Sang LONE WOLF

asetelah  insiden Thamrin kemudian Bom bunuh diri di Mapolresta Solo akhirnya terjadi lagi serangan terhadap NEAR ENEMIES sebagai sebuah konsep serangan teror yang menyasar POLISI dan aparat penegak hukum lainnya dan mungkin juga TNI pasca sukses menghabisi Santoso gembong teroris di hutan Poso beberapa waktu lalu.

32321312img_20161020_114414penyerang-polisi-di-tangerang-pernah-sowan-ke-pentolan-isis-aman-abdurrahman-jj62m4q3dy

ketika konsep Far Enemies berupa fasilitas milik identitas Barat maupun negara lain yang mendukung kebijakan melawan teror global semakin sulit untuk disentuh oleh jaringan teror, maka suatu keniscayaan akan terjadi pergeseran fokus sasaran, dalam konteks ke Indonesiaan bilamana susah  dan perlu biaya sangat besar untuk dapat menyerang fasilitas asing seperti Kedubes, Hotel dan gerai waralaba asing  walaupun pekerja dan pemiliknya asli Indonesia maka menyerang anggota Polisi, Jaksa atau Hakim termasuk TNI adalah sebagai suatu kepastian yang tinggal menunggu waktu, tinggal siapa yang lebih cepat, gesit dan tanggap : Polri atau Teroris.

dalam insiden Tanggerang ini yang sangat mengejutkan adalah pelaku sendiri merupakan anak paling bungsu yang memiliki 2 orang saudara berprofesi sebagai anggota Polri, belum lagi proses radikalisasi sampai menjadi tindakan anarkhis melalui proses yang sangat sederhana : INTERAKSI DENGAN INTERNET secara self radicalization dilanjutkan komunikasi intensif secara offlline dan akhirnya ber baiat di suatu kawasan.http://news.detik.com/berita/d-3325481/amarah-dan-kicauan-terakhir-sultan-penyerang-brutal-polisi

78208-polisi-lakukan-olah-tkp-penyerangan-terhadap-polisi-di-tangerang-n91_highres

secara umum tahapan radikalisasi : secara online dilanjutkan offline :

http://news.detik.com/berita/d-3326204/penyerang-kapolsek-tangerang-pernah-jenguk-napi-teroris-maman-di-nusakambangan

Polri menyebut Sultan Aziansyah (22), penyerang Kapolsek Tangerang pernah menemui napi kasus terorisme, Maman Abdurrahman. Sultan saat itu langsung mendatangi LP Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, untuk bertemu Maman.

“SA ini pada periode Juni 2015 pernah berkunjung ke Nusakambangan terdeteksi dari tim surveillance kita,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (21/10/2016).

Sultan juga pernah berhubungan intensi dengan Fauzan Al-Anshori yang dulu juga dikenal aktif di Majelis Mujahidin Indonesia (MMI)

“Sejak Juni dia aktif bersama dengan Saudara Fauzan Al-anshori yang merupakan pimpinan pondok di Ciamis. Dia pernah terdeteksi hadir untul membesuk Maman Abdurrahman datang ke Nusakambangan,” sambungnya.

o_1avggcauethq18cmd9b134tjcoc

Internet kembali menemukan perannya dalam menjadikan anak anak Indonesia hilang Keindonesiaanya

Penyerang Polisi Kota Tangerang Suka Chatting dengan ISIS

sumber : https://metro.tempo.co/read/news/2016/10/21/064814047/penyerang-polisi-kota-tangerang-suka-chatting-dengan-isis

TEMPO.CO, Tangerang – Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian mengatakan sosok Sultan Azianzah, 22 tahun, menjadi pendiam setelah kerap bermain Internet di sebuah warung Internet.

“Tersangka sering main Internet dan kecenderungannya berubah menjadi pendiam dan sering menghilang. Perilakunya banyak berubah,” kata Tito di Rumah Sakit Siloam, Karawaci, setelah menjenguk anak buahnya, Kapolsek Benteng Ajun Komisaris Efendi, yang menjadi korban penyerangan Sultan.

Baca: Polda Metro: Pelaku Penyerangan Polisi di Tangerang Tewas

Rupanya, kata Tito, setiap online di Internet, Sultan membuka dan membaca website ISIS, “Dia suka online dan membuka website-website milik ISIS, termasuk chatting dengan kelompok ISIS langsung,” ujar Tito.

Tito pun menyebutkan kecurigaannya bahwa Sultan berhubungan, salah satunya, dengan kelompok Bahrun Naim. Bahrun merupakan satu dari tiga tokoh warga negara Indonesia yang membaiatkan diri untuk bergabung dengan ISIS. Selain Bahrun, ada Bahrumsyah dan Salim Mubarok alias Abu Jandal. Ketiganya saat ini berada di Suriah.

Tito juga menyebutkan, di balik tiga orang itu, terdapat satu tokoh yang menjadi panutan ideologis, yakni Aman Abdurrahman. Saat ini dia masih mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan.

 

melengkapi tulisan diatas adalah cuplikan penelitian yang pernah dilakukan terhadap proses radikalisasi lewat internet terhadap beberapa orang yang pada akhirnya secara aktif terlibat dalam kegiatan terorisme di Indonesia.

2.2.1. Teori Radikalisasi (Golose 2008)
Bahwa setiap organisasi teroris memiliki serangkaian metode dalam perekrutan individu untuk dijadikan kader, dimana proses radikalisasi oleh organisasi teroris dimulai dengan,
• tahap ke-1 Perekrutan,
• tahap ke-2 Pengidentifikasian diri,
• tahap ke-3 Indoktrinasi, dan
• tahap ke-4 Jihad yang disesatkan.
Individu yang telah terlebih dahulu bergabung dalam organisasi melakukan pendekatan dan pengamatan terhadap sejumlah individu lain, berbagai pengajaran-pengajaran radikal dimanfaatkan untuk mempengaruhi pemikiran seseorang untuk kemudian diarahkan pada tindakan partisipasi aktif dalam organisasi. (Golose 42-46)
Teori ini digunakan untuk menganalisa bagaimana keterlibatan beberapa pelaku terorisme di Indonesia khususnya pada kasus Mawan Kurniawan, Rizki Gunawan dan Cahya Fitriyanta dalam jaringan radikal jihadi di Indonesia, dimulai dengan perkenalan lewat situs jejaring sosial radikal yang dikunjungi oleh Mawan Kurniawan secara online.
Seperti dalam situs Nahnuhmuslim, dimana disanalah Mawan Kurniawan pertama kali berkenalan dengan Rizki Gunawan alias Udin yang secara aktif memberikan pesan-pesan ajakan kepada Mawan Kurniawan agar secara utuh terlibat dalam perjuangan membela agama Islam dari tekanan pihak Barat dan Yahudi.
Tahap ke-1 dalam teori ini adalah berupa tahapan perekrutan, dimana dijelaskan bahwa tahapan awal bertujuan memilih individu yang akan menjalani proses radikal, seleksi terhadap individu potensial dilihat berdasarkan kriteria seperti : umur, agama, tingkat pendidikan, perekonomian, status sosial, dan kehidupan sehari-hari dalam masyarakat (42).
Sebagai perbandingan menurut Golose, bagaimana perjalanan Ali Imron sebagai salah seorang pelaku bom Bali I mengalami proses radikalisasi pada usia 20 tahun.
Proses radikalisasi pada Ali Imron digambarkan oleh Golose dimulai semenjak Ali Imron mulai aktif mengakses informasi terkait jihad khususnya kajian Islam ditambah adanya film yang menceritakan bagaimana kondisi Ummat Islam di Afganistan dan Pakistan, kemudian muncul pula niatan untuk bergabung memberikan bantuan dalam perjuangan Ummat Islam secara nyata dengan akses bergabung dengan Jamaah Islamiah yang kebetulan saat itu telah dipelopori oleh kakak kandung Ali Imron yakni Ali Gufron alias Mukhlas.
Demikian halnya dengan pelaku bom Bali jilid II dengan menempatkan nama Wisnu alias Misno, yang masih berusia 23 tahun dan M. Salik Firdaus, yang masih berusia 24 tahun, melihat tipikal dari pelaku bom Bali I maupun II terlihat adanya perjalanan dari suatu proses radikal yang cukup panjang dan membutuhkan waktu.
Seseorang terpilih menjadi bagian dari kelompok atau jaringan teror secara tidak semerta merta, adanya seleksi tertentu terkait latar belakang pribadi, maupun keluarga.
Memang pada awalnya terlihat bagaimana seleksi dilakukan terhadap mereka yang secara kasat mata merupakan kelompok marginal dari segi ekonomi dan latar belakang pendidikan, namun seiring waktu terjadi perubahan terhadap target rekruitmen potensial yang mengarah kepada mereka yang secara ekonomi maupun pendidikan adalah cukup baik seperti pada kasus Noordin M top dan Dr. Azhari lulusan Universitas ternama di Malaysia serta berlatar belakang ekonomi cukup mapan sebagai seorang sarjana.
Jaringan teroris tentunya tidak secara gampang atau bahkan serampangan mau merekrut seseorang, pun demikian tidak ada seseorang yang tiba-tiba saja mau direkrut kedalam suatu jaringan teroris tanpa ada pemicu baik yang bersumber dari dalam diri pribadi maupun akibat daya tarik dari lingkungannya.
Untuk itu dalam fase ini juga akan dibantu dijelaskan oleh Helmus dengan dengan teori lain yaitu tentang faktor-faktor pemicu radikalisme pada diri pribadi (Davis dan Cragin 483).
Teori ini akan membantu menjelaskan bagaimana tumbuhnya keinginan Individu untuk bergabung atau melakukan kegiatan terorisme adalah dengan melihat kepada :
1. Faktor yang berasal dari pusaran pribadi dari individu yang mendorong hasrat ingin bergabung melakukan terorisme seperti:
1) Latar belakang pribadi yang hidup ditengah kelompok sosial masyarakat yang berlatar belakang radikal.
2) Adanya kebutuhan atas keinginan memperoleh suatu imbalan atau ganjaran , baik yang berupa material keuangan, kesenangan semata, kebutuhan status sosial, ataukah ganjaran keagamaan dan kebutuhan religius seseorang.
3) Muncul keinginan untuk melakukan sesuatu atas perlakuan yang tidak semestinya, baik berupa tindakan balas dendam pribadi akibat tekanan dan serangan terhadap diri maupun orang yang disayang dan termasuk akibat dari suatu tekanan / strees dari peristiwa traumatis, kemudian adalah keinginan untuk berbuat sebagai balasan atas rasa ketidak adilan kolektif sehingga menimbulkan kesadaran untuk membela diri atas tindakan yang dirasakan bersama ( kelompok), sebagai suatu ketidakadilan.
4) Kekuatan hasrat untuk melakukan perubahan suatu tatanan yang telah ada berupa hasrat perubahan dengan kemasan agama , politis maupun issue lain diluar tatanan yang telah ajeg.
2. Faktor radikalisasi seseorang terpicu dari sumber pada berbagai aspek diluar pusaran pribadi individu yang menjadi penarik, seperti:
1) Keberadaan tokoh kharismatik, pemimpin yang memiliki pesona, daya tarik dan pengaruh sekaligus suatu simbol, dimana nama dari tokoh yang dimaksud memberikan rangsangan yang tidak dapat ditolak oleh seseorang untuk melakukan suatu tindakan seperti yang diinginkan oleh pemipin.
2) Adalah akibat adanya keadaan sosial , ekonomi serta kehidupan politik yang mengalami ketimpangan dan diskriminasi, dengan mudah seseorang menyalahkan suatu kondisi yang dirasakan timpang dalam tata kehidupan sebagai akibat konspirasi kekuatan lain yang diidentifikasikan sebagai musuh yang meyebabkan kondisi tadi, kebodohan dalam masyarakat akibat tingkat pendidikan rendah , kualitas pendidikan kurang, keterbatasan akses pendidikan bagi suatu kelompok, maka dengan mudah dipersepsikan sebagai akibat dari ulah konspirasi kelompok tertentu lainnya, yang sengaja berupaya menghambat peningkatan kualitas pendidikan masyarakat agar tetap terbelakang.
Teori tentang faktor-faktor pemicu radikalisme pada diri pribadi adalah untuk menjelaskan bagaimana pribadi-pribadi seperti Mawan Kurniawan, Rizki Gunawan dan Cahya Fitriyanta terdorong yang mau dan tertarik mengikuti jaringan jihad radikal sebelum akhirnya sampai pada tahap ke-2 sebagai tahapan pengidentifikasian diri.
Tahap ke-2 sebagai tahapan pengidentifikasian diri, yang meliputi tahapan yang memiliki pengaruh sangat luas baik secara internal maupun eksternal (Golose 44) menjelaskan bahwa dalam tahapan ini ditujukan untuk mengidentifikasi / mengetahui jatidiri dari target dalam pemahaman ilmu agama Islam berserta tingkat kepuasan diri terhadap kondisi ekonomis , sosial, dan politik, selain itu target ( mereka yang akan direkrut) sengaja dibuat untuk tidak memiliki pemikiran kritis.
Tahap ke-3 sebagai tahap indoktrinasi, merupakan tahapan yang dijelaskan oleh Golose (45) sebagai tahap pengajaran paham atau ideologi teroris kepada target secara intesif, tujuannya adalah membuat target menjadi percaya dan yakin sepenuhnya, bahwa ajaran yang ditanamkan kepada mereka merupakan kebenaran mutlak, dan tidak perlu dibantah atau dikritisi lagi.
Terkait dengan tahapan ke-3 sebagai tahapan indoktrinasi yang bilamana dikaitkan dengan kejahatan dan perkembangannya, Durkheim sebagaimana dikutip oleh Delos H. Kelly menyatakan sebagai berikut:
“Crime is present not only in the majority of societies of one particular species but in all societies of all types. There is no societies that is not confronted with the problem of criminality. Its from changes; the acts thus characterized are not the same everywhere; but, everywhere and always, there have been men who have behaved in such way as to draw upon themselves penal repression”. (59)

