Kebakaran dan pembakaran hutan ,mau sampai kapan

Berikut penjelasan dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dr Siti Nurbaya, menanggapi situasi terkini Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Indonesia.

Saat ini Indonesia tengah memasuki musim krusial Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Meski jumlah hotspot atau titik api secara Nasional berkurang hingga 70-90 persen, namun kewaspadaan terus ditingkatkan seiring dengan mulai masuknya musim kering. 
Jumlah hotspot tahun 2016 dibanding tahun 2015 (Periode 1 Januari-28 Agustus) dari pantauan satelit NOAA18/19 mengalami penurunan dari 8.247 titik tahun lalu, menjadi 2.356 titik pada tahun ini atau lebih dari 74,64 persen.
Penurunan terbesar terjadi di Provinsi Riau dan Kalimantan Tengah. Di Riau, pada periode yang sama tahun 2015 terdapat 1.292 titik api, sementara tahun ini turun jadi 317 titik. Sedangkan di Kalteng, dari 1.137 titik api tahun lalu, turun menjadi 56 titik api pada tahun ini.
Sementara berdasarkan satelit TERRA/AQUA (NASA), dengan periode yang sama, terlihat jumlah hotspot tahun 2016 berkurang 74,70 persen dibanding tahun 2015. Tahun sebelumnya tercatat 11.690 titik api, tahun ini menjadi 2.937 titik api.
Penurunan yang cukup signifikan itu tidak terlepas dari upaya tiada henti tim terpadu di lapangan. Mereka bekerja tanpa mengenal hari libur bahkan sampai bermalam di lokasi untuk menjaga titik api tidak meluas. Lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat, dilakukan pemadaman melalui jalur udara. 
Untuk memaksimalkan upaya pengendalian Karhutla, Pemerintah Provinsi juga sudah menetapkan Status Siaga Darurat Penanggulangan Bencana Asap akibat Karhutla, seperti di Provinsi Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Jambi dan Kalimantan Selatan.
Selain itu dilakukan patroli terpadu sebagai upaya mensinergikan para pihak dalam pencegahan Karhutla sampai pada tahap tapak (masyarakat). Patroli Terpadu melibatkan unsur Manggala Agni, Polhut, TNI, POLRI, pers, LSM dan aparat desa/tokoh masyarakat. 
Pelaksanaan patroli berbasis komando bertingkat dengan operasional Posko Desa, Posko Daops, Posko tingkat Provinsi (Balai Besar/Balai KSDA/TN) dan Posko Nasional di KemenLHK.
Target kerja kita jelas: Jangan sampai rakyat kembali merasakan derita asap seperti tahun-tahun sebelumnya. Kita ingin menekan semaksimal mungkin jumlah titik api penyebab meluasnya dampak asap.
Semua pintu komunikasi telah saya buka selebar-lebarnya. Handphone pribadi saya selalu hidup selama 24 jam, 7 hari dalam seminggu. Saya menerima banyak sekali laporan, dari pagi hingga dini hari, baik melalui sms, BBM, email maupun whatsapp. Serta melalui media sosial facebook, fanpage dan twitter.
Laporan datang dari berbagai elemen masyarakat dan tim terpadu di lapangan. Semuanya saya baca dan menjadi referensi obyektif untuk mengambil langkah-langkah penanganan lanjutan. Serta melakukan koordinasi ke lintas sektoral, lintas Kementerian terkait dan pihak-pihak terkait lainnya. Tujuan utama kita adalah rakyat dan rakyat.   
Saya memantau asap cukup pekat saat ini menghampiri warga Duri, Dumai dan beberapa daerah di Riau. Sementara di Pekanbaru, pagi tadi asap kembali terlihat meski ISPU terpantau masih dalam status BAIK. 
Segenap hati dan perhatian saya tertuju pada rakyat di daerah yang saat ini merasakan dampak Karhutla. Kepala BNPB dan Kepala BRG telah berada di Riau. Upaya pemadaman dimaksimalkan dengan rencana penambahan dua helikopter lagi serta penambahan peralatan dan dukungan dari personil TNI/Polri.
Kondisi sekarang ini merupakan waktu kritis dan kita bersyukur masih bisa menekan sebaran titik api. Asap yang muncul juga bersifat fluktuatif dan bisa berubah sewaktu-waktu bergantung faktor alam seperti arah angin. Seiring juga dengan berbagai usaha serta kerja keras tim terpadu. Termasuk penegakan hukum bagi pelaku yang sengaja membakar lahan. Karena dari pantauan satelit terlihat, ada lahan-lahan yang sengaja dibakar dan meluas hingga membawa dampak asap.
Saya dapat memahami, rakyat di daerah yang rawan Karhutla, sudah jenuh dengan asap dan asap lagi. Namun saya
pastikan dan tegaskan, bahwa NEGARA TIDAK DIAM dan PEMERINTAH TERUS BEKERJA TIADA HENTI, dengan segala kekuatan yang ada untuk menangani Karhutla. Kita tidak ingin bencana ekologis yang membuat daerah tertutup asap selama berbulan-bulan seperti tahun lalu, kembali terulang. 
Upaya pemadaman tim terpadu hanyalah satu ikhtiar dari banyak instrumen yang pemerintah punya. Saat ini KLHK telah melakukan moratorium sementara izin pengelolaan hutan, lahan sawit dan pengelolaan lahan gambut. Ini salah satu langkah untuk mengevaluasi sekaligus membenahi pengelolaan sumber daya alam dengan tetap memperhatikan faktor lingkungan. 
Dalam upaya penegakan hukum Karhutla, KLHK melakukan pendekatan multidoors. Ada sanksi administratif dan gugatan perdata. 
Saat ini ada sekitar 30 perusahaan dikenakan sanksi administratif. Selain dalam bentuk teguran keras, izin-izin perusahaan yang terbukti bersalah, juga akan dicabut sementara sampai pada pencabutan izin secara permanen.
Selain itu hampir 10 perusahaan sedang berlangsung proses tuntutan perdata, yang dilakukan secara bertahap untuk memenuhi rasa keadilan di masyarakat. Sedangkan tuntutan pidana menyesuaikan dengan penanganan oleh POLRI.
Saya juga tegaskan bahwa Pemerintah Indonesia hanya bekerja sebagaimana mandat UUD 1945. Pemerintah bekerja untuk melaksanakan tanggungjawabnya pada RAKYAT INDONESIA. 
Kita tetap menghormati keluhan yang disampaikan Negara tetangga, tapi kita tidak bekerja menangani Karhutla karena desakan Negara lain. Indonesia menganut prinsip ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan perdamaian. Tidak atas desakan-desakan. Semua pihak luar hendaknya menahan berkomentar yang tidak perlu dengan tetap melihat upaya-upaya yang telah dilakukan secara sistematis dan serius oleh pemerintah Indonesia. Terlihat dari menurunnya titik api dan luasan sebaran asap, bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun-tahun sebelumnya. 
Saya yakin sepenuh hati, dengan kebersamaan dan keseriusan semua pihak mengambil tanggungjawabnya, serta penuh kejujuran untuk melihat kondisi yang ada, maka masalah ekologis yang sudah menahun ini pasti bisa diatasi. 
Semua upaya untuk membenahi apa yang telah rusak sebelumnya ini, mungkin tidak akan seketika terlihat hasilnya. Namun upaya pemerintah jelas mengarah untuk berbuat yang terbaik bagi rakyat. Terutama agar tidak terus menerus merasakan derita asap. 
Titik apinya kita kejar. Asapnya kita tangani. Pembakarnya harus diberi hukuman. Masyarakat terus kita dampingi agar membuka lahan tidak dengan cara membakar. Semuanya agar rakyat tetap bisa sejahtera hidup berdampingan dengan karunia alam pemberian Tuhan.

