote D Ivory, dan Repulik Democratic Congo diselundupkan ke beberapa negara tetangga yang relatif mudah dijangkau oleh pedagang Senjata gelap untuk kemudian dilakukan suatu barter.penyelundupan yang berharga Jutaan Dolar ini sangat memberikan suntikan dana segar bagi kelompok pemberontak maupun aparat pemerintah yang korup untuk terus menghidupkan perdagangan berdarah antar negara.
2. Dilakukan dalam suatu negara, namun bagian terpenting dalam persiapan,perencanaan,pelaksanaan dan pengendalian dilakukan di negara lain , dalam kasus Berdarah ini,proses penambangan dilakukan di wilayah konflik Afrika oleh tenaga kerja paksa maupun tawanan perang untuk selanjutnya diselundupkan keluar negeri lewat perbatasan negara tetangga, sedangkan proses pengolahan dan penjualan dilakukan di butik perhisan terkemuka di london maupun new York, kemungkinan pedagang perhiasaan di eropa dan Amerika tidak langsung memesan kepada pemberontak di pedalam Afrika karena sangat mempertaruhkan keselamatan dan kredibiltas hukum, sewaktu waktu dapat diajukan sebagai salah satu aktor kejahatan Transnasional , namun menggunakan jasa pedagang, broker senjata untuk menjebatani , “Gun for Diamond , and Diamond for Money”, peran broker senjata inilah yang menjadi sentral ketika permintaan dunia meningkat, maka konflik harus terus dipelihara agar permintaan senjata terus ada dan meningkat juga.
3. Dilakukan di satu Negara tetapi melibatkan organisasi kejahatan yang terkait dengan aktifitas kejahatan di lebih dari satu Negara, Keberadaan pemberontak RUF ( Revolutionary United Front )yang eksis pada awal tahun 1991,bersama sama dengan kombatan dari Liberia dan serdadu bayaran asal Burkina faso telah melakukan serangan terhadap pemerintahan Siera Leone dengan melakukan kampanye kekerasan berupa pembunuhan, pemerkosaan bahkan mutilasi/ pembuntungan terhadap warga sipil yang dianggap melawan eksistensi RUF, puncaknya pada Maret 1995 RUF berhasil menguasai tambang tambang yang selama ini dikuasai pemerintah Siera Leone,maka semenjak itulah perdangan dari tambang tambang yang dikuasai pemberontak mulai merambah dan membanjiri pasaran dunia, memang RUF tidak memiliki kaitan langsung dengan pedagang di Eropa maupun Amerika namun berkat kolaborasi antara RUF dan Broker senjata, maka kejahatan Transnasional terjadi .
4. Dilakukan di satu Negara tetapi memiliki dampak penting di Negara lain.kegiatan penambangan , perdagangan senjata dan penjualan adalah kegiatan yang berdiri sendiri namun memiliki saling keterkaitan terhadap dampak berdarah ini adalah dalam perkembangan dan intensitas Konflik bersenjata di Afrika, ribuan nyawa melayang , jutaaan manusia mengungsi serta sejumlah lainnya hidup dalam penderitaan sebagai pekerja paksa di camp tambang maupun harus kehilangan sebagaian anggota tubuh di Amputasi dan terpisah dari keluarga , semua itu adalah dampak dari kolaborasi Illegal antara pemberontak yang menguasi , dengan broker senjata derta pedagang .
Ketika pedagang senjata api memperoleh maka, kaum pemberontak memperoleh Senjata yang digunakan untuk menyusun dan melakukan perlawanan kepada pemerintah yang berkuasa, tentunya hasil akhir barter antar dan senjata api berakhir di etalase toko perhiasan di Dunia.
Kaitan antara perdagangan senjata Api dan yang memiliki pengaruh secara langsung terhadap adanya suatu genosida, perbudakkan , pembunuhan dan pengusiran masyarakat di benua afrika akibat konflik senjata mendorong masyarakat dunia untuk menyebut yang ditambang dari wilayah konflik di Afrika sebagai Berdarah “ Blood Diamond “ masyarakat dunia dalam hal ini Masyarakat eropa bahkan perwakilan bangsa bangsa di PBB menganggap bahwa perdagangan berdarah memiliki kontribusi besar terhadap eksistensi konflik bersenjata yang terus berlarut larut tanpa akhir di Afrika.
This movie highlights the power of media in spotlighting injustices and helping to bring about change. Can you provide other examples where media attention to criminal activity helped to provoke positive changes ?
Peran media massa dalam mengangkat suatu fenomena kejahatan dan ketidakadilan dalam mewujudkan suatu perubahan yang lebih baik terlihat dalam beberapa liputan , sebagai contoh liputan yang terkait dengan kejahatan Transnasional maupun Organized Crime adalah :
Pertama : liputan tentang pembataian Orang Utan ( Pongo pygmaeus sp)., sebagai satwa endemik yang hampir punah . telah secara serampangan dibunuh oleh pemilik korporasi perkebunan Sawit di wilayah Kalimantan, menurut The Jakarta Globe Polri bekerja sama dengan Petugas dari Kantor Kementrian Kehutanan telah menangkap 2 ( dua ) orang tersangka pembantaian Orang Utan di wilayah Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara , Kalimantan Timur, penangkapan terhadap kedua tersangka pembantaian orang Utan akhirnya menjadi pemberitaan nasional bahkan Internasional terkait komitment pemerintah Indonesia dan Korporasi yang bergerak di bidang usaha perkebunan untuk lebih memberikan perhatian dan perlindungan terhadap keaneka ragaman hayati satwa dan kelestarian lingkungan hidup di Indonesia.