(Kejahatan tidak hanya muncul di sebagian besar masyarakat tertentu tetapi di seluruh tipe masyarakat. Tidak ada masyarakat yang tidak berhadapan dengan permasalahan kriminalitas. Bentuknya berubah, tindakan-tindakan dan karakteristiknya tidak sama di seluruh tempat; tetapi, seluruh tempat dan selalu, terdapat orang yang berperilaku sedemikian rupa yang dapat menarik diantara mereka hukuman pidana).

Pernyataan Durkheim tersebut menunjukkan bahwa perkembangan kejahatan selalu terikat dengan situasi dan kondisi sosial masyarakat di mana kejahatan tersebut berada. Kejahatan merupakan sesuatu yang lazim dan normal terjadi dalam seluruh masyarakat.
Kejahatan tidak mungkin diberantas sampai tuntas, bahkan mereka akan selalu mengalami perubahan seiring perkembangan masyarakat tersebut, perubahan dapat dikatakan sebagai satu-satunya hal yang tetap dalam perkembangan kejahatan.
Tahapan indoktrinasi yang berujung kepada terorisme merupakan salah satu cara untuk mencapai suatu tujuan yang radikal. Penentuan terorisme sebagai cara yang dipilih secara psikologis terkait dengan suatu pilihan rasional dari para pihak atau kelompok tertentu. Pilihan rasional menunjukkan bahwa terorisme merupakan suatu kejahatan akan selalu berubah dan berkembang.
Meskipun telah mengalami perubahan dan perkembangan, kejahatan terorisme tetap memiliki ciri-ciri sebagai tindakan yang dapat disebut sebagai aksi terorisme dan hanya berbeda dalam modus, landasan, ideologi yang dianut, aksi yang dilancarkan, dan sasaran serta reaksi sosial masyarakat yang nampak dalam setiap era yang ada termasuk didalamnya adalah bagaimana pribadi pelaku –pelaku tindakan terorisme belajar untuk menetralisir rasa bersalah atas perbuatan yang dilakukan.
Akibat indoktrinasi itu sendiri kemudian menjadikan pola pikir atau cara pandang individu yang dimiliki oleh tiap –tiap individu target menjadi berubah arah, individu yang pada awalnya memiliki pandangan dan harapan selayaknya masyarakat pada umumnya, akan tetapi setelah mengalami proses radikalisasi akan mengalami perubahan terhadap pola pikir dan tujuan hidupnya terfokus kepada pembentukkan Daulah Islamiah berskala global.Golose(46).
Tahap ke-4 sebagai tahapan jihad yang disesatkan, Golose (46) menjelaskan bahwa dalam tahapan ini bahwa target yang sudah masuk kedalam kelompok kecil (sel) dari kelompok / jaringan yang lebih besar, akan menerima kewajiban secara pribadi untuk ikut jihad serta dalam jihad. Target akan menentukan dirinya sebagai tentara Allah atau Mujahidin, dan pada akhirnya akan menggunakan konsep jihad yang disesatkan untuk melakukan serangan teror.
Rincian tahapan ke-4 sebagai tahap jihad yang disesatkan dijelaskan kedalam proses –proses yang meliputi : komitmen untuk melakukan teror dengan jalan jihad, yang dimulai dengan meninggalkan rumah maupun keluarga sebagai perjalanan menuju kamp–kamp pelatihan ataupun mencari medan jihad.
Dikuti proses kedua adalah persiapan dan pelatihan fisik dengan mengisolasi target dari kehidupan dunia luar, memberikan pelatihan dan persiapan keahlian yang dibutuhkan dalam melancarkan aksi dan serangan teror kelak, proses ke -3 adalah dengan penguatan berupa pelatihan mental, dilakukan dengan tausiah, pembekalan rohani yang ditujukan untuk membuat target benar–benar siap melakukan aksi serangan, terakhir adalah proses merencanakan serangan teror, dimana pemilihan target , cara dan sasaran ditentukan oleh apa yang dituju dan kemampuan apa yang dimiliki oleh target.
Teori lain yang digunakan penulis untuk membantu menjelaskan hasil akhir dari tahapan jihad yang disesatkan ini dengan tingkat radikal yang dimiliki seseorang sehingga mampu mendorong seseorang melakukan terorisme adalah dengan melihat kepada teori yang dapat untuk mengukur seberapa jauh dan dalam tingkat radikalisasi yang terjadi pada diri pribadi seperti Mawan Kurniawan, Cahya Fitriyanta dan Rizki Gunawan lewat analisa teori tipologi radikalisasi berdasarkan tingkat komitmen menurut Rabasa dalam Rabasa et al(2010).
Tingkat radikalisasi terhadap komitmen jihad, memiliki kekuatan yang tetap ataukah bisa dibelokkan, diturunkan lewat penghukuman maupun upaya –upaya deradikalisasi maupun kontra radikalisasi yang menjadi kewajiban otoritas penegak hukum di Indonesia.
Tingkat radikalisasi sebagai hasil akhir dari semua tahapan-tahapan dalam teori radikalisasi, dapat digolongkan kedalam beberapa tingkatan tertentu dengan melihat kepada tingkat komitmen seseorang terhadap suatu organisasi teroris (Rabasa 26), sehingga identifikasi yang tajam terhadap hubungan antara tahapan radikalisasi dengan tingkat komitment yang ada dalam diri Rizki Gunawan, Cahya Fitriyanta dan Mawan Kurniawan sangat perlu dilakukan secara tajam agar diketahui apakah mereka termasuk :
1. Hardcore Members : yang dijelaskan sebagai mereka / anggota yang memiliki komitmen yang paling tinggi atau paling dalam, keberadaan mereka di dalam organisasi untuk periode waktu yang lama dan biasanya terlibat dalam perencanaan atau pelaksanaan kegiatan kekerasan.
2. Activist : menunjuk kepada para anggota yang seringkali terlibat dalam kegiatan kekerasan, tetapi mereka bisa saja bukan anggota yang telah lama bergabung, dan tidak setiap aspek kehidupan mereka terkait dengan kelompok.
3. Newcomer : merupakan golongan anggota yang baru bergabung dengan kelompok untuk periode yang singkat sehingga mereka cenderung belum memiliki kedekatan antara lapisan dan golongan organisasi.
4. Supporters : adalah mereka yang memiliki lebih sedikit ikatan dengan organisasi. Mereka bukanlah anggota tetap, hanya kadang-kadang membantu grup yang radikal, misalnya, dengan melindungi atau menampung anggota atau memberikan mereka dana.
5. Symphathizer : adalah menunjuk kepada mereka yang secara tidak aktif terlibat dengan organisasi radikal, tetapi mereka mengidentifikasi tujuan dan idiologi kelompok dan sehingga bisa saja secara pasif membantu kelompok tersebut, misalnya, dengan tidak memberitahukan informasi yang mereka ketahui kepada aparat penegak hukum.
Sebagai penutup adalah untuk mengetahui bagaimana pola treatment yang tepat dapat dilakukan dilakukan pemerintah terhadap eks napi terorisme yang selesai menjalani masa hukuman, karena dikhawatirkan mereka akan kembali pada organisasinya.
Terhadap eks napi terorisme diperlukan kerja sama dan koordinasi antara pihak intelijen dengan pihak lembaga permasyarakatan untuk pengawasan secara periodik, karena berdasarkan evaluasi BNPT di tahun 2012 diketahui terhadap 23 (dua puluh tiga) napi yang telah bebas, mereka kembali ke kelompoknya dan justru membuat jaringan yang lebih kuat, karena terorisme mempunyai 3 (tiga) cara memperkuat eksistensi mereka yaitu melalui strategi defensif, merekrut tentara grass root, dan menantang pemerintah secara terang-terangan yang oleh Golose (57) disebut sebagai Vendetta cycle.
Kolaborasi antara teori radikalisasi menurut Golose dengan 2 (dua ) teori pendukung lainnya adalah dijelaskan dalam menjelaskan bagaimana gambaran operasionalisasi Teori Radikalisasi menurut Golose (43) digunakan sebagai teori analisa yang utama dalam menjelaskan tahapan radikalisasi yang dialami seseorang sebelum terlibat dalam tindakan terorisme serta bagaimana teori radikalisasi tadi dibantu oleh 2 (dua) teori tambahan antara lain teori pemicu radikalisasi menurut Davis& Cragin (2009) serta teori tentang tingkat radikalisasi terhadap komitmen jaringan terorisme menurut Rabasa (2010).