Pada akhirnya, semoga Tuhan yang Maha Esa selalu memberikan kekuatan atas ikhtiar yang terus kita lakukan. Pemerintah tidak bisa sendirian, harus ada dukungan penuh dari segenap pihak. Saya mohon dukungannya dari segenap rakyat Indonesia, untuk menjaga INDONESIA KITA.
Salam 

Menteri LHK, Siti Nurbaya
Link mengetahui peta sebaran titik panas satelit terra dan aqua, bisa lihat setiap hari di : 
http://satelit.bmkg.go.id/BMKG/index.php?pilih=31

Polri Under Attack

Belum habis berita demo yang berujung rusuh didepan Mapolres Meranti , kini ada lagi berita pembakaran Mapolsek akibat kesalahpahaman masyarakat atas tindakan kepolisian

Melihat adanya berbagai peristiwa penyerangan dan perusakkan pada akhirnya menimbulkan pertayaan ada apa dengan Polri dan Masyarakat, apakah peristiwa ini murni merupakan suatau pelampiasan atas adanya sumbatan komunikasi timbal balik dari Polri kepada masyarakat ataukah ada ‘pinjam tangan” pihak tertentu dalam konstelasi proxy war yang didengung dengunkan menggejala saat ini.

apapun ceritanya Mapolsek ampupun Polres adalah lambang eksistensi negara dalam melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat, yang artinya bilamana terdapat anggota Polri yang melakukan kesalahan adalah suatu kewajiban bagi organisasi melakukan penertiban pun demikian berarti Polri mungkin saja kalau dianggap perlu harus dibubarkan, namun Kepolisian sebagai fungsi harus tetap ada ditengah peradaban manusia.

Dari beberapa sumber pemberitaan yang sengaja dikutip pada tulisan ini adalah agar pembaca bersama sama dapat menelaah bagaimana sebenarnya pemetaan masalah dari fenomena penyerangan dan perusakaan kantor Polisi di Indonesia.

Secara statistik memang terlihat adanya jumlah angka yang sangat banyak , tiap tahun terdapat markas maupun fasilitas ataupun personil Polri yang diserang atau menjadi korban amuk massa.

kalau boleh saya klasifikasikan dari kumpulan data yang dihimpun mulai tahun 2010 sampai sekarang ( sumber open source di Internet ) terdapat setidaknya beberapa sumber permasalahan :

adanya bentuk Arogansi dan perilaku tidak profesional anggota Polri dalam melaksanakan tugas dilapangan terhadap masyarakat yang harus dilayani ;  resiko menjadi Polisi di daerah rawan maupun musuh bersama jaringan terorisme ; Imbas bentrok kekerasan antar aparat negara ( berseragam)

dari 3 kategorisasi ini, kita berangkat kedalam diskusi antara lain :

  1. ketika arogansi dan sikap tidak porfesional yang ditampilkan oleh personil polri menemukan peritiwa pemicu seperti penangkapan disertai kekerasan dan tindakan yang tidak sepatutnya maupun praktek-praktek penyalahgunaan wewenang tidak mengherankan masyarakat akan bergerak untuk menuntuk keadilan.lihat pada peristiwa :

http://www.beritasatu.com/nasional/382031-tito-sesalkan-aksi-penyerangan-mapolres-meranti.html

“Prinsipnya situasi sudah kondusif. Cuma saya menyesalkan peristiwa ini terjadi. Seharusnya tidak perlu terjadi. (Sebabnya ada) peristiwa anggota polisi yang dibunuh karena hanya rebutan perempuan kalau saya tidak salah dan kemudian pelakunya ditangkap,” lanjut Tito.

Pelakunya ini, katanya, Tito melanjutkan, melakukan perlawanan sehingga kemudian dilakukan upaya kekerasan sehingga akhirnya dia meninggal dunia. Buntutnya masyarakat disana marah dan kemudian mempertanyakan kenapa pelaku sampai meningga dunia di tangan polisi.

“Dalam commader wish saya sangat jelas saya katakan tidak boleh melakukan kekerasan eksesif yang berlebihan kepada siapapun termasuk kepada pelaku. Anggota ini sedang kita periksa dan saya tegas kepada Kapolda,” lanjutnya.

belum lagi adalah akibat upaya pemolisian yang tidak profesional, pendekatan positive hukum seringkali menjadi dasar dalam tindakan kepolisian yang berdimensi kacamata kuda, tidak salah memang karena semenjak awal pendidikan menjadi anggota Polisi pendekatan penegakkan hukum yang diajarkan adalah sifatnya positivistik , sesuai dengan syarat formil dan materiil hukum.

belum banyak yang berani melakukan upaya upaya restorative justice selain pendekatan hukum dengan model seperti ini belum ada yang berani ( secara kelembagaan) memberikan ruang yang lebih luas untuk diterapkan, alhasil yang terjadi adalah manusia untuk hukum bukan hukum untuk manusia.

penegakkan hukum untuk kasus pelanggaran lalu lintas seringkali berakhir dengan kericuhan dan kegaduhan seperti penyerangan minimal demo di depan kantor Polisi, antara keinginan untuk mewujudkan keamanan dan ketertiban dan legalitas serta legitimasi masyarakat melihat pelayanan lalu klintas Polri yang sering lebih rumit dan panjang dari yang seharusnya.

 

http://www.balikpapantoday.net/sering-di-tilang-sopir-angkutan-demo/

Ratusan sopir angkot G03, Jurusan Kalideres-Kotabumi Kota Tangerang, Banten, menggelar aksi demonstrasi karena resah sering kali di tilang para supir  mendatangi kantor pos polisi depan mal Robinson, Jalan Daan Mogot, Kota Tangerang. Mereka kesal karena sering di tilang saat melintasi jalur lambat khusus angkot, padahal angkutan umum lain diperbolehkan untuk menggunakan jalur tersebut.

para sopir memarkirkan angkot mereka di tengah jalan hingga menutup seluruh badan jalan. Hal tersebut membuat kemacetan panjang. Kendaraan dari arah Daan Mogot, Jakarta Barat, juga tidak bisa melalui jalan tersebut pada siang hari ini.

 

2. resiko menjadi Polisi di daerah rawan maupun menjadi  musuh bersama jaringan terorisme ;

Polisi adalah wujud kehadiran negara dalam tugas pemolisian negara terhadap masyarakatnya, data yang dihimpun oleh IPW sebagaimana yang saya sertakan tautan dibawah ini perlu juga menjadi kajian bersama dimana data yang dihimpun secara susah payah malah menimbulkan multitafsir, betapa tidak bahkan situs ar rahman pun mengutip data yang sama kemudian memberikan beberapa tambahan tulisan termasuk mengajak untuyk menyebarkan tulisan bersumber data mentah yang dihimpun sebagai amalan ibadah yang notabenenya adalah menciptakan rasa benci tanpa logika terhadap institusi Polri.

memang secara statistik pasti terdapat bilangan angka yang besar dan membuat miris bahwa pos polisi dan beberapa infrastruktur kepolisian lainnya tiap tahun bertambah yang dirusak massa, padahal kalau mau lebih cermat terdapat bias informasi didalamnya, yakni terdapat beberapa pos maupun markas kepolisian yang memang  ” akan diserang dan dihancurkan ” oleh sekelompok orang bukan karena perilaku negatifnya namun justru karena identitas Polisi dan tugasnya sebagai aparat negara , lihat pada kutipan berita berikut :

http://news.liputan6.com/read/446563/polda-ntb-selidiki-amuk-massa-di-lombok

Liputan6.com, Lombok: Polda Nusa Tenggara Barat menyesalkan kasus penyerangan massa terhadap tahanan hingga tewas di Markas Polsek Kediri, Lombok Timur. Terlebih, penyerangan tersebut dipicu isu melalui pesan singkat telepon genggam yang menyebut korban merupakan pelaku penculikan dan penjual organ tubuh. Demikian dikatakan Kabid Humas Polda NTB I Gusti Ketut Suarya di Lombok, Senin (22/10).

 

 

http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2010/09/100922_polsek.shtml?print=1

Kantor Kepolisian Sektor Hamparan Perak, Sumatera Utara, diserang oleh sekelompok orang tak dikenal Rabu (22/09) dini hari.

“Kurang lebih Pukul 00.30 WIB terjadi penyerangan secara mendadak terhadap Polsek Hamparan Perak. Pelakunya diduga berjumlah kurang lebih 12 orang dengan menggunakan enam sepeda motor,” kata Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Iskandar Hasan, kepada wartawan BBC Indonesia, Sigit Purnomo.