Hal senada juga menjadi liputan situs” The Jakarta Post yang menyebutkan bahwa Pemerintah bergerak lambat dalam penanganan kasus pembantaian orang Utan , berita yang semakin menarik adalah ketika peristiwa pembantaian Orang Utan , telah menggerakkan solidaritas dukungan menyelamatkan Orang Utan dan mengecam tindakan Korporasi perkebunan Sawit yang melakukan perluasan lahan dengan sengaja sehingga merusak habitat asli Orang Utan sampai akhirnya memaksa Orang Utan memasuki perkebunan untuk mencari makan, Demostrasi dan aksi dukungan menggejala di berbagai wilayah baik dalam dan luar negeri.
Kedua adalah terkait kejahatan terorisme dan Kejahatan atas penyelundupan senjata api illegal yang bersumber dari negara bekas konflik maupun masuk ke negara konflik, dalam sebuah pemberitaan dari “The Guardian” , bahwa selain maslah terorisme dan perdagangan senjata illegal yang turut memelihara konflik tetap berdarah darah di beberapa lokasi, adalah keterlibatan Berlian berdarah Blood Diamond yang digunakan sebagai alat tukar atau barter perdagangan senjata api illegal dan nafsu pemberontak bersenjata maupun keinginan Broker mendapatkan bahan baku murah namun berkualitas bagi butik-butik perhiasan ternama dunia.
Peran media massa menjadi begitu sentral setelah masyarakat akhirnya mengetahui bahwa berlian yang selama ini dianggap memiliki kekuatan daya tarik mode “ Diamond Last Forever” ternyata sebagian bersumber dari konflik bersenjata di Afrika, dimana penyiksaan , pembunuhan, mutilasi, pengusiran serta tindakan berdarah lainnya sebagai tindakan melanggar HAM merupakan sebuah harga yang harus diberikan dalam mendapatkan berlian berlian bermutu dari Afrika, bahkan dalam sebuah persidangan dengan menghadirkan aktris Hollywood ternama “ Naomi Campbell” dalam sidang terhadap panglima perangkonflik berdarah di Afrika “ Charles Taylor “ seorang mantanPresiden Sierra Leone , negara dimana Berlian Berdarah ditambang dari perut Bumi, kaitan antara Naomi Campbell selaku aktris dengan Charles Taylor diungkap oleh media massa pertama kali pada saat Naomi Campbell terlibat dalam acara penggalian dana amal bersama Nelson Mandela di tahun 1997.
Masih di situs yang sama , The Guardian juga pernah mengangkat bahwa perdangangan berlian berdarah ternyata digunakan untuk membiayai serangan massif teroris ke Amerika dalam skenario 911. Bahwa kelompok Teroris dari jaringan Al Qaeda telah melakukan pembelian berlian senilai 20M$ dimana diyakini baiaya yang diperlukan untuk melancarkan serangan massif dalam skenario 911 hanya menghabiskan dana 500.000$ saja, bahwa segi praktis dan sulit untuk dilacak menjadi pilihan mengapa Al Qaeda menugaskan agen agen kepercayaannya untuk menukarkan sejumlah senjata dengan berlian dari Afrika, senjata yang dengan sangat mudah ditemukan khususnya di negara negara kantong Al Qaeda dengan segera diantar begitu mendapat persetujuan pertukaran dengan berlian Berdarah Afrika lewat perantara Broker senjata Illegal.
Pertimbangan bahwa Berlian akan mudah dibawa, disimpan maupun dikirim untuk membiayai perlawanan Al Qaeda begitu mempesona jajaran petinggi Al Qaeda , seperti diketahui bahwa masalah pengiriman uang dan biaya kegiatan Teroris di berbagai negara sering terbentur kepada keharusan melaporkan sumber dan penerima uang kepada otoritas pemerintah setempat , termasuk adaya kewajiban untuk melaporkan sejumlah uang dalam limit tertentu di penerbangan Internasional.berkat peran pemberitaan media massa akhirnya masyarakat terbuka pemikiran dan pengetahuannya bahwa selama ini Berlian turut memberikan andil dalam konflikdan serangan teroris di muka bumi.

Daftar Bacaan:
1. http://www.guardian.co.uk/world/blood-diamonds

2. http://www.guardian.co.uk/world/2010/aug/11/naomi-campbell-denies-lying-over-diamonds

3. http://www.guardian.co.uk/world/2002/oct/20/alqaida.terrorism

4. http://www.thejakartaglobe.com/home/two-arrested-in-orangutan-slaughter-case-reports/479722

5. http://www.thejakartapost.com/news/2011/11/28/scene-govt-slow-solve-orangutan-killings-case.html

6. http://www.profauna.org/content/en/pressrelease/2011/melanie-subono-denounces-orangutan-massacres-on-kalimantan.html

7. http://www.argee.net/DefenseWatch/Conflict%20Diamonds-Funding%20Terrorism.htm

8. Lieutenant Colonel Stanley Q. Tunstall, Transnational Organized Crime And Conflict: Strategic Implications For The Military, Senior Service College Fellow,USAWC CLASS OF 2002, United States Army 2002.