 

my First Crown

MY FIRST CROWN  akhirnya buku yang dibuat dengan segala dinamika alhirnya bisa diterbitkan, menjadi salah satu buah tangan yang manis saat peringatan hari jadi ke 70 tahun Korbrimob Polri.

sebuah kumpulan catatan perjalanan sebuah organisasi dalam pengabdiannya kepada bangsa dan negara, demi kemanusian dan keadilan .

berikut adalAh cuplikan beberapa kisah yang ditulis dalam buku yang berjudul  BRIMOB; DULU, KINI DAN ESOK.

 

14 Jam menahan gelombang serbuan GAM

Diambil dari : (Brimob : Dulu, Kini dan Esok, November 2015, pp. 282-323)

Bisa jadi terinspirasi oleh skenario Serangan Umum Satu Maret di Yogyakarta yang pernah dilakukan oleh Letkol Soeharto saat menghadapi tentara KNIL yang ingin kembali bercokol di Indonesia, ratusan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sempat mencoba menyerang untuk merampas senjata pasukan Polri di sebuah kota kecil, Idi Rayeuk, di Aceh Timur selama 14 jam sejak Kamis (01 Maret 2001) hingga Jumat (02 Maret 2001) pagi.

Ratusan anggota GAM yang bersenjata lengkap itu baru mundur ke arah perkampungan penduduk, sekitar pukul 08.00 WIB pada Jumat pagi setelah digempur oleh pasukan gabungan TNI/Polri dalam jumlah yang besar. Berikutnya, untuk mempertahankan kota tersebut dari serangan gerilyawan balik dari GAM, aparat mengerahkan dua unit panser milik Marinir TNI AL yang datang dari Aceh Utara dan satu helicopter milik Penerbad.

Bendera GAM yang berwarna dasar Merah dan bergambar Bulan Bintang, terlihat berkibar sepanjang 4 kilometer selama kota Idi Rayeuk dalam serbuan GAM. Bendera tersebut diikat pada tiang-tiang yang kayu di sepanjang jalan negara Medan – Banda Aceh.

GAM menduduki kota Idi Rayeuk hingga 14 jam, namun yang menjadi titik serangan sebenarnya adalah Markas Polsek Idi Rayeuk, mungkin adaya informasi yang berhasil dikumpulkan oleh mata-mata GAM bahwa kekuatan Polisi di Mapolsek Idi Rayeuk adalah tidak lebih dari 38an orang dengan senjata campuran dan munisi sangat terbatas.

Pasukan yang bertugas mengamankan Mapolsek Idi Rayeuk terdiri dari 22 orang anggota Brimob dari Resimen I Kedung Halang Bogor yang dipimpin oleh Ipda Gunawan Trilaksono, kemudian 09 orang anggota Perintis Sabhara Polda Yogyakarta ditambah 07 anggota organik Polsek Idi Rayeuk.

Serangan pertama dimulai pada hari Kamis tanggal 01 Maret 2001, sekitar pukul 17.00 WIB, sebagaimana lazimnya kala itu setiap rencana penyerangan terhadap pos-pos TNI dan Polri oleh kelompok GAM biasanya didahului dengan penutupan jalan menggunakan balok kayu, maupun menebang pohon disepanjang jalan menuju lokasi serangan.

Adanya blokade jalan termasuk listrik padam secara mendadak sudah cukup menjadi peringatan bagi setiap anggota untuk segera meraih senjata dan menduduki posisi alarm stelling sekeliling pos yang sudah disiapkan.

Kesalahan fatal dari piket markas Polsek Idi Rayeuk       adalah gagal mengidentifikasi sekelompok orang berpakaian loreng yang membawa senjata api M16 dan SS1 melintas dari arah pasar Idi Rayeuk menuju kantor PLN Idi Rayeuk (200 meter dari Polsek), piket markas mengira pasukan berpakaian PDL loreng tersebut adalah bagian dari 1 Ton TNI Yonif 301         (ops Bakti TNI ) yang sedang Pull out di Markas Koramil Idi Rayeuk sejak beberapa hari sebelumnya.

Suara tembakan pertama pecah, namun justru mengarah kepada Markas Koramil Idi Rayeuk, barulah berselang 5 menit berikutnya hujan GLM dan tembakan senapan mesin FN minimi mulai menyapu dinding Polsek Idi Rayeuk, perintah stelling dan menempati pillbox segera menggema.

Bermodalkan senjata AK seri 101 dan 102 didukung 2 magasen untuk menampung 75 butir peluru tajam (Mabes Polri memberikan bekal munisi untuk setiap anggota Brimob yang bertugas ke Aceh saat itu adalah 75 butir munisi tajam ditambah 25 butir peluru karet dan 10 butir peluru hampa).

Keadaan terbalik, biasanya persenjataan dan munisi pasukan pemerintah pastilah selalu lebih baik dan lengkap dibanding Gerilyawan, namun dalam peristiwa Idi Rayeuk ini, keadaannya sangat berbeda, selain ratusan pasukan GAM turun gunung bersenjata lengkap ditambah dukungan munisi untuk AK 47, SS1 dan M16 sangat melimpah, belum lagi beberapa pucuk senjata mesin ringan seperti RPD dan FN minimi, lihat saja bahkan untuk butir-butir hujan GLM yang berhasil dihitung oleh Ipda Gunawan Trilaksono terserak di halaman dan tersangkut di atap Polsek Idi Rayeuk pasca serangan adalah sebanyak 48 butir utuh tidak meledak.

Hujan tembakan dan lontaran GLM mendera markas Polsek sepanjang malam, suasana bertambah panik ketika keluarga anggota organik Polsek Idi Rayeuk mulai berlarian kedalam markas Polsek, asrama Polsek yang berjarak sekitar 100 meter dibelakang markas Polsek mulai dibakar GAM, suara teriakan anggota GAM semakin jelas terdengar disekeliling Polsek : PAI……. PAI JAWA MATI KALIAN SEMUA HARI INI…

Melihat ibu-ibu Bhayangkari berlarian menyelamatkan diri sambil menggendong anak dan mengamit barang yang bisa diselamatkan tentulah bukan sebuah pemandangan yang ingin dilihat, konsentrasi pasukan Brimob, Perintis Sabhara dan Organik Polsek mulai goyah, sampai akhirnya terbersit ide untuk mengumpulkan semua ransel, radio dan dokumen pasukan di dalam ruangan Kapolsek untuk kemudian disiram bensin, siapa tahu sewaktu-waktu garis pertahanan patah dan GAM berhasil masuk Polsek, pilihannya saat itu adalah mati karena ditembak atau mati karena digorok dan dikuliti hidup-hidup oleh GAM.