 

belum lagi dengan kondisi di wilayah seperti Poso Sulteng dan Papua, dimana saat ini situasi kamtibmas masih belum sepenuhnya kondusif, siapapun yang berada di kedua lokasi tersebut ataupun siapa saja yang menyandang atribut Polisi saat ini dalam konteks melawan terorisme dan separatisme hampir dipastikan akan senantiasa menjadi target dan sasaran serangan , baik terhadap markas yang ditempati sebagai representasi kedaulatan negara termasuk keselamatan diri pribadi.

 

Kesimpulan

bahwa fenomena adanya aksi kekerasan dan amuk massa terhadap fasilitas kepolisian perlulah dicermati asal muasal peristiwanya, data berupa angka yang kerap dikutip seringkali menimbulkan bias pendapat yang berujung pada bias solusi pemecahan masalah

sudah saatnya ada tindakan yang  lebih praktis kedalam internal polri dengan melakukan proses penyidikan terhadap oknum penyebab amuk massa   secara  terbuka dan berkeadilan serta keluar ( kepada masyarakat) harus ada upaya penegakkan hukum dengan tidak melakukan pembiaran terhadap provokator atau aktor lapangan yang secara sah dan meyakinkan lewat alat bukti yang ditemukan melakukan tindakan kekerasan dan anarkhisme terhadap failitas milik negara yang bernama markas Kepolisian secara terbuka dan berkeadilan juga.

Sebagai penekanan dalam tulisan ini saya mengutip pendapat seorang rekan yg mengatakan

Sebelum membahas pertahanan & keamanan Mako, alangkah baiknya kita melakukan identifikasi sbb:

1) Mengapa Masyarakat begitu beraninya membakar Polsek..?

2) Apakah petugas yang menjalankan tugasnya dipastikan tidak melukai perasaan rakyat..?

3) Apakah betul betul sudah sesuai prosedur tahapan mulai lidik / sidik hingga membawa salah satu masyarakat..?

4) Apakah yang dilakukan petugas tsb demi kepentingan bersama & bahkan merugikan negara..?

5) Apakah sudah adil dalam menindak, atau tebang pilih…?

Insya Allah, jika kerja polisi sudah baik, masyarakat peduli dan memerlukan Polisi, serta menjalin hubungan baik.., maka masyarakat akan turut menjaga kantor kantor polisi yang ada.

Mohon maaf jika berpendapat beda, krn sekedar menyegarkan pikiran.

2016 :

http://nasional.sindonews.com/read/1134649/13/14-kantor-polisi-dirusak-selama-2016-kenapa-warga-mudah-marah-1472358809
JAKARTA – Indonesia Police Watch (IPW) mencatat selama delapan bulan terakhir pada 2016 terdapat 14 kantor polisi dan fasilitas Polri yang dirusak serta dibakar warga.

Selain itu ada 11 polisi yang tewas dan 45 lainnya luka akibat diamuk massa. Kasus terakhir terjadi di Rantaupanjang, Merangin, Jambi. PolsekKantor Polsek Tabir diserbu dan dibakar massa akibat polisi menangkap penambang liar kelas kecil dan membiarkan penambang liar kelas kakap tetap beroperasi. (Baca juga: Mapolsek Tabir Dibakar dengan Bom Molotov)

2015 :
http://www.ekpos.com/sepanjang-tahun-2015-22-kantor-polisi-diserang-dan-dibakar-massa
Neta S Pane, Ketua Presidium Ind Police Watch mengungkapkan, sebanyak 22 kantor polisi dan fasilitas Polri lainnya diserang, dirusak, ditembaki, serta dibakar massa di sepanjang tahun 2015. Meski jumlahnya menurun, tingkat emosional massa terhadap polisi masih cukup tinggi di tahun 2015. Sehingga massa terlalu gampang terprovokasi untuk merusak, menembaki dan membakar kantor polisi, ujarnya pada wartawan melalui siaran pers.

“Ind Police Watch (IPW) mencatat, peristiwa terakhir terjadi pada 27 Desember 2015 malam. Polsek Sinak, Puncak, Papua diserang dengan tembakan. Tiga polisi tewas tertembak, satu luka, dan tujuh senjata dibawa kabur pelaku. Dengan adanya peristiwa ini di tahun 2015 ada 21 polisi tewas dan 75 luka,” imbuhnya.

Tambahnya, di sepanjang 2015 ada 18 peristiwa penyerangan dan pembakaran, yang menyebabkan 21 fasilitas Polri rusak. Yakni 10 pos polisi, 5 polsek, satu polres, tiga rumah, dua mobil, dan satu sepeda motor polisi. Dari jumlah itu 8 yang dibakar, 13 dirusak massa, dan satu ditembaki. Para pelakunya, 5 warga, 6 orang tak dikenal, dua Brimob, satu TNI, satu suporter bola, dan lainnya tiga orang.

2014 :

2013 :
Tahun 2013 misalnya ada 58 kantor polisi dirusak dan dibakar massa.

2012 :
“Tahun 2012 lebih banyak lagi, yakni 85 fasilitas Polri yang dirusak massa, terdiri dari 56 kantor polisi, 18 mobil, 10 motor, dan satu rumah dinas yang dirusak dan dibakar massa,” ujarnya. http://beritajatim.com/hukum_kriminal/255416/kantor_polisi_ditembaki,_dirusak,_dibakar.html

2011 :
https://www.arrahmah.com/read/2012/01/03/17176-ipw-rilis-jumlah-kantor-polisi-yang-dirusak-selama-2011.html

pada tahun 2011 ada 65 kantor dan fasilitas polisi yang dirusak serta dibakar masyarakat. Yakni terdiri dari 48 kantor polisi, 12 mobil polisi, dan lima rumah dinas,” ujar Neta S.Pane Ketua IPW melalui rilisnya dikirim via email, Selasa (3/1).

Berikut 65 kantor/fasilitas polisi yang dirusak/dibakar massa selama 2011

– 28 Des 2011: Pos Polisi di depan kampus UMS di Sukoharjo, Jateng dirusak mahasiswa dalam aksi demo memprotes penembakan di Bima, NTB.

– 26 Des 2011: Sekitar 300 massa merusak Polsek Lembor, Manggarai NTT gara-gara tahanan polsek tersebut Arnaldus Hapong (40) tewas disiksa polisi. Aksi ini reda setelah aparat kodim setempat turun tangan.

– 26 Des 2011: Pos Polantas Jl Urip Sumarjo Makassar dirusak massa dalam aksi demo. Aksi Front Rakyat Menggugat (Forgat) dilakukan untuk memprotes penembakan aparat di Bima. Dalam aksinya, massa Forgat menyerang berbagai sisi pos polantas yang ditinggal penghuninya, dengan menggunakan batu dan balok kayu.

– 25 Des 2011: Tiga Pos Polisi dirusak ratusan mahasiswa asal Bima di Makassar, Sulsel. Massa turun ke jalan memprotes aksi penembakan warga di Pelabuhan Sape, Bima, NTB. Dalam aksinya, mahasiswa yang tergabung dlm Gerakan Masyarakat Anti Tambang (Granat) menyerang pos polisi. Yakni Pos Polisi di depan rumah jabatan Gubernur Sulsel, Pos Polisi di depan kantor konsulat Jepang, dan Pos Polisi Operasi Lilin Lipu di depan Mall Ratu Indah di Jalan Ratulangi.

– 24 Des 2011: Lima kantor polisi di Bima, NTB dirusak dan dibakar warga. Yakni kantor polres dan empat polsek. Ratusan warga yang sedang demo semakin marah setelah mendapat perlakuan represif dari polisi. Massa juga membakar rumah dinas kapolsek, empat unit asrama polisi, dan gedung BTN. Kantor unit pelaksana teknis daerah kehutanan, kantor dinas pemuda dan olahraga, tiga bangunan BTN, gedung kantor urusan agama, dan 25 rumah warga dirusak.

– 28 Nov 2011: Ratusan warga di Desa Gunung Endut, Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi, merusak tiga Pos Polisi (Pospol). Yakni, Pospol Simpang Tiga Cibadak, Pospol Pasar Cibadak, dan Pos Lalu Lintas Pamuruyunan. Sikap anarkis ini dilakukan massa, pasca mengikuti sidang penganiayaan yang menewaskan Genta (20) di PN Cibadak.

– 24 Nov 2011: Delapan belas pos polisi dan 11 mobil polisi di Batam dibakar ribuan massa buruh yang demo. Pos polisi yang dibakar itu antara lain Pos Lubuk Baja, Simpang Kabil, Pinguin, Simpang Jam, Pelita, Jodoh, Muka Kuning, Batam Center, Nagoya Hills, Nagoya Niaga, Simpang Panbil, Perumahan Aviari, dan Simpang Harmoni.

– 20 Nov 2011: Tujuh Pos Polisi dirusak massa di Ambon, Maluku pasca pemakaman Dany Polanunu (17) yg tewas diduga akibat dipukul polisi lalulintas. ketujuhnya adalah kantor Dirlantas Polda Maluku, Pospol Tugu Trikora, Pospol Jl Babullah, Jl Samratulangi, Ambon Plaza, Mardika, dan Batu Merah.

– 28 Ags 2011: Satu mobil patroli Polsek Cireunghas, Kota Sukabumi jadi korban amukan warga Kampung Cikaso, Desa Cibencoy. Aksi ini dipicu tindakan polisi yang melarang warga bermain bedil lodong (meriam tradisional terbuat dari bambu). Mobil patroli itu nyaris dibakar warga.

– 21 Ags 2011: Pos Polantas di Jl Iskandar Muda, Medan, dirusak gerombolan genk motor. Kaca pos polisi pecah terkena lemparan batu. Beberapa rumah makan yang tutup, juga menjadi korban kebrutalan massa.

– 2 Juni 2011: Polsek Uluere, Bantaeng, Sulawesi Selatan, porak poranda setelah ribuan warga dari tiga desa melakukan penyerangan. Polsek itu rata dengan tanah setelah dibakar massa. Aksi ini merupakan buntut penembakan yang dilakukan polisi kepada tiga warga yang diduga sebagai pelaku pencurian. Akibat penembakan itu satu tewas dan dua lainnya luka-luka. Ketiganya ditembak saat sedang menghadiri resepsi pernikahan.

– 17 Mei 2011: Polsek Kampar, Riau dirusak belasan orang. Massa menghancurkan kursi dan meja. Massa berambut cepak itu datang untuk membebaskan seorang sopir truk pengangkut kayu tanpa dokumen. Selain mencari kapolsek, massa juga sempat membakar kursi plastik yang ada di ruang piket.

– 9 Mei 2011: Pos Polmas di Palu, Sulteng dirusak massa yang kecewa karena teman mereka tertembak aparat Polres Donggala saat membubarkan bentrokan antar dua kelompok massa di daerah tersebut.

– 15 April 2011: Mesjid Ad Zikra di Polresta Cirebon dibom, 1 tewas (pelaku bom bunuh diri) dan 30 luka, termasuk kapolresta.

– 13 April 2011: Polsek Kamu, Dogiyai, Papua dirusak massa dan anggotanya Mardi Marpaung dikeroyok dan senjata apinya dirampas. Perusakan ini bermula dari penangkapan terhadap sejumlah orang yang bermain togel. Lalu muncul aksi demo yang menuntut pembebasan dan berlanjut pada kerusuhan, 4 truk, 27 motor, 48 kios dirusak massa.

– 6 April 2011: Pos Polisi Parkir Timur Jakarta dirusak massa dalam keributan usai pertandingan antara Persija vs Persiwa. Dalam peristiwa itu Kapolsek Cempaka Putih Kompol Djoko Dwi luka-luka.

– 17 Maret 2011: Sebanyak 40 anggota Marinir Lantamal XI Merauke, Papua, menyerang bangunan Satuan Lalu Lintas di jalan raya Mandala, Kota Merauke. Tak ada korban jiwa dalam insiden ini. Letusan senjata api sempat terdengar dari kedua kelompok yang bertikai.

– 23 Februari 2011: Ratusan warga mengepung dan melempari Polsek Kampar, Riau dengan batu. Akibatnya polsek rusak parah. Warga menyerbu untuk menuntut pembebasan seorang warga yang diduga salah tangkap oleh polisi.

2010 :
Sedangkan di tahun 2010 hanya 20 kantor polisi yg dirusak dan dibakar masyarakat. Perusakan terbanyak di tahun 2011 terjadi di Batam dalam aksi buruh yang disikapi secara represif oleh polisi. Ada 18 kantor polisi yang dibakar buruh.

UNMISS DAN KONDISI REPUBLIK SUDAN SELATAN SAAT INI

UNMISS DAN KONDISI REPUBLIK SUDAN SELATAN SAAT INI

DSC00595

DSC00027

DSC00035
20141030_144004

20140923_091941

20141010_173115
UNMISS berdiri berdasarkan rekomendasi Sekretaris Jenderal melalui resolusi Dewan Keamanan nomer 1996 (2011) tertanggal 8 Juli 2011 yang  menetapkan berdirinya Misi PBB di Sudan Selatan (UNMISS) untuk periode satu tahun, pertanggal 9 Juli 2011, dengan tujuan untuk memperbaharui  Mandat Misi PBB di Sudan (UNMIS) sebelumnya yang berakhir pada tanggal yang sama.

20150529_093458

Tujuan UNMISS adalah untuk mengkonsolidasikan perdamaian dan keamanan, dan membantu menciptakan  kondisi yang sesuai untuk  pembangunan di Republik Sudan Selatan, sekaligus untuk memperkuat kapasitas Pemerintah Sudan Selatan agar dapat memerintah secara efektif dan demokratis termasuk menjalin hubungan baik dengan tetangga-tetangganya.

4

images (9)

Napak tilas sejarah berdirinya republik Sudan Selatan dimulai dari adanya  Comprehensive Peace Agreement  tahun 2005 yang berlanjut dengan adanya referendum dan kemerdekaan Sudan Selatan itu sendiri. Pada  tanggal 9 Juli 2011, Sudan Selatan berhasil menjadi negara terbaru di dunia. Kelahiran Republik Sudan Selatan merupakan puncak dari proses perdamaian enam tahun yang dimulai dengan penandatanganan Perjanjian Perdamaian Komprehensif (CPA) pada tanggal 9 Januari 2005 antara Pemerintah Sudan  ( Khortum ) dan Gerakan Pembebasan Rakyat Sudan (SPLM), guna mengakhiri lebih dari 20 tahun masa perang.

IMG_0662

Misi PBB di Sudan (UNMIS) mendukung pelaksanaan CPA selama periode interim yang dibentuk oleh Pemerintah Sudan dan SPLM ketika CPA ditandatangani, termasuk menyerukan referendum untuk menentukan status Sudan Selatan. Referendum diadakan pada bulan Januari 2011, hampir 98,83% pemilih memberikan  suara untuk kemerdekaan. Sekretaris Jenderal PBB menyambut pengumuman hasil akhir referendum dan menyatakan sebagai cerminan kehendak rakyat Sudan Selatan.

DSC00852

Setelah akhir periode peralihan kekuasaan dan dilanjutkan dengan kemerdekaan Sudan Selatan pada Juli 2011, Dewan Keamanan akhirnya membentuk misi baru, yakni Misi PBB di Sudan Selatan (UNMISS) dengan mengadopsi resolusi Dewan Keamanan PBB nomer : 1996 (2011) tertanggal 8 Juli 2011 .

20150124_150957

Pada  tanggal 15 Desember 2013, kekerasan kembali pecah di Juba , ibukota Sudan Selatan dan dengan cepat menyebar ke lokasi lain di negara itu yang mengakibatkan krisis politik dan mengancam kondisi keamanan nasional, dampak konflik paling parah dirasakan didaerah  seperti : Central Equatoria, Jonglei, Lakes, Unity dan Upper Nile.

20141103_151043

Konflik juga berakibat adanya ketegangan hubungan antara Pemerintah dan UNMISS, terjadi peningkatan sentimen anti-PBB yang berasal dari salah persepsi tentang peran Misi selama krisis. Tuduhan yang tidak mendasar bagi UNMISS memihak salah satu pihak serta kecurigaan bahwa Misi PBB telah membantu dan bersekongkol dengan pasukan anti-pemerintah.