Munisi yang semakin menipis dengan jenis senjata campuran : AK 101 dan 102 menggunakan kaliber 5,56mm sedangkan pasukan Perintis menggunakan campuran AK 47 (kaliber 7,62mm) dan Ruger mini 5,56mm, sedangkan organik Polsek bermodalkan Mouser kaliber 7,92mm, SS1 dan US Caraben kaliber 30mm.

Suasana semakin mencekam, dibutuhkan peluru tam-bahan, tetapi darimana dan siapa yang bisa memberikan munisi tambahan tadi, pasukan kawan terdekat yakni Koramil Idi Rayeuk dan 1 Ton 301 dipastikan juga dalam kondisi terjepit antara hidup dan mati di tempatnya.

Sekitar pukul 23.00 malam masih ditengah sapuan tembakan GAM, Ipda Gunawan Trilaksono berinisiatif untuk meminta munisi tambahan dari Koramil Idi Rayeuk, pilihan yang paling memungkinkan adalah merayap ditengah hujan peluru diantara Polsek dan Koramil yang berjarak sekitar 500 meter, awalnya tidak ada satupun anggota yang punya cukup nyali mendampingi Danton menembus hujan peluru dan sergapan GAM, sampai akhirnya Bharada Riahdo Purba ikut nekat menyusul Komandannya mengambil peluru tambahan dari Koramil.

Sekitar 2 jam waktu yang dibutuhkan berangkat dari Polsek menuju Koramil pulang pergi merayap dan mengendap-endap, 100 butir peluru tambahan dan 1 butir Tabung Pelontar (Granat) berhasil didapatkan, tambahan peluru segera di-bagikan dan disertai bisik-bisik “ tolong dihemat”.

Pengepungan Polsek dan percobaan pendudukan Idi Rayeuk berangsur mulai mengendor menjelang pagi hari, ditambah adanya informasi pasukan bantuan dari kesatuan Brimob Polda Riau sebanyak 1 Peleton dipimpin AKP Kasero Manggolo dari arah Kota Langsa menuju Idi Rayeuk mulai berdatangan, kemudian Pasukan Brimob dari Resimen I Kedung Halang dipimpin Kompol Drs. Irianto dengan kekuatan sebanyak 2 truk Reo dari arah Bireun Aceh Utara mulai masuk perbatasan Aceh Timur di Simpang Uliem.

Sebagai tambahan kabar yang menggembirakan adalah 2 unit Panser milik Marinir TNI AL terlihat bergerak dari arah Rancung, Aceh Utara mengiringi pasukan bantuan, dari udara terdapat 1 unit Helicopter Penerbad dengan 1 team Gegana Mabes Polri dipimpin Ipda Michael Mumbunan langsung dari Banda Aceh menuju lokasi dengan menyisir garis pantai untuk menghindari tembakan GAM, guna menurunkan munisi tambahan bagi pasukan Pelopor pimpinan Ipda Gunawan Trilaksono.

Hari itu pasukan GAM batal merayakan kenduri potong Lembu, mereka gagal total merebut senjata dari anggota di Polsek Idi Rayeuk walaupun hanya dijaga oleh sekitar 40an anggota bersenjata minim.

Kekecewaan GAM akhirnya dilampiaskan dengan membakar sejumlah bangunan seperti asrama tempat tinggal keluarga Polri dan asrama keluarga pegawai Lembaga Pemasyarakatan termasuk Rumah Tahanan Negara yang berlokasi di Desa Teupin Batee, sekitar 3 km dari pusat kota Idi Rayeuk, apalagi hujan peluru dan GLM tidak berhasil melukai apalagi menewaskan seorangpun anggota Brimob, Perintis Sabhara Polda Yogyakarta maupun organik Polsek Idi Rayeuk termasuk keluarga Polri didalamnya.

 

 

KONFLIK SEPARATISME DAN TERORISME DI INDONESIA

KONFLIK SEPARATISME DAN TERORISME DI INDONESIA

  1. Latar Belakang
    Terorisme sesungguhnya bukanlah fenomena baru karena terorisme telah ada sejak abad ke – 19 dalam percaturan politik internasional. Terorisme pada awalnya bersifat kecil dan lokal dengan sasaran terpilih dan berada dalam kerangka konflik berintensitas rendah yang pada umumnya berkaitan erat dengan stabilitas politik suatu negara.
    Namun dewasa ini terorisme telah berdimensi luas yang berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan mayarakat dan kejahatan yang bersifat lintas negara (transnasional crime) dan tidak lagi dikategorikan sebagai konflik berintesitas rendah akan tetapi sudah termasuk kejahatan global dan menimbulkan dampak yang sangat luas. Hal tersebut sebagai bentuk perkembangan dari pada terorisme itu sendiri dimana didalam perkembangannya kini terorisme tidak hanya menjadikan kehidupan politik sebagai sasarannya seperti pada awal kemunculannya, tetapi telah merambah, merusak dan menghancurkan sendi-sendi kehidupan manusia yaitu menurunnya kegiatan ekonomi dan terusiknya rasa kemanusiaan serta budaya masyarakat yang beradab. karena itulah terorisme digolongkan sebagai salah satu dari delapan kejahatan lintas Negara (transnational Crime).
    Terorisme merupakan kejahatan terhadap kemanusian dan kejahatan terhadap peradaban yang menjadi ancaman serius bagi segenap bangsa serta musuh dari semua agama di seluruh belahan dunia ini. Terorisme dalam perkembangannya telah membangun organisasi dan mempunyai jaringan global dimana kelompok-kelompok terorisme yang beroperasi di berbagai negara telah terorganisir oleh suatu jaringan terorisme internasional serta mempunyai hubungan dan mekanisme kerja sama satu dengan yang lain.
    Di Indonesia, terorisme merupakan salah satu ancaman utama dan nyata terhadap pelaksanaan amanat konstitusi yaitu melindungi segenap tanah air, tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena itulah terorisme di Indonesia merupakan ancaman terhadap kehidupan nasional yang akan berpengaruh terhadap stabilitas nasional. stabilitas nasional merupakan faktor utama/kunci pemulihan ekonomi guna meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Dalam perkembangannya di Indonesia,pelaku terorisme selalu meningkatkan segala upaya dalam mewujudkan perjuangannya yang diyakini oleh kelompoknya bahwa apa yang diperjuangkan adalah benar dan diyakini berjuang dijalan Allah.
    Perkembangan-perkembangan ataupun perubahan-perubahan yang ada dalam upaya mewujudkan perjuangannya dapat dilihat dari pola target, bentuk serangan ataupun modus operandi serta peralatan maupun pernyataan yang digunakan dalam mewujudkan perjuangannya. Hal-hal inilah yang perlu kita pahami bersama agar terciptanya upaya antisipasi , cegah tangkal serta deteksi dini terhadap adanya pelaku terorisme atau masuknya bahan-bahan yang berkaitan dengan kejahatan terorisme ke Indonesia khususnya ke wilayah Bali.
    Kita semua masih ingat dengan tragedi Bom Bali tanggal 12 Oktober 2002 di jalan Legian Kuta (Sari Club dan Pady’s Café) yang menimbulkan dampak yang sangat besar dengan jumlah korban yang meninggal dunia sebanyak 202 orang dari berbagai negara dan ratusan orang mengalami luka-luka bahkan ada yang hingga kini mengalami cacat serta berbagai fasilitas public, hotel dan restaurant mengalami kehancuran yang berimplikasi terhadap kehidupan ekonomi masyarakat Bali yang sebagian besar bertumpu pada sektor pariwisata. Dalam upaya recovery yang dilakukan oleh pemerintah baik Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Pusat terhadap pemulihan
    perekonomian Bali namun belum mencapai hasil yang sepenuhnya, Kita dikejutkan lagi dengan Ledakan Bom Bali tanggal 1 Oktober 2005 di 3 (tiga) lokasi dalam waktu yang hampir bersamaan yaitu di Café’s Nyoman, Café’s Manage di wilayah Jimbaran dan Raja’s Café di Kuta sequare.
    Aktifitas terorisme tidak pernah diam, jaringan maupun cell-cellnya selalu bergerak dari satu tempat ke tempat lain yang dirasakan aman sebagai safe house para ikhwan istilah yang digunakan untuk panggilan solideritas kelompoknya. Mereka juga melakukan surveillance terhadap tempat-tempat yang akan dijadikan target peledakan termasuk celah-celah maupun kelemahan-kelemahan yang dilakukan oleh petugas keamanan. Serangan yang dilakukan oleh kelompok terorisme bersifat konseptual , terencana secara detail dan terorganisir sehingga sekecil apapun hal-hal yang berkaitan dengan serangan mereka sudah direncanakan secara cermat dan teliti termasuk tindakan darurat apabila aktifitas mereka dideteksi oleh petugas keamanan.
    Beberapa tahun setelah Kejadian ledakan Bom Bali 1 oktober 2005, kondisi keamanan nasional semakin membaik sebagai dampak upaya-upaya pre-emtif, preventif dan penindakan hukum yang dilakukan pemerintah dalam hal ini Pihak Kepolisian terhadap pelaku-pelaku yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam aksi terorisme. Pihak Kepolisian sangat gencar-gencarnya melakukan penangkapan dan perburuan terhadap kelompok teroris seperti penyergapan/raid di Batu Malang yang menewaskan gembong teroris asal Malaysia DR. AZAHARI, penyergapan di Wonosobo, Banyumas , Palembang dan Wilayah Plumpang Jakarta namun hal tersebut tidak membuat para pelaku teroris menyerah, mereka terus mencoba merecruit cell-cell baru terutama anak-anak muda yang jiwanya masih labil sebagai calon-calon pengantin mereka.
    Pada tanggal 17 Juli 2009 , tepatnya empat tahun setelah kejadian bom Bali 2005, terjadi lagi ledakan bom bunuh diri di dua hotel berbintang di wilayah mega Kuningan Jakarta yang sebelumnya juga pernah di landa bom yaitu Hotel J.W. Marriot dan Hotel Ritz Carlton dimana lokasi kedua hotel tersebut saling bersebrangan. Sembilan orang meninggal dunia dan puluhan orang mengalami luka-luka dalam insiden tersebut termasuk warga negara asing yang menginap di kedua hotel tersebut. Hasil identifikasi Kepolisian kedua pelaku bom bunuh diri tersebut adalah Dani Dwi Permana dan Nana Ihwan Maulana. Ledakan bom bunuh diri yang terjadi di kedua hotel tersebut kembali membuktikan kepada kita bahwa aktifitas terorisme tidak pernah diam dan mereka bekerja secara konseptual , terencana dan terorganisir.
    Kerja keras aparat Kepolisian dalam mengungkap dalang dibalik ledakan bom bunuh diri di Hotel JW. Marriot dan Hotel Ritz Carlton membuahkan hasil yang sangat menggembirakan setelah melakukan penyergapan di Jati Asih Jakarta dan Temanggung Jawa Tengah pada tanggal 7 Agustus 2009 , Petugas berhasil menembak mati salah satu aktor perancang serangan yang berhasil menyusupkan dua orang pelaku bom bunuh diri ke dalam hotel yaitu IBROHIM, kemudian pada tanggal 17 September 2009 , Petugas kembali berhasil menembak mati buronan teroris paling dicari selama ini yaitu NORDIN M.TOP . Aparat juga berhasil melakukan penyergapan yang menewaskan pelaku-pelaku lainnya yang terkait dengan Bom Hotel J.W.Marriot dan Ritz Carlton yaitu Saifuddin Juhri Alias Jaelani dan saudaranya Muhammad Syahrir di Wilayah Ciputat Jakarta.
  2. Bali Masih Tetap Berpotensi Sebagai Target Peledakan Bom
    Pada saat melakukan penyergapan terhadap lokasi persembunyian NORDIN M. TOP di Kampung Kepuh Sari Kelurahan Mojosongo Kec. Jebres Solo tanggal 17 September 2009 , Petugas menemukan barang bukti berupa senpi, handak, handphone, handycam dan 2 buah laptop milik NMT, dari barang bukti laptop yang ditemukan kemudian dilakukan analisa secara cyber forensic ditemukan file-file milik NMT yang mengindikasikan bahwa kelompok teroris masih menjadikan tempat-tempat pariwisata di Bali sebagai sasaran target peledakan berikutnya.
    Para teroris melakukan serangan bom di Bali, sehingga timbul masalah mengapa Bali selalu menjadi sasaran serangan teroris ? Dari bebarapa dokumen yang berhasil ditemukan atas penyelidikan pihak Kepolisian diperoleh gambaran bahwa mereka memilih Bali karena serangan mereka di Bali adalah serangan yang berdampak global, karena Bali terkenal diseluruh dunia malah lebih dikenal dari Indonesia sehingga serangan di Bali akan mendapat liputan media internasional, dengan demikian dunia akan mendapat pesan bahwa serangan tersebut ditujukan kepada Amerika dan sekutu-sekutunya sehingga dampak psikologis bagi dunia internasional lebih mudah tercapai.
    Bahwa serangan yang dilakukan teroris di Bali lebih memungkinkan dilakukan untuk menimbulkan korban yang bersifat masal dari tempat lain di Indonesia, karena mereka menganggap para wisatawan asing yang berkunjung ke Bali adalah musuh mereka dan sering berkumpul di restoran-renstoran, tempat-tempat diskotik.
    Secara garis besar dapat dijelaskan tempat-tempat yang berpotensi menjadi serangan teroris khususnya di Bali adalah sasaran yang banyak orang asing dan mudah untuk dimasuki/diterobos serta pengamanannya tidak terlalu ketat/longgar, seperti : tempat-tempat wisata (Tanah Lot, tugu peringatan bom Bali, pantai kuta, pasar seni Ubud), tempat-tempat makan/minum ( Mc Donald, Pizza Hut, KFC, restoran yang biasa dipenuhi orang asing, kafe makanan ringan dan minuman karena orang lokal jarang kesana dan mudah diterobos), tempat-tempat hiburan/olah raga (tempat pementasan tarian, lapangan golf, diskotik, kebun binatang), tempat-tempat perbelanjaan, tempat-tempat turun/naik kendaraan wisatawan, bandara, pelabuhan dan hasil analisa bom yang terjadi di Hotel J.W Marriot dan Hotel Ritz Carlton pada tanggal 17 Juli 2009, tidak menutup kemungkinan hotel-hotel berbintang yang ada di Bali dapat dijadikan target peledakan oleh pelaku-pelaku terorisme.
    Oleh karena itu untuk menjaga keamanan di Wilayah Bali, kita semua harus memiliki kepedulian dan berperan aktif dalam upaya pencegahan dan pendeteksian secara dini terhadap pelaku terorisme maupun hal-hal yang berkaitan dengan terorisme di wilayah Bali. Untuk memudahkan kita dalam mengenali dan memahami hal-hal yang berkaitan dengan pelaku terorisme dan aktifitasnya maka kita perlu mengetahui beberapa hal antara lain :
    a. Peralatan-peralatan khusus yang biasa dibawa pelaku terorisme yang membedakan mereka dengan masyarakat umum.
    b. Mengenal bahan-bahan yang patut dicurigai sebagai bahan baku pembuatan bom atau senjata-senjata yaang biasa digunakan pelaku terorisme.
    c. Sistem pendeteksian dini terhadap peralatan atau bahan-bahan yang biasa dibawa dan dipergunakan para pelaku teroris.
  3. Peralatan-Peralatan Khusus yang Biasa dibawa Pelaku Terorisme yang Membedakan Mereka dengan Masyarakat Umum.
    Untuk melakukan deteksi terhadap masuknya pelaku-pelaku /cell-cell teroris ke wilayah Bali , sebaiknya kita perlu mengetahui peralatan-peralatan khusus yang dibawa maupun ciri-ciri pelaku teroris yang membedakan mereka dengan masyarakat umum. Selama ini kita terbawa oleh stigma bahwa pelaku terorisme cenderung berjanggut, berpakaian gamis dengan celana sebatas mata kaki , penafsiran secara pendek pelaku teroris dari cara berpakaian dan berpenampilan seperti itu menimbulkan ekses negatif dimasyarakat dimana masyarakat akhirnya menvonis orang yang berjanggut, berpakaian gamis dan celana sebatas mata kaki adalah pelaku terorisme, sedangkan dari fakta –fakta rekaman, foto dan barang-barang bukti yang ditemukan di TKP peledakan menunjukkan bahwa pelaku teroris/calon pengantin dalam melakukan aksinya tidak memakai pakaian maupun ciri-ciri seperti yang disebutkan diatas , mereka berpakaian seperti layaknya masyarakat umum dan mereka selalu berusaha menyesuaikan dengan situasi dan kondisi di lokasi target peledakan. Seperti Pelaku Bom bunuh diri di Raja’s Cafe yang secara tidak sengaja sempat di shooting oleh wisatawan asing, pelakunya mengenakan celana jeans dan baju kaos hitam dan membawa tas ransel sedangkan pelaku bom bunuh diri di Hotel J.W. Marriot dan Ritz Carlton beberapa hari sebelum melakukan peledakan terekam sedang shoping di salah satu mall di Jakarta membeli pakaian-pakaian casual/sehari-hari agar penampilannya sesuai dengan tamu-tamu yang menginap di hotel. Nassir Abbas salah satu mantan pimpinan JI yang juga ipar dari Amrozy dan Ali Gufron Alias Muchlas dalam suatu statementnya di media mengatakan bahwa kelompok mereka pada saat melakukan aksinya cenderung memakai topi dan kaca mata hal tersebut dilakukan untuk menambah kepercayaan diri dan menghindari kontak mata dengan orang lain. Sehingga dari cara berpakaian pelaku teroris selalu menyesuaikan pakaian yang dipakainya dengan lokasi dimana pelaku akan melakukan aksi peledakan.
    Dalam ikatan kelompok para pelaku teroris menggunakan istilah ”Tanzhim ziri” yaitu organisasi yang bersifat rahasia dan dalam berkomunikasi mereka menggunakan istilah-istilah yang hanya diketahui oleh kelompok mereka seperti ”Ikhwan” (saudara) dan Fa’i (merampok harta orang kafir) sehingga apabila ada orang luar yang masuk ke kelompok mereka dengan cepat mereka ketahui dari istilah-istilah yang mereka pergunakan. karakteristik yang lain dari kelompok teroris yaitu mereka berperilaku eksklusive, tidak merokok dan cenderung menghindar tatapan mata dengan orang lain, selalu berjamaah hanya dengan kelompoknya sendiri, membubarkan diri jika ada orang diluar kelompoknya yang ikut dalam pertemuan, bersifat militan , selalu berpindah-pindah , memakai banyak nama, tidak diketahui oleh keluarganya, rata-rata mereka adalah laki-laki dan tinggal 2(dua) orang atau lebih dalam satu rumah, jarang keluar rumah, taat ibadah dan sholat serta rata-rata mereka berusia muda 18-40 tahun.
    Peralatan-peralatan khusus yang biasa dibawa oleh pelaku terorisme sedapat mungkin juga disesuaikan dengan lokasi yang dijadikan target sehingga kehadiran mereka di lokasi tersebut tidak menimbulkan kecurigaan baik oleh aparat keamanan maupun masyarakat disekelilingnya seperti pelaku bom bunuh diri di Hotel J.W Marriot dan Ritz Carlton Jakarta , pelaku terekam di CCTV pada saat chek in dengan menarik bag travel seperti layaknya tamu-tamu yang lain. Pelaku bom bunuh diri di Raja’s cafe kuta sequare membawa tas ransel di gendong sebagaimana layaknya wisatawan domestik lainnya yang biasa membawa tas ransel kecil.
    Secara umum peralatan-peralatan khusus yang dibawa oleh pelaku terorisme yaitu tas bahu, ransel, rompi, tas pinggang/money bell, tas paha, tas camera/handycam, peralatan tersebut berguna untuk menyembunyikan rangkaian bom dan kabel-kabel rangkaian maupun switchingnya agar tidak mengundang perhatian petugas maupun orang lain. Ada kalanya mereka mengkombinasikan antara rompi ,ransel dan tas pinggang yang berguna untuk memperbanyak jumlah bom yang dibawa serta memperbesar effect ledakan.
    Peralatan khusus lainnya yang sering dibawa dan dipergunakan oleh pelaku teroris adalah benda-benda yang dapat dijadikan sebagai casing bom itu sendiri seperti filling kabinet yang digunakan oleh pelaku Bom Bali 12 Oktober 2002, tupperware benda ini banyak sekali ditemukan dan disita oleh pihak Kepolisian sebelum dan sesudah tertangkapnya DR. Azahari di Batu Malang yang dikenal expert dalam merangkai bom, peralatan khusus lainnya yaitu Aluminium foil , pipa paralon , timer sebagai switch untuk bom waktu.
    Mobilitasnya Pelaku teroris menuju ke lokasi yang dijadikan target peledakan biasanya menumpang taxi, menyewa sepeda motor maupun menumpang ojek, yang perlu diwaspadai pada saat menumpang taxi pelaku terorisme tidak mengijinkan pengemudi taxi untuk membantu mengangkat barang bawaannya atau menaruh barang-barangnya di bagasi , barang-barang yang dibawanya harus selalu berada dekat dengannya begitu juga halnya dengan menumpang ojek. Apabila pelaku terorisme mempergunakan atau menyewa sepeda motor sedapat mungkin mereka akan mempergunakan plat nomor palsu dan biasanya mereka menambah rangkaian-rangkaian tertentu dalam sepeda motor tersebut untuk mengelabui petugas atau melakukan trick-trick tertentu seperti pengakuan Ali Imron salah satu pelaku Bom Bali 12 Oktober 2002 bahwa dia memasang rangkaian tombol tertentu pada sepeda motor yang disewanya untuk mengelabui petugas bahwa sepeda motor yang dikendarainya mogok sehingga kehadirannya di lokasi peledakan tidak menimbulkan kecurigaan petugas.
    Sedangkan peralatan komunikasi elektronik yang biasa dibawa dan dipergunakan oleh pelaku teroris yaitu HP dan laptop untuk akses internet dengan mempergunakan kata-kata sandi seperti ” calon pengantin” untuk istilah pelaku bom bom bunuh diri dan ”pesta” untuk istilah peledakan. Hp juga sering dipergunakan sebagai switch bom yang diledakkan dari jarak jauh sedangkan laptop sebagaimana temuan di kamar 1808 Hotel Ritz carlton dipergunakan sebagai casing bom.
  4. Mengenal Bahan-Bahan yang Patut Dicurigai sebagai Bahan Baku Pembuatan Bom atau Senjata-Senjata yang Biasa Digunakan Pelaku Terorisme.
    a. Bahan-bahan yang patut dicurigai sebagai bahan baku pembuatan Bom.
    Bahan baku bom yang lebih umum dikenal sebagai bahan peledak atau handak secara teoritis memiliki pengertian adalah bahan atau zat yang berbentuk padat,cair dan gas atau campurannya yang apabila dikenai suatu aksi berupa panas, benturan/gesekan akan berubah secara kimiawi menjadi zat-zat lain, yang lebih stabil yang sebagian besar atau keseluruhannya berbentuk gas dan perubahan tersebut berlangsung dalam waktu yang sangat singkat disertai efek panas dan tekanan yang sangat tinggi. Penggolongan handak dibedakan menjadi 2(dua) golongan yaitu :
    1) High exploxives yaitu bahan peledak yang berdaya ledak tinggi contoh : RDX, TNT (Tri Nitro Tolun), C4, Detasit (C2) dll.
    2) Low explosives yaitu bahan peledak berdaya ledak rendah contoh : Belerang (sulfur), potasium clorat, bubuk aluminium, black powder dll.
    Bahan peledak high explosive umumnya digunakan untuk kepentingan militer dengan bentuk-bentuk bom yang mudah dikenali seperti granat, mortir dan ranjau sedangkan bahan peledak low explosive dapat dibeli di toko-toko kimia karena bahan-bahan tersebut banyak digunakan untuk kepentingan industri dan pertanian seperti campuran pupuk. Kemudahan untuk untuk mendapatkan bahan peledak low explosive ini dimanfaatkan oleh pelaku teroris untuk mendapatkan bahan-bahan baku campuran bom. Pelaku teroris dalam mencampur bahan peledak pada umumnya menggabungkan antara bahan low explosive dengan high explosive dengan tujuan untuk mempertinggi daya ledak dari pada bom itu sendiri.
    Bom itu sendiri adalah suatu rangkaian bahan peledak yang dilengkapi sistem penyalaan yang dibentuk dalam suatu kemasan terdiri dari :
    1) Power/Baterai
    2) Detonator/inisiator
    3) Explosive/Handak
    4) Switch/Pemicu
    5) Gotri/paku ( bahan ini ditambahkan oleh pelaku teroris sebagai penambah daya pembunuh bom itu sendiri)
    Visualisasi bom dilapangan tidak mempunyai bentuk khusus sehingga bisa berbentuk apa saja sesuai dengan target yang akan dijadikan sasaran peledakan bisa berbentuk kotak kardus, tupper ware, tas, laptop, pipa, kaleng , koper dsb. Kecuali bom militer yang bisa dengan mudah dikenali seperti granat, ranjau dan mortir. Bom yang dibuat oleh pelaku teroris mempunyai kejanggalan-kejanggalan yang dapat dijadikan bahan kecurigaan oleh petugas untuk melakukan pemeriksaan secara lebih teliti seperti :
    1) Adanya kabel yang menyembul.
    2) Terlihat/terdengar ada jam.
    3) Terlihat/terdengar ada handphone
    4) Keluar asap
    5) Ada bekas minyak/serbuk menempel pada casing.
    b. Senjata-Senjata yang Biasa Digunakan Pelaku Terorisme.
    Para pelaku teroris selain cell-cell recruit yang baru, pada umumnya pernah mengikuti pelatihan militer di Camp Akademi militer Afghanistan maupun Camp Militer Mindanao Philippina Selatan sehingga mereka sangat terlatih dalam mempergunakan senjata api dalam berbagai macam jenis. Senpi yang berhasil diamankan dan disita oleh Aparat Kepolisian pada saat melakukan penyergapan di beberapa lokasi persembunyian teroris diduga diselundupkan dari Mindanao kemudian disebarkan ke wilayah konflik seperti Ambon dan Poso.
    Senpi yang biasa dibawa dan digunakan oleh pelaku teroris untuk tujuan tertentu maupun untuk pembelaan diri apabila aktifitasnya dideteksi oleh petugas adalah :
    1) M.16
    2) FN BARETTA ( dibawa oleh Noordin M.Top saat penyergapan di Kampung Kepuhsari Solo).
    3) Revolver 38 special
    4) Senpi Rakitan.