IMG-20141212-WA0028

Pernyataan publik yang bermusuhan justru dibuat oleh pejabat senior Pemerintah, akibatnya akses UNMISS untuk bergerak bebas akhirnya terhambat. Demonstrasi mengecam PBB terjadi beberapa kali di Ibukota termasuk di beberapa kota seperti Rumbek (Lakes State) dan Aweil (Bah el Ghazal North State).

DSC00032

Krisis senantiasa memiliki konsekuensi negatif terhadap hak asasi manusia di berbagai negara, terutama di daerah yang mengalami  konfrontasi militer besar seperti di ibukota nasional dan di Jonglei, Upper Nile danUnity States). UNMISS memperkirakan ribuan orang tewas selama pertempuran pada awal-awal masa krisis. Kedua pihak dalam konflik bertanggung jawab atas serangan etnis yang menargetkan warga sipil dimana kedua belah pihak, gagal mematuhi hukum kemanusiaan dan hak asasi manusia.

DSC00698

Dalam empat minggu pertama krisis, hampir 500.000 orang telah mengungsi di Sudan Selatan dan selebihnya sekitar 74.300 orang telah menyeberang ke negara tetangga.  Angka ini terus meningkat, total pada akhir Februari 2014 telah mencapai 900.000 orang, termasuk di antaranya 167.000 orang telah menyeberang ke negara tetangga. Jumlah warga sipil terdampak konflik  yang berkategori rawan pangan meningkat menjadi 1.100.000-3.200.000 orang, sekitar 500.000 pengungsi lainnya juga membutuhkan bantuan pangan, berarti bahwa krisis ini telah berdampak terhadap kelangsungan hidup 3,7 juta rakyat Sudan Selatan.

Ketika pertempuran meletus di Juba dan tersebar di seluruh wilayah Greater Upper Nile, puluhan ribu warga sipil melarikan diri dari daerah di mana sejumlah besar pembunuhan yang terjadi, termasuk untuk melarikan diri serangan yang ditargetkan terhadap komunitas tertentu, gelombang pengungsian  mengarah ke lokasi-lokasi  UNMISS  Compound di Juba, Bor , Akobo, Bentiu, Malakal dan Melut untuk mencari perlindungan.

UNMISS akhirnya membuka gerbang untuk pengungsi dan memerintahkan  para anggota Military Engineers untuk bekerja sama dengan Lembaga kemanusiaan, membangun fasilitas didalam kawasan UNMISS Compound untuk perlindungan warga sipil, Sejak itu, sebanyak 85.000 warga sipil telah mencari perlindungan di Delapan UNMISS Compound di seluruh negeri.

DSC00907

Gelombang warga sipil yang menjadikan Compound PBB sebagai kawasan perlindungan darurat seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya di Sudan Selatan, UNMISS berupaya untuk menjamin keamanan yang memadai dan perlindungan kepada mitra lembaga kemanusiaan agar dapat untuk memberikan bantuan yang layak kepada pengungsi.

20141110_183638

IMG_0552

DSC00015

Dalam rangka menguatkan kapasitas  UNMISS untuk mengatasi krisis, Dewan Keamanan melalui resolusi 2132 (2013) tertanggal 24 Desember yang disetujui lewat rekomendasi Sekretaris Jenderal memutuskan untuk segera meningkatkan  jumlah kekuatan Militer dan Polisi pada UNMISS.

20141029_082106

Kekuataan pasukan militer UNMISS dinaikkan menjadi 12.500 personil dan menjadikan komponen polisi menjadi 1.323 personel, termasuk didalamnya pasukan Formed Police Units, melalui pemindahan antar misi sementara dari beberapa Misi operasi pemeliharaan perdamaian PBB lainnya sekitar UNMISS melalui kerjasama antar-misi / Inter Mission Cooperation, kerjasama antar-misi memainkan peran penting dalam meningkatkan kapasitas suatu Misi untuk menyelamatkan nyawa dan melindungi warga sipil dari bahaya lebih lanjut.

20141210_112559

Keinginan  Sekretaris Jenderal PBB melihat perkembangan terakhir di Sudan Selatan adalah  agar UNMISS untuk sementara harus memprioritaskan pada perlindungan warga sipil, hak asasi manusia yang berkontribusi terhadap penciptaan kondisi keamanan yang kondusif dalam rangka pengiriman bantuan kemanusiaan, seperti yang ditetapkan dalam wilayah kewenangannya, selain itu ketidakberpihakan Misi terhadap pihak-pihak bertikai akan berdampak positif selama konflik berlangsung.

Pada tanggal 27 Mei 2014, Dewan Keamanan PBB, dengan suara bulat mengadopsi resolusi 2155 (2014) yang memberikan amanat kepada UNMISS untuk : memberikan perlindungan warga sipil, monitoring hak asasi manusia dan dukungan untuk pengiriman bantuan kemanusiaan, dan meningkatkan kekuatan pasukan Misi untuk 12.500 dan komponen polisi untuk sampai 1.323 personel.

IMG-20150628-WA0001

Berdasarkan resolusi  nomer 2155 (2014) inilah Mabes Polri kemudian merespon permintaan UNDPKO untuk mengirimkan 16 personel Polri yang  sebelumnya telah lulus UNSAT dan dinyatakan layak mengikuti penugasan selaku IPO pada misi UNMISS.

IMG_0608

Saat ini  telah diberlakukan Mandat  terbaru berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB nomer 2223 ( 2015) tertanggal 28 Mei tahun 2015 yang memberikan tugas kepada UNMISS untuk melakukan :  Protection of Civilian, Monitoring and investigating human rights, Creating the conditions conducive to the delivery of humanitarian assistance, dan Supporting the Implementation of the Cessation of Hostilities Agreement,  dimana fokus utama kegiatan Individual Police Offices (IPOs) sendiri adalah kepada Protection of Civilian  ( POC ) terutama di penampungan Internal Displaced People / IDP.

Protection of Civilian dilaksanakan untuk melindungi warga sipil di bawah ancaman kekerasan fisik, dengan perlindungan khusus bagi perempuan dan anak-anak, patroli aktif dengan perhatian khusus ditujukan pada warga sipil pengungsi, dalam pelaksaan Protection of Civilian, IPO bekerjasama dengan Formed Police Unit (FPU) yang kemudian disebut UN Police (UNPOL).

IMG-20150604-WA0001

Kondisi Kamtibmas di Republik Sudan Selatan saat ini ternyata tetap masih bergejolak, secara teoritis kawasan POC merupakan kawasan steril dari konflik senjata, tidak seorangpun diijinkan masuk apabila berstatus kombatan apalagi bersenjata, tujuannya adalah agar setiap IDP yang berada didalamnya akan terjamin keamanan dan keselamatan mereka selama konflik berlangsung, hal ini tidak lepas  dari sikap sempalan faksi yang bertikai di Sudan Selatan dipimpin para warlords yang memperoleh dukungan dari komunitas–komunitas suku, antara Suku Dinka melawan Suku Shilluk atau dengan Suku Nuer dan suku-lainnya.

Umumnya masalah pemicu adalah bentrok adalah : curi mencuri ternak sapi, rekruitmen tentara child soldier, melarikan perempuan, mabuk miras dan berkelahi, seperti yang terjadi pada tanggal 27 Juni 2015 pukul 18.00 EAT dilaporkan terjadi pertempuran antara pasukan pemerintah (SPLA) dengan pasukan oposisi (SPLA IO) yang berafiliasi dengan milisi Shiluk, di dua tempat berbeda yaitu di kota Malakal dan daerah sekitar area airport. Pertempuran yang terjadi berjarak sekitar 3 km dengan menggunakan berbagai jenis senjata ringan, berat, mortar hingga peluncur roket.

Pertempuran berlangsung hingga malam hari dan puncaknya pada pukul 22.00 EAT, pertempuran semakin sengit dan mendekat hingga jarak sekitar 200 m dari Alfa gate UN Compound di Malakal.

IMG_0578

Kontak tembak antar faksi didekat UN Compound Malakal yang berujung dengan jatuhnya kota Malakal ketangan SPLA IO tentunya menjadi pertimbangan sendiri bagi UNMISS, ditambah tanpa adanya jaminan kepatuhan antar faksi terhadap mandate UNMISS, maka UNMISS sempat mengeluarkan perintah evakuasi sekaligus relokasi  personil UNPOL dari Malakal menuju lokasi yang lebih kondusif.