  5. Sistem Pendeteksian Dini terhadap Peralatan atau Bahan-Bahan yang Biasa Dibawa dan Dipergunakan Para Pelaku Teroris.
    Pendeteksian dini terhadap terhadap munculnya pelaku teroris di Wilayah Bali memerlukan suatu sistem yang integral yang melibatkan berbagai institusi yang terkait didalamnya . Kepolisian mempunyai tugas utama menjaga keamanan wilayah Bali terutama dari ancaman terorisme yang sangat berdampak luas terhadap sendi-sendi kehidupan perekonomian di Bali. Dalam menjaga keamanan Bali perlu didukung kerjasama yang sinergis dan saling mendukung antara Aparat Keamanan, Pemerintah Daerah, Komponen pariwisata dan seluruh potensi yang ada di masyarakat terutama pemberdayaan Desa Pekraman sebagai salah satu ciri khas masyarakat Bali. Kepolisian tidak akan dapat bekerja dengan ego-institusinya tanpa dukungan dukungan dari institusi maupun komponen-komponen tersebut diatas.
    Dalam melakukan pendeteksian terhadap pelaku teroris , upaya-upaya yang dilakukan melalui kegiatan yang bersifat :
    a. Pre-emtif berupa :
    1) Mengajak dan menghimbau kepada seluruh lapisan masyarakat untuk memerangi terorisme, guna menumbuh kembangkan sikap tangkal dan kewaspadaan masyarakat untuk tidak menjadi korban melalui kegiatan penyuluhan dan paparan .
    2) Pembinaan dan penyuluhan kepada para pengusaha hotel dan tempat keramaian umum dan satuan pengamanan hotel, restauran maupun tempat-tempat hiburan.

3) Pembinaan dan penyuluhan terhadap tokoh masyarakat, agama, adat dan nelayan pesisir pantai.
4) Pendistribusian buku-buku yang berhubungan dengan penangkalan terorisme kepada tokoh-tokoh agama.
b. Preventif (Mencegah dan menangkal) dilaksanakan melalui kegiatan berupa :
1). Inventarisasi daerah rawan sasaran terror.
2) Pendataan rumah kost, kontrakan dan penduduk pendatang di seluruh wilayah Bali.
3). Pemeriksaan terhadap orang, kendaraan–kendaraan/ barang bawaan yang masuk ke Bali melalui pelabuhan penyebrangan Gilimanuk dan Padang Bai, Bandar Udara Ngurah Rai , Pelabuhan Benoa, Celukan Bawang dan Pelabuhan tradicional.
4) Melaksanakan razia secara teratur di Jalan umum serta akses-akses jalan menuju tempat-tempa pariwisata.
5) Melakukan sweeping terhadap jasa-jasa pengiriman barang melalui perusahan expedisi/kargo.
6) Melalukan surveillance terhadap kelompok-kelompok tertentu atau perseorangan yang diduga anggota teroris.
7) membentuk dan mengembangkan jaringan informasi sehingga dapat dipetakan tempat-tempat yang mempunyai kerawanan terror serta Penggalangan tokoh formil maupun nonformil untuk membentuk system informasi secara dini.
Dalam melakukan kegiatan deteksi terhadap peralatan atau bahan-bahan yang biasa dibawa dan dipergunakan para pelaku teroris memerlukan suatu alat deteksi yaitu suatu alat untuk mengetahui benda-benda/bahan sebagai bom/bahan peledak sebagai berikut :
1) Hand Metal detector
Suatu alat yang digunakan untuk mengetahui adanya unsur logam yang ada pada orang/barang.
2) Hand held mirror
Alat bantu yang dipergunakan untuk memeriksa benda/barang yang tidak terjangkau oleh penglihatan.
3) Security door
Alat untuk mendeteksi adanya unsur logam yang ada atau dibawa oleh orang.
4) X-ray manual dan digital
Untuk mendeteksi barang-barang yang ada didalam tas, paket, bungkusan, koper dsb. Catatan: X-ray manual masih menggunakan sistem polaroid.

5) Fiberscope LCD dan Manual
Untuk melihat melalui layar LCD suatu benda /barang didalam suatu kemasan.
6) EVD 3000
Alat deteksi handak terbaru untuk mendeteksi handak dgn cara penciuman thd bau / unsur-unsur handak

  1. Kesimpulan
    Berdasarkan uraian-uraian yang telah dijelaskan tersebut diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu :
    a. Pelaku terorisme tidak pernah diam, jaringan maupun cell-cellnya selalu bergerak dari satu tempat ke tempat lain yang dirasakan aman sebagai safe house, mereka selalu berusaha merecruit cell-cell baru terutama anak-anak remaja sebagai “calon pengantin”. Serangan yang dilakukan oleh kelompok terorisme bersifat konseptual , terencana dan terorganisir .
    b. Cara melakukan eksekusi, ciri-ciri mereka, peralatan yang dibawa dan digunakan pelaku teroris bersifat fleksibel, dapat berubah-ubah menyesuaikan dengan lokasi target peledakan dengan maksud memudahkan mereka mengelabui pemeriksaan yang dilakukan petugas keamanan maupun perhatian dari orang-orang disekelilingnya.
    c. Bali masih tetap berpotensi sebagai target peledakan bom berdasarkan hasil analisa secara cyber forensic ditemukan file-file dalam laptop milik NOORDIN M.TOP yang mengindikasikan bahwa kelompok teroris masih menjadikan tempat-tempat pariwisata di Bali sebagai sasaran target peledakan berikutnya.
    d. Untuk dapat melakukan pendeteksian dini terhadap pelaku teroris, perlu diketahui peralatan-peralatan khusus yang biasa dibawa pelaku terorisme yang membedakan mereka dengan masyarakat umum, mengenal bahan-bahan yang patut dicurigai sebagai bahan baku pembuatan bom atau senjata-senjata yaang biasa digunakan pelaku terorisme serta sistem pendeteksian dini terhadap peralatan atau bahan-bahan yang biasa dibawa dan dipergunakan para pelaku teroris.

  2. Saran
    Dalam rangka bersama-sama menjaga Bali dari ancaman terorisme dapat disarankan hal-hal sebagai berikut :
    a. Perlunya peningkatan peran serta aktif segenap potensi yang ada di masyarakat termasuk komponen pariwisata untuk melakukan deteksi dini terhadap masuknya pelaku-pelaku teroris ke Wilayah Bali dengan cara peduli terhadap situasi disekitarnya dan menginformasikan kepada petugas yang berwenang apabila ada hal-hal yang mencurigakan yang ditemukan atau terjadi disekelilingnya.
    b. Memberdayakan dan meningkatkan peran serta Desa Pekraman yang ada diseluruh Wilayah Bali untuk melakukan deteksi melalui kegiatan pendataan penduduk pendatang termasuk pengawasannya.
    c. Perlunya pengadaan alat deteksi berupa X-ray Cargo /Gantry Cargo inspection terutama di wilayah penyebrangan Gilimanuk dan Padang Bai untuk mendeteksi barang-barang muatan truck-truck , kontainer dan kendaraan box.

  3. Penutup
    Demikianlah materi ini disajikan , sebagai masukan dan bahan informasi dalam rangka bersama-sama menjaga situasi dan keamanan wilayah Bali dari ancamaan terorisme .

metode dan tujuan terorisme

PERBEDAAN KEJAHATAN TERORISME DENGAN KEJAHATAN TRANSNASIONAL.