20141029_082301

Selama hampir 2 minggu semenjak kota Malakal jatuh ketangan SPLA IO , tidak ada penerbangan milik sipil maupun PBB yang bisa melintas antara Malakal-Juba atau Malakal–Bentiu, trauma atas tertembaknya helicopter milik PBB beberapa waktu lalu oleh salah satu pihak yang bertikai.DSC01008

Data kekuatan komponen UNMISS per Juni 2015 adalah : kekuatan awal UNMISS yang disetujui negara Sudan Selatan meliputi hingga 7.000 personil militer, 900 personil polisi dan sejumlah Komponen sipil yang sesuai, kemudian sesuai dengan dengan perubahan mandate 2155 (2014) terdapat penambahan jumlah yang signifikan hingga 12.500 personil militer, 1323 personil polisi sipil (termasukFPU ) dan sejumlah Komponen sipil yang sesuai.

20141029_10483120141029_104659

Kekuatan personel UNMISS saat ini sesuai data tanggal (30 Juni 2015) dengan wewenang otorisasi sampai tanggal 30 November 2015 berdasarkan  Resolusi Dewan Keamanan PBB nomer 2223 (2015) tanggal 28 Mei 2015 adalah sebagai berikut :  terdapat 12.523 total personil berseragam: 11.350 komponen pasukan Militer; 179 perwira penghubung militer ; 994 Polisi (termasuk FPU), 769 personil sipil internasional, 1.204 staf sipil lokal  dan 409 Relawan PBB.

20150604_201219

Negara kontributor pada UNMISS dari komponen personil militer adalah: Australia, Bangladesh, Benin, Bhutan, Bolivia, Brasil, Kamboja, Kanada, China, Denmark, Mesir, El Salvador, Ethiopia, Fiji, Jerman, Ghana, Guatemala, Guinea, India, Indonesia , Jepang, Yordania, Kenya, Kirgistan, Mongolia, Namibia, Nepal, Belanda, Selandia Baru, Nigeria, Norwegia, Paraguay, Peru, Polandia, Republik Korea, Rumania, Rusia, Rwanda, Senegal, Sri Lanka, Swedia, Swiss, Timor-Leste, Togo, Uganda, Ukraina, Inggris, Republik Tanzania, Amerika Serikat, Vietnam, Yaman, Zambia dan Zimbabwe.

Komponen Polisi meliputi : Albania, Argentina, Bangladesh, Bosnia dan Herzegovina, Brazil, China, Ethiopia, Fiji, Jerman, Ghana, India, Indonesia, Kenya, Kyrgyzstan, Namibia, Nepal, Belanda, Nigeria, Norwegia, Rumania, Rusia, Rwanda , Samoa, Senegal, Sierra Leone, Afrika Selatan, Sri Lanka, Swedia, Swiss, Turki, Uganda, Ukraina, Inggris, Amerika Serikat, Zimbabwe.

Korban personil UNMISS semenjak  misi berlangsung adalah: 17 orang militer; 1 orang polisi; 5 komponen sipil internasional; 6 warga sipil lokal; 7 lainnya.

EVAKUASI ITU DATANG JUGA


20150529_185934



Memang sejak pecah pertempuran kembali antara pengikut Presiden Salva Kiir yang berlatar belakang suku Dinka dengan mantan Wapresnya sendiri yakni Riek Marchar dari suku Nuer, kondisi keamanan di Sudan Selatan senantiasa panas dingin, ketakutan dan kontak senjata kerap terjadi secara sporadic dimana mana.

PBB telah mengirim misi untuk menjamin hak asasi manusia  khususnya warga Sudan Selatan secara fundamental tetap terselenggara ditengah konflik yang mendera, berbagai negara mengirimkan ribuan personil militer sebagai Military Observer / pengamat militer, Military Staff Officer , maupun sebagai Peace Keeping Force protection  dari format TCC (Troop Contributing Country),  belum lagi personil Polisi / UN Police dalam format Individual Police Officer maupun Formed Police Unit , ditambah komponen sipil yang menjadi salah satu komponen utama misi perdamaian PBB.

Bertugas di daerah konflik seperti Sudan Selatan, memiliki konsekuensi tersendiri, yang pasti bahaya senantiasa mengancam baik akibat langsung maupun tak  langsung dari konflik yang bersangkutan. Salah satu lokasi yang lumayan panas bergejolak dibandingkan beberapa state ( setara provinsi di Indonesia) adalah Upper Nile State khususnya kota MALAKAL.

20150608_100724

Malakal sebenarnya tidak terlalu jauh dari Juba , ibukota Republik Sudan Selatan yang masih bertikai semenjak  2011 pasca memperoleh kemerdekaan  dari negara induk Republik Sudan , hanya sekitar 4 jam perjalanan dengan menggunakan Helicopter PBB , bisa  juga  lewat darat sekitar 10 hari atau menyusuri sungai White Nil selama 20-30 hari tergantung kondisi cuaca termasuk ada atau tidak gangguan dari kelompok bersenjata.

Terdapat 4 personil Satgas IPO Polri yang bertugas disana semenjak bulan September 2014, mereka adalah : AKP Alex Tobing, AKP Eko Budiman, Bripka  Ferri ariandi dan Bripka Harianto,  disana  mereka adalah sebagai personil UNPOL yang khusus ditugaskan untuk mengamankan para Internal Displaced Persons /IDP didalam kawasan yang dinamakan POC / Protection of Civillian Site Juba, mirip kawasan pengunsian bencana alam.

Secara teoritis kawasan POC merupakan kawasan steril dari konflik senjata, tidak seorangpun diijinkan masuk apabila berstatus kombatan apalagi bersenjata, tujuannya adalah agar setiap IDP yang berada didalamnya akan terjamin keamanan dan keselamatan mereka selama konflik berlangsung.

Tidak mengherankan bila setiap personil UNPOL utamanya IPO dalam penugasan misi di UNMISS merupakan misi non bersejata  api, otomatis hanya body armor, helmet , KTA dan pulpen sebagai pelindung keselamatan setiap IPO.

Cerita –cerita yang berkembang selama penugasan adalah menjadi kebiasaan baru bagi personil yang ditugaskan di daerah seperti Malakal, mempersiapkan  “Grab bag “ disebelah tempat tidur atau lokasi yang mudah dijangkau sekali sambar, hapal dengan mata tertutup lokasi Bunker perlindungan, paspor dan dompet selalu melekat, serta membiasakan diri bila akan berangkat cuti atau mudik untuk mengemas  kedalam kardus semua barang yang ditinggalkan di container selama cuti dengan maksud: memudahkan orang lain untuk mengevakuasi manakala panggilan itu tiba tiba datang.

20150627_224009

GRAB BAG itu sendiri adalah tas , biasanya ransel yang isinya paspor dan dokumen lain yang sangat penting, uang cash secukupnya ( US $ dan SS Pound) makanan dan minum untuk minimal 1 hari , baju ganti khususnya dalaman, dan kalua  bisa ada senter serta pisau lipat, diletakkan dilokasi yang paling mudah dijangkau untuk di- GRAB- ketika evakuasi, karena barang –barang lain tidak disarankan untuk dibawa ( maksimum beban penumpang helicopter PBB  adalah 15 kg).

20141220_095929

Monitoring radio pada chanel UN  Common jadi menu wajib setiap personil UN dipenugasan , tidak peduli latar belakang militer, polisi atau sipil sekalipun, begitu mendengar aba-aba EVACUATE –EVACUATE ditambah : Tiupan peluit panjang –panjang, suara sirine , dan gemuruh suara gedebuk , nah itulah saatnya: sambar tas GRAB BAG , ambil helmet, langsung pakai Body Armor ,selebihnya lihat mana bunker terdekat.

Mengapa di depan sempat dikatanakan secara teoritis POC maupun UN Compound adalah daerah steril dari senjata api dan dilarang dimasuki oleh pihak-pihak yang bertikai, karena pada faktanya tidak setiap pihak yang bertikai apalagi yang mengalami proses degradasi kepemimpinan lapangan mau mematuhi mandate PBB dan menghormati  bendera PBB yang berkibar menaungi kawasan POC .

20150627_223955

Sikap keras kepala dan masa bodoh sempalan-sempalan faksi yang bertikai di Sudan Selatan tidak lepas dari aksi cowboy para komandan lapangan yang memperoleh dukungan dari komunitas –komunitas suku, bias jadi suatu hari pertempuran terjadi antara Dinka lawan Shilluk besoknya anatar Shilluk dengan Nuer atau antara Nuer dengan Dinka dan suku-lainnya, masalah pemicu : curi mencuri ternak sapi, rekruitmen tentara ( child soldier) serta melarikan gadis, mabuk miras dan berkelahi .

Seperti yang terjadi pada tanggal  27 Juni 2015 pukul 18.00 EAT dilaporkan telah terjadi pertempuran antara pasukan pemerintah (SPLA) dengan pasukan oposisi (SPLA IO) yang berafiliasi dengan milisi Shiluk,  di dua tempat berbeda yaitu di kota Malakal dan daerah sekitar area airport.

Pertempuran yang terjadi berjarak sekitar 3 km dan sangat jelas terdengar dari UNMISS log base dan POC area dengan menggunakan berbagai jenis senjata ringan, berat, mortar hingga peluncur roket.  Pertempuran berlangsung hingga malam hari dan puncaknya pada pukul 22.00 EAT, pertempuran semakin sengit dan mendekat hingga jarak sekitar 200 m dari Alfa gate  UN Compound di Malakal.

Riuh rendah suara pertempuran sangat jelas terdengar dari UNMISS log base suara tembakan senjata ringan dan berat ditambah  provokasi berupa nyanyian dan teriakan  IDP dari suku Shiluk kepada kelompok yang sedang bertempur untuk mendongkrak moral pasukannya.

Desing dan kelebat peluru tracer dari senapan mesin ringan dan berat yang menyala merah saling bertukar arah membuat pemandangan makin seram di langit dan dilaporkan beberapa peluru nyasar ke dalam UNMISS log base Malakal, masih beruntung tidak ada korban jiwa dari personil UN maupun staf, walaupun pada akhirnya pihak UN security mengumumkan seluruh UN satf dapat kembali ke akomodasi masing-masing setelah intensitas pertempuran sudah berkurang dan semakin menjauh dari log base pada pukul 24.15 EAT.

Pasca pertempuran tanggal 27 Juni 2015 kondisi POC site  Malakal mengalami sedikit perubahan,  dengan ditutupnya foxtrot gate yang selama ini sebagai akses utama keluar masuk IDP terutama dari suku Dinka, namun sekarang Foxtrot ditutup dan Echo gate dibuka seiring dengan telah dikuasainya  kota Malakal oleh oposisi / SPLA IO.

Pelaksanaan tugas polisionil UNPOL pada gate-gate di POC site Malakal seperti di Echo gate  dilakukan bersama BANGLADESH FPU dan Warrior ( security ) khususnya untuk  melakukan body search maupun terhadap barang terlarang, tugas seperti ini tidak heran bila menemukan dan menyita peluru cal. 7.62mm dan peluru tabur Shotgun cal. 12 GA, granat tangan, seragam bahkan senpi dalam keadaan terurai.

Rentetan peristiwa lain di  Malakal adalah ketika petugas UNPOL menemukan pagar pembatas UNMISS MALAKAL Compound yang di duga telah dirusak oleh  para IDP, mereka menggunakan pagar yang rusak tersebut sebagai jalan keluar masuk illegal ke New POC site, belum lagi ditemukan di dekat pagar tersebut terdapat sedikitnya 4 personil SPLA in opposition  SPLA IO bersenjata lengkap.

Kontak tembak antar faksi didekat UN Compound Malakal yang berujung dengan jatuhnya kota Malakal ketangan SPLA IO tentunya menjadi pertimbangan sendiri bagi UNMISS, karena sebaik baiknya usaha adalah bagaimana kita merancang persiapan untuk kondisi terburuk, tanpa jaminan kepatuhan terhadap mandate UNMISS, maka jalan terbaik adalah EVAKUASI sekaligus RELOKASI dari Malakal menuju lokasi yang lebih kondusif.

20150627_224001

Hierarkhi , kalau boleh dikatakan demikian untuk mendapatkan prioritas evakuasi ataupun relokasi adalah diberikan kepada : pertama para staff sipil UN , baik yang berstatus Internasional , nasional termasuk kontrak kemudian baru disusul oleh UNPOL non bersenjata , military staff officer, Military Obeserver non bersenjata , dilanjutkan FPU dan ditutup oleh rangkaian Militer yang memiliki senjata api.

Rencana kontijensi yang dibuat cukup simple, intinya memindahkan sebagian besar staff sipil, dan UNPOL non bersenjata kedaerah rawan dan menyisakan sejumlah staff UNPOL untuk tetap melaksanakan tugas namun siap ditarik untuk evakuasi dengan sekali angkut pesawat milik PBB. Antara rasa percaya dan tidak mendengan aba-aba evakuasi dan relokasi ke Juba , mengingat selama hampir 2 minggu semenjak kota ,Malakal jatuh ketangan SPLA IO , tidak ada penerbangan milik sipil maupun PBB yang berani melintas antara Malakal- Juba atau Malakal –Bentiu, trauma atas tertembaknya helicopter milik PBB beberapa waktu lalu oleh salah satu pihak yang bertikai.

Alternatif evakuasi lewat darat,  hitungannya mau berapa lama sampai Juba, mau lewat sungai Nil sama saja dengan memindahkan resiko tenggelam dihajar roket gerilyawan, lewat udara , jawabannya Bismilah. Lewat rapat yang rumit akhirnya diputuskan 20 orang UNPOL dari Malakal berangkat lebih dulu dengan penerbangan UN menuju Juba, nama AKP Tobing dan Bripka Harianto menjadi  nominasi rombongan pertama yang secara kebetulan bias masuk.

Urusan siapa yang dievakuasi duluan ternyata menimbulkan beberapa pertanyaan , karena pada awalnya terdapat 3 seat bagi UNPOL dari Norwegia yang harus didahulukan namun entah kenapa dibatalkan dan akhirnya dilemparkan kepada rapat untuk memutuskan, peristiwa semacam ini kadang terjadi  di misi penugasan PBB, seperti ketika penempatan  UNPOL dari  Belanda yang terang-terangan menolak penugasan di Malakal dengan alasan adanya surat rekomendasi dari pemerintah Belanda yang melarang personil Polisinya ditugaskan didaerah yang tidak memiliki dukungan fasilitas kesehatan minimal level II, entahlah apa karena Norwegia memiliki Norwegian Refugee Council maupun Belanda sebagai negara donor  dan bagian Uni Eropa. Sudahlah  yang penting bagi  satgas UNPOL Polri, uruasan penugasan dan urusan resiko adalah  dimana saja dan kapan saja siap.

Bersambung…………………

Merubah ritme hidup

Akhirnya  sampai juga di Juba , Ibukota  Republik Sudan Selatan , dengan penerbangan UN Flight , berangkat pukul  08.00 waktu Uganda lewat  bandara Entebbe yang pernah kondang dengan aksi pembebasan sandera  Israel di tahun 1976.

image

Harapannya adalah catatan ini bisa berjalan terus menerus dan berkelanjutan , seperti biasa memasuki daerah baru yang serba darurat seperti di Juba ini lengkap dengan segala ketidak tahuan  kegiatan dan segenap DO dan Don’t yang dijejalkan secara berturut turut pada masa induction training di Entebbe dan di Juba itu sendri sebelum penempatan di lokasi lokasi atau setidaknya sebagai anggota Team Site yang terserak diberbagai tempat konflik Sudan Selatan.