Terorisme sesungguhnya bukanlah fenomena baru karena terorisme telah ada sejak abad ke – 19 dalam percaturan politik internasional. Terorisme pada awalnya bersifat kecil dan lokal dengan sasaran terpilih dan berada dalam kerangka konflik berintensitas rendah yang pada umumnya berkaitan erat dengan stabilitas politik suatu negara. Namun dewasa ini terorisme telah berdimensi luas yang berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan mayarakat dan kejahatan yang bersifat lintas negara (transnasional crime) dan tidak lagi dikategorikan sebagai konflik berintesitas rendah akan tetapi sudah termasuk kejahatan global dan menimbulkan dampak yang sangat luas
Bentuk perkembangan dari terorisme itu sendiri kini terorisme tidak hanya menjadikan kehidupan politik sebagai sasarannya seperti pada awal kemunculannya, tetapi kini mulai merambah, merusak dan menghancurkan sendi-sendi kehidupan manusia yaitu menurunnya kegiatan ekonomi dan terusiknya rasa kemanusiaan serta budaya masyarakat yang dinilai berbeda dan bertentangan dengan ideology , kepercayaan dan haluan dari kelompok teroris.
Terorisme apalagi yang menggunakan bahan peledak merupakan kejahatan luar biasa(extraordinary crime) dan kejahatan terhadap peradaban yang menjadi ancaman serius bagi segenap bangsa serta musuh dari semua agama di seluruh belahan dunia ini. Terorisme dalam perkembangannya membangun organisasi dan mempunyai jaringan global dimana kelompok-kelompok terorisme yang beroperasi di berbagai negara telah terorganisir oleh suatu jaringan terorisme internasional serta mempunyai hubungan dan mekanisme kerja sama satu dengan yang lain.
Tujuan teroris adalah guncangan terhadap pemerintah dan pemerintahan yang dianggap lawan karena berseberangan dengan cita cita dan haluan kelompok Teroris melalui bentuk bentuk kegiatan yang mengancaman keamanan dan ketertiban yang akan berpengaruh terhadap stabilitas nasional suatu bangsa dimana stabilitas nasional merupakan salah satu faktor utama/kunci stabilitas ekonomi guna meningkatkan kualitas hidup suatu bangsa dan Negara, sehingga bagi pelaku terorisme adalah lumrah untuk selalu menggunakan segala upaya dalam mewujudkan “perjuangan” yang diyakini oleh kelompoknya bahwa apa yang diperjuangkan adalah benar .
Sebagai contoh aktivitas teroris yang berkembang dan menggunakan Indonesia sebagai basis gerakkan adalah pada peristiwa serangan bom di Bali, timbul pertanyaan mengapa Bali selalu menjadi sasaran serangan teroris ? Dari bebarapa dokumen yang berhasil ditemukan atas penyelidikan pihak Kepolisian diperoleh gambaran bahwa mereka memilih Bali karena serangan mereka di Bali adalah serangan yang berdampak global.
Bali terkenal diseluruh dunia malah lebih dikenal dari Indonesia sehingga serangan di Bali akan mendapat liputan media internasional, dengan demikian dunia akan mendapat pesan bahwa serangan tersebut ditujukan kepada Amerika dan sekutu-sekutunya sehingga dampak psikologis bagi dunia internasional lebih mudah tercapai. Bahwa serangan yang dilakukan teroris di Bali lebih memungkinkan dilakukan untuk menimbulkan korban yang bersifat masal dari tempat lain di Indonesia, karena mereka menganggap para wisatawan asing yang berkunjung ke Bali adalah musuh mereka dan sering berkumpul di restoran-renstoran, tempat-tempat diskotik .
Secara garis besar dapat dijelaskan tempat-tempat yang berpotensi menjadi serangan teroris khususnya di Indonesia sebagi contoh, adalah sasaran yang terdapat banyak aktivitas warga Negara asing dan mudah untuk dimasuki/diterobos serta pengamanannya tidak terlalu ketat/longgar, seperti : tempat-tempat wisata, tempat-tempat makan/minum ( Mc Donald, Pizza Hut, KFC, restoran yang biasa dipenuhi orang asing, kafe makanan ringan dan minuman karena orang lokal jarang kesana dan mudah diterobos), tempat-tempat hiburan/olah raga (tempat pementasan tarian, lapangan golf, diskotik, kebun binatang), tempat-tempat perbelanjaan, tempat-tempat turun/naik kendaraan wisatawan, bandara, pelabuhan.
Globalisasi yang dipacu oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama dibidang transportasi, komunikasi dan informasi merupakan suatu proses interaksi dan interrelasi yang intensif antar negara-negara dan masyarakatnya dalam berbagai kegiatan kehidupan, sehingga dunia seolah-olah menjadi tanpa batas (Transborder Crimes) dan terasa lebih kecil serta lebih transparan, mengakibatkan kejadian disuatu negara dengan cepat dapat diketahui oleh negara-negara lain.
Perkembangan lingkungan strategis di era globalisasi tersebut telah memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kehidupan masyarakat dan membentuk nilai-nilai universal yang kemudian menjadi tolok ukur penting peradaban bangsa-bangsa didunia termasuk Indonesia, yaitu Demokratisasi, Hak Azasi Manusia (HAM), Lingkungan Hidup dan Pasar Global. Demikian pula halnya Pembangunan Nasional dalam berbagai bidang yang dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia selama ini telah menunjukkan kemajuan yang cukup pesat dengan berbagai hasil pembangunan yang telah dirasakan oleh bangsa Indonesia, yang kesemuanya tidak lepas dari dampak positif perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Ketika peradaban umat manusia semakin meningkat selanjutnya adalah ditemukan bahwa kejahatan sebagai baying baying dari sebuah peradaban “ Crime is The shadow of Civilaization “ oleh Chairuddin Ismail ditegaskan sebagai suatu fenomena yang menjelaskan perkembangan dari suatu kejahatan yang senantiasa berkembang baik dari kualitas dan kuantitas, bentuk perkembangan kejahatan selanjutnya yang memanfaatkan kecanggihan teknologi, kemudahan dan berkomunikasi menyebabkan seolah olah batas fisik suatu Negara menjadi pupus / Borderless Crime.
Kejahatan yang dilakukan antar lntas Negara memiliki keunikan tersendiri, dimana adanya perbedaan system hukum dan pemerintahan, termasuk sikap dan persepsi Negara dalam menanggapi suatu fenomena kejahatan memberikan peluang semakin berkembang dan kuatnya kejahatan lintas Negara terjadi. Beberapa pendapat yang menyebutkan tentang kejahatan lintas Negara sebagai suatu Kejahatan Transnasional / Transnational Crime, adalah merupakan jawaban logis atas tumpang tindih pemahaman terhadap suatu kejahatan sebagai kejahatan Internasional ataukah merupakan bentuk kejahatan Transnasional.
Dalam ASEAN Declaration On Transnational Crime , tanggal 20 December 1997 – dalam Meeting ASEAN Minister of Interior In Manila, Terorisme dimasukkan sebagai bentuk kejahatan Transnasional bersama dengan kegiatan perdagangan Narkoba secara illegal, Pencucian Uang hasil kejahatan, Perdagangan manusia, Penyelundupan senjata Api, dan Perompakan di laut.
Rumusan kejahatan dalam Deklarasi ASEAN dimaksudkan untuk memberikan panduan kepada Negara Negara ASEAN untuk menyelaraskan pandangan dan tindakan dari pemikiran bahwa terdapat perbedaan sumber dan struktur hukum termasuk budaya hukum di masing masing Negara, bahwa kejahatan Transnasional yang mengandung pengertian utama sebagai suatu kejahatan yang dilakukan oleh orang perorang maupun terorganisasi dengan melalui lintas batas territorial suatu bangsa dalam kawasan regional maupun global.Hal mendasar yang perlu diingat tentang terorisme sebagai bagian dari kejahatan yang dikategorikan sebagai Transnational Crime dengan kejahatan lainnya adalah bahwa tujuan dan metode yang digunakan dalam kejahatan terorisme sangat spesifik dibandingkan dengan kejahatan lain dalam rumusan Kejahatan Transnasional .
Tujuan Terorisme melakukan tindakan adalah untuk menimbulkan ketakutan yang amat sangat dalam masyarakat, kekhawatiran yang menjalar, dan timbulnya rasa kekhawatiran atas keselamatan diri dan harta benda akibat sifat serangan yang keras dan sangat acak.berbeda bila dibandingkan dengan kejahatan lain seperti Tindak Pidana pencucian uang , Perdangan manusia, perdagangan Narkoba secara illegal maupun Perompakan laut dan perdanganan senjata Illegal, adanya kesan bahwa pelaku kejahatan Transnasional selain terorisme untuk lebih menggutamakan keuntungan finasial dibandingakan sebuah pengakuan maupun perubahan radikal terhadap kebijakan dan Kepemerintahan suatu Negara.
Secara jelas terkait tujuan terorisme , dengan mengambil contoh kasus jaringan teroris AL Qaeda maupun Jamaah Islamiyah adalah melakukan serangan serangn massif, anarkhis dan menggunakan teknologi serta taktit dan teknis khusus ( Bom Bunuh diri ) kepada kepentingan Amerika serta sekutunya , termasuk Pemerintah Indonesia dengan tujuan untuk mengubah paradigm hukum dan masyarakat Indonesia untuk mengikuti arah “perjuangan “ Kelompok Al Qaeda dan Jemaah Islamiyah yang mengingikan adanya kedaulatan dan tatanan hukum baru sesuai keinginan kelompok mereka.
Serangan- serangan terhadap symbol kekuatan Asing ( Amerika ) merupakan pesan bahwa perjuangan kelompok mereka adalah melawan hegemoni kekuasaan Amerika yang ada di Indonesia berbeda halnya dengan kejahatan Transnasional lainnya, semisal tindak pencucian uang yang dilakukan pelaku korupsi dan Indonesia untuk kemudian melarikan diri dan bersembunyi di Singapura, adalah kepentingan ekonomi yang digunakan sebagai tujuan melakukan penggelapan, korupsi termasuk pencucuian uang didalamnnya.
Demikian juga dengan tindak pidana penjualan Narkoba antar Negara di regional ASEAN, dimana Aceh dikenal sebagai pemasok ganja dengan kualitas baik untuk diperdagangkan secara melawan hukum di Malaysia dan Singapura, kepentingan ekonomi lagi lagi menjadi alasan utama pelaku berani memperjualbelikan antar Negara walaupun resiko hukuman mati menanti bila tertangkap, dalam beberapa konteks kasus memang dijumpai keterlibatan sindikat narkoba antar Negara, pedagang senjata illegal dan kegiatan pencucian uang saling berkolaborasi dengan jaringan Terorisme , sebagai mutualisme yang saling menguntungkan, setiap pihak memperoleh keuntungan walaupun dengan tujuan yang berbeda ( pedangan senjata illegal dan sindikat Narkoba Internasional berkolaborasi dengan jaringan teroris Internasional ).
Selain Tujuan dari tindakan kelompok terorisme yang berbeda dengan tujuan kegiatan pelaku kejahatan Transnasional lainnya adalah adanya perbedaan metode atau cara, seperti diketahui bahwa tujuan kelompok terorisme adalah mencapai suatu perubahan dalam tata kepemerintahan , Ideologi maupun Politik , dimana secara mudah dilakukan melalui metode metode kekerasan, menggunakan bahan peledak, intimidasi, penculikan , pembunuhan yang semakin berkembang namun kata kunci “ Kekerasan “ tetap kentara, secara umum masyarakat akan mempersepsikan suatu kejahatan menjadi demikian menakutkan apabila dilakukan dengan sangat brutal dan tanpa belas kasihan, hal yang berbeda adalah dijumpai dalam kejahatan perdangan manusia berupa penyelundupan, penipuan dan penelantaran terhadap calon calon tenaga kerja lintas negara walaupun juga ditemukan sindikat perdagangan manusia menggunakan cara cara kekerasan seperti ancaman, intimidasi , pelecehan seksual dan pembunuhan , namun persepsi masyarakat tidak setakut menghadapi ancaman terror . peraganan narkoba, penjualan senjata illegal dan Perompakan laut sangat jarang menggunakan kekerasan mematikan secara massif / besar besaran dalam operasinya , hal ini dikarenakan hakekat kejahatan tadi adalah untuk memperoleh keuntungan finasial sebanyak mungkin sehingga mengharuskan mereka melakukan kejahatan secara sangat terselubung dan menghindar dari deteksi aparat keamanan.
Tindak kekerasan secara brutal dengan aksi serangan bom bunuh diri dapat menimbulkan kerugian jiwa yang tidak sedikit, namun kerugian yang ditimbulkan oleh penyalahgunaan Narkoba akibat perdagangan narkoba secara illegal oleh sindikat Narkoba antar Negara dapat lebih banyak dan lebih menggejala akan tetapi karena aksi serangan dengan Bom lebih menakutkan akibatnya korban penyalahgunaan Narkoba, walaupun banyak yang bergelimpangan namun dianggap kurang menakutkan bagi masyarakat.

Kesimpulan :
1. Tujuan antara kejahatan terorisme dengan kejahatan lain yang termasuk dalam Transnational crime secara spesifik memberikan definisi perbedaan yang mendasar, ketika ketakutan, kecemasan dan terror diharapkan tercapai dalam setiap serangan terorisme , maka keuntungan financial adalah tujuan utama dari pelaku perdagangan Narkoba Illegal, Penyelundup senjata api, Pencuacian uang , perdagangan manusia bahkan pelaku Perompakan di laut.
2. Metode brutal , anarkhis digunaklan kelompok terror untuk mencapai tujuan , perkembangan jenis jenis serangan yang dilakukan semakin mematikan dan semakin meningkatkkan rasa khawatir dan takut dalam masyarakat , yang merasa terancam untuk menjadi korban dibandingkan ketakutan masyarakat menajdi korban kegiatan pencucuian uang, atau Penyalah gunaan Narkoba yang biasanya dilakukan tidak dengan metode kasar dan brutal , bahkan dengan metode halus , persuasive , menipu serta dilakukan oleh kelompok orang orang yang terlihat baik.