image

image

Memasuki tempat baru seperti UN Site di Tomping , adalah hajat pertama …. Mencari penukaran uang Dollar US gaji pertama sebagai UN Member dengan Pound South Sudan ( 1 US $ kira kira sama dengan 4 Pound Sudan Selatan)  yang ternyata dengan senang hati dibantu oleh tenaga cleaning service  asli tanah sudan selatan yang “ kebetulan “ ready stock  gepokkan uang receh sebagai penukar Dollar, yang penting ada Pound lokal ,,, sebelum bisa ketahap berikutnya ! Makan siang yang akibat kesalahan prediksi penerbangan lewat UN Flight alhasil start dari jam 4 pagi sampai jam 12 waktu Sudan Selatan , perut nyaring ditambah mata berkunang kunang, pokoknya makan dulu baru kerja.
Makan siang dulu, entah kemahalan atau memang belum tahu trik makan ala buffet, sukses 40 Pound  pertama lewat sebagai penukar  makan siang , plus tambahan 4 pound buat air mineral dan 5 pound kopi hitam, padahal dimeja sebelah , asyik kasak kusuk menyusun strategi , yang tidak dilarang oleh warung tapi tidak disarankan oleh khalayak yang masih punya gengsi,  ambil makanan dengan porsi jumbo , dibagi rata dan dibayar secara saweran.

image

image

image

image

Bagi  mereka yang terbiasa “ daerah konflik” perjalanan ke Sudan Selatan bisa di switch menjadi semacam acara liburan, entah ini merupakan bagian dari proses internalisasi  untuk menghapus stress maupun untuk mebiasakan diri agar lebih mudah beradaptasi di lingkungan baru yang kebetulan lingkungan konflik bersenjata, bagi mereka tadi yang mungkin urat  TAKTIKAL sudah jadi bagian lahir bathin, biasanya ringan-ringan saja  mengatakan : yang penting masih bisa mandi dan ada airnya, masih bisa  “ pup “ dengan nyaman, apalagi ada wifi dan kantin , itu sudah liburan namanya, walaupun daerah konflik bersenjata.
Hari ini sudah sampai di Juba , besok dilanjutkan agenda lain yang nggak kalah rumitnya dan pasti paling dinantikan, ujian mengemudi dengan momok adalah kemudi disebelah kiri, ya disebelah kiri dengan lajur jalan yang berbeda bertolak belakang dengan tanah air, harapannya adalah sukses memiliki UN Driving License sekaligus mendapatkan inventaris yang paling ditunggu , yakni mendapatkan mobil dinas sebagai modal kerja dan mobilitas dalam misi, tanpa mobil dinas setiap UN member dipersilahkan  mempersiapkan jempol untuk nunut alias numpang di jalan maupun  jalan kaki kemana mana.

image

Tempat baru suasana baru serba baru , butuh penyesuaian baru, tidak salah bila Darwin mengatakan Survival of the fittest, walaupun bukan berarti saya penganut Darwinisme yang menyamakan monyet dengan nenek moyang kita.

image

Bertahan dan tampil eksis adalah jawaban suasana missi yang serba baru, menemukan ritme kehidupan merupakan jawaban yang paling masuk akal, bernagkat dari jadwal kerja  dengan roster yang kayaknya belum bisa diterapkan di Indonesia , bekerja on time mulai pukul 07.00 sampai 19.00 plus 1 jam lebih awal berangkat kerja di , subuh… waktunya paling nikmat tidur , mempersiapkan sarapan ,

image

plus buntelan makan siang ,air minum .. semua disiapkan sendiri , dijinjing sendiri dan dihidangkan sendiri.
Lain cerita kalau kebagian shift kerja malam mulai pukul 19.00 sampai 07.00, malam –malam lengkap dengan bekal plus jacket dan botol obat anti nyamuk  yang harus dioleskan tiap saat, maklum Sudan Selatan merupakan lokasi terbaik alau mau  membuat  penelitian tumbuh kembang nyamuk berbagai jenis yang pernah diciptakan Tuhan di muka bumi.

image

Lihat jadwal kerja dan ikut larut dalam aktifitasnya, kemudian membandingkan dengan kondisi kerja selama di tanah air adalah: ada yang bisa diserap da nada yang mungkin belum bisa diterapkan saat ini, jadwal dibuat benar benar dengan mempertimbangkan jam kerja bagi setiap orang dalam 1 minggu, kemudian rute dan giat patroli dan jaga  PoC Camp IDP yang tidak boleh kosong, alhasil silahkan atur sendiri kapan mau ngambil jatah sekedar buat ngopi,

image

makan siang atau mungkin Sholat, baik baik komunikasi dengan rekan satu tim Patroli dan wajib laporan via HT kemana dan dimana tiap waktu.
Buang jauh jauh ala Indonesia , kalau di Tanah air mungkin semua serba ada , serba kita bisa dapat, ibarat mau “ pup” bisa dibasuh air, nah jangan sekali sekali menggunakan ukuran Tanah air disini, kalau tidak mau pusing dan senewen sendiri, pun demikian dengan masalah belanja makan siang, setidaknya ada trik , lihat bilamana Bule ( yang secara GNP tingkat kemakmuran dan mungkin kualitas kesehatan lebih baik ) mau makan disitu , artinya setidaknya cukup aman dengan perut Indonesia.
.
Merubah ritme hidup. Menemukan hal hal baru.

makna konfrensi Asia Afrika dan Mangga Soekarno di Sudan

Soekarno’s Manggoes

Pasca Konfresi Asia Afrika di tahun 1955 adalah adanya kesadaran bangsa –bangsa di dunia khususnya asia dan afrika akan kemerdekaan dan persamaan derajat antar bangsa d dunia, peran Sekarno sedemikian gemilang sehingga tidak heran nama Soekarno dan Indonesia menjadi perhatian sendiri di benua Hitam Afrika yang kini semakin menggeliat untuk bangkit, termasuk sejarah panjang berdirinya Negara Sudan pada 1 Januari 1956 setahun setelah KAA , walaupun diiringi konflik internal yang berdarah darah .
Bukti hubungan adanya kedekatan Indonesia dan Sudan terlihat semenjak kedatanagan ulama besar Sudan “ Syekh Ahmed Surkati “ di tahun 1911 yang mendirikan Yayasan Al Irsyad di Indonesia , termasuk dukungan Indonesia dengan perlakuan khusus membangkitkan nasionalisme Sudan lewat “ meja khusus “ Sudan yang bahkan belum merdeka termasuk pemberian bendera Putih Polos sebagai representasi identitas Sudan ( bendera putih polos tersebut masih dapat dilihat di Museum Asia Afrika di Bandung ).Tidak heran terdapat nama Mangga Soekarno yang menjadi unggulan di Sudan , diyakini ditasbihkan ke varietas Mangga manis yang konon bibitnya diberikan langsung oleh presiden pertama Indonesia.

~0532644

~2830375

~5354012

IMG_0554

IMG_0557

IMG_0562

Bangsa-bangsa Afrika yang kini mulai menggeliat , ternyata masih menyimpan konflik –konflik akibat pertikaian antar dan internal Negara, masalah kemanusiaan menjadi perhatian utama dunia khususnya PBB, hal ini tidak lepas dari nilai strategis Bangsa –bangsa Afrika yang memiliki cadangan Minyak bumi yang sangat besar termasuk kekayaan alam berupa mineral lainnya.
Hubungan emosional yang terjalin antara beberpa Negara di Afrika khususnya Sudan dengan Indonesia sesungguhnya merupakan kekuatan tersendiri bagi bangsa Indonesia dalam konteks bargaining power di dunia Internasional, tinggal bagaimana kepemimpinan baru di Indonesia mulai secara intensif merubah kiblat pasar dan harapan kepada Afrika, ketika pasar eropa dan Amerika menjadi sedemikan keras memberikan perlakukan terhadap produk-produk Indoensia.

DSC01403

DSC04303

DSCN1885

DSCN2143

IMG_3177

SAM_0787

Benua Hitam yang menjajikan sebagai the promise land bagi pasar produk-produk barang , jasa dan tenaga ahli Indonesia hanya akan terwujud bilamana terdapat kemudahan birokrasi hubungan dagang antara Negara , termasuk dengan menambah frekuensi misi-misi ekonomi, perdaganan, pendidikan, demokrasi, pertahanan dan keamanan.

Active_Armed_Movement_February_2013_A0
south_sudan_map[1]

UNMISS Mandate_Page_1

UNMISS Mandate_Page_2

UNMISS Mandate_Page_3

UNMISS Mandate_Page_4

UNMISS Mandate_Page